BAB III TINJAUAN KASUS
BAB 4 PEMBAHASAN
4.1 Pengkajian
Pada tahap pengumpulan data penulis tidak mengalami kesulitan karena penulis telah melakukan perkenalan kepada pasien dan menjelaskan maksud penulis yaitu melaksanakan asuhan keperawatan pada klien yang meliputi pengkajian, perencanaan, implementasi dan evaluasi secara terbuka.
4.1.1 Identitas :
Pada dasarnya pengkajian antara tinjauan pustaka dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan. Pada tinjauan pustaka untuk usia ( DM tipe 1 usia
< 30 tahun, DM tipe 2 usia > 30 tahun, cenderung meningkat pada usia > 65 tahun ), Sebagian besar dijumpai pada perempuan dibanding laki-laki, Pada tinjauan kasus didapat data pasien berumur 60 tahun dan pada jenis kelamin perempuan. Antara tinjauan pustaka dan tinjauan kasus tidak ditemukan perbedaan yang signifikan.
Berdasarkan pengamatan peneliti antara tinjauan kasus dan tinjauan pustaka tidak terdapat kesenjangan karena identitas pasien ditinjauan pustaka
sama dengan identitas penderita Diabetes Mellitus Gangren yang mana usianya 60 tahun dan berjenis kelamin perempuan.
4.1.2 Keluhan utama :
Pada tinjauan pustaka pasien Diabetes Mellitus biasanya pada pasien DM didapatkan keluhan berupa keletihan, sering kesemutan, sering kencing, takikardia, nyeri pada luka gangren, BB menurun, tiba-tiba pengelihatan kabur, dan banyak pus. Pada tinjauan kasus didapatkan data pasien menyeluh nyeri luka pada kaki kiri. Pada tinjauan kasus terdapat kesenjangan dengan tinjauan pustaka dikarenakan pada tinjauan kasus keluhan utamanya hanya ditemukan data nyeri luka pada kaki kiri.
Berdasarkan pengamatan peneliti antara tinjauan kasus dan tinjauan pustaka terdapat kesenjangan karena keluhan utama yang dialami oleh pasien tidak sama dengan keluhan pada penderita Diabetes Mellitus Gangren lainnya.
4.1.3 Riwayat penyakit saat ini :
Pada tinjauan pustaka pasien dengan Diabetes Mellitus biasanya sering lelah, lemas, kesemutan, nafsu makan bertambah, banyak minum, sering kencing, BB menurun, sering kesemutan, adanya gatal pada kulit dan nyeri yang tak tertahankan pada luka gangrene dikaki yang rasanya seperti tertusuk – tusuk, nyerinya muncul saat melakukan aktivitas dan terdapat banyak pus.
Sedangkan pada hasil dari tinjauan kasus diperoleh data pasien mengatakan sudah 1 minggu pasien merasakan lemas, mual, demam, dan nyeri luka pada kaki kiri, rasanya cekot-cekot, nyeri lebih sering muncul dan bertambah saat
kaki digunakan beraktivitas dan berkurang saat beritirahat, nyerinya sangat mengganggu skala nyerinya 7 dan berbau.
Berdasarkan pengamatan peneliti antara tinjauan kasus dan tinjauan pustaka terdapat kesenjangan karena riwayat penyakit saat ini yang dialami oleh pasien tidak sama dengan riwayat penyakit saat ini pada penderita Diabetes Mellitus Gangren lainnya.
4.1.4 Riwayat penyakit dahulu :
Pada tinjauan pustaka pasien dengan Diabetes Mellitus biasanya perlu ditanyakan apakah sebelumnya px pernah menderita penyakit Diabetes Mellitus atau pernah menderita penyakit lainnya dan Diabetes Mellitus dapat terjadi saat kehamilan, riwayat penyakit pancreas, hipertensi, kemungkinan adanya riwayat obesitas. Sedangkan pada tinjauan kasus didapatkan pasien pernah menderita penyakit diabetes mellitus 8 tahun, hipertensi 10 tahun dan memiliki hiperkolesterol.
