• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

1. Pengertian Strategi

Strategi berasal dari bahasa Yunani yaitu strategos, yang berarti bertarung untuk memenangkan pertarungan. Meskipun strategi awalnya digunakan dalam lingkungan militer, namun distilah strategi dapat digunakan dalam berbagai aspek yang memiliki esensi yang seirama, termasuk pengaplikasiannya dalam konteks pembelajaran yang dikenal dengan istilah strategi pembelajaran.

Dalam artian sempit, strategi dikiaskan dengan metode. Yaitu, bagaimana mencapai tujuan pembelajaran yang diberikan. Secara garis besar strategi juga diartikan sebagai cara menentukan segala bidang yang berkaitan dengan pencapaian tujuan pembelajaran, seperti merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran.1

Menurut Sanjaya, “Strategi didefinisikan sebagai rencana yang meliputi serangkaian kegiatan yang ditujukan untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu”.“Kami telah mengidentifikasi faktor-faktor pendukung yang konsisten dengan prinsip implementasi yang baik, efisien dalam pendanaan, dan memiliki taktik untuk mencapai tujuan kami secara efektif”. Strategi pembelajaran juga merupakan kegiatan pembelajaran yang harus dilakukan secara bersama-sama oleh guru dan siswa guna mencapai hasil belajar yang efektif dan efisien.2

1Haudi, Strategi Pembelajaran, (Solok: Insan Cendikia Mandiri, 2021), h. 1-2.

2Suvriadi Pangabean, Konsep dan Strategi Pembelajaran, (Yayasan kita menulis, 2021), h. 3-4.

Tenaga pendidik harus memahami strategi, metode, ataupun cara secara teorik ataupun praktik terlebih dahulu sebelum terjadinya suatu program pembelajaran dengan anak didik untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan agar kegiatan pembelajaran dapat terlaksana dengan maksimal dan berkualitas.

Strategi yang terencana merupakan tombak dalam proses pembelajaran. Strategi sangat erat kaitannya dengan teknis pelaksanaan proses pembelajaran. Lebih banyak pemahaman yang diperlukan untuk memastikan bahwa strategi tidak menyimpang dari tujuan yang ingin dicapai. Pemahaman ini dimulai dengan merangsang atau menstimulus setiap individu, mendorong atau memotivasi mereka untuk mengikuti kegiatan pembelajaran dengan efektif.

Peran kepala sekolah sebagai pemimpin adalah sebagai penggerak untuk memunculkan inovasi dan inisiatif. Berikut ini adalah beberapa poin tentang strategi kepala sekolah dalam membentuk kecerdasan spiritual peserta didik:3

a) Mencetak guru yang memiliki keterampilan yang baik dalam mengajar.

b) Membuat jadwal pembelajaran dan kegiatan terstruktur tentang materi keagamaan (seperti: Fiqih, Qur’an Hadis, Akidah Akhlak, Tauhid, Tajwid, Pembiasaan Sholat Dhuha, Tadarus Al-Qur’an).

c) Memberi anjuran kepada setiap guru untuk mengkaitkan mata pelajaran dengan nilai tauhid atau keislaman.

d) Menjadi teladan bagi seluruh warga sekolah dengan berkelakuan baik.

3Markhamah, Strategi Pengembangan Talenta Inovasi dan Kecerdasan Anak, (Surakarta: Muhammadiyah University Press, 2022), h. 139-140.

e) Tidak lelah mengingatkan peserta didik tentang pentingnya ibadah dan kewajiban seorang muslim.

f) Mengadakan ektrakurikuler keagamaan seperti tahfidz.

Selain dari itu, Rasulullah SAW. Juga memiliki beberapa strategi dalam membentuk kecerdasan spiritual dengan cara psikoterapi ala Rasulullah SAW, diantaranya adalah:4

a. Psikoterapi dengan iman. Iman adalah sumber dasar ketenangan hidup dan jiwa seseorang. Iman terletak di dalam hati. Hakikat iman adalah sikap ikhlas, memaknai setiap amal kebaikan sebagai bukti ibadah dan keimanan, dan selalu bersandar kepada Allah SWT. Konsep ini mampu menumbuhkan ketenangan hidup.

b. Psikoterapi dengan ibadah. Orang yang senantiasa melaksanakan ibadah dengan bersungguh-sungguh akan merasakan ketenangan dalam batin, mampu menghindari diri dari keburukan, karena setiap perbuatannya berlandaskan nilai-nilai agama.

c. Psikoterapi melalui shalat. Kesabaran, keikhlasan, kedamaian pikiran dan hati akan didapatkan ketika kita mampu melaksanakan sholat dengan sungguh-sungguh. Tidak hanya itu, sholat juga mampu menyembuhkan seseorang dari segala penyakit fisik dan mental.

d. Psikoterapi puasa, haji, berdzikir dan berdoa. Dengan melakukan amal ibadah puasam haji, berdzikir dan berdoa akan menjadikan hidup penuh berkah dan mendatangkan kemudahan.

