A. HASIL PENELITIAN
3. Penyajian dan Pengolahan Data
sebanyak 5 responden atau 15,15 persen,dan yang memproduksi dibawah 50 biji 4 responden atau 12,12 persen. Dengan tingkat produksi yang sudah tergolong tinggi sagatlah mempengaruhi keadaan ekonomi dan tingkat kesejahtraan masyrakat khususnya para pengusa produksi dangke Kecamata Alla Kabupaten Enrekang.
Tabel 4.7 Bangsa dan karakteristik sapi perah
Pilihan Kategori Jawaban Frekuensi Persentase (%) a
b c d
Mempermuda Cukup mempermuda Kurang mempermuda
Tidak mempermuda
15 12 4 2
43,41 30,30 15,15 12,14
Jumlah 33 100,00
Sumber Hasil Angket Nomor 5
Tabel 4.7 menunjukkan bahwa responden dalam penelitian memberikan jawaban pada kategori mempermudah sebanyak 15 responden atau 43,41 persen, kategoti cukup mempermudah sebanyak 12 responden,kategori kurang mempermudah sebanyak 4 responden atau 15,15 persen dan kategori tidak mempermudah sebayak 2 responden atau 12,14 persen memberikan jawaban mempermuda, mengacu pada tingkat jawaban tertinggi maka dapat dikatakan bahwa karakteristik pedet sapi perah mempermuda dalam usaha produksi dangke.
Kelompok sapi perah yang khusus menghasilkan susu memiliki ciri-ciri khusus 1. Warna bulu hitam dengan bercacak-cacak putih, di negeri belanda sendiri
ada Fries Holland yang mempunyai warna coklat/merah dengan bercacak- cacak putih (Brow FH).
2. Bulu ujung ekor berwarna putih.
3. Bagian bawah dari carpus (bagian kaki) berwarna putih atau hitam dari atas terus kebawah.
4. Tanduknya pendek dan menjurus kedepan.
Adapun sifat dari sapi perah yaitu:
a. Pada betina tenang dan jinak sedangkan pada pejantan agak liar dan ganas.
b. Tidak tahan panas, tetapi lebih mudah menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan.
Untu mengetahui tanggapan responden tentang pemilihan sapi perah sebagai pakan produksi dangke disesuaikan dengan Luas kandang sapi perah yang akan dipelihara dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 4.8 Pemilihan Sapi Perah Disesuaikan Dengan Luas Kandang Sapi Perah yang Akan Dipelihara.
Pilihan Kategori Jawaban Frekuensi Persentase ( % ) A
B C D
Disesuaikan Cukup disesuaikan Kurang disesuaikan
Tidak disesuaikan
33 0 0 0
100,00 0,00 0,00 0,00
Jumlah 33 100,00
Sumber : Hasil Olah Angket Nomor 6
Tabel 4.8 menunjukkan bahwa responden dalam penelitian memberikan jawaban pada kategori disesuaikan sebanyak 33 responden atau 100,00 persen, dan tidak ada responden yang memberikan jawaban cukup disesuaikan, kurang disesuaikan, dan tidak disesuaikan. Mengacu pada tingkat persentase tertinggi, maka dapat dikatakan bahwa penyedian sapi perah harus disesuaikan dengan luas kandang sapi yang akan dipelihara agar terjadi keseimbangan antara luas kandang
sapi yang disediakan dimana kandang tersebut memunuhi persyaratan bagi kesehatan sapi, memiliki ventilasi atau pertukaran udara yang sempurna mudah dibersihkan dan selalu terjaga kebersihannya, memberi kemudahan bagi peternak, tidak ada genangan air di dalam maupun di luar kandang, tidak berdekatan dengan pemukiman penduduk ataupun bangunan-bagunan umum seperti sekolah, mesjid, rumah sakit dan puskesmas, pembuangan air limba dan kotoran harus tersalurkan dengan baik, persediaan air bersih cukup, jarak kandang dari rumah penduduk minimal sekitar 10 m, dengan jumlah sapi perah yang akan dipelihara. Hal ini sesuai pernyataan bapak Sudarno. ( wawancara 29 september 2014) meyatakan, sebelum produksi dangke dimulai terlebih dahulu tersedia sapi perah yang akan dipelihara, daun sebagai makanan sapi serta kandang sapi yang ukuranya sesuai dengan berapa jumlah sapi perah yang akan dipelihara dengan mutu yang baik agar dapat memproduksi susu yang banyak. Taksiran pemeliharaan makanan sapi perah sangat perlu di lakukan agar supaya sebelum usaha (pemeliharaan) dimulai dapat diketahui jumlah sapi perah yang akan dipelihara. Untuk mendapatkan produksi yang optimal dari makanan sapi yang ditanam, mesti dilakukan pemeliharaan antara lain pemupukan, pengairan, dan pengendalian hama dan penyakit.
Untuk mengetahui tanggapan responden tentang hambatan/kendala yang ditemukan dalam pengadaan bibit tanaman sebagai makanan sapi perah dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 4.9 Hambatan/Kendala yang Ditemukan Dalam Pengadaan Bibit Tanaman Sebagai Makanan Sapi Perah.
Pilhan Kategori Jawaban Frekuensi Persentase (%) A
B C d
Selalu Sering Kadang-kadang
Tidak pernah
3 5 16
9
9,09 15,15 48,48 27,27
Jumlah 33 100,00
Sumber : Hasil Olah Angket Nomor 7
Tabel 4.9menunjukkan bahwa responden dalam penelitian memberikan jawaban pada kategori selalu sebanyak 3 responden atau 9,09 persen, kategori sering sebanyak 5 responden atau 15,15 persen , kategori kadang-kadang sebanyak 16 responden atau 48,48 persen, dan kategori tidak pernah 9 responden atau 27,27 persen. Mengacu pada tingkat persentase tertinggi, maka dapat dikatakan bahwa kadang-kadang pengusaha produsi dangke menemukan hambatan/kendala dalam pengadaan bibit tanaman makanan sapi perah disebabkan karena tidak tersediah lahan untuk tanaman makanan sapi perah.
Berdasarkn hasik wawancara bapak yusman dan ibu linda tanggal 30 september 2014 tentang tanaman makanan sapi perah tergantung pada cuaca seperti pada saat ini di desa taulo cuaca musim kemarau sehingga makanan sapi agak sulit di dapat termaksud rumput, adapun makanan sapi yang lain yaitu jeramih,dedak dan ampas tahu.
Untuk mengetetahui tanggapan responden tentangperalatan/bahan-bahan yang ada sekarang mempermudah dalam penggunaan alat dan bahan yang diperlukan, dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 4.10 Peralatan/Bahan-bahan yang Ada Sekarang Mempermuda Dalam Penggunaan Alat dan Bahan yang Diperlukan
Pilihan Kategori Jawaban Frekuensi Persentase (%) A
B C D
Mempermuda Cukup mempermuda Kurang mempermuda
Tidak mempermuda
23 10 0 0
69,70 30,30 0,00 0,00
Jumlah 33 100,00
Sumber : Hasil Olah Angket Nomor 8
Tabel 4.10 menunjukkan bahwaresponden dalam penelitian memberikan jawaban pada kategori mempermuda sebanyak 23 responden atau 69,70 persen, kategori cukup memeruda sebanyak 10 responden atau 30.30 persen, dan tidak ada responden yang memberikan jawaban kurang mempermuda dan tidk mempermuda. Mengacu pada tingkat persentase tertinggi, maka dapat dikatakan bahwa pengadaan peralatan/bahan-bahan yang ada sekarang mempermuda dalam penggunaan alat dan bahan yang diperlukan dalam pemeliharaan sapi perah untuk produksi dangke.
Untuk mengetahui tnggapan responden tentang ruangan dan peralatan/bahan-bahan yang digunakan sekarang menunjang terlaksananya produksi dangke, dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 4.11 Ruangan dan Peralatan/Bahan-bahan yang Digunakan Sekarang Menunjang Terlaksananya usaha Produksi Dangke.
Pilihan Kategori Jawaban Frekuensi Persentase (%) A
B C D
Menunjang Cukup menunjang Kurang menunjang
Tidak menunjang
22 9 2 0
66,67 27,27 6,06 0,00
Jumlah 33 100,00
Sumber : Hasil Olah Angket Nomor 9
Tabel 4.11 menujukkan bahwa responden dalam penelitian memberikan jawaban pada kategori menunjang sebanyak 22 responden atau 66,67 persen, kategori cukup menunjang sebanyak 9 responden atau 27,27 persen, kategori kurang menunjang 2 responden atau 6,06 persen, dan tidak ada responden yang memberikan jawaban tidak menunjang. Mengacu pada tingkatpersentase tertinggi, maka dapat dikatakan ruangan dan peralatan/bahan-bahan yang digunakan sekarang menunjukkan terlaksananya pemeliharaan sapi perah untuk produksi dangke.
Untuk mengetahui tanggapan responden tentang hambatan/kendala yang ditemukan dalam penyediaan peralatan/bahan-bahan yang digunakan untuk produksi dangke, dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 14.12 Hambatan/Kendala yang Ditemukan Dalam Penyediaan Peralatan/Bahan-bahan yang Digunakan Untuk Produksi Dangke.
Pilihan Kategori Jawaban Frekuensi Persentase (%) A
B
Selalu Sering
2 3
6,06 9,09
C D
Kadang-kadang Tidak pernah
24 4
72’73 12,12
Jumlah 33 100,00
Sumber : Hasil Olah Angket Nomor 10
Tabel 4.12 menunjukkan bahwa responden dalam penelitian memberikan jawaban pada kategori selalu sebanyak 2 responden atau 6,06 persen, kategori sering sebanyak 3 responden atau 9,09 persen, kategori kadang-kadang sebanyak 24 responden atau 72,73 persen, dan kategori tidak pernah 4 responden atau 12,12 persen. Mengacu pada tingkat persentase tertinggi, maka dapat dikatakan bahwa kadang-kadang pengusaha menemukan hambatan/kendala dalam penyediaan peralatan/bahan-bahan yang digunakan untuk produksi dangke.
Untuk mengetahui tanggapan responden tentang pemesanan bahan yang digunakan dalam pemeliharaan sapi perah dimulai, dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 4.12 Ruangan dan Peralatan/Bahan-bahan yang Digunakan Sekarang Menunjang Terlaksananya Produksi Dangke. dimulai dari pemesanan pedet sapi, pemesanan makanan sapi sampai dengan perkandangan sapi perah
Pilihan Kategori Jawaban Frekuensi Persentsase (%) A
B C D
Selalu Sering Kadang-kadang
Tidak pernah
30 3 0 0
90,91 9,09 0,00 0,00
Jumlah 33 100,00
Sumber : Hasil Olah Angket Nomor 11
Tabel 4.12 menunjukkan bahwa responden dalam penelitian mmberikan jawaban pada kategori selalu sebanyak 30 responden atau 90,91 persen, kategori sering sebanyak 3 responden atau 9,09 persen, dan tidak ada responden yang memberikan jawaban kadang-kadang dan tidak pernah. Mengacu pada tingkat persentase tertinggi, maka dapat dikatakan bahwa peternak selalu memesan pedet sapi perah sebelum pemeliharaan dimulai dan peryataan ini dibenarkan oleh bapak aspi (wawancara 2 oktober 2014) menyatakan, pada waktu akan memelihara pedet langkah pertama yang harus dilakukan yaitu bagaimana mendapat pedet yang sehat, kuat dan mempunyai berat lahir yang normal. Untuk selanjutnya diharapkan dapat berproduksi secara optimum. Perlu diketahui bahwa tingkat mortalitas anak sapi dibawah umur 3 bulan dapat mencapai sekitar 20-35%. Pedet yang dilahirkan dalam keadaan lemah, pemeliharaanya kurang ekonomis karena pertumbuhannya akan terhambat sehingga memerlukan waktu yang lama sampai berproduksi.
Namun demikian siapapun yang memelihara dan membesarkan pedet, minggu- minggu pertama saat yang kritis bagi kehidupan anak sapi terutama disebabkan karena kepekaan terhadap penyakit yang sering terjadi seperti pneumonia dan diare juga akibat kesalahan makanan. Jumlah pedet yang akan dipelihara harus disesuaikan dengan luas kandang sapi serta peralatan dalam produksi dangke.