Berdasarkan pengamatan peneliti antara tinjauan kasus dan tinjauan pustaka tidak terdapat kesenjangan karena pada riwayat penyakit dahulu yang dialami oleh pasien sama dengan riwayat penyakit dahulu pada penderita Diabetes Mellitus Gangren lainnya yaitu memiliki riwayat Diabetes Melitus dan juga Hipertensi.
4.1.5 Pada pemeriksaan B1 (Breathing) menurut putra (2019) tinjauan pustaka didapatkan data saluran pernafasan terkadang pada inspeksi bentuk dada simetris, bisa terdapat retraksi otot bantu nafas, terkadang ada yang
membutuhkan bantu nafas O2, mungkin terjadi pernafasan cepat dan dangkal, RR normal 18-20x/menit mungkin juga meningkat, nafas bau aseton. Pada palpasi didapatkan vocal fremitus antara kiri kanan sama, susunan ruas tulang belakang normal. Pada perkusi didapatkan suara sonor , pada auskultasi tidak ditemukan adanya suara nafas tambahan , suara nafas vesikuler sehingga muncul masalah keperawatan ketidakefektifan pola nafas yang ditandai dengan membutuhkan bantu nafas O2, frekuensi pernafasan meningkat, pernafasan cepat dan dalam. Pada pemeriksaan B1 (Breathing) pada tinjauan kasus didapatkan inspeksi bentuk dada pasien simetris, susunan ruas tulang belakangnya normal tidak ada kifosis, scoliosis lordosis, irama nafasnya teratur, tidak ada retraksi otot bantu nafas, tidak memakai alat bantu pernafasan, tidak ada batuk, RR 20x/menit. Pada palpasi didapatkan vocal fremitus nya memiliki getaran yang sama antara kiri dan kanan. Perkusi thorax sonor, pada auskultasi tidak ditemukan adanya suara nafas tambahan, bunyi nafas klien vesikuler. Pada pemeriksaan B1 (Breathing) ditinjauan kasus tidak terdapat masalah keperawatan. Adanya perbedaan antara tinjauan pustaka dan tinjauan kasus, diakibatkan karena pada pemeriksaan B1 ditinjauan kasus, pasien tidak ditemukan komplikasi Diabetes Mellitus yang mengganggu system pernafasan.
Pada pemeriksaan B2 (Blood) menurut putra (2019) tinjauan pustaka didapatkan data inspeksi yaitu penyembuhan luka yang lama, mungkin terjadi hipertensi, tidak terdapat clubbing finger , tidak terdapat pembesaran
JVP, pada palpasi didapatkan ictus cordis tidak teraba, bisa terjadi takikardia, CRT kembali ≤ 3 detik ( bisa saja CRT > 3 detik dan terjadi sianosis ), pulsasi kuat lokasi radialis, pada perkusi suara perkusi jantung pekak, letak jantung masih dalam batas normal di ics II sternalis dextra sinistra sampai ics V midclavikula sinistra pada auskultasi ditemukan bunyi jantung S1 S2 tunggal. Pada pemeriksaan fisik B2 dapat muncul masalah keperawatan ketidakefektifan perfusi jaringan perifer yang berhubungan dengan iskemik jaringan dan penurunan suplai darah keperifer. Pada tinjaun kasus di B2 didapatkan pada inspeksi tidak terdapat sianosis, tekanan darah 130/70 mmhg, tidak ada clubbing finger, pada palpasi tidak didapatkan pembesaran vena jugularis, ictus cordis teraba lemah dengan ukuran ≤ 1 cm, nadi 80x/menit., pada perkusi ditemukan suara perkusi jantung pekak, letak jantung masih dalam batas normal di ics II sternalis dextra sinistra sampai dengan ics V midclavikula sinistra, pada auskultasi didapatkan bunyi jantung S1 S2 tunggal. Pada pemeriksaan fisik B2 (Blood) pada tinjauan kasus tidak ada masalah keperawatan. Adanya kesenjangan antara tinjauan pustaka dan tinjauan kasus, diakibatkan karena pada pemeriksaan B2 ditinjauan kasus, pasien tidak ditemukan komplikasi Diabetes Mellitus yang mengganggu system kardiovaskuler.
Pada pemeriksaan B3 (Brain) menurut putra (2019) tinjauan pustaka didapatkan data inspeksi yaitu kesadaran pasien bisa baik ataupun menurun, pasien bisa pusing, merasa kesemutan, mungkin tidak disorientasi,
terkadang ada gangguan memori. Pada palpasi tidak ditemukan adanya parese. Pada pemeriksaan B3 (Brain) tinjauan kasus didapatkan data pada inspeksi pasien kesadaran composmentis, orientasi baik, tidak terjadi kejang, pupil isokor, tidak ada kaku kuduk, tidak ada nyeri kepala , tidak ada pusing dikepala, tidak ada kelainan nervus cranialis, istirahat tidur pasien pada siang hari 2 jam selama dirumah sakit dan saat dirumah, pada saat malam hari istirahat tidur pasien 7 jam saat dirumah sakit dan 8 jam saat dirumah, reflek cahaya baik saat mata didekatkan cahaya pupil mengecil. Pada palpasi tidak terdapat parese, sehingga pada pemeriksaan fisik B3 (Brain) pada tinjauan kasus tidak ada masalah keperawatan.
Tidak adanya kesenjangan antara tinjauan pustaka dan tinjauan kasus pada pemeriksaan fisik B3 ditinjauan kasus, pasien tidak ditemukan komplikasi Diabetes Mellitus yang mengganggu system persyarafan.
Pada pemeriksaan B4 (Bladder) menurut putra (2019) tinjauan pustaka didapatkan data inspeksi yaitu frekuensi berkemih meningkat, berwarna kuning, berbau khas pada palpasi tidak ada nyeri tekan pada simfisis pubis.
Pada pemeriksaan B4 (Bladder) ditinjauan kasus didapatkan data inspeksi yaitu jumlahnya urinnya 2000 cc/ 24 jam, berwarna kuning , berbau khas, tidak memakai kateter, pasien menggunakan pempes ukuran M dengan daya tampung 5 x 200 cc, keluarga pasien mengatakan pasien dalam sehari ganti pempes 2x. pada palpasi tidak ditemukan nyeri tekan pada area simfisis pubis. Pada pemeriksaan B4 (Bladder) ditinjauan kasus tidak ada masalah keperawatan. Adanya kesenjangan antara tinjauan pustaka dan tinjauan
kasus pada pemeriksaan fisik B4 ditinjauan kasus, pasien tidak ditemukan komplikasi Diabetes Mellitus yang mengganggu system perkemihan.
Pada pemeriksaan B5 (Bowel) menurut putra (2019) tinjauan pustaka didapatkan data inspeksi yaitu keadaan mukosa bibir kering atau lembab, lidah mungkin kotor, bisa terjadi mual muntah, penurunanan BB, polifagi, anoreksia. Pada palpasi terdapat nyeri tekan abdomen atau tidak, pada perkusi terdengar suara thympani, pada auskultasi terdengar peristaltic usus normal 5-35x/menit. Pada pemeriksaan B5 (Bowel) tinjauan pustaka didapatkan masalah keperawatan ketidakseimbangan nutisi kurang dari kebutuhan yang berhubungan dengan mual, muntah, anoreksia ditandai dengan penurunan berat badan dan muncul masalah keperawatan keletihan yang berhubungan dengan penurunan berat badan. Pada pemeriksaan B5 (Bowel) tinjauan kasus didapatkan data Inpeksi terdapat mual, muntah 2x, porsi makan habis 3-4 sendok makan, mukosa mulut lembab, kebiasaan BAB 1x sehari, konsistensinya padat, berwarna kecoklatan, berbau khas, tempat yang digunakan WC, keluarga pasien mengatakan baju yang dikenakan pasien menjadi lebih longgar saat sakit. Pada palpasi tidak ada nyeri tekan epigastrium, tidak terdapat nyeri saat menelan. Pada perkusi terdengar suara thympani., pada auskultasi didapatkan peristaltik usus 10x/
menit. Pada pemeriksaan B5 (Bowel) tinjauan pustaka didapatkan masalah keperawatan ketidakseimbangan nutisi kurang dari kebutuhan yang berhubungan dengan mual, muntah, anoreksia. Tidak adanya kesenjangan
antara tinjauan pustaka dan tinjauan kasus pada pemeriksaan fisik B5 ditinjauan kasus, pasien juga ditemukan masalah yang mengganggu pada system pencernaan.
Pada pemeriksaan B6 (Bone) menurut putra (2019) tinjauan pustaka didapatkan data inspeksi yaitu kulit tampak kering, adakah luka ( apabila ada luka, maka harus dilihat keadaan luka, ada pus atau tidak, kedalaman luka, luas luka ), ada oedeme atau tidak, pada palpasi didapatkan akral hangat, kekuatan otot dapat menurun , pergerakan sendi dan tungkai bisa mengalami gangguan dan terbatas. Pada pemeriksaan B6 (Bone) ditinjauan pustaka dapat muncul masalah keperawatan kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan luka gangrene. Pada pemeriksaan B6 (Bone) tinjauan kasus didapatkan data inspeksi yaitu kulit kering , tidak terdapat dislokasi, tidak ada oedema, tidak terdapat fraktur, kemampuan pergerakan sendi dan tungkai bebas, terdapat luka terbalut kasa dipunggung kaki kiri, kondisi luka terdapat nekrosis pada digiti kedua, luka berdiameter 5 cm dengan kedalaman 0,3-0,4 cm, terdapat eritema basah dipunggung kaki kiri, terdapat pus, ditelapak kaki kiri terdapat luka kering dengan diameter 2 cm dan kedalaman lika 0,3-0,4 cm, kemampuan ADL pasien parsial untuk duduk pasien harus dibantu oleh keluarga seluruh aktivitas pasien dilakukan ditempat tidur, pada palpasi turgor kulit elastis, akral hangat, kekuatan otot 5 5
5 5 , Pasien mengatakan nyeri pada kaki kirinya yang luka, rasanya cekot- cekot, nyeri lebih sering muncul dan bertambah ketika kaki digunakan untuk
beraktifitas dan berkurang saat digunakan untuk beristirahat, nyerinya sangat mengganggu aktivitas pasien, skala nyeri 6, keluarga pasien mengatakan seluruh aktivitas pasien dilakukan ditempat tidur . Pada pemeriksaan B6 (Bone) tinjauan kasus muncul masalah keperawatan kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan nekrosis jaringan ditandai dengan luka gangrene dan nyeri akut yang berhubungan dengan iskemik jaringan dan juga hambatan mobilitas fisik. Adanya kesenjangan antara tinjauan pustaka dan tinjauan kasus pada pemeriksaan fisik B6 ditinjauan kasus, berdasarkan pengamatan pada pasien ditemukan komplikasi dari Diabetes Mellitus, masalah yang mengganggu pada system integument dan musculoskeletal pada tinjauan kasus ialah hambatan mobilitas fisik, nyeri akut dan kerusakan integritas jaringan.
