• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyajian Data dan Analisis

Dalam dokumen sholawat, seni dan pendidikan agama islam (Halaman 74-88)

BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS

B. Penyajian Data dan Analisis

beliau sebagai penceramah ataupun jadwal Jamiyah Ahbaabul Musthofa Jember.

Selain itu, Jamiyah Ahbaabul Musthofa membutuhkan keterlibatan jamaah untuk memeriahkan setiap acara sholawatan yang digelar. Hal ini karena peran jamaah yang membuat acara sholawatan menjadi semarak.

Namun promosi terhadap kegiatan sholawatan masih sangat sederhana.

Setidaknya ada dua cara yang dilakukan pengurus dalam menginformasikan kepada jamaah terkait acara sholawatan yang bisa jamaah ikuti. Pertama, Pengurus mempromosikan acara sholawatan melalui surat yang disampaikan kepada masing-masing Korwil disetiap wilayah desa untuk kemudian diumumkan pada majelis-majelis umum dan kedua, pengurus mengumumkan kepada jamaah secara langsung pada setiap akhir sholawatan yang dilaksanakan di wilayah tertentu terkait dengan acara sholawatan yang akan diselenggarakan pada waktu berikutnya.

pendidikan Agama Islam bagi masyarakat. Dalam perspektif pengurus, sebenarnya masyarakat haus akan siraman batiniah, nutrisi rohani yang kerap terabaikan oleh kesibukan manusia dalam memenuhi kebutuhan jasmaninya dan seni sholawat dianggap sebagai alternatif yang tepat untuk melaksanakan peran itu.

Selain itu sholawatan ampuh untuk segala hajat manusia. Seperti yang disampaikan Gus Abror berikut:

―Kenapa sholawat? Iya, karena sholawat untuk segala hajat apa saja, kalau punya keinginan dan sulit tercapai, maka perbanyaklah sholawat, karena sholawat menghilangkan kesusahan, kesedihan, kesulitan dan akan mendapat semua keinginan, apa yang kita minta kepada Allah SWT.‖62

Namun tidak hanya itu, Ahbaabul Musthofa secara tekstual berkomitmen menjadikan jamiyah ini sebagai ruang bagi jamaah untuk bersholawat dan menuntut ilmu. Seperti tertulis dalam tagline pada Buku Kumpulan Sholawat dan Qashidah Pilihan, yaitu sebagai berikut:63

Ahbaabul Musthofa Engkaulah wadah kami

Untuk bersholawat dan tholabul ilmi

Namun jika ditelaah lebih lanjut, upaya Jamiyah Ahbaabul Musthofa dalam mendidik masyarakat setidaknya dapat dianalisa dari keseluruhan prosesi pertunjukannya. Maka secara garis besar peneliti menemukan dua bentuk upaya pendidikan bagi masyarakat melalui seni sholawat sebagai berikut:

62Gus Abrori, Wawancara, Jember, 22 Juni 2016, Pukul 12:04 WIB

63 Kumpulan Sholawat dan Qashidah pilihan, Ahbaabul Musthofa Jember, 1 .

a. Pagelaran Seni Sholawat

Berdasarkan data yang diperoleh melalui proses observasi, prosesi pagelaran seni sholawat ini persiapannya dimulai jauh lebih awal. Misalnya, Persiapaan Tempat, Sound System, Terop, Makanan dan Minuman yang akan dihidangkan. Semuanya dipersiapkan sejak sore hari. Hal ini dimaksudkan untuk memuliakan tamu Rasulullah (Jamaah) yang hadir dalam acara tersebut. Umumnya persiapan ini dilakukan swadaya oleh empunya hajat dengan dibantu oleh warga sekitar secara sukarela.64

Setelah shalat Isya‘, sekitar pukul 19.00 para jamaah sudah berdatangan dan mulai menempati tempat yang telah disediakan khusus jamaah. Sedangkan para penabuh biasanya sudah mempersiapkan diri sebelumnya, mulai dari tata letak penabuh, vokalis serta peralatan musik dan posisi penceramah sudah dipersiapkan jauh sebelumnya.

Jika persiapaan sudah selesai, maka acara sholawatan segera akan digelar, para jamaah mempersiapkan kekhusyu‘an masing-masing serta dengan khidmat mengikuti rangkaian acara sholawatan.

Sedangkan Imam memandu rangkaian acara sholawatan sesuai dengan durasi dan kegiatan yang telah ditentukan dan dipersiapkan sebelumnya.

Upaya Pendidikan Agama Islam yang dilakukan oleh Jamiyah Ahbaabul Musthofa Jember secara lebih kongkrit lagi dapat ditengarai

64 Observasi pada Senin, 27 Juni 2016 di Curahmalang Rambipuji dan Jum‘at 15 Juli 2016 di Gumelar Balung.

dari rangkaian prosesi sholawatannya. Maka peneliti membagi keseluruhan prosesi sholawatan tersebut ke dalam beberapa bagian yang dapat dikategorikan sebagai upaya jamiyah dalam menginternalisasikan nilai-nilai Agama Islam kepada masyarakat (Jamaah), yaitu sebagai berikut:

1) Syair (Lirik) dan Lagu

Syair atau lirik merupakan pesan yang disampaikan oleh jamiyah kepada jamaah dengan iringan alunan lagu yang dimainkan.

Syair (lirik) Jamiyah Ahbaabul Musthofa Jember mayoritas merupakan syair yang juga dibawakan oleh Habib Syech. Hal ini dikarenakan sebagian besar sholawat Jamiyah Ahbaabul Musthofa Jember mengadopsi sholawatan ala Habib Syech, termasuk syair dan lagu yang dibawakan.

―Diliriknya (Sholawatan) banyak nilai-nilai pendidikannya, kan ada yang Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa juga itu, jadi jamaah bisa ngerti.‖65

Dalam buku ―Kumpulan Sholawat dan Qoshidah Pilihan‖

yang berisi 88 sholawat dan qoshidah menghimpun syair sholawat jamiyah ini. Secara umum syair yang digunakan memakai 3 bahasa:

Bahasa Arab, Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa, serta gabungan antara salah satu bahasa diatas. Didalam syair terkandung muatan yang sarat akan nilai-nilai dan pelajaran bagi segenap jamaah baik secara tersirat maupun tersurat.

65 Abd. Kholiq, Wawancara, Jember, 17 Juni 2016, Pukul 13.15 WIB.

Berikut salah satu contoh lirik lagu yang biasa dibawakan Jamiyah Ahbaabul Musthofa Jember:66

Rohatil athyaru tasyduu, fii layaa lil maulidi Wabariqunnuri yabduu, min ma’ani ahmadi Fii layaa lil mawlidi

Abdullah nama ayahnya, Aminah ibundanya Abdul muthallib kakeknya, Abu Thalib pamannya Khadijah istri setia, Fathimah putri tercinta Semua bernasab mulia, dari Quraisy ternama

Inilah kisah sang rasul yang penuh suka duka Yang penuh suka duka

Dua bulan dikandungan, wafat ayahandanya Tahun gajah dilahirkan, yatim dengan kakeknya Sesuai adat yang ada, disusui Halimah

Enam tahun usianya, wafat ibu tercinta

Inilah kisah sang rasul yang penuh suka duka Yang penuh suka duka

Syair diatas menceritakan tentang sejarah Rasul, syair ini dibawakan dengan iringan musik dan lagu yang membuatnya mudah diingat. Setiap syair memiliki lagu yang berbeda satu dengan yang lainnya. Sering kali dalam setiap penampilannya, jamiyah melakukan improvisasi terhadap lagu yang dinyanyikan. Hal ini bertujuan untuk mempercantik dan sebagai bentuk eksplorasi terhadap irama dan lagu agar tidak monoton dan membosankan.

Namun tidak semua sholawat dan qasidah dimainkan dalam suatu pagelaran sholawat. Hal ini karena durasi waktu yang terbatas sehingga umumnya sholawat yang dibawakan merupakan sholawat yang populer dikalangan masyarakat yang syairnya dihafal sebagian besar masyarakat. Jika sudah demikian, maka imam sholawat dapat

66 Kumpulan Sholawat dan Qasidah pilihan, Ahbaabul Musthofa Jember, 62.

mengajak jamaah untuk berpartisipasi dalam melantunkan sholawat secara bersama-sama dengan iringan musik dari para penabuh.

2) Alat Musik

Dalam pagelaran seni sholawat, alat musik juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Hal ini karena alat musik tersebut memberi warna dan nuansa estetis melalui alunan suara dan bebunyian yang dihasilkan. Terbang atau Rebana merupakan jenis alat musik utama yang menghasilkan alunan musik paling dominan dalam seni sholawatan.67

Namun tidak hanya terbang atau rebana saja melainkan terdapat beberapa alat musik lainnya yang digunakan Jamiyah sholawat Ahbaabul Musthofa yakni berupa: Jedor, Tramtam dan Keprak. Hal ini dibutuhkan untuk menghasilkan lagu yang harmonis dan estetis. Secara umum masyarakat selalu mengidentifikasi terbang atau rebana sebagai salah satu alat musik Islami, tentu hal ini dikarenakan terbang atau rebana pada mulanya merupakan media penyebaran Agama Islam yang dilaksanakan pada setiap acara Mauludan, Rajaban (memperingati Isro‘ Mi‘roj), hari raya Idul Fitri dan hari besar Islam lainnya.

