• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perbedaan Pendidikan Jasmani dengan Olahraga

PERBEDAAN PENDIDIKAN JASMANI DAN OLAHRAGA

B. Pembahasan

3. Perbedaan Pendidikan Jasmani dengan Olahraga

Dalam memahami arti pendidikan jasmani, kita harus juga mempertimbangkan hubungan antara bermain (play) dan olahraga (sport), sebagai istilah yang lebih dahulu populer dan lebih sering digunakan dalam konteks kegiatan sehari-hari. Pemahaman tersebut akan membantu para guru atau masyarakat dalam memahami peranan dan fungsi pendidikan jasmani secara lebih konseptual.

Bermain pada intinya adalah aktivitas yang digunakan sebagai hiburan.

Kita mengartikan bermain sebagai hiburan yang bersifat fisikal yang tidak kompetitif, meskipun bermain tidak harus selalu bersifat fisik.

Bermain bukanlah berarti olahraga dan pendidikan jasmani, meskipun elemen dari bermain dapat ditemukan di dalam keduanya.

Olahraga di pihak lain adalah suatu bentuk bermain yang terorganisir dan bersifat kompetitif. Beberapa ahli memandang bahwa olahraga semata-mata suatu bentuk permainan yang terorganisasi, yang menempatkannya lebih dekat kepada istilah pendidikan jasmani. Akan tetapi, pengujian yang lebih cermat menunjukkan bahwa secara tradisional, olahraga melibatkan aktivitas kompetitif.

Ketika kita menunjuk pada olahraga sebagai aktivitas kompetitif yang terorganisir, kita mengartikannya bahwa aktivitas itu sudah disempurnakan dan diformalkan hingga kadar tertentu, sehingga memiliki beberapa bentuk dan proses tetap yang terlibat. Peraturan, misalnya, baik tertulis maupun tak tertulis, digunakan atau dipakai dalam aktivitas tersebut, dan aturan atau prosedur tersebut tidak dapat diubah selama kegiatan berlangsung, kecuali atas kesepakatan semua pihak yang terlibat.

Dari uraian di atas maka pengertian olahraga adalah aktivitas kompetitif. Kita tidak dapat mengartikan olahraga tanpa memikirkan

kompetisi, sehingga tanpa kompetisi, olahraga berubah menjadi semata-mata bermain atau rekreasi. Bermain pada satu saat menjadi olahraga, tetapi sebaliknya, olahraga tidak pernah hanya semata-mata bermain; karena aspek kompetitif teramat penting dalam hakikatnya.

Di pihak lain, pendidikan jasmani mengandung elemen baik dari bermain maupun dari olahraga, tetapi tidak berarti hanya salah satu saja, atau tidak juga harus selalu seimbang di antara keduanya.

Sebagaimana dimengerti dari kata-katanya, pendidikan jasmani adalah aktivitas jasmani yang memiliki tujuan kependidikan tertentu.

Pendidikan Jasmani bersifat fisik dalam aktivitasnya dan penjas dilaksanakan untuk mendidik. Hal itu tidak bisa berlaku bagi bermain dan olahraga, meskipun keduanya selalu digunakan dalam proses kependidikan.

Bermain, olahraga dan pendidikan jasmani melibatkan bentuk-bentuk gerakan, dan ketiganya dapat melumat secara pas dalam konteks pendidikan jika digunakan untuk tujuan-tujuan kependidikan. Bermain dapat membuat rileks dan menghibur tanpa adanya tujuan pendidikan, seperti juga olahraga tetap eksis tanpa ada tujuan kependidikan.

Misalnya, olahraga profesional (di Amerika umumnya disebut athletics) dianggap tidak punya misi kependidikan apa-apa, tetapi tetap disebut sebagai olahraga. Olahraga dan bermain dapat eksis meskipun secara

murni untuk kepentingan kesenangan, untuk kepentingan pendidikan, atau untuk kombinasi keduanya. Kesenangan dan pendidikan tidak harus dipisahkan secara eksklusif; keduanya dapat dan harus beriringan bersama.

