• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 3 TINJAUAN KASUS

3.1 Pengkajian

1) Kepala Keluarga (KK) : Tn. R

2) Alamat dan telepon : Desa Magersari Kedawung Kulon Grati Pasuruan 3) Pekerjaan KK : Buruh becak

4) Pendidikan KK : MA sederajat 5) Komposisi keluarga :

Tabel 3.5 Komposisi Keluarga N

o

Nama J K

Hubungan keluarga dengan KK

Um ur

Pen- Didi kan

Status Imunisasi B

C G

Polio DPT Hep atitis

C a m p a k

Ket 1 2 3 4 1 2 3 1 2 3

1 Tn.

R L Suami 51 MA

- - - - Pasien 2 Ny.

K P Istri 43 SI

- - - - Sehat 3 Sdr.

I L Anak 16 Pelajar

- - - - Sehat 4 Nn.

L P Anak 10 Pelajar

- - - - Sehat

Genogram :

: laki-laki : perempuan : pasien : serumah

Gambar 3.8 Genogram Keluarga Tn. R

6) Tipe Keluarga : Extended Familiy (keluarga besar)

7) Suku bangsa : Jawa

8) Agama : Islam

9) Status social ekonomi keluarga

Jumlah pendapatan perbulan : pendapatan perbulan mencapai ±2.500.000 Sumber pendapatan perbulan : sumber pendapatan dari pasien 150.000, buka warung ±250.000, dari istri ±2.100.000

Jumlah pengeluaran perbulan : pengeluaran perbulan mencapai ±2.000.000 10) Aktivitas rekreasi keluarga : keluarga pasien biasa melakukan rekreasi

saling berbagi cerita sambil menonton televisi Keterangan :

3.1.2 Riwayat Dan Tahap Perkembangan Keluarga

11) Tahap perkembangan keluarga saat ini : Tahap perkembangan keluarga saat ini mencapai tahap kelima yaitu tahap keluarga dengan anak usia remaja 12) Tugas perkembangan keluarga yang belum terpenuhi: Dari tugas

perkembangan keluarga Tn. R belum terpenuhi karena putra putri Tn. R belum ada yang menikah dan belum terjadi perluasan keluarga inti.

13) Riwayat kesehatan keluarga inti : pasien mengatakan bahwa 3 bulan yang lalu mengalami penglihatan kabur saat mengendarai becak yang mengakibatkan pasien terjatuh sehingga menimbulkan luka lecet pada kaki kanan. Pasien juga sering kakinya terbentur dengan benda sekitar rumah.

Pada saat pasien memasukkan sepeda motor kedalam rumah, kaki pasien terbentur dengan sanggah sepeda tersebut sehingga ibu jari pada kaki kanan mengalami bengkak. Pasien telah dilakukan pemeriksaan ke dokter mata dan telah didiagnosa mengalami retinopati diabetik pada stadium awal. Dokter telah menganjurkan rutin tiap 6 bulan sekali memeriksakan mata di klinik mata terdekat. Terakhir kali pasien checkup GDA 1 setengah tahun yang lalu dengan hasil GDA didapat 350 mg/dL dengan tekanan darah 150/120 mmHg.

14) Riwayat kesehatan keluarga sebelumnya : Pasien mengatakan memiliki riwayat turunan hipertensi di keluarga pasien tidak ada yang memiliki riwayat diabetes. Pasien mengatakan bermula pada tahun 2011 tiba-tiba mengalami gejala sakit perut, lemas letih, sering ngos-ngosan saat melakukan aktivitas pasien merasakan gejala tersebut dengan hanya merasa bahwa dirinya mengalami kecapean, namun setelah periksa ke pelayanan kesehatan terdekat gula darah pasien tinggi mencapai 545 mg/dL. Pasien juga sempat mengalami

penurunan berat badan secara dratis yaitu dari 70 kg menjadi 59 kg. Dokter memberikan resep obat dengan gludepatic 500 mg dengan 1x1/hari. Dan dokter memberikan anjuran untuk mengontrol gula darah agar tidak menimbulkan komplikasi dengan penyakit penyerta. Hingga 3 bulan yang lalu mengatakan bahwa penglihatan kabur dengan beresiko cedera saat terjatuh sehingga dapat memungkinkan timbul ulkus.

