• Tidak ada hasil yang ditemukan

KESELARASAN ALAM SEMESTA

6. Penutup

Bencana datang dan dunia rusak karena adanya gangguan atau ketidakseimbangan dari unsur alam seperti tanah, air, udara dan api yang terdapat di dalam ruang semesta. Manusia kini dihadapkan dengan masalah-masalah ekologis, ketidakseimbangan dari unsur- unsur alam tersebut, seperti berupa bencana alam, gempa bumi, kebakaran hutan, tsunami, dan sebagainya.

Di tengah ancaman masalah ekologis itu, hendaknya kita selalu ingat akan pesan yang selalu dapat kita peroleh dari dalam vihara. Pesan damai dengan diri sendiri, pesan keterkaitan dan keselarasan hidup kita dengan lingkungan alam, pesan hukum sebab akibat dan hukum tertib alam semesta. Untuk itulah di vihara kita membacakan Paritta, mantram dalam puja bakti dalam beribadah, agar alam berjalan sesuai dengan hukumnya, musim datang tepat waktunya, dan dunia selalu berada dalam damai.

Keselarasan alam yang juga mencerminkan kesalingterkaitan, interkonektivitas, interpenetrasi, dan co-eksistensi segala sesuatu.

Bukankah nasi yang kita masukkan ke dalam perut kita tadi pagi, berasal dari beras, berasal dari padi yang ditanam di sawah berlumpur dalam hangatnya sinar mentari, air yang mengalirinya dan juga hembusan udara serta tenaga seekor kerbau dan keringat petani. Terima kasih kepada alam, bumi, lingkungan serta segala bentuk kehidupan dan transformasi berbagai energi yang tercurahkan.

Pesan-pesan itulah yang hendaknya menjadi pedoman bagi manusia dalam membangun lingkungannya. Tujuan dari pembangunan yang seharusnya untuk mencapai kesejahteraan yang maksimum dengan sedikit mungkin konsumsi sehingga tidak mengakibatkan kerusakan terhadap alam dan lingkungan dan tercapainya pembangunan yang berkelanjutan. Untuk mencapai hal tersebut, kita harus hidup selaras dengan alam. Kita merupakan bagian dari alam, tidak terpisahkan dari alam, apa yang terjadi di alam adalah cermin bagaimana kita memerlakukan diri dan hidup kita sendiri.

Thich Nhat Hanh (1988) menyarankan, “bagaimana kita seharusnya dapat berurusan dengan alam? Kita berurusan dengan alam dengan cara yang sama kita berurusan dengan atau memerlakukan diri kita sendiri. Kehidupan manusia dan alam tidak terpisahkan” (Eppsteiner, F.

(ed.), “The Path of Compassion: Writing on Socially Engaged Buddhism”, Barkeley Calif., Parallax Press, 1988, p.41).

Masalah ekologis berkaitan dengan pembangunan keberlanjutan, daya tahan bumi, dan daya dukung kehidupan. Bumi dan segenap isinya ini adalah warisan bagi anak cucu, penghuni masa depan kehidupan dan manusia saat ini hendaknya hanya mengambil secukupnya saja.

Dari dalam vihara, di dalam Dharmasala kita akan mendengar khotbah-khotbah Buddha tentang kesederhanaan dalam menjalani kehidupan, keselarasan dengan alam dan lingkungan yang juga sejalan dengan perjuangan mengatasi masalah ekologis dan pemenuhan pembangunan yang berkelanjutan.

Pesan dari vihara yang sesungguhnya juga adalah pesan yang juga berbunyi dari dalam hati kita yang sedalam-dalamnya, vihara yang ada di dalam diri kita semua. Pesan suara hati, suara alami, murni-suci yang hidup dan tumbuh menyatu dengan alam, air, tanah, api dan udara.

Kita tidak boleh mengambil lebih di luar kebutuhan kita, apalagi untuk pemuasan dan keserakahan (lobha), pemusatan egoisme kita.