Sehubungan hal di atas sesuai dengan perkuliahan yang disampaikan oleh Abdul Kadir Ateng, dalam mata kulian azas pendidikan olahraga tentang perbedaan olahraga dan pendidikan jasmani, (Abdul Kadir Ateng, Perkulian Azas Pendidikan Olahraga) sebagai berikut :

Komponen Pendidikan Jasmani Sport (Olahraga)

Tujuan

Pendidikan keseluruhan, kepribadian dan

emosional

Kinerja motorik (motor performance/kinerja gerak untuk prestasi

Materi

Child centered (sesuai dengan kebutuhan

anak/individualized)

Subject centered (berpusat pada materi)

Bentuk gerak Seluas gerak kehidupan sehari-hari

Fungsional untuk cabang olahraga bersangkutan

Peraturan

Disesuaikan dengan keperluan (tidak dibakukan)

Peraturannya baku (standar) agar dapat dipertandingkan Anak yang

lamban

Harus diberi perhatian ekstra

Ditinggalkan/untuk milih cabang olahraga lain Talen Skating Untuk mengukur Untuk cari atlit berbakat

Komponen Pendidikan Jasmani Sport (Olahraga)

(TS) kemampuan awal

Latihannya Mutilateral (latihan yang

menyangkut semua otot) Spesifik

Partisipasi Wajib Bebas

Perbedaan pendidikan jasmani yang telah disampaikan oleh Abdul Kadir Ateng dalam perkuliahan.

Diperkuat oleh Syarifudin dalam buletin pusat perbukuan (SyarifudinDepartemen pendidikan dan Kebudayaan. 1998), yaitu :

Komponen Pendidikan Jasmani Olahraga Tujuan Program yang

dikembangkan sebagai sarana untuk membentuk pertumbuhan dan

perkembangan totalitas subjek.

Program yang

dikembangkan sebagai sarana untuk mencapai prestasi optimal.

Orientasi Aktivitas jasmani berorientasi pada

kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan subjek

Aktivitas jasmani

berorientasi pada suatu program latihan untuk mencapai prestasi optimal

Materi Materi perlakuan tidak dipaksakan melainkan disesuaikan dengan kemampuan anak.

Untuk mencapai prestasi optimal materi latihan cenderung dipaksakan.

Lamanya perlakuan

Lamanya aktivitas jasmani yang dilakukan dalam pendidikan jasmani tiap pertemuan

Lamanya aktivitas jasmani yang dilakukan dalam latihan olahrag cenderung tidak

Komponen Pendidikan Jasmani Olahraga dibatasi oleh alokasi

waktu kurikulum. Di samping itu juga disesuaikan dengan kemampuan organ-organ tubuh subjek.

dibatasi.Agar individu dapat beradaptasi dengan siklus

pertandingan, aktivitas fisik dalam latihan harus dilakukan mendekati kemampuan optimal.

Frekuensi perlakuan

Frekuensi pertemuan belajar pendidikan jasmani dibatasi oleh alokasi waktu kurikulum.

Namun demikian

diharapkan siswa dapat mengulang-ulang

keterampilan gerak yang dipelajari di sekolah pada waktu senggang mereka dirumah. Diharapkan mereka dapat melakukan pengulangan gerakan antara 2 sampai 3 kali/minggu.

Agar dapat mencapai tujuan, latihan harus dilakukan dalam frekuensi yang tinggi.

Intensitas Intensitas kerja fisik disesuaikan dengan kemampuan organ-organ tubuh subjek

Intensitas kerja fisik harus mencapai ambang zona latihan. Agar subjek dapat beradaptasi

dengan siklus pertandingan kelak, kadang-kadang intensitas kerja fisik dilakukan melebihi kemampuan optimal.

Peraturan Tidak memiliki peraturan yang baku. Peraturan dapat dibuat sesuai dengan tujuan dan kondisi pembelajaran

Memiliki peraturan permainan yang baku.

Sehingga olahraga dapat dipertandingkan dan diperlombakan dengan standar yang sama pada berbagai situasi dan kondisi.