• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran Nonoman dalam Aspek Sosial dan Budaya

Dalam dokumen Memahami Fenomena Sunda Wiwitan Masa Kini (Halaman 49-55)

Peran Nonoman dalam Aspek Sosial dan Budaya

Sumber: Analisis Peneliti (2018)

Bagi warga adat Sunda Wiwitan, peran nonoman sebagai penerus generasi dan pelestari budaya sangatlah penting, baik dalam aspek sosial maupun aspek budaya. Dalam menjalankan perannya, nonoman berpegang teguh pada Pitutuh Luhur yang merupakan pedoman hidup bagi seluruh warga adat Sunda Wiwitan. Kandungan isi dari Pitutuh Luhur meliputi dua prinsip, yaitu cara-ciri manusia dan cara-ciri bangsa. Cara-ciri manusia adalah unsur-unsur dasar yang ada di dalam kehidupan manusia. Ada lima unsur yang termasuk di dalamnya, yaitu: welas asih atau cinta kasih, undak usuk

Peran Nonoman

Cara-Ciri Manusia Aspek Sosial

Cara-Ciri Bangsa Aspek Budaya

atau sebutan tatanan dalam kekeluargaan, tata krama, budi bahasa dan budaya, serta wiwaha yudha naradha atau sifat dasar manusia yang selalu memerangi segala sesuatu sebelum melakukannya. Sedangkan cara-ciri bangsa ialah unsur-unsur dasar yang terdapat dalam kehidupan berbangsa, yang terdiri dari rupa, adat, bahasa, aksara, dan budaya. berdasarkan dua prinsip tersebutlah nonoman menjalankan perannya.

“Dalam setiap kegiatan, peran nonoman berpedoman pada cara-ciri bangsa dan cara-ciri manusia. Dalam aspek sosial, nonoman berpedoman pada cara-ciri manusia di mana dalam cara-ciri manusia inilah terdapat prinsip-prinsip yang menuntun para nonoman agar menjalani peran sosialnya dengan baik. Sementara itu, dalam aspek budaya, nonoman berpedoman pada cara-ciri bangsa, di mana unsur dalam cara-ciri bangsa merupakan seni dan budaya yang dilestarikan oleh nonoman maupun warga adat Sunda Wiwitan.”

Wawancara dengan Harkat Ahadiyat (35), 30 April 2018, 15.20 WIB Peran nonoman dalam aspek sosial yang berpedoman pada cara-ciri manusia diimplementasikan dengan baik. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya kontribusi nonoman dalam kegiatan sosial, baik di dalam lingkungan warga adat maupun di luar warga adat. Dalam kurun waktu satu bulan sekali, nonoman melaksanakan kerja bakti guna menjaga kebersihan lingkungan hidup. Dalam pelaksanaan kerja bakti ini, nonoman bekerja bakti tidak hanya dengan warga adat, tetapi juga bekerja bakti dengan masyarakat di luar warga adat. nonoman pun aktif dalam kepanitiaan perayaan hari besar yang dirayakan oleh seluruh warga desa, seperti perayaan 17 Agustus, sumpah pemuda, dan lain sebagainya. Selain itu, terdapat beberapa kontribusi nonoman bagi warga desa yang membutuhkan bantuan, nonoman kerap kali memanfaatkan keahliannya dalam membangun rumah untuk membantu membangun kembali atau merenovasi rumah warga desa yang sudah tidak layak huni. Nonoman juga berkontribusi membantu upacara pemakaman setiap terdapat warga desa yang meninggal dunia. Dari semua pelaksanaan kegiatan sosial ini, nonoman percaya bahwa kebaikan yang telah dilakukan dan ditanamkan, akan berbuah kebaikan kembali.

“Setiap apa yang kami (nonoman) lakukan di dunia, mencerminkan apa yang akan kami tuai di akhirat. Jika kami berbuat baik pada semua orang, maka kami pun akan menerima balasan yang baik pula di akhirat nanti. Karena prinsip hidup kami adalah, hidup yang sempurna, mati yang sejati.”