3.1.3 Data Lingkungan

15) Karakteristik rumah : Rumah keluarga Tn. R terdiri dari 1 lantai, rumah milik mertua dan merupakan tipe permanent, lantai depan berkeramik, lantai belakang (dapur) tidak berkeramik, memiliki 9 jendela, pada atap rumah menggunakan plafon, terdapat 4 kamar tidur, ruang tamu, dapur, dan kamar mandi. Untuk pencahayaan ruangan keluarga Tn. R menggunakan lampu, ventilasi baik, pencahayaan sinar matahari yang masuk kedalam rumah dan pencahayaan didalam rumah kurang. Medan pada halaman rumah berkerikil, dengan jalan berpaving, samping rumah terdapat beberapa rongsokan barang bekas/kaleng-kalengan dihalaman rumah.

Denah rumah :

Jalan Pintu depan

Gambar 3.9 Denah Rumah Keluarga Tn. R Keterangan :

16) Karakteristik tetangga dan komunitasnya : Desa Gerongan Grati Pasuruan, sebagian warganya bekerja sebagai buruh tani, pembecak, pedagang, karyawan PT, dan pemborong rumahan. Jarak antara rumah berdekatan. Tetangga keluarga Tn. R bersuku Jawa Madura. Menurut keterangan Tn. R kehidupan antara keluarga dan masyarakat terjalin akrab.

3

4 5

6 1

2 7

9 8

11

1 6 16 14

15 12 13

Pintu belakang

10

(1) Ruang tamu (9) Warung

(2) Kamar utama (10) Tempat sholat

(3) Ruang TV (11) Tongkrongan warung

(4) Kamar 2 (12) Tetangga

(5) Kamar 3 (13) Tetangga

(6) Dapur (14) Tetangga

(7) Kamar 4 (15) Tempat rongsokan

(8) Kamar mandi (16) Tetangga

(puskesmas, polindes, klinik) dan Posyandu sudah ada. Jarak rumah dengan RS sekitar 3000 meter dengan alat transportasi menggunakan motor sendiri, ojek, ataupun angkot dan terdapat ambulans desa kalau ke dokter praktek/swasta atau klinik jaraknya sekitar 1,5 Km. Tn. R dan Ny. K mengatakan betah tinggal di lingkungan tempat tinggalnya

17) Mobilitas geografis keluarga : Keluarga Tn. R sudah menempati rumah yang ditempatinya sejak awal pengantin baru sampai sekarang, tempat tinggalnya berdampingan dengan 1 saudara lainya.

18) Perkumpulan keluarga dan interaksi dalam masyarakat : Keluarga Tn. R hanya sebagai warga biasa di lingkungannya dan tidak mempunyai peran khusus seperti menjadi pengurus RT, namun ikut serta dalam kegiatan warga di wilayah kampungnya seperti gotong royong yang diadakan setiap Minggu pagi dan tahlilan setiap Kamis sehabis shalat isya. Hubungan anggota keluarga terlihat rukun, tidak ada konflik antara satu dengan yang lain (terlihat harmonis).

19) System pendukung keluarga : Keluarga Tn. R rumahnya berdekatan dengan 1 saudara yang lain sehingga bila mana ada anggota keluarga yang sakit semua saling memperhatikan dan membantu untuk penyembuhan. Bila ada masalah dalam keluarga, keluarga lebih senang menyelesaikan dengan anggota keluarga. Disamping itu adanya tabungan dana kesehatan sangat membantu keluarga dalam pengobatan Tn. R dan untuk membantu bila ada anggota keluarga lainnya yang sakit. Tn. R menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan dengan baik misal dengan berobat ke polindes maupun ke dokter klinik.

3.1.4 Struktur Keluarga

20) Struktur peran : Dalam keluarga, Tn. R berperan sebagai ayah dan suami yang berperan sebagai mencari nafkah. Tn. R bekerja sebagai pembecak dan Ny. K berperan sebagai ibu dan istri. Ny. K bekerja sebagai guru TK dan guru mengaji di TPQ.

21) Nilai atau norma keluarga : Nilai dan norma yang berlaku dalam keluarga menyesuaikan dengan nilai dalam agama islam yang dianutnya serta norma masyarakat disekitarnya. Keluarga ini menganggap bahwa sakit yang diderita Tn. R adalah penyakit yang biasa terjadi sebab pikiran mengakibatkan gula darah meningkat secara tiba-tiba. Upaya untuk mengendalikan dilakukan dengan periksa ke pelayanan kesehatan bila yanng merasa sakit tak tertahan. Akan tetapi keluarga pasien biasa memakai obat- obatan dan herbal untuk dapat memulihkannya kembali.

22) Pola komunikasi keluarga : Pola komunikasi yang digunakan adalah komunikasi terbuka, setiap anggota keluarga bebas menyampaikan keluhan atau tanggapan hal ini dapat terlihat saat perawat berkunjung. Komunikasi yang digunakan di dalam keluarga adalah komunikasi dua arah.

23) Struktur kekuatan keluarga : Dalam keluarga keputusan yang diambil adalah hasil musyawarah bersama, setiap anggota berperan sesuai dengan perannya, dan dapat menyampaikan idenya jika ada masalah yang dirasakan.

3.1.5 Fungsi Keluarga

24) Fungsi ekonomi : Keluarga Tn. R menggunakan penghasilannya untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan setiap hari. Keluarga pasien termasuk ekonomi yang berkecukupan

25) Fungsi mendapatkan status sosial : Setiap hari keluarga Tn. R selalu berkumpul dirumah, hubungan dalam keluarga baik, dan selalu menaati norma-norma yang berlaku.

26) Fungsi pendidikan : Keluarga Tn. R berharap bahwa anak- anknya bisa mencapai pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan berharap mendapatkan pekerjaan yang baik dan layak.

27) Fungsi sosialisasi : Tn. R menerapkan pada anak-anaknya sopan-santun, jujur, bertanggung jawab, saling mengasihi, hormat kepada yang lebih tua, dan menghargai yang lebih muda. Keluarga berinteraksi dengan anggota keluarga yang lain begitu juga dengan tetangga. Tn. R mengatakan bahwa cara menanamkan hubungan interaksi sosial pada anaknya dengan tetangga dan masyarakat yaitu dengan memberi kebebasan anak bergaul dalam masyarakat.

28) Fungsi pemenuhan kesehatan : Pengetahuan keluarga tentang penyakit dan penanganannya

(1) Mengenal masalah kesehatan

Saat dikaji Tn. R mengatakan tidak mengetahui informasi kesehatan yang dialami oleh Tn. R. Keluarga mengatakan bahwa awal mulanya Tn. R mengalami sakit perut, lemas letih, sering ngos-ngosan saat melakukan aktivitas pasien merasakan bahwa pasien hanya mengalami kecapean

biasa. Setelah dibawa ke pelayanan kesehatan terdekat gula darah pasien meningkat hingga 54 mg/dL. Pasien juga sempat mengalami penurunan berat badan dari 70 kg menjadi 59 kg. Saat 3 bulan yang lalu pasien mengalami penglihatan yang mengabur yang beresiko jatuh hingga cedera yang dapat menimbulkan ulkus.

(2) Memutuskan tindakan yang tepat bagi keluarga

Saat itu pasien dan keluarga memutuskan untuk chekup gula darah yang ternyata didapat 350 mg/dL dengan tekanan darah mencapai 150/120 mmHg.