Untuk mengetahui tanggapan responden tentang pembersihan desinfeksi ruangan dan peralatan usaha produksi dangke dapat melindungi dari kerusakan dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 4.13 Pembersihan Desinfeksi Ruangan dan Peralatan Usaha Produksi Dangke Dapat Melindungi Dari Kerusakan
Pilihan Kategori Jawaban Frekuensi Persentase (%) a
b c d
Melindungi Cukup melindungi Kurang melindungi
Tidak melindungi
20 9 4 0
60,61 27,27 12’12 0,00
Jumlah 33 100,00
Sumber : Hasil Olah Angket Nomor 12
Tabel 4.13 menunjukkan bahwa responden dalam penelitian memberikan jawaban pada kategori melindungi sebanyak 20 responden atau 60,61 persen, kategori cukup melindungi sebanyak 9 responden atau 27,27 persen, kategori kurang melindungi 4 responden atau 12,12 persen, dan tidak ada responden yang memberikan jawaban tidak melindungi. Mengacu pada tingkat persentase tertinggi, maka dapat dikatakan bahwa pembersihan desinfeksi ruangan dan peralatan usaha produksi dangke dapat melindungi dari kerusakan.
Berdasarkan hasil wawancara dengan salah seorang responden bapak aspi (wawancara 2 oktober 2014) dalam melaksanakan pembersihan desinfeksi ruangan dan peralatan, pertama–tama dengan kandang tiap hari selalu dibersihkan dari kotoran sapi menggunakan air sebayak mungkin dan sapu,lantai kandang selalu dalam kondisi kering, pentilasi kandang cukup untuk pertukaran udara atau sirkulasi udara cukup dan sinar matahari leluasa masuk kedalam kandang sehingga kandang tidak lembab, tempat pakam yang selalu bersih sehingga memudahkan sapi dalam mengkomsumsi pakan yang diberikan, kotoran sapi
tersalur dengan baik sehingga kotoran sapi tersebut tidak menjadi tempat berkembang biaknya lalat, kemudian sebelum sapi di peras susunya terlebih dahulu sapi harus di mandikan, Kebersihan ruangan merupakan salah satu kunci keberhasilan pemeliharaan pedet sapi perah.
a. Pengorganisasiaan
Pengorganisasiaan yaitu menciptakan suatu tata hubungan kerja yang dapat digerakkan dalam pencapaian tujuan yang telah ditetapkan . dalam produksi dangke pengguna tenaga kerja dapat digunakan sepenuhnya dengan memperhatikan penyusunan tempat kerja yang sesuai dengan kebutuhan sehingga tidak menimbulkan hambatan dalam kerja seperti pemangkasan/pemupukan tanaman rumput, dan rumput yang dipotong pada pagi hari yang masih banyak mengadung embun sebaiknya dilayukan terlebih dahulu.
Untuk mengetahui tanggapan responden tenteng pemeliharaan pedet sapi perah perlu mendapat penenganan yang khusus, dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 4.14 Pemerasan susu sapi perah perlu mendapat penanganan yang khusu
Pilihan Kategori Jawaban Frekuensi Persentase (%) A
B C D
Selalu Sering Kadan-kadang Tidak Pernah
28 5 0 0
84,85 15,15 0,00 0,00
Jumlah 33 100,00
Sumber : Hasil Olah Angket Nomor 13
Tabel 4.14 menunjukkan bahwa responden dalam penelitian memberikan jawaban pada kategori selalu sebanyak 28 responden atau 84,85 persen, kategori sering sebanyak 5 responden atau 15,15 persen, dan tidak ada responden yang memberikan jawaban kadang-kadang dan tidak pernah. Mengacu pada tingkat persentase tertinggi, maka dapat dikatakan bahwa pemerasan susu sapi perah selalu mendapat penenganan khusus agar pedet sapi perah tidak mudah terkena penyakit.
Keadaan tabel 4.14 sesuai dengan hasil wawancara dengan salah seorang responden bapak kahar (wawancara, 2 oktober 2014) beliau menyatakan, setelah peternak memnerima pedet sapi perah yang telah dipesan dari pihak produsen, sebaiknya segera melakukan penanganan terhadap pedet sapi untuk kesehatan bagi pedet sapi tersebut anak sapi yang baru dilahirkan biasannya dijilati oleh induknya. Hal ini akan membantu mengeringkan tubuh anaknya dan membantu sirkulasi darah serta pernapasannya, bila tidak dijilati maka pedet harus dibersihkan bagian hidungnya dari lendir dan megeringkannya dengan lap bersih dan kering, sedangkan tubuhnya dapat dikeringkan dengan jejabatan (jerami kering).
Selain itu bapak kahar menambahakan untuk produksi dapat diketahui sapi-sapi yang harus dipertahankan dan sapi mana yang harus dikeluarkan (cull) dan beberapa ekor ternak pengganti yang harus disediakan setiap tahunnya.
Demikian pula halnya dalam mengambil keputusan yaitu langkah mana yang harus diambil apabila kapasitas produksi telah melebihi kapasitas daya tampung
pemasaran. Apabila jumlah sapi laktasi yang harus dikurangi atau kualitas ransum yang harus diturunkan.
Cacatan produksi juga berguna untuk tujuan seleksi dan pembuatan silsilah (keturunan) dan sapi-sapi tersebut. Catatan produksi ini dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain dicatat setiap hari, setiap minggu atau sebulan sekali. Yang terbaik adalah yang dicatat setiap hari, akan tetapi pencatatan sebulan sekali telah diakui oleh semua negara. Yang utama penctatan ini harus mencakup segala keterangan dari setiap ekor sapi dari seluruh peternakan. Hal ini untuk mengevaluasi pelaksanaan manajemen selanjutnya serta rencana jangka panjang.
Pencatatan ini harus sederhana, lengkap, dapat dipertanggungjawabkan dan memerlukan sedikit waktu untuk mengerjakannya.
Untuk mengetahui tanggapan responden tentang kandang pemeliharaan sapi perah besar selalu diadakan perluasan, dapat dilihat pada tabel beriku ini.
Tabel 4.15 Pemeliharaan Sapi Perah Besar Selalu Diadakan Perluasan Pilihan Kategori jawaban Frekuensi Persentase (%)
a. Selalu 26 78,79
b. Sering 7 21,21
c. Kadang-kadang 0 0,00
d. Tidak pernah 0 0,00
Jumlah 33 100,00
Sumber : Hasil Olah Angket Nomor 14
Tabel 4.15 menunjukkan bahwa responden dalam penelitiaan memberikan jawaban pada kategori selalu sebanyak 26 responden atau 78,79 persen, kategori
sering sebanyak 7 responden atau 21,21 persen, dan tidak ada responden yang memberikan jawaban tidak pernah. Mengacu pada tingkat persentase tertinggi maka dapat dikatakan bahwa kandang pemeliharaan sapi perah diadakan perluasan agar sapi berkembang dengan baik sesuai dengan perkembangannya.
Berdasarkan hasil wawancara dengan salah seorang responden bapak Kahar (wawancara 3 oktober 2014) menyatakan, kandang merupakan bagian penting yang harus ada dalam suatu perusahaan peternakan sapi perah.
Perencanaan pembuatan kandang harus disusun secara matang, baik itu pengatur tata letak, pengaturan bagunan, metode pemeliharaan dan pemerahan yang akan dilakukan sesuai tujuan peternakan itu. Perencanaan penting dilakukan mengigat sebagian besar waktu bekerja yang dihabiskan oleh peternak sapi perah berada dalam kandang sapi perah yaitu 2/3 bagian, dapat berjalan dengan lancar dan efisien kerja dapat dicapai dengan tetap memperhatikan fungsi kandang itu sendiri.
Untuk mengetahui tanggapan responden tentang manajemen kandang sapi yang baik dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 4.16 Manajemen Kandang Sapi yang Baik
Pilihan Kategori Jawaban Frekuensi Persentase (%) a
b c d
Selalu Sering Kadang-kadang
Tidak pernah
21 1 11
0
63,64 3,03 33,33
0,00
Jumlah 33 100,00
Sumber : Hasil Olah Angket Nomor 15
Tabel 4.16 menunjukkan bahwa responden dalam penelitiaan memberikan jawaban pada kategori selalu sebanyak 21 responden atau 63,64 persen, kategori sering 1 responden atau 3,03 persen, kategori kadang-kadang sebanyak 11 responden atau 33,33 persen, dan tidak ada responden yang memberikan jawaban tidak pernah. Mengacu pada tingkat persentase tertinggi maka dapat dikatakan bahwa manajemen kandang sapi yang baik.