3) Kostum

Kostum merupakan pakaian yang digunakan selama prosesi sholawatan berlangsung. Layaknya sebuah ritual keagamaan Islami,

67 Observasi pada Senin, 27 Juni 2016 di Curahmalang Rambipuji.

masyarakat menggunakan Sarung, Baju Lengan Panjang dan berkopiah. Namun sangat dianjurkan untuk memakai yang berwarna putih, sebagai warna kesukaan rasul. Namun apabila ada jamaah yang baru ikut dan menggunakan pakaian seadanya, pengurus tidak terlalu mempermasalahkannya asalkan rapi dan sopan.

Sedangkan bagi Korwil yang bertugas mengamankan jalannya acara, pengurus sudah memfasilitasi dengan seragam khusus, yaitu Sarung Loreng, Baju Putih, Kopiah Putih lengkap dengan Rompi yang berwarna mencolok. Hal ini untuk membedakan antara Korwil dengan jamaah pada umumnya. Selain itu ada beberapa jamaah yang menggunakan atribut Ahbaabul Musthofa Jember yang berupa logo jamiyah yang tertempel di bagian saku baju jamaah atau pun pada songkok yang digunakan.68

b. Mauidhoh Hasanah

Pada setiap pagelaran sholawat Ahbaabul Musthofa Jember terdapat Mauidhoh Hasanah yaitu ceramah berisi nasihat dan siraman rohani bagi jamaah yang hadir pada acara tersebut. Mauidhoh ini disampaikan langsung Gus Sholeh selaku pemandu jalannya acara sholawatan tersebut. Materi disampaikan dengan kombinasi Bahasa Indonesia serta Bahasa Jawa yang memang merupakan bahasa lokal bagi sebagian besar jamaah yang kebanyakan berasal dari Jember

68 Observasi pada Senin, 27 Juni 2016 di Curahmalang Rambipuji

Selatan. Sedangkan isi mauidhoh bersifat fleksibel dan disesuaikan dengan tema acara yang dilaksanakan.

Apabila pengundang mendatangkan penceramah khusus yang berasal dari luar jamiyah Ahbaabul Musthofa maka pagelaran sholawat menyesuaikan dengan penceramah tersebut. Karena tidak semua penceramah yang diundang mampu memandu jalannya sholawatan sesuai dengan model Jamiyah ini sehingga pagelaran seni sholawat dan mauidhoh berjalan masing-masing.

―Pendidikannya ya ketika Mauidhoh, disamping liriknya banyak nilai pendidikan seperti Sejarah Rasul, Kisah Rasul, Sifat, dan Mukjizat Rasul.‖69

Secara umum materi yang disampaikan ialah ajakan untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT serta mencintai Rasulullah SAW melalui sholawatan sebagai mediumnya. Selain itu, materi yang disampaikan menyesuaikan dengan tema yang menjadi garis besar penyelenggaraan suatu acara keagamaan. Seperti misalnya dalam acara pengajian umum dalam memperingati Maulid Nabi, maka Gus Sholeh akan menyampaikan Mauidhoh tentang Maulid Nabi dengan diselingi oleh sholawatan yang ditampilkan oleh penabuh.

Dari uraian data tersebut setidaknya upaya Jam‘iyah Ahbaabul Musthofa dalam menginternalisasikan Pendidikan Agama Islam pada masyarakat dapat ditelisik melalui:

69 Gus Abrori, Wawancara, Jember, 22 Juni 2016, Pukul 12.09 WIB

a. Pagelaran Seni Sholawat

Keseluruhan rangkaian prosesi sholawatan secara implisit terdapat upaya mendidik masyarakat secara luas baik melalui lirik yang tidak hanya berbahasa Arab akan tetapi menggunakan Bahasa Indonesia dan bahasa daerah, khususnya Bahasa Jawa. Selain itu walau secara tidak langsung, penggunaan pakaian serta alat musik Islami selalu diindikasikan sebagai bentuk Islami dan mendidik masyarakat untuk berperilaku Islami pula.

b. Mauidhoh Hasanah

Ceramah serta nasihat merupakan upaya yang dilakukan jamiyah dalam mendidik masyarakat secara langsung atau eksplisit.

Walau hanya komunikasi satu arah akan tetapi melalui ceramah, Imam jamiyah dapat secara spesifik mendidik masyarakat untuk selalu berupaya meningkatkan ketakwaan dan mengikuti jejak sang Rasul dalam setiap segi kehidupannya.