Wawancara dengan Asep Kuswadi (47), 30 April 2018, 15.25 WIB

Adapun peran nonoman dalam aspek budaya yang berpedoman pada cara- ciri bangsa guna melastarikan adat dan kebudayaan sudah ditanamkan sedari nonoman di usia dini. Pada umur lima sampai tujuh belas tahun, nonoman rutin belajar berbagai macam kesenian, seperti seni musik, seni rupa, dan seni tari di taman atikan yang dilaksanakan satu minggu sekali.

Pembelajaran kebudayaan sedari dini tersebut bertujuan agar melekatnya rasa cinta dan integritas adat dan kebudayaan Sunda Wiwitan dalam diri nonoman. Pada usia 17 tahun, nonoman diwajibkan memilih dan mengusai satu alat musik agar pelatihan dan pembelajaran semakin terkhususkan.

Gambar 4.3

Tari Adat Selendang Khas Sunda Wiwitan

Sumber: Dokumentasi Pribadi (2018)

Tidak hanya sekadar belajar dan berlatih, nonoman juga kerap kali menunjukkan keahlian keseniannya dalam berbagai acara, seperti perayaan 1 Sura, HUT Garut, dan memenuhi beberapa undangan pernikahan yang memakai sistem tanpa tarif, jadi nonoman akan menerima bayaran seikhlasnya. Selain itu, pelatihan dan pementasan kesenian juga sebagai bentuk protes warga adat kepada pemerintah agar mendapatkan pengakukan dan legalitas.

“Dari pelestarian dan pementasan seni inilah bentuk protes kami kepada pemerintah, bahwa kami ingin diakui sebagai warga negara Indonesia secara legal. Karena kamilah yang terus melestarikan kesenian dan kebudayaan asli bangsa ini, tapi mengapa justru kami tidak diakui.”

Wawancara dengan Asep Kuswadi (47), 30 April 2018, 15.25 WIB Dari penyataan tersebut, tersirat bahwa warga adat Sunda Wiwitan sangat berharap pengakuan dari pemerintah sebagai rakyat Indonesia yang legal.

Selain bentuk protes dalam bidang kesenian, nonoman juga memanfaatkan media sosial sebagai wadah bagi mereka untuk menyampaikan aspirasi

agar warga adat Sunda Wiwitan diakui dan tidak dipandang sebelah mata, karena pada kenyataannya warga adat Sunda Wiwitan yang terus melestarikan kebudayan Sunda. Selain itu hubungan warga adat dengan warga yang memiliki kepercayaan berbeda tetap terjalin dengan baik, dan di tunjang oleh berbagai kegiatan sosial nonoman yang bermanfaat dan dapat membantu sesama warga sekitar.

Regenerasi Kaum Muda Masyarakat Adat Sunda Wiwitan

Kelompok minoritas menjadi entitas sosial yang tak dapat dinafikan keberadaannya. Di Indonesia pun kehadiran minoritas menjadi keniscayaan yang tidak terbantahkan di tengah hegemoni kelompok mayoritas. Graham C. Lincoln dalam Hussein (1992: 14) mendefinisikan kelompok minoritas sebagai kelompok yang dianggap oleh elite-elite sebagai berbeda atau inferior atas dasar karakteristik tertentu dan sebagai konsekuensi diperlukan secara negatif. Pada konteks ini, kelompok kepercayaan Sunda Wiwitan yang merupakan agama asli Indonesia merupakan salah satu dari sekian banyak kelompok minoritas di Indonesia yang masih bertahan.

Kepercayaan Sunda Wiwitan yang terdapat di Kampung Pasir merupakan sebuah kepercayaan yang dipegang teguh oleh seluruh elemen masyarakat adat. Mulai dari anak-anak, kaum muda, orang tua, hingga para sesepuh (pupuhu). Pada bagian ini akan dibahas mengenai regenerasi kaum muda masyarakat adat Sunda Wiwitan di Kampung Pasir, Desa Cintakarya, Garut.