Untuk mengetahui tanggapan responden tentang arah kandang sapi yang baik dapat dilihat pada tabel berikut ini
Tabel 4.17 Arah Kandang Sapi yang Baik
Pilihan Kategori jawaban Frekuensi Persentase (%) a
b c d
Selalu Sering Kadang-kadang
Tidak pernah
27 6 0 0
81,82 18,18 0,00 0,00
Jumlah 33 100,00
Sumber : Hasil Olah Angket Nomor 16
Tabel 4.17 menunjukkan bahwa responden dalam penelitian memberikan jawaban pada kategori selalu sebanyak 27 responden atau 81,82 persen, kategori sering sebanyak 6 responden atau 18,18 persen, dan tidak ada responden yang memberikan jawaban kadang-kadang dan tidak pernah. Mengacu pada tingkat persentase tertinggi maka dapat dikatakan bahwa arah kandang sapi yang baik, untuk kandang tunggal menghadap ke timur sedangkan untuk kandang ganda menbujur dari utara ke selatan. Maksudnya agar sinar matahari pagi dapat masuk
kedalam kandang untuk membantu proses terbentuknya vitamin D dalam tubuh ternak sekaligus membasmi bibit penyakit. Hal ini juga sesuai dengan pernyataan bapak Kahar (wawancara 3 oktober 2014) menyatakan, Ventilasi kandang cukup untuk pertukaran udara dan sirkulasi udara cukup dan sinar matahari leluasa masuk kedalam kandang sehingga kandang tidak lembab. Kelembaban ideal yang dibutuhkan sapi perah adalah 60-70%.
Untuk mengetahui tanggapan tentang manajemen kesehatan sapi perah dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 4.18 Manajemen Kesehatan Sapi Perah
Pilihan Kategori Jawaban Frekuensi Persentase (%) a
b c d
Selalu Sering Kadang-kadang
Tidak pernah
25 8 0 0
75,76 24,24 0,00 0,00
Jumlah 33 100,00
Sumber : Hasil Olah Angket Nomor 17
Tabel 4.18 menunjukkan bahwa responden dalam penelitian memberikan jawaban pada kategori selalu sebanyak 25 responden atau 75,76 persen, kategori sering sebanyak 8 responden atau 24,24 persen, dan tidak ada responden yang memberikan jawaban kadang-kadang dan tidak pernah. Mengacu pada tingkat persentase tertinggi maka dapat dikatakan bahwa manajemen kesehatan sapi perah merupakan salah satu peningkatan hasil produksi susu yang berkualitas Hal ini juga sesuai dengan pernyataan bapak atis (wawancara 4 oktober 2014)
menyatakan bahwa, peningkatan produksi susu yang masih sering dijumpai dipeternakan adalah penyakit yang akan meimbulkan kerugian ekonomis yang tidak sedikit yaitu yang secara tidak langsung menurunkan produksidan kualitas susu. Ternak terserang penyakit apabila tubuh seekor ternak mengalami perubahan dari keadaan sehat atau normal karena berbagi alasan. Biasanya kita dapatmengenali seekor ternak sakit dari tanda-tanda jasmaniah atau gejala.
Penyebab penyakit antar lain adalah bakteri,virus, protozoa, parasit baik yang bersal dari dalam maupun dari luar, racun, gizi yang buruk, luka dan faktor-faktor lingkungan.
Ternak yang sakit membutuhkan pengobatan, akibatnya hal ini akan mempertinggi biaya produksi. Oleh sebab itu tindakan yang paling tepat adalah pencegahan penyakit dan menjalankan program vaksinasi secara teratur, terutama didaerah-derah yang sering terjadi penyakit menular seperti TBC, Brucellois, mulut dan kuku dan lain-lain. Hal ini baru dapat dilakukan apabila peternak mengetahui dan paham terhadap jenis penyakit terpenting yang sering terjadi pada sapi perah, mulai dari gejala awal, tanda-tanda dan pencegahanya.
b. Penggerakkan
Pergerakkan merupakan upaya untuk memotivasi peternak agar dapat melaksanakan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya, berupa pencapaian target, penerimaan usaha produksi dangke seperti pemilihan sapi perah dan pemerahan susu sapi.