(3) Merawat anggota keluarga yang sakit

Keluarga merawat pasien dengan obat-obatan yang didapat setelah checkup dengan dampingan herbal yaitu dengan daun insulin yang di jus maupun direbus. Selama 2 bulan penuh Ny. K memasakkan bubur untuk Tn. R karena perutnya mengalami sakit. Setelah sakit perutnya hilang pasien kembali makan makan seperti biasa.

(4) Memodifikasi lingkungan

Lingkungan rumah keluarga Tn. R bersih, sedangkan di dalam rumah keluarga Tn. R cahaya matahari cukup masuk kedalam rumah, pencahayaan kurang, lantai di ruang depan berkeramik, dan lantai ruang belakang tidak berkeramik, bersih. Kamar mandi tidak licin belum keramik, bak mandi bersih, dan sumber air jernih.

(5) Menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan

Keluarga pasien kurang memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang ada seperti puskesmas, polindes, klinik, rumah sakit, dsb.

29) Fungsi religious : keluarga Tn. R sangat taat akan agama. Tidak perrnah meninggalkan ibadahnya.

30) Fungsi rekreasi : keluarga Tn. R sudah sangat jarang dating ketempat hiburan apalagi saat pandemi ini. Jadi keluarga Tn. R memutuskan untuk menetap di rumah dengan hiburan menonton televisi, bercanda-gurau bersama, dan berbagi cerita.

31) Fungsi reproduksi : saat ini Tn. R berusia 51 tahun dan istrinya berusia 43 tahun. Memiliki 2 anak dengan anak pertama laki-laki berumur 16 tahun dan yang kedua berumur 10 tahun.

32) Fungsi afeksi : menurut keterangan keluarga, dalam kehidupan sehari-hari mereka selalu damai dan saling menjaga kepentingan bersama. Tn.

R mengetahui penyakitnya langsung mengalami penurunan daya pikir dan sering merasa minder dengan istrinya.

3.1.6 Stress Dan Koping Keluarga

33) Stressor jangka pendek dan panjang :

Stressor jangka pendek : keluarga Tn. R sedang diuji dengan datangnya penyakit pada Tn. R. Dan berharap tidak ada yang mengalami seperti yang dialami pasien.

Stressor jangka panjang : keluarga Tn. R menyuruh pasien untuk memakai sandal untuk mengurangi resiko cedera yang memungkinan timbul ulkus.

34) Kemampuan keluarga berespon terhadap stressor : jika terdapat masalah dalam keluarga biasanya didiskusikan bersama untuk mendapatkan solusi bersama.

35) Strategi koping yang dugunakan : strategi koping yang digunakan keluarga yaitu dengan membuat keputusan bersama pada tiap anggota rumah jika mengalami suatu masalah.

36) Strategi adaptasi disfungsional : saat pengkajian tidak didapatkan data dalam mengatasi masalah secara maladaptif.

3.1.7 Pemeriksaan Kesehatan Tiap Individu Anggota Keluarga Tabel 3.6 Pemeriksaan Kesehatan Tiap Individu Anggota Keluarga

No .

Pemeriksaan Fisik

Tn. R Ny. K Sdr. I Nn. L

1. Tanda-tanda vital

TD :

140/110 mmHg Nadi : 82x/mnt

RR :

24x/mnt GDA ; 454 mg/Dl

TD :

120/90 mmHg Nadi : 74x/mnt

RR :

24x/mnt

TD :

110/80 mmHg Nadi : 80x/mnt

RR :

24x/mnt

Nadi : 60x/mnt

RR :

24x/mnt

2. Kepala Rambut

hitam tampak uban yang hampir merata, ditribusi rambut tidak merata, kulit kepala bersih, tidak terdapat lesi, rambut tipis

Rambut hitam, panjang, distribusi rambut merata, kulit kepala bersih tidak berketombe dan tidak ada lesi, uban sedikit, rambut tebal

Rambut hitam, pendek, distribusi rambut merata, kulit kepala bersih tidak berketombe dan tidak ada lesi, tidak ada uban, rambut tebal

Rambut hitam, pendek sepundak, distribusi rambut merata, kulit kepala bersih tidak berketomb

e dan

tidak ada lesi, tidak beruban, rambut tebal

3. Mata Mata

simetris, Palpebral superior tidak ada lesi dan warna sama dengan

Mata simetris, palpebral superior tidak ada lesi dan warna sama dengan

Mata simetris, palpebral superior tidak ada lesi dan warna sama dengan

Mata simetris, palpebral superior tidak ada lesi dan warna sama

sedangkan palpebral inferior juga sama dengan palpebra superior, Ketajaman mata VOD 6/15 false 2, VOS 6/12 false 3,

Sclera kekuning- kuningan, Konjunctiv

a non

anemis, Pupil bulat terletak pada central dengan rangsangan cahaya baik.

sedangkan palpebral inferior juga sama dengan palpebral superior, Ketajaman mata kanan 6/6 m dan mata kiri

6/6 m

(normal kanan kiri tidak ada miopi maupun presbiopi), Sclera putih, Konjunctiv

a non

anemis, Pupil bulat terletak pada central dengan rangsangan terhadap cahaya baik.

sedangkan palpebral inferior juga sama dengan palpebral superior, Ketajaman mata kanan 20/20 kaki dan mata kiri 20/20 (normal kanan kiri tidak ada miopi maupun presbiopi), Sclera putih, Konjunctiv

a non

anemis, Pupil bulat terletak pada central dengan rangsangan terhadap cahaya baik.

kulit sekitar sedangkan palpebral inferior juga sama dengan palpebral superior, Ketajaman mata kanan 20/20 kaki dan mata kiri 20/20 (normal kanan kiri tidak ada miopi maupun presbiopi), Sclera putih, Konjuncti va non anemis, Pupil bulat terletak pada central dengan rangsanga n terhadap cahaya baik.

4. Hidung Septum

nasi tidak bengkok, rambut hidung tidak melebihi lubang hidung, tidak berlendir, dan bersih

Septum nasi tidak bengkok, rambut hidung tidak melebihi lubang hidung, tidak berlendir dan bersih

Septum nasi tidak bengkok, rambut hidung tidak melebihi lubang hidung, tidak berlendir dan bersih

Septum nasi tidak bengkok, rambut hidung tidak melebihi lubang hidung, tidak berlendir dan bersih

5. Mulut Bibir merah

kehitaman, gusi merah kehitaman,

Bibir merah, gusi merah muda, gigi

Bibir merah, gusi merah muda, gigi

Bibir merah muda, gusi

gigi putih putih putih kekuningan

merah muda, gigi putih 6. Telinga Telinga

simetris keduanya, Tegang keduanya, Berukuran sedang sama besar

Telinga simetris keduanya, Tegang keduanya, Berukuran sedang sama besar

Telinga simetris keduanya, Tegang keduanya, Berukuran sedang sama besar

Telinga simetris keduanya, Tegang keduanya, Berukuran kecil sama besar

7. Leher Leher

hitam, tidak terdapat benjolan

Leher sawo matang, tidak terdapat benjolan

Leher hitam, tidak terdapat benjolan

Leher sawo sawo matang, tidak terdapat benjolan 8. Thorax Palpasi

(tidak ada nyeri tekan, pergerakan kanan dan kiri

seimbang), Perkusi (sonor), Auskultasi (tidak ada suara tambahan), Inspeksi (pergerakan dada simetris dan berbentuk normal chest)

Palpasi (tidak ada nyeri tekan, pergerakan kanan dan kiri

seimbang), Perkusi (sonor), Auskultasi (tidak ada suara tambahan), Inspeksi (pergerakan dada simetris dan berbentuk normal chest)