Kaum muda atau pemuda dalam bahasa Sunda disebut nonoman. Untuk tetap dapat meneruskan nilai-nilai leluhur serta ajaran Sunda Wiwitan maka dirasa perlu adanya regenerasi nonoman sebagai penerus tongkat estafet perjuangan eksistensi budaya Sunda Wiwitan. Labeling minoritas yang didapatkan pada masyarakat adat Sunda Wiwitan di Desa Cintakarya, tidak membuat takut akan berkurangnya masyarakat adat yang telah berpindah agama ataupun keyakinan. Masyarakat adat Sunda Wiwitan di Desa Cintakarya, Kampung Pasir memiliki prinsip yaitu tidak masalah memiliki anggota sedikit, tetapi semua masyarakat mematuhi aturan dan nilai-nilai yang ada, daripada memiliki anggota yang banyak namun membuat kericuhan. Rasa kekhawatiran tetap ada, tetapi masyarakat adat mengantisipasi hal ini dengan melaksanakan suatu kegiatan bagi para nonoman. Kegiatan kawah candra dimuka merupakan salah satu kegiatan bagi para nonoman muda yang bertujuan untuk menginternalisasi ajaran leluruh Sunda Wiwitan. Kegiatan ini diterapkan setiap malam minggu yang dipimpin oleh sesepuh adat. Adapun materi dalam kegiatan ini yaitu tauhid, ekonomi, aksara Sunda serta siraman rohani. Ada pula perkumpulan kelompok nonoman yang bisa dikatakan sebagai organisasi informal yang dibentuk oleh nonoman adat itu sendiri.

“Kalau nonoman di sini bukan seperti organisasi formal ya, melainkan kumpulan nonoman adat biasa. Ya atau bisa disebut juga organisasi yang informal. Tapi, tetap saja meskipun informal ada

pengurusnya, seperti ketua, bendahara, dan sekertaris. Ada juga pembukuan dan catatan keuangan. Dalam segala hal juga yang ada di sini (di dalam kelompok nonoman) biasanya mah akan di musyarawahkan bersama-sama.”

Wawancara dengan Eka Subarta (21), 30 April 2018, 15.25 WIB Dapat dilihat bahwa kelompok nonoman adat bukan organisasi formal melainkan organisasi informal yang bergerak di masyarakat adat. Eka Subarta juga menuturkan bahwa adanya kelompok nonoman membantu masyarakat adat menyelesaikan segala persoalan dan mencapai mufakat.

Tidak ada unsur-unsur politis dalam kelompok nonoman, termasuk dalam pemilihan ketua kelompok nonoman adat. Semuanya dilakukan dengan musyawarah dan tidak didasarkan oleh unsur paksaan melainkan sukarela.

“Di sini tidak pernah ya ada pemilihan ketua seperti macam pilkada dicoblos begitu. Di sini semuanya dimusyawarahkan, ditunjuk, dan biasanya yang ditunjuk sebagai ketua itu adalah orang yang dituakan, orang yang bijaksana, dan biasanya yang sudah berumur ya. Selain itu yang terpenting orang itu kreatif, inovatif, serta punya visi misi yang mantap. Intinya mampulah pokoknya membawa anak- anak ini nanti bagaimana.”

Wawancara dengan Harkat Ahadiyat (35), 30 April 2018, 15.30 WIB Dapat disimpulkan bahwa dalam pemilihan ketua nonoman tidak ada standardisasi yang formal, seperti standar usia atau pendidikan tertentu.

Namun, menjadi ketua nonoman cenderung orang yang dituakan dan memiliki sikap yang bijaksana serta jiwa kepemimpinan yang baik, inovatif, kreatif dan merupakan seorang yang visioner. Selain itu, lama periode kepemimpinan ketua nonoman juga tidak ditetapkan secara pasti. Ketua nonoman yang terpilih menjalankan visi dan misi untuk meneruskan tongkat estafet pelestarian kearifan Sunda Wiwitan di Kampung Pasir secara sukarela tanpa mengharapkan suatu imbalan apapun.

