BAB II TINJAUAN PUSTAKA
D. Peraturan Daerah
h. Memi|nta laporan keterangan pertanggung jawaban kepala daerah dalam me|nyele|nggarakan pemeri|ntahan daerah;
i. Membe|ntuk panit|ia pe|ngawasan pemilihan kepala daerah;
j. Melakukan pe|ngawasan dan memi|nta laporan KPUD dalam pe|ngele|nggaraan pemilihan kepala daerah;
k. Memberikan persetujuan terhadap re|ncana kerja sama antar daerah dan de|ngan pihak ket|iga yang membebani masyarakat dan daerah.
4. Alat kele|ngkapan DPRD
DPRD, alat kele|ngkapannya terdiri atas:
a. Pimpi|nan b. Komis|i
c. Panit|ia musyawarah\
d. Panita anggaran e. Badan kehormatan
f. Alat kele|ngkapan lai|n yang diperlukan.
Sesuai de|ngan kete|ntuan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 te|ntang Pembe|ntukan Peraturan Perundang-undangan, yang dimaksud de|ngan Peraturan Daerah (Perda) adalah “peraturan perundang-undangan yang dibe|ntuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah de|ngan persetujuan bersama Kepala Daerah”.
Defi|nis|i lai|n te|ntang Perda berdasarkan kete|ntuan Undang-undang te|ntang Pemeri|ntah Daerah adalah “peraturan perundang-undangan yang dibe|ntuk bersama oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah de|ngan Kepala Daerah baik di provi|ns|i maupun di kabupate|n/kota.
Me|nurut Sadu Was|is|it|iono dan Yonatan Wiyoso (2009:59), peranan dari Perda meliput|i:
a. Perda me|ne|ntukan arah pembangunan dan pemeri|ntahan di daerah. Sebagai kebijakan publik tert|i|nggi di daerah, Perda harus me|njadi acuan seluruh kebijakan publik yang dibuat termaksud di dalamnya sebagai acuan daerah dalam me|nyususn program pembangunan daerah. Contoh konkritnya adalah Perda te|ntang Rancangan Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Daerah dan Rancangan Pembangunan Jangka Me|ne|ngah (RPJM) atau Re|ncana Stratejik Daerah (Re|nstra).
b. Perda seabagai dasar perumusan kebijakan publik di daerah. Sebagai kebijakan publik tert|i|nggi di daerah, Perda harus me|njadi acuan bagi seluruh kebijakan publik lai|nnya, baik berupa peraturan kepala daerah, keputusan kepala daerah maupun kebijakan teknis yang dibuat oleh para pemimpi|n Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).
Beberapa kebijakan publik yang harus me|ngacu pada peraturan daerah antara lai|n berupa:
a. Kebijakan publik te|ntang manajerial pelaksanaan program;
b. Kebijakan publik te|ntang pe|ngalokas|ian dan pemberdayaan sumber daya manus|ia;
c. Kebijakan pelaksanaan keuangan dan anggaran;
d. Kebijakan te|ntang pelaksanaan s|istem dan prosedur;
e. Kebijakan te|ntang teknik pe|nyelesaian pekerjaan/program;
f. Kebijakan pembe|ntukan struktur organisas|i.
c. Perda sebagai kontrak sos|ial di daerah
T|iga hal perwujudan perda sebagai kontrak sos|ial antara masyarakat de|ngan pe|nyele|nggara negara/daerah yaitu :
a. Kontrak sos|ial yang sudah konkrit sepert|i : Perda te|ntang pe|netapan strategi pembangunan daerah untuk kurun waktu duapuluh tahunan (RPJPD) atau untuk kurun waktu lima tahunan (RPJMD).
b. Kontrak yang me|ngatur hal-hal yang lebih me|ndesak dan lebih tegas, sepert|i kontrak sos|ial terjadi ket|ika Perda disusun melalui mekanisme yang me|ngikutsertakan part|is|ipas|i masyarakat.
c. Kontrak sos|ial yang me|ngatur hal-hal yang mas|ih belum tegas dan dapat berubah, terjadi ket|ika masyarakat mempercayakan kepada seseorang untuk duduk sebagai pe|nyele|nggara pemeri|ntah di daerah de|ngan cara memberikan suaranya berdasarkan program yang ditawarkannya.
d. Perda sebagai pe|ndukung pembe|ntukan perangkat daerah dan susunan organisas|i perangkat daerah.
Lebih lanjut, Misdayant|i dan R.G. Kartasapoetra me|ngemukakan pe|ndapatnya te|ntang peraturan daerah de|ngan melihat dari segi is|i Perda tersebut.
Adapun peraturan daerah yang untuk berlakunya memerlukan pe|ngawasan pejabat yang berwe|nang, pada pokoknya adalah yang :
a. Me|netapkan kete|ntuan-kete|ntuan yang me|ngikat rakyat. Kete|ntuan-kete|ntuan yang me|ngandung peri|ntah, larangan, keharusan untuk berbuat sesuatu dan lai|n-lai|n yang ditujukan langsung kepada rakyat.
b. Me|ngadakan ancaman pidana berupa de|ngan atau kurungan atas pelanggaran kete|ntuan-kete|ntuan terte|ntu yang ditetapkan dalam peraturan daerah.
c. Memberikan beban kepada rakyat, misalnya pajak atau retribus|i daerah.
d. Me|netapkan segala sesuatu yang perlu diketahui oleh umum kare|na me|nyangkut kepe|nt|i|ngan rakyat, misalnya : me|ngadakan hutang-piutang, me|nanggung pi|njaman, me|ngadakan perusahaan daerah, me|ngatur gaji pegawai dan lai|n-lai|n.
2. Mekanisme Pembe|ntukan Perda
Rancangan Peraturan daerah (Raperda) dapat berasal dari DPRD atau kepala daerah (gubernur, bupat|i, atau walikota). Raperda yang dis|iapakan oleh Kepala Daerah disampaikan kepada DPRD. Sedangkan Raperda yang dis|iapkan oleh DPRD disampaikan oleh pemimpi|n DPRD kepada Kepala Daerah.
Pembahasan Raperda di DPRD dilakukan oleh DPRD bersama gubernur atau bupat|i/walikota. Pembahasan bersama tersebut melalui t|i|ngkat-t|i|ngkat
pembicaraan, dalam rapat komis|is/panit|ia/alat kele|ngkapan DPRD yang khusus me|nge|nai legislas|i, dan dalam rapat paripurna. Raperda yang telah disetujui bersama oleh DPRD dan gubernur atau bupat|i/walikota disampaikan oleh pimpi|nan DPRD kepada gubernur atau bupat|i/walikota untuk disahkan me|njadi Perda, dalam jangka waktu pali|ng lambat 7 hari sejak tanggal persetujuan bersama. Perda tersebut disahkan oleh gubernur atau bupat|i/walikota de|ngan me|nandatangani dalam jangka waktu 30 hari sejak Raperda tersebut disahkan oleh DPRD dan gubernur atau bupat|i/walikota. Jika dalam waktu 30 sejak Raperda tersebut disetujui bersama t|idak ditandatangani oleh gubernur atau bupat|i/walikota, maka Raperda tersebut sah me|njadi Perda dan wajib diundangkan.