Pada pemeriksaan B7 (Penginderaan) menurut putra (2019) tinjauan pustaka didapatkan data inspeksi yaitu pengelihatan mulai kabur, ketajaman pengelihatan mulai menurun, ketajaman penciuman normal, terdapat secret atau tidak, ketajaman pendengaran normal, ada lesi atau tidak, pada palpasi terdapat nyeri tekan pada mata, hidung, telinga atau tidak. Pada tinjauan kasus B7 (Penginderaan) didapatkan data inspeksi yaitu konjungtiva anemis, sclera putih, tidak terdapat pembengkakan disekitar mata , tidak terdapat mata juling, ketajaman pengelihatan pasien baik, pasien tidak menggunakan alat bantu pengelihatan, mukosa hidung lembab, tidak terdapat secret, pasien mampu mendengar dengan jelas. Pada palpasi tidak terdapat nyeri tekan
pada area mata, hidung dan telinga. Pada tinjauan kasus B7 (Penginderaan) tidak terdapat masalah keperawatan. Adanya kesenjangan antara tinjauan pustaka dan tinjauan kasus pada pemeriksaan fisik B7 ditinjauan kasus, pasien tidak ditemukan komplikasi dari Diabetes Mellitus yang mengganggu pada system pengindraan.
Pada pemeriksaan B8 (Endokrin) menurut putra (2019) tinjauan pustaka didapatkan data inspeksi yaitu adakah gangrene , lokasi gangrene, adakah pus, bau nya, adakah polifagi, poliuri, polydipsia. Pada palpasi diraba kedalaman luka gangrene. Pada pemeriksaan B8 (Endokrin) tinjauan pustaka muncul masalah keperawatan kerusakan integritas jaringan yang berhubungan dengan nekrosis jaringan ditandai dengan luka gangrene, masalah keperawatan retensi urin yang ditandai dengan adanya poliuri dan nokturia, masalah keperawatan gangguan citra tubuh yang ditandai kehilangan bagian tubuhnya akibat luka yang sukar sembuh, , meluasnya luka gangrene juga dapat menyebabkan masalah keperawatan resiko infeksi.
Pada pemeriksaan B8 (Endokrin) tinjauan kasus didapatkan data inspeksi terdapat luka gangrene dipunggung kaki kiri, terdapat nekrosis pada digiti kedua, luka berdiameter 5 cm dengan kedalaman luka 0,3-0,4 cm, terdapat eritema basah dipunggung kaki kiri, terdapat pus, terdapat bau menyengat, ditelapak kaki kiri terdapat luka kering dengan diameter 2 cm dan kedalaman luka 0,3-0,4 cm. pada palpasi tidak terdapat pembesaran kelenjar thyroid, tidak terdapat pembesaran kelenjar parotis. Pada pemeriksaan B8 (Endokrin)
tinjauan kasus muncul masalah keperawatan kerusakan integritas jaringan yang berhubungan dengan nekrosis jaringan ditandai dengan luka gangrene.
Adanya kesenjangan antara tinjauan pustaka dan tinjauan kasus pada pemeriksaan fisik B8 ditinjauan kasus, berdasarkan pengamatan pada pasien, pasien tidak ditemukan triaspoli hal tersebut dikarenakan pasien sudah mengalami diabetes mellitus selama 8 tahun, sedangkan triaspoli merupakan gejala awal yang menunjukan seseorang tersebut menderita diabetes mellitus, namun ketika gula darah pasien tidak terkontrol dan insulin dalam tubuh sedikit atau tidak mampu bekerja dengan baik, insulin tersebut tidak memiliki pengaruh apapun terhadap metabolism glukosa sehingga terjadi penimbunan glukosa di ekstrasel yang menyebabkan hiperosmolaritas.
Transport maksimal glukosa akan meningkat diginjal sehingga glukosa akan di eskresikan ke dalam urin. Hal ini menyebabkan diuresis osmotic yang disertai polyuria, akibat dari poliuri menyebabkan dehidrasi ekstrasel, dehidrasi intrasel mengikuti dehidrasi ekstrasel karena air intrasel akan berdifusi keluar sel. Dehidrasi intrasel menstimulasi pengeluaran hormone anti deuretik dan menimbulkan rasa haus, karena tubuh kehilangan banyak kalori maka akan mengakibatkan terjadinya polifagi