Tabel 4.1

Daftar Nama Ketua Nonoman

No. Nama Periode

1 Wiharsa 2000 – 2005

2 Ukin 2005 – 2010

3 Ajat 2010 – 2015

4 Harkat Ahadiyat 2015 – sekarang *)

*) Periode tidak mutlak lima tahun, hanya perhitungan kasar dari narasumber Sumber: Analisis Peneliti (2018)

Tabel berikut merupakan tabel regenereasi kepemimpinan ketua kelompok nonoman yang dimulai oleh Wiharsa sebagai ketua nonoman pada era awal 2000an, lalu dilanjutkan oleh Ukin, kemudian Ajat, dan yang sekarang oleh Harkat Ahadiyat. Masing-masing dari ketua kelompok nonoman memiliki ciri khas dan karakteristiknya masing-masing. Seperti Wiharsa yang dikenal sebagai tokoh yang bijaksana, kemudian Ukin yang memiliki watak tegas, dan Ajat memiliki sikap yang kharismatik, serta Harkat Ahadiyat yang dipercaya mampu mengayomi anak-anak dan dinilai bijaksana. Harkat Ahadiyat sebagai tokoh nonoman pada masa ini memiliki sejumlah program kerja untuk membantu membangun perekonomian nonoman di Kampung Pasir. Salah satunya yaitu mendirikan toko oleh-oleh yang dikelola nonoman itu sendiri. Namun sayangnya hingga saat ini usaha tersebut belum terlaksana karena terkendala oleh minimnya lahan yang strategis.

Usaha Harkat Ahadiyat dan nonoman lainnya tidak berhenti sampai di sana.

Nonoman yang memiliki bakat dalam seni ukir yang kerap kali menghasilkan karya seni khas adat Sunda khususnya di Kabupaten Garut.

Karya seni tersebut berupa ukiran binatang-binatang, ukiran buah jeruk khas Garut, kujang khas adat Sunda dan lain sebagainya. Produksi hasil karya kerajinan tersebut diajarkan secara turun-menurun kepada nonoman muda, sehingga terjadi reproduksi budaya. Hasil karya kerajinan ini telah di produksi dalam jumlah yang cukup besar yang merupakan pesanan dari masyarakat dalam kampung maupun luar kampung.

Gambar 4.4

Foto Bersama Harkat Ahadiyat dengan Hasil Karya Ukiran

Sumber: Dokumentasi Pribadi (2018)

Penutup

Pemuda sebagai generasi penerus mengemban peran yang berat dalam meneruskan perjuangan cita-cita generasi sebelumnya. Status minoritas yang dialami masyarakat adat Sunda Wiwitan menjadi tugas besar yang diemban pemuda, khususnya di Kampung Pasir, Desa Cintakarya, Garut.

Pemuda sebagai agen atau aktor yang akan melanjutkan keberlangsungan budaya serta kearifan lokal yang dimiliki agar tetap hidup sesuai dengan amanat leluhur. Hasil akhir dari skema dan temuan menyebutkan bahwa nonoman adalah kaum muda warga adat Sunda Wiwitan yang berusia 17 sampai 35 tahun yang menjadi agen penerus kepercayaan Sunda Wiwitan di Kampung Pasir, Garut. Selain sebagai penerus kepercayaan, nonoman juga berperan sebagai agen pelestari nilai dan budaya Sunda Wiwitan.

Dalam mengimplementasikan nilai dan budaya adat, nonoman berpegang teguh pada nilai-nilai yang terkandung dalam Pitutuh Luhur yang meliputi cara-ciri manusia dan cara-ciri bangsa. Pitutuh Luhur merupakan pedoman yang menjadi landasan atas nilai-nilai bagi warga adat Sunda Wiwitan di Kampung Pasir dalam menjalankan kehidupan sehari-hari, terutama bagi nonoman dalam menjalankan perannya. Terdapat dua aspek peran nonoman dalam mempertahankan kearifan lokal, yaitu aspek sosial dan aspek budaya. Dalam aspek sosial nonoman berpedoman pada cara-ciri manusia, sedangkan dalam aspek budaya, nonoman berpedoman pada cara-ciri bangsa. Nonoman adat Sunda Wiwitan senantiasa menerapkan nilai adat serta budaya yang telah terinternalisasi dalam dirinya sebagai pedoman dalam bertindak dan berperilaku di kehidupan sehari-hari.

Dalam dokumen Memahami Fenomena Sunda Wiwitan Masa Kini (Halaman 49-55)