Hidup tidak berlebih serta mampu mengendalikan diri menjadi inti amanat ajaran Buddha bagi siapa saja dalam menyikapi sumber-sumber kehidupan yang terdapat di alam, bumi, dan lingkungan. Manusia memang mesti bekerja dan mengolah alamnya untuk kebutuhan hidupnya, tapi tidak untuk keserakahan manusia. Keserakahan (lobha) mencerminkan keakuan egoisme adalah akar dari penderitaan.

Begitulah gema suara kebajikan yang berkumandang dari dalam vihara, suara yang sangat penting untuk bersikap altruistik terhadap sesama, segala bentuk kehidupan dengan menjaga kelestarian alam dan keasrian lingkungan.

Segala proses dalam mengerjakan apa saja atau proses produksi hendaknya diawali dengan penggunaan bahan yang sehemat mungkin, serta dengan pikiran dan niat yang baik yang bertujuan juga untuk simpanan dan persediaan bagi anak cucu nanti. Segala apa yang ada di vihara beserta aktivitasnya kiranya dapat mencerminkan hal itu. Kesederhanaan, pemupukan karma baik, pembelajaran ajaran kebenaran hendaknya mencerminkan sungguh-sungguh akan kesadaran ekologis yang menjaga dan merawat segala bahan-bahan yang ada di alam.

Tindakan sederhana, tidak berlebih, hidup samadya atau seimbang merupakan pesan spiritual yang didapat dari dalam vihara. Schumacher, ekonom yang mencerminkan ajaran Buddha menegaskan, “mengingat yang ada adalah hanya sebagai sarana untuk kebahagiaan dan kesejahteraan manusia, maka tindakan kita ditujukan untuk maksimum kesejahteraan makhluk dengan konsumsi yang sedikit mungkin. Bertindak dengan konsumsi yang minimal untuk maksimal

kesejahteraan, serta tindakan tanpa kekerasan adalah tindakan yang paling tepat untuk pembangunan berkelanjutan”

Perhatian dan kepedulian terhadap masalah alam dan lingkungan ini, dalam perspektif agama Buddha dapat tercermin di dalam membangun vihara maupun kehidupan yang ada di vihara. Niat yang baik, kehendak yang murni yang menjadi dasar dari tindakan yang baik (good karma) akan menghasilkan kesejahteraan, akibat yang baik (vipaka) bagi lingkungan dan alam, manusia binatang dan segenap penghuni di alam ini, baik tumbuh-tumbuhan maupun benda-benda dan kehidupan lainnya. Sabbe Sattva Bhantu Sukhitata. Semoga Segenap Makhluk Hidup Berbahagia!

***

Referensi:

dr. Leena Seneheweera, UNDV Conference Volume/ 2009.

McMahan, David L. 2008. “The Making of Buddhist Modernism”. New York: Oxford University Press,

Asiacandira.wordpress.com, diakses 5/12/2019.

http://www.eubios.Info/EJ115/EJ51.html.

Samaggi-phala.or.id. Tentang vihara, /diakses 6/12/2019.

Ensiklopedi Nasional, Rubrik Buddha, 1991.

Novrizal Primayudha, dkk. “Makna Penerapan elemen Interiror pada Bangunan vihara Satya Buddha Bandung, Jurnal Rekajiva, Online Institut Teknologi Nasional, No.01/Vol.02/Februari 2014.

Macy, Joanna, 2000. “The Third Turning of the Wheel: A Conversation With Joanna Macy”, in stephanie Kazaand Keneth Craft. Dharma Rain:

Source of Buddhist Environmentalism.

Eppsteiner, F. (ed.), 1988. “The Path of Compassion: Writing on Socially Engaged Buddhism”, Barkeley Calif., Parallax Press.

Schumacher, E.F.,1975. “Small is Beautiful: Economics as if People Mattered”, New York: Harper & Row Publishers, 1975.

“Buddhist Approach to Environment Crisis”, UNDV Conference Volume, The International Buddhist Conference on the United Nations Day of Vesak Celebrations 4-6 May 2552/2009 Thailand.

***

AGAMA KHONGHUCU

ECO RUMAH IBADAH BERDASARKAN KITAB SUCI