• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perencanaan Sanitasi a. Lokasi

Dalam dokumen TUGAS PROYEK AGROINDUSTRI-KELOMPOK 5 (Halaman 110-118)

menyengat dari limbah padat, cair, maupun gas

pernapasan

Keterangan:

Nilai 1-3 = Rendah Nilai 4-6 = Sedang Nilai 7-12 = Tinggi

Nilai 13-25 = Sangat Tinggi

Tingkat kecelakan yang terjadi di perusahaan NIPODRINK pada area produksi memiliki tingkat bahaya yang dimulai dari rendah, sedang, hingga tinggi. Tingkat bahaya rendah yaitu terdapat pada potensi kecelakaan kerja berupa terpapar panas atau radiasi dari mesin dan peralatan terutama pada proses pemasakan dan kristalisasi. Untuk tingkat bahaya sedang yaitu pada area produksi yang licin sehingga dapat membua karyawan terpeleset, serta dapat disebabkan oleh sengatan arus listrik dan kebisingan ataupun kelebihan beban saat memindahkan barang. Berikutnya pada area gudang bahan baku dan produk akhir, tingkat bahaya menunjukkan sedang pada setiap potensi kecelakaan kerja. Selanjutnya pada area kantor, tingkat bahaya dimulai sedang hingga tinggi. Tingkat sedang ditunjukkan pada potensi kecelakaan kerja berupa kelelahan pada indera penglihatan dan tertular penyakit antar pegawai serta kelebihan beban kerja dan hubungan kerja yang kurang sehat antar pegawai, sedangkan tingkat tinggi ditimbulkan dari kesalahan posisi kerja (duduk terlalu lama, fasilitas kantor yang kurang ergonomis). Kemudian pada area pengolahan limbah, tingkat bahaya menunjukkan tingkat sedang pada tiap potensi kecelakaan kerja mulai dari adanya bahan kontaminan pada fisik, dan aroma yang tidak sedang pada limbah yang dihasilkan dari proses produksi.

10.2 Perencanaan Sanitasi

perusahaan tersebut (Heridiansyah dan Dwi, 2016). Adapun lokasi yang strategis dan mudah diakses maka dapat membantu dalam proses produksi, dimana lokasi ini yang dapat mendukung juga dalam menyingkat waktu dan biaya produksi.

Lokasi yang dipilih oleh PT. Makmur Sejahtera yaitu berada di Kota Malang.

Dipilihnya lokasi tersebut yang dikarenakan lokasi tersebut berdekatan dengan sumber bahan baku yang dibutuhkan. Selain itu, lokasi yang dipilih untuk PT. Makmur Sejahtera juga tidak berada di tempat padat penduduk, akan tetapi sumber daya manusianya tetap tercukupi. Jika lokasi berdekatan dengan dengan wilayah penduduk maka akan dapat menyebabkan kegaduhan di sekitar area industri. Beberapa hal yang sangat perlu diperhatikan dalam penentuan lokasi yaitu berkaitan dengan saluran pembuangan air, ketersediaan air bersih, pembuangan sampah. Berdasarkan dari standar Good Manufacturing Practices (GMP) lokasi yang baik dalam mendirikan sebuah industri yaitu dengan lokasi yang bebas dari asap, debu, sampah, bebas dari sarang hama dan kotoran.

b. Bangunan

Pada bangunan dilakukan pembuatan sebuah ruangan yang memiliki luas dan tinggi yang sesuai dengan perhitungan, hal ini dengan tujuan untuk menghindari hambatan dan kecelakaan nantinya. Dalam penentuan bangunan perusahaan juga diperlukan penerapan Good Manufacturing Practise (GMP). Hal tersebut yang dilakukan karena berkaitan dengan adanya sanitasi supaya produk akhir yang dimiliki berkualitas baik. Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan berdasarkan Good Manufacturing Practices (GMP) pada bangunan yang meliputi adanya ventilasi, pintu, kamar mandi, lantai, kelembaban, pencahayaan, gudang penyimpanan dll.

Menurut Herdhiansyaha et al.(2022), aspek bangunan dapat ditinjau dari beberapa hal diantaranya dari bentuk tata ruang bangunan, