Para ulama mengatakan bahwa pada periode Makkah, sebelum hijrah, belum disyariatkan adzan. Mereka menyeru untuk shalat berjamaah dengan mengucapkan ةــعم اــج ةلاـــصلا. (Marilah shalat berjamaah). Setelah Nabi SAW hijrah ke Madinah dan dialihkan kiblat ke Ka’bah, beliau menyuruh adzan dan ditinggalkan ucapan ةـــعم اـــجلا ةلاـــصال itu. Karena ada perintah yang datang untuk memanggil shalat. Adalah Nabi SAW sangat menginginkan, bagaaimana cara memanggil orang untuk shalat berjamah.
Lalu berberapa orang sahabat, Abdullah bin Zaid al-Khazraj al-Anshari,
‘Umar bin al-Khatthab, dan Abu Bakar al-Shiddiq, bermimpi tentang adzan.
Dulu pada waktu peristiwa Isra’ ke langit sebenarnya Nabi sudah mendengar suara seruan adzan. Sedankan mimpi Abdullah bin Zaid dan
72
’Umar bin al-Khatthab yang mendengar seruan adzan dalam mimpinya sangat masyhur. Bahwa Abdullah bin Zaid menceritakan mimpinya itu kepada baginda Nabi SAW pada malam ia bermimpi. Sedangkan ‘Umar menceritakan mimpinya kepada Nabi pada waktu Shubuh. Kemudian Nabi SAW menyuruh Bilal mengumandangkan suara adzan sesuai yang didengar kedua sahabat tadi dalam mimpi. Bilal menambah adzan Shubuh dengan ucapan: موـ ــنـلا نــم رـ ــيـخ ةلاصـ ــلا. (Shalat lebih baik dari tidur). Rasulullah pun menetapkan tambahan adzan dari Bilal yang tidak terdapat dalam mimpi Abdullah bin Zaid. Daruquthni meriwayatkan bahwa Abu Bakar bermimpi tentang adzan. Baliau menyampaikannya kepada Nabi SAW. Bahwa Nabi SAW menyuruh Bilal adzan sebelum Abdullah bin Zaid menyampaikan mimpinya, (al-Qurthubi, I, t.t.: 225).
Menurut riwayat adzan baru disyariatkan setelah hijriyah ke Madinah. Sebagaimana disebutkan di atas bahwa pensyariatan adzan ini adalah berdasarkan hadits.
ع ـ ع ن ـب ـ ب الله د ـ ع ن ـ م ـ ق ر ا اك :ل ن ملسملا ـ نو ح ـ ي ـ ق ن ــ د دملا اوم ي
ـ ي ةن ـ ج ـ ت ـ عم ـ نو
فـ ـ ت ـ ح ـي ـ ن ـ لاصلا نو لو ة
ـ ي يـ ان ب يد ـ حا اه ـ ف ,د ـ ت ـ ك ـ ي اومل ـ ذ يف امو ل
ـ ف ,ك ـ عب لاق ـ هض ـ :م
تا ـ خ ـ ان اوذ ق ـ ثم اسو ـ ل نـ قـ راصنلا و ى
عب لاقو , ـ
هض ـ :م ب ـ ق ل ـ م انر ـ ث ـ ق ل ــ لا نر ـي ـ ه ـ ,دو
فـ ع لاق ـ م ـ :ر ا ت لاو ـ عب ـ ث ـ جر نو ـ ي لا ـن ـ ا اب يد ل ـ لاق ,ةلاص :ملسو هيلع الله يلص الله لوسر
ب اي ـ ق للا ـ ف م ـ ان اب ىد ل لاص خبلا هاور( .ة ـ ا
ر ى و و ملسم )دمحا
Dari Ibnu ‘Umar ia mengatakan, Dulu kaum muslimin berkumpul dan mengira-ngira waktu shalat dan tidak ada orang yang menyerukannya.
Pada suatu hari mereka memperbincangkan hal tersebut. Antara lain ada yang berkata, "Pergunakanlah lonceng seperti orang Nasrani”. Ada pula yang mengatakan, “Tapi yang lebih baik tanduk seperti serunai bagi orang Yahudi!.” Lalu ‘Umar berkata, “Kenapa tidak disuruh saja seseorang untuk menyerukan shalat.” Maka Rasulullah bersabda, “Hai, Bilal, bangkitlah!”