4Utsaman Najati, Belajar EQ dan SQ Dari Sunnah Nabi, (Jakarta: Hikmah, 2003), h.

100-119.

Sedangkan menurut Abdullah Nashih Ulwan, ia juga mengemukakan beberapa cara dalam membina nilai-nilai keagamaan terhadap peserta didik, yaitu:5

a. Keteladanan. Sebagai pendidik harus mampu memberi sikap teladan bagi peserta didik. Baik dalam segi perbuatan yang disadari atau tidak, dan dari segi ucapan.

b. Pembiasaan/ Latihan. Disamping pengajaran secara teoritis, pembiasan atau latihan adalah praktek yang nyata dalam membentuk kecerdasan spiritual peserta didik. Dengan begitu akan mampu menumbuhkan iman dalam dirinya.

c. Nasehat. Nasehat merupakan cara yang paling efesien dalam membentuk kecerdasan spiritual anak. Karena dengan metode ceramah mampu mempersiapkan peserta didik secara moral, mental, dan sosial akan nilai-nilai agama islam. Cara ini adalah cara yang paling sering digunakan oleh orang tua dan pendidik.

d. Pengawasan. Dalam membentuk kecerdasan spiritual terhadap peserta didik, tidak cukup hanya dibekali dengan pengajaran dan pembiasaan saja, tapi juga harus dengan adanya pengawasan.

e. Hukuman. Hukum-hukum syari’at yang telah tertulis dalam Al- Qur’an dan Hadis sesungguhnya memiliki tujuan untuk memelihara kebutuhan dasar hidup manusia, kebutuhan dasar tersebut adalah: memelihara agama, jiwa, nama baik, akal, dan harta benda. Demi memelihara kebutuhan dasar hidup manusia, akan ada sanksi-sanki yang diberikan dari syari’at islam bagi orang yang melanggarnya.

5Abdullah Nashih Ulwan, Tarbiyatul Aulad Fil Islami (Pendidikan Anak Menurut Islam Kaidah-Kaidah Dasar), Penerjemah Arif Rahman Hakim, (Surakarta: Insan Kamil, 2012), h. 160-162.

Fitri Andriani juga mengatakan bahwa dalam penanaman nilai- nilai kecerdasan spiritual tidak cukup melalui teori saja, tetapi juga harus seimbang dengan adanya praktek. Diantaranya adalah:6

a. Menjadi panutan atau teladan bagi peserta didik.

b. Membantu peserta didik untuk menemukan tujuan hidup untuk meraih kesuksesan di dunia dan akhirat.

c. Membaca Al-Qur’an Bersama peserta didik dan mengimplementasikan kandungan dari Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

d. Melakukan diskusi dengan peserta didik terkait berbagai hal dengan perspektif ruhaniah.

e. Mengajak peserta didik untuk berempati dan simpati kepada orang lain.

f. Melibatkan peserta didik dalam setiap kegiatan keagamaan di sekolah.

g. Melibatkan peserta didik dalam kegiatan sosial.

Dari banyak paparan tentang pengertian strategi diatas, maka peneliti dapat menarik benang merahnya bahwa strategi adalah suatu cara, metode ataupun taktik untuk mencapai suatu tujuan, agar tujuan tersebut dapat tercapai dengan maksimal. Dalam islam strategi seorang pemimpin untuk membentuk kecerdasan spiritual peserta didik adalah dengan menjadi teladan yang baik, mencetak guru atau pendidik yang berkualitas dalam mengajar dan mendidik.

Dan membentuk kegiatan di dalam lingkungan sekolah yang mampu meningkatkan kecerdasan spiritual peserta didik dengan menguatkan pembiasaan atau latihan yang bernilai keagamaan,

6Atika Fitriani, “Upaya Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Membentuk Kecerdasan Spiritual Siswa”, Belajea: Jurnal Pendidikan Islam, vol. 3, no. 2, 2018, h. 177.

karena dari pembiasaan maka akan mudah terbentuknya kecerdasan spiritual, serta selalu memberi nasehat dan tetap melakukan pengawasan terhadap peserta didik.