2. Esensi Pendidikan Agama Islam dalam Seni Sholawat Jamiyah Ahbaabul Musthofa Jember

Secara umum proses pendidikan didalam pagelaran seni sholawat melalui hidden curriculum, artinya transformasi pendidikan lebih banyak secara tersirat dalam setiap sisi penampilannya, walaupun ada juga yang tersurat melalui lirik sholawat dan Mauidhoh hasanah yang disampaikan.

―Ya pokok (Jamaah) seneng kumpul terus dikasi wejangan yang baik, tata cara berpakaian yang baik, karena ini sholawatan bukan dangdutan.‖70

Peneliti menemukan beberapa nilai-nilai Agama Islam yang ditransformasikan kepada jamaah dalam proses sholawatan Jamiyah Ahbaabul Musthofa Jember, baik melalui pagelaran seni sholawat maupun melalui mauidhoh hasanah, yakni:

a. Aqidah

Aqidah sebagai sebuah fondasi bagi keberagamaan setiap muslim, menjadi hal utama dan pertama yang perlu ditanamkan kepada setiap manusia bahkan sejak dini. Dalam seni sholawat jamiyah ini, nilai aqidah yang ditanamkan yaitu keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT melalui rangkaian ibadah seperti anjuran memperbanyak sholat, membayar zakat, melaksanakan puasa dan haji, serta kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Dengan mengenal sang rasul melalui sholawat kemudian akan berusaha meneladani dan mengikuti jejak sang rasul dalam kesehariannya.

Salah satu yang sering dibawakan dalam setiap pagelaran seni sholawat yaitu ―Kisah Rasul‖ yang didalamnya berisi sejarah dan perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW. Serta sholawat dengan judul

― Sifat-Sifate Nabi Muhammad‖ yang liriknya berbahasa Jawa. Kedua sholawat ini mengajarkan jamaah untuk berusaha mengkaji kisah

70 Gus Abrori, Wawancara, Jember, 12 Juni 2016, Pukul 11.12 WIB

hidup rasul dan meneladani berbagai sifat terpuji Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.

b. Ibadah

Prosesi sholawatan merupakan ibadah yang dilakukan jamiyah bersama dengan jamaah. Selain itu, Gus Sholeh selaku pemandu jalannya sholawat sekaligus menyampaikan Mauidhoh Hasanah kepada jamaah berupa anjuran untuk memperbanyak ibadah dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT serta meneladani akhlak Rasulullah SAW. Selain sholawatan itu sendiri merupakan bentuk ibadah yang dilakukan secara bersama-sama.

Dalam Mauidhoh Hasanah, Gus Sholeh secara spesifik menyampaikan anjuran dan ajakan untuk memperbanyak ibadah khususnya pada waktu-waktu yang mustajabah seperti pada Bulan Ramadhan kemarin, beliau mengajak jamaah untuk memperbanyak amalan dalam bulan suci Ramadhan serta mampu menahan diri dari segala hal yang akan mengakibatkan pada hal-hal yang menjurus kepada sesuatu yang dilarang. Mauidhoh yang disampaikan Gus Sholeh dapat fleksibel sesuai dengan tema acara yang dilaksanakan.

c. Akhlak

Akhlak merupakan hal yang sangat ditekankan dalam ritual sholawatan yang notabene isinya mengagungkan Rasulullah. Maka selain mengagungkan semata diharap jamaah dapat mengikuti segala hal yang diperintahkan rasul serta menjauhi larangannya. Nabi

Muhammad SAW sebagai tauladan dan panutan dalam kehidupan sehari-hari bagi seluruh jamaah.

Banyak nilai-nilai akhlakul karimah yang ditransformasikan kepada jamaah melalui ritual sholawatan. Umumnya proses pendidikan akhlak kepada jamaah disampaikan melalui ceramah secara eksplisit dan melalui tindakan yang dilakukan pengurus secara implisit. Apalagi sebagai sebagai sebuah ritual keagamaan yang diharapkan menjadi penangkal bagi aneka tindakan menyimpang masyarakat tentu jamiyah dituntut untuk mampu mendidik masyarakat dengan nilai-nilai yang positif.

Peneliti menemukan beberapa akhlak yang ditransformasikan baik secara langsung (eksplisit) serta secara tidak langsung (implisit) yang dilakukan oleh jamiyah sholawat Ahbaabul Musthofa Jember:

Pertama, Gus Sholeh dalam mauidhoh-nya selalu menganjurkan untuk bersikap sopan dalam kegiatan sholawatan. Hal ini karena sholawatan merupakan ibadah kepada Allah SWT, bukan acara hura-hura semata. Salah satunya adalah penggunaan pakaian yang serba putih oleh pengurus yang diikuti oleh jamaah. Hal ini karena Rasulullah menyukai warna putih serta disunnahkannya mengenakan pakaian putih dalam setiap ibadah yang dilakukan.

Maka hampir setiap jamaah menggunakan setelan berwarna putih, khususnya songkok dan kemeja putih, sedangkan untuk sarung diperkenankan berwarna variatif. Jika ditemukan jamaah yang

menggunakan kaos oblong, tak berpeci atau hanya bercelana pendek, maka pasti akan mendapat teguran dari koordinator wilayah (korwil).

Bahkan bisa jadi jamaah tersebut tidak diperkenankan untuk mengikuti prosesi sholawatan tersebut.

Kedua, melalui sholawatan terbentuk keguyuban antar masyarakat yang kemudian tercipta ukhuwah Islamiyah antar jamaah.

Masing-masing jamaah akan saling mengenal satu sama lain. Hal ini bisa berdampak positif terhadap rasa persatuan masyarakat dengan menanamkan empati satu sama lain. Sehingga tercipta hubungan yang harmonis dan selaras antara hablum min allah (hubungan dengan Allah) dan hablum min an-nas (hubungan dengan sesama manusia).

3. Ekspresi Religiusitas jamaah dalam pagelaran seni sholawat oleh Jamiyah Sholawat Ahbaabul Musthofa

Berdasarkaan observasi peneliti selama prosesi sholawatan berlangsung, peneliti menemukan jika jamaah sholawat Ahbaabul Musthofa Jember yang umumnya didominasi oleh para pemuda cenderung lebih ekspresif dalam bersholawat dibandingkan dengan jamaah yang lebih tua. Mereka lebih aktif dan energik dalam bersholawat, tidak seperti jamaah yang lebih sepuh yang biasanya lebih kalem. Ekspresi variatif ini dapat dimaklumi karena jamaah yang hadir sholawatan pun beraneka ragam.71

71 Observasi pada Jumat, 15 Juli 2016 di Gumelar Balung dan Selasa, 19 Juli 2016 di Umbulsari.

―Sholawatan itu yang hadir background-nya (latar belakang) macem-macem, disitu pun ga ada aturan tertentu, siapapun bisa hadir, termasuk anak-anak muda, yang agak jauh dari kegiatan keagamaan, semuanya ikut sholawatan.‖72

Umumnya banyak ditemui jamaah yang ekspresif, yakni dengan melakukan gerakan-gerakan badaniah pada saat prosesi sholawatan berlangsung. Seeperti misalnya mengangkat kedua tangan sambil memiringkan badan ke kanan dan ke kiri secara bergantian. Lagu yang enak didengar serta iramanya yang rancak menjadi pemicunya. Namun ada juga jamaah yang karena memang gandrung pada suatu lagu tertentu seperti yang diungkap oleh jamaah berikut:

―Ada juga temen saya yang suka banget pada sholawat ya hanana, setiap nyampek lagu tersebut mesti ‗jadi‘ sudah, ga tau ya kenapa alesannya.‖73

Namun sepanjang tidak berlebihan, jamiyah cukup mentolerir jamaah yang atraktif dalam gerakannya, apalagi saat ini sudah ada korwil yang bertugas menjaga ketertiban demi lancarnya prosesi sholawatan berlangsung.

―Iya boleh, asal jangan berlebihan, jangan sampek berdiri, masih dapet pahala asal ga terlalu. Peran korwil juga penting, sering ga ada korwil malah jadi berantakan.‖74

Gerakan badan yang tidak berlebihan ditolerir oleh jamiyah karena gerakan ini membuat jamaah merasa ikut berpartisipasi aktif dalam sholawatan, pun juga sekaraang sudah ada korwil yang bertugas menjamin acara sholawatan berlangsung kondusif. Hal ini karena gerakan badan

72 Nafi Anshori, Wawancara, 1 Juli 2016 pukul 19:38 WIB.

73 Ahmad Robith, Wawancara, 30 Juni 2016 pukul 20:04 WIB.

74 Gus Abror, Wawancara, 22 Juni 2016 pukul12:05 WIB.

yang tidak berlebihan mengisyaratkan jika jamaah larut dalam ritual sholawatan yang kemudian terjadi proses internalisasi nilai-nilai Islam dalam ritual sholawatan secara langsung.

Dalam dokumen sholawat, seni dan pendidikan agama islam (Halaman 74-88)

Dokumen terkait