Untuk mengetahui tanggapan responden tentang pemeliharaan sapi perah selalu menggunakkan tenaga kerja tambahandapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 4.19 Tanggapan Responden Tentang pengguna tenaga kerja tambahan dalam pemeliharaan Sapi Perah
Pilihan Kategori Jawaban Frekuensi Persentase (%) A
B C D
Selalu Sering Kadang-kadang
Tidak pernah
3 13 15 2
9,10 39,39 45,45 6,06
Jumlah 33 100,00
Sumber : Hasil Olah Angket Nomor 18
Tabel 4.19 menunjukkan bahwa responden dalam penelitian memberikan jawaban pada kategorikadang-kadang sebanyak 15 responden atau 45,45 persen, ktegori sering sebanyak 13 responden atau 39,39 persen, kategori kadang-kadang sebanyak 3 respondeni atau 9,10 persen, dan kategori tidak pernah 2 responden atau 6,06 persen, mengacu pada tingkat persentase tertinggi, maka dapat dikatakan bahwa kadang-kadang menggunakantenaga kerja tambahan dalam pemeliharaan Sapi Perah
Berdasarkan hasil wawancara dengan salah seorang responden bapak Atis (wawancara, 4 oktober 2014) menyatakan, pemerahan adalah tugas yang terpenting bagi peternak dalam menjalankan usahanya. Pemerahan harus dijalankan dengan baik agardiperoleh hasil yang maksimal, setelah cukup satu minggu sapi melahirkan sudah bisa di ambil susunya. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemerahan adalah:
1. Persiapan Sebelum Pemerahan
Persiapan sebelum pemerahan penting dilakukan sebab akan berpengaruh terhadap kualitas air susu yang dihasilkan.sebelum pemerahan lantai kandang harus dibersihkan terlebih dahulu dari kotoran atau dari mekanan yang berbau. Peralatan yang akan digunakan dalam pemerahan juga berada dalam kondisi yang bersih.
Selanjutnya ambing dicuci terlebih dahulu dengan air hangat (48,8 derajat celcius – 57 derajat celcius), sambil dipalpasi atau diremas dengan lembut dengan maksud untuk menstimulur air susu.
2. Tes Air Susu
Sebelum pemerahan kondisi air susu yang akan diperah diuji terlebih dahulu untuk mengetahui apakah kondisinya normal atau tidak dengan menggunakan “strip-cup”. Strip-cup berbentuk cangkir ceper berwarna hitam. Prosedur ini berguna untuk membuka sphincter sehingga merangsang pemerahan lebih cepat.
3. Lingkungan
Menciptakan lingkungan yang nyaman untuk sapi yang akan diperah adalah tugas peternak, sapi perah akan menghasilkan susu tertinggi dalam keadaan tenang.
4. Regularity
Pola pemerahan harus dilakukan secara teratur, sehingga akhirnya menjadi suatu kebiasaan. Biasanya pemerahan dilaksanakan selang waktu 12 jam, ada juga yang membuat selang waktu 10 atau 11 jam.
Yang penting disini jadwal pemerahan yang teratur serta penerapanya.
Sapi umunya diperah 2 kali dalam sehari yaitu pada pagi dan sore haritetepi dapat juga diperah 3-4 kali tergantung kemampuan sapi tersebut berproduksi. Patokan frekuensi pemerahan berdasarkan produksi air susu adalah sebagai berikut :
a. Produksi susu 1-5 liter/hari, diperoleh 1 kali b. Produksi susu 5-10 liter/hari, diperoleh 2 kali c. Produksi susu 10-20 liter/hari, diperoleh 3 kali d. Produksi susu 20-40 liter/hari, diperoleh 4 kali 5. Cara-cara Pemerahan
Ada dua cara pemerahan yaitu:
a. Pemerahan dengan tangan, menggunakan lima jari, puting susu dipegang antara ibu jari dan keempat jari lainnya, kemudian semua jari menekan bersama sampai air susu keluar
b. Menggunakan dua jari, cara pemerahan ini menyakitkan bagi sapi dan menyebabkan ambing dan puting gampang menjadi basah oleh air susu
c. Pemerahan secara mekanis dengan mesin, mesin perah yang baik biasannya tersusun atas bagian-bagian mesin yang relatif sederhana.
Untuk mengetahui tanggapan responden Tentang pengguna tenaga kerja yang banyak dalam produksi dangkedapat dilihat pada tabel berikut ini: