• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengungkapan Standar Topik

Dalam dokumen Consolidated Set of GRI Standards - Indonesian (Halaman 148-151)

Topik 11.2 Adaptasi, ketahanan, dan transisi iklim

Adaptasi, ketahanan, dan transisi iklim adalah bagaimana cara suatu organisasi menyesuaikan diri dengan risiko terkait perubahan iklim saat ini dan yang diperkirakan, serta bagaimana organisasi turut berkontribusi pada kemampuan masyarakat dan ekonomi untuk bertahan dari dampak perubahan iklim. Topik ini mencakup strategi organisasi yang berkaitan dengan transisi menuju ekonomi rendah karbon dan dampak transisi tersebut

terhadap pekerja dan komunitas lokal.

Penandatanganan Perjanjian Paris telah berkomitmen untuk mempertahankan pemanasan global ‘di bawah 2°C’

[58], namun cadangan bahan bakar fosil yang saat ini ada di seluruh dunia jauh melampaui jumlah maksimum yang dapat dikonsumsi sembari tetap berada dalam batas ini [78]. Ini berarti organisasi di sektor minyak dan gas perlu menetapkan target untuk emisi karbon; memodifikasi model bisnis mereka; dan berinvestasi dalam energi

terbarukan, serta teknologi untuk menghilangkan CO dari atmosfer [68], dan solusi berbasis alam untuk memitigasi perubahan iklim, seperti penanaman hutan kembali, penghijauan, restorasi pesisir dan lahan basah.

Transisi menuju ekonomi rendah karbon mengharuskan organisasi untuk menetapkan target emisi yang sejalan dengan tujuan untuk meminimalkan pemanasan global menjadi di bawah 2°C berdasarkan Perjanjian Paris.

Tindakan untuk mengurangi emisi yang berkaitan dengan proses ekstraksi dan distribusi minyak dan gas, yaitu emisi energi GRK (Cakupan 1) langsung dan (Cakupan 2) tidak langsung, menawarkan peluang penting dan mendesak bagi sektor ini untuk berkontribusi pada penurunan emisi gas rumah kaca global. Sektor ini juga

menghadapi harapan untuk mengatasi emisi Cakupan 3 tidak langsung yang berkaitan dengan penggunaan produk minyak dan gas. Tindakan untuk mengurangi emisi ini dapat meliputi, misalnya, diversifikasi menjadi usaha dengan karbon lebih rendah.

Transisi menuju ekonomi rendah karbon juga menghadirkan ketidakpastian tentang masa depan permintaan minyak dan gas. Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan bahwa berdasarkan kebijakan saat ini, permintaan akan minyak akan tetap stabil hingga 2030 sedangkan, di beberapa kawasan, permintaan akan gas akan mulai menurun pada 2040 [68]. Dalam skenario yang memperkirakan akselerasi transisi energi untuk mencapai emisi gas rumah kaca nol-bersih (net-zero) pada 2050, permintaan terhadap minyak dapat turun hingga mendekati 75% antara 2020 hingga 2050 serta permintaan terhadap gas dapat melonjak sebelum 2030 [67].

Penurunan permintaan terhadap minyak dan gas akan menyebabkan penurunan penggunaan fasilitas produksi yang sudah ada dan penurunan pengembangan cadangan alam. Tergantung pada kecepatan proses ini, beberapa ladang dan fasilitas mungkin perlu dievaluasi ulang atau dihentikan lebih awal, sehingga menjadi aset terlantar. Hal ini akan memengaruhi organisasi minyak dan gas secara finansial dan menghasilkan dampak signifikan bagi pekerja, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya.

Transisi tersebut dapat memengaruhi lapangan pekerjaan, pendapatan pemerintah, serta pembangunan ekonomi di daerah-daerah tempat sektor ini beroperasi. Penutupan yang lebih sering kemungkinan kecil diimbangi dengan pembukaan, seperti yang telah terjadi di masa lalu. Pekerja mungkin menghadapi potensi dampak lainnya terkait dengan kemampuan dipekerjakan, pelatihan keterampilan baru, dan peluang dipekerjakan kembali seperti yang diinginkan. Penutupan operasi tanpa penyediaan proses pembongkaran (decommissioning) dan rehabilitasi yang memadai mungkin juga mengakibatkan beban ekonomi bagi pemerintah dan komunitas lokal (lihat juga topik 11.7 Penutupan dan rehabilitasi), terutama di negara-negara tempat produksi minyak dan gas menghasilkan persentase pendapatan yang besar.

Untuk mewujudkan transisi yang tepat menuju ekonomi rendah karbon, berbagai tingkat ketergantungan pekerja, komunitas lokal, dan ekonomi nasional pada sektor minyak dan gas perlu diakui, dan diciptakan pekerjaan berkualitas bagi mereka yang terpengaruh [79]. Contoh tindakan yang mungkin dilakukan organisasi untuk berkontribusi pada transisi yang tepat termasuk memberikan pemberitahuan terlebih dahulu tentang penutupan;

bekerja sama dengan pemerintah dan serikat; mendukung kebijakan yang konsisten tentang iklim (lihat juga topik 11.22 Kebijakan publik); pelatihan ulang, pelatihan keterampilan baru, dan penempatan kembali pekerja; serta melakukan investasi alternatif pada masyarakat yang terpengaruh. Konsultasi awal yang penuh makna dengan pemangku kepentingan dan komunitas lokal juga telah dianggap sangat penting untuk mewujudkan transisi yang tepat (lihat juga topik 11.7 Penutupan dan rehabilitasi).

2

3

3 Skenario Nol‐bersih pada 2050 dari IEA dirancang untuk menunjukkan apa yang diperlukan oleh berbagai pelaku berdasarkan waktunya, agar dunia mencapai emisi CO2 pengolahan industri dan terkait energi nol‐bersih pada 2050, namun hal itu hanya salah satu jalan yang memungkinkan untuk mencapai emisi nol bersih pada 2050 [67].

Kotak 2. Analisis skenario untuk transisi iklim

Analisis skenario merupakan proses yang mempertimbangkan situasi alternatif untuk menilai hasil yang akan datang. Organisasi dapat menggunakannya untuk mengukur potensi hasil strategi mereka dalam situasi atau kondisi yang tidak menentu. Analisis skenario dapat menerapkan berbagai metodologi, baik kualitatif maupun kuantitatif. Rekomendasi Task Force on Climate-related Financial Disclosures (TCFD) menyarankan analisis skenario sebagai cara untuk membantu organisasi memahami risiko dan peluang yang terkait dengan perubahan iklim [82].

Analisis skenario cukup tepat untuk mengeksplorasi risiko bagi organisasi minyak dan gas yang bertransisi menuju ekonomi rendah karbon karena analisis ini memungkinkan mereka untuk mempertimbangkan beberapa kondisi di masa depan sekaligus. Organisasi biasanya menetapkan skenario sesuai dengan kecepatan transisi, yang diekspresikan dalam hasil rata-rata perubahan suhu global. Skenario yang sejalan dengan komitmen negara-negara dalam Perjanjian Paris akan menuntut peningkatan suhu jauh di bawah 2ºC. Skenario lain dapat ditetapkan sesuai dengan konteks nasional suatu organisasi. Organisasi kemudian dapat mengejawantahkan penurunan emisi gas rumah kaca yang sejalan dengan peningkatan risiko tersebut ke dalam prakiraan pendapatan.

Dalam dokumen Consolidated Set of GRI Standards - Indonesian (Halaman 148-151)