Palpasi (tidak ada nyeri tekan, pergerakan kanan dan kiri

seimbang), Perkusi (sonor), Auskultasi (tidak ada suara tambahan), Inspeksi (pergerakan dada simetris dan berbentuk normal chest)

Palpasi (tidak ada nyeri tekan, pergeraka n kanan dan kiri seimbang) ,

Perkusi (sonor), Auskultasi (tidak ada suara tambahan) ,

Inspeksi (pergeraka n dada simetris dan berbentuk normal chest) 9. Kardiovaskule

r

Palpasi (ictus cordis teraba), Perkusi (batas jantung normal;

batas atas –

Palpasi (ictus cordis teraba), Perkusi (batas jantung normal;

batas atas –

Palpasi (ictus cordis teraba), Perkusi (batas jantung normal;

batas atas –

Palpasi (ictus cordis teraba), Perkusi (batas jantung normal;

batas atas

batas bawah ICS V, batas kiri – ICS V mid clavikula sinistra, batas kanan- ICS IV mid sternalis dextra), Auskultasi (S1 dan S2 tunggal), Inspeksi (ictus cordis tidak tampak)

batas bawah ICS V, batas kiri – ICS V mid clavikula sinistra, batas kanan- ICS IV mid sternalis dextra), Auskultasi (S1 dan S2 tunggal), Inspeksi (ictus cordis tidak tampak)

batas bawah ICS V, batas kiri – ICS V mid clavikula sinistra, batas kanan- ICS IV mid sternalis dextra), Auskultasi (S1 dan S2 tunggal), Inspeksi (ictus cordis tidak tampak)

batas bawah ICS V, batas kiri – ICS V mid clavikula sinistra, batas kanan- ICS IV mid sternalis dextra), Auskultasi (S1 dan S2

tunggal), Inspeksi (ictus cordis tidak tampak) 10. Abdomen Palpasi

(tidak teraba adanya perbesaran hepar, dan tidak terdapat nyeri tekan), Perkusi (timpani), Auskultasi (bisisng usus berkisar 33x/menit), Inspeksi (berbentuk datar)

Palpasi (tidak teraba adanya perbesaran hepar, dan tidak terdapat nyeri tekan), Perkusi (timpani), Auskultasi (bisisng usus berkisar 33x/menit), Inspeksi (berbentuk tidak datar)

Palpasi (tidak teraba adanya perbesaran hepar, dan tidak terdapat nyeri tekan), Perkusi (timpani), Auskultasi (bisisng usus berkisar 33x/menit), Inspeksi (berbentuk datar)

Palpasi (tidak teraba adanya perbesaran hepar, dan tidak terdapat nyeri tekan), Perkusi (timpani), Auskultasi (bisisng usus berkisar 33x/menit ),

Inspeksi (berbentuk datar) 11. Ekstremitas Ekstremitas

kanan kiri atas dan bawah tidak terdapat gangguan, dengan

Ekstremitas kanan kiri atas bawah tidak ditemukan gangguan, dengan kekuatan

Ekstremitas kanan kiri atas dan bawah tidak ditemukan gangguan dengan

Ekstremita s kanan kiri atas dan bawah tidak ditemukan gangguan dengan

kekuatan 5555 akan tetapi mudah lemah dan letih

dengan kekuatan 5544

5555 kekuatan

5555

kekuatan 5555

12. Kulit Kulit hitam dan kering, tidak terdapat ulkus, CRT

<2 detik, terdapat lesi pada kaki kanan

Kulit sawo matang, lembab, tidak terdapat ulkus, CRT

<2 detik

Kulit sawo matang, lembab, tidak terdapat ulkus, CRT

<2 detik

Kulit kuning langsat, lembab, tidak terdapat ulkus, CRT <2 detik

13. BB 59 kg 60 kg 41 kg 25 kg

14. TB 168 cm 154 cm 150 cm 135 cm

15. Skala resiko jatuh pada penderita

Skor didapat 50 kriteria tingkat resiko tinggi dengan pencegahan jatuh resiko tinggi

- - -

3.1.8 Harapan Keluarga

Keluuarga Tn. R berharap sakit yang dialaminya tidak memburuk dan berharap tidak akan mengalami cedera serius yang akan dapat menimbulkan ulkus ganggren.

3.1.9 Analisa Data Tabel 3.7 Analisa Data

Data Etiologi Masalah

Ds :

1) Pasien mengatakan telah menderita DM selama 11 tahun yang lalu

2) Pasien mengatakan 3 bulan yang lalu mengalami penurunan saat melihat

3) Pasien mengatakan pandangan kabur Do :

Pemeriksaan visus 4) VOD 6/15 F-2 5) VOS 6/12 F-3

6) Tekanan darah 140/110 mmHg

7) Nadi 82x/menit 8) RR 24x/menit

9) Terdapat luka lecet pada kaki kanan

10) GDA 454 mg/dL

NPDR

Skleorosis PD kapiler retina

Transudasi cairan

Penumpukan cairan pada vitreous humor

Munculnya bayangan hitam pada mata

Penurunan penglihatan

Perubahan sensasi

Resiko cedera

Resiko cedera

Ds :

1) Pasien dan keluarga mengatakan tidak mengetahui tentang sakit yang dialaminya 2) Keluarga mengatakan

belum pernah ada penyuluhan mengenai retinopati

Do :

3) Pasien dan keluarga tampak bingung saat ditanya faktor risiko dari sakit yang dialami pasien

4) Pasien dan keluarga

tidak pernah

mengontrol mata sesuai anjuran dokter

Diabetes mellitus

Hiperglikemia

Viskositas darah

meningkat

Retina

Retinopati Diabetik

Tidak dapat mengenali masalah kesehatan

Kurang terpapar informasi kesehatan

Defisit pengetahuan

Defisit pengetahuan

3.1.10 Prioritas Masalah 1) Masalah 1 Resiko Cedera

Tabel 3.8 Skala Prioritas Pada Masalah Resiko Cedera

Kriteria Skor Bobot Skoring Pembenaran Sifat masalah :

Resiko

2 1 2/3x1 =

2/3

Masalah pasien dalam keperawatan masih ditingkat resiko dikarenakan pasien belum pernah terjadi cedera/luka/lecet pada integument

Kemungkinan masalah dapat diubah skala : Mudah

2 2 2/2x2 = 2 Masalah pasien mudah

diubah dengan

memakai/menyediakan sandal, kaoskaki, sepatu bot untuk mengurangi resiko Potensi masalah

untuk dicegah skala :

Tinggi

3 1 3/3x1 = 1 Potensi masalah untuk dicegah tinggi dengan menyediakan sandal, kaoskaki, sepatu bot maka pencegahannya pada cedera akan tinggi

Menonjolnya masalah skala : Segera

2 1 2/2x1 = 1 Keluarga merasa bahwa bila tidak segera ditangani maka memungkinkan akan timbulnya ulkus ganggren

Jumlah skor 4 2/3

2) Masalah 2 Defisit Pengetahuan

Tabel 3.9 Skala Prioritas Pada Masalah Defisit Pengetahuan

Kriteria Skor Bobot Skoring Pembenaran Sifat masalah :

Actual

3 1 3/3x1 = 1 Keluarga tidak

mengetahui detail tentang penyakit yang dialami Tn. R

Kemungkinan masalah dapat diubah skala : Mudah

2 2 2/2x2 = 2 Kemungkinan masalah dapat diubah mudah dengan pemberian penkes keluarga kooperatif dalam penkes dan aktif bertanya

Potensi masalah untuk dicegah skala :

Tinggi

3 1 3/3x1 = 1 Keinginan keluarga untuk mengetahui masalah penyakit yang dialami Tn. R

Menonjolnya masalah skala :

Tidak perlu

1 1 1/2x1 = ½ Keluarga mengalami sebelumnya tidak perlu disegerakan

Dokumen terkait