Lalu Bilal mengumandangkan adzan.” (H.R al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad.
Ini menurut riwayat Muslim, II: t.t.: 2).
Ada pula hadist yang lebih rinci menjelaskan tentang pensyariatan adzan sebagaimana terdapat dalam beberapa kitab hadits.
Dari Abdullah bin Zaid bin Abi Rabbih, katanya, Tatkala Rasulullah SAW menyuruh menyediakan lonceng buat dipukul guna menghimpun orang-orang untuk shalat. Dalam suatu riwayat dikatakan, sedang beliau sendiri sebenarnya tidak suka hal tersebut karena sama dengan orang- orang Nasrani. Tiba-tiba waktu aku tidur bermimpi ada seorang laki-laki yang membawa lonceng di tagannya berkelilng aku. Aku bertanya kepadanya, “Hai hamba Allah, Apakah engkau bersedia menjual lonceng itu kepadaku?” Laki-laki itu menjawab, “Untuk apa gunanya bagi engkau?”
Aku menjawab, “Buat memanggil orang-orang untuk shalat”. Laki-laki itu berkata, “Maukah engaku saya tunjukkan yang lebih baik dari itu.” Aku menjawab, “Ya, mau.” Laki-laki itu berkata, Ucapkanlah: Allahu Akbar, Allahu Akbar 2 X. Asyhadu alla ilaha illa Allah 2 X. Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah 2 X. Hayya ‘alash shalah 2 X. Hayya ‘alal falah 2 X. Allahu Akbar, Allahu Akbar. La ilaha illa Allah.
73
Kemudian ia mundur sedikit sambil bekata, “Bila engkau hendak mendirikan shalat maka ucapkanlah: Allahu Akbar, Allahu Akbar.
Asyhadu alla ilaha illa Allah. Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah.
Hayya ‘alash shalah. Hayya ‘alal falah. Qad qamatish shalah 2 X. Allahu Akbar, Allahu Akbar. La ilaha illa Allah.
Ketika sudah hanpir waktu shubuh, aku datang menemui Rasulullah SAW, lalu aku menceritakan apa yang aku alami dalam mimpi. Beliau berkata, “Insya Allah itu adalah mimpi yang benar. Berdirilah dengan Bilal dan ajarkanlah kepadanya apa yang engkau dengar itu agar diserukannya, karena suaranya lebih baik dan lebih lantang dari pada suaramu.” Maka aku pun berdiri bersama Bilal dan aku ajarkan kepadanya bacaan-bacaan itu sementara ia adzan. Selanjutnya katanya, “Suara itu kedengaran oleh
‘Umar yang sedang berada di rumahnya, dia pun keluar dengan kainnya yang terjela di belakang seraya berkata, “Demi Allah yang telah mengutus Engkau dengan kebenaran. Aku juga bermimpi sebagaimana yang engkau mimpikan.” Kemudian Nabi SAW bersabda, “Maka bagi Allah segala puji.”
(H.R. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, dan al-Turmudzi yang mengatakan hadits ini hasan-shahih. (Lihat: Sayyi Sabiq, I, 1983: 95).
Berdasarkan hadits ini, maka bilangan kalimat adzan itu terdiri dari lima belas kalmat, yaitu sebagai berikut:
Allahu Akbar Allahu Akbar 2 X Asyhadu alla ilaha ill Allah 2 X
Ayhadu anna Muhammadar Rasulullah 2 X Hayya ‘alash shalah 2 X
Hayya ‘alal falah 2 X Allahu Akbar Allahu Akbar La ilaha illa Allah
Sepakat Imam Malik dan Imam al-Syafi’i bahwa berulang-ulang mengucapkan adzan. Oleh karena itu, Asyhadu alla ilaha ill Allah dan Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah, diucapkan dua kali, (al-Qurthubi, I, t.t : 227).
Ada juga riwayat yang menyebutkan bahwa kalimat adzan itu sembilan belas kalimat, yaitu mengucapkan takbir empat kali, lalu dua kalimat syahadat diucapkan masing-masing dengan suara lunak dua kali, kemudian diulang lagi masing-masing dua kali dengan suara keras.
Dalilnya ialah hadits yang diriwayatkan dari Abu Muza’ah,
لا نأ ـن ـ لص يب ى لع الله ـ ع ملس و هي ـ
ْلاا همل ت ناذ ـ ع عس ـ ك ةرش ـ ةمل دح :يذمرتلا لاق و ةسمخلا هاور . ثي
نسح
ص حيح Bahwa Nabi SAW mengajarkan adzan kepadanya sebanyak sembilan belas kalimat. (H.R. al-Khamsah, dan menurut al-Turmudzi hadits ini hasan shahoh).
Perinciannya adalah sebagai berikut:
Allah Akbar Allahu Akbar 2 X
Asyhadu alla ilaha illa Allah 2 X ) dengan suara lunak Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah 2 X . ) dengan suara lunak
74
Asyhadu alla ilaha illa Allah 2 X ) dengan suara keras Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah 2 X ) dengan suara keras Hayya ‘alash shalah 2 X
Hayya ‘alal falah 2 X Allahu Akbar Allahu Akbar La ilaha illa Allah
Ada lagi riwayat yang menyebutkan bahwa kalimat adzan itu tujuh belas kalimat, yaitu dengan mengulang dua kalimat syahadat. Dalilnya ialah hadits yang diriwayatkan dari Abu Mahdzurah,
لص الله لوسر نأ ى
لع الله ـ ع ملس و هي ـ
همل ه ـ اذ ذلاا كا الله :ن ـب
ـ ر كا الله ـب ـ هشأ ,ر ـ لاأ هلأ لا نأ د
هشا ,الله ـ
هشا ,الله لاا هلا لا نا د ـ
شا ,الله لوسر ادمحم نا د ه
ـ عي مث ,الله لوسر ادمحم نا د ـ
دو
فـ قي ـ و هشا :ل ـ هشا ,الله لاا هلا لا نا د ـ
الله لاا هلا لا نا د هشا ,
ـ الله لوسر ادمحم نا د هشا ,
ـ نا د
الله لوسر ادمحم لاصلا يلع يح ,
رم ة فلا يلع يح ,نيت ـ
ترم حلا ـي
ـ ,ن لاحسا دازو كا الله
ـ رب
كا الله ـ الله لاا هلا لآ ,رب ملسم هاور .
. Rasulullah SAW mengajarkannya adzan sebagai berikut,
Allahu Akbar Allahu Akbar Asyhadu alla ilaha illa Allah 2 X
Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah 2 X
Kamudian diulangi lagi: Asyhadu alla ilaha illa Allah 2 X, Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah 2 X
Hayya ‘alash shalah 2 X Hayya ‘alal falah 2 X
Ishaq menambahkan: Allahu Akbar, Allahu Akbar La ilaha illa Allah (H.R. Muslim, II, t.t.: 3)..
Timbul pertanyaan, Bagaimana menyikapi cara melafalkan adzan yang berbeda-beda ini? Mana yang akan diamalkan? Dalam konteks ini, ada baiknya disimak penjelasan yang dikemukakan Abu ‘Umar bahwa menurut Imam Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahawaih, Dawud bin ‘Ali, Ibnu Jarir al-Thabari, membolehkan mengucapkan adzan semua yang diriwayatkan dari Rasulullah. Mereka membolehkan mengambil salah satu alternatif. Mereka mengatakan, Semuanya itu boleh, dan diamalkan para sahabat. Siapa yang ingin mengucapkan Allahu Akbar, Allahu Akbar dua kali pada awal adzan atau yang menghendaki empat kali, dan siapa yang ingin mengulang kembali adzannya, siapa yang tidak mengulangnya, dan siapa yang menghendaki dua-dua kali atau satu-satu kali, semuanya boleh.
Kecuali Hayya ‘alash shalah harus dua kali, (al-Qurthubi,I, t.t.: 228). Namun demikian, menurut hemat penulis dalam prakteknya harus memperhatikan kondisi masyarakat, jangan sampai menimbulkan problem di masyarakat, apalagi akan bermuara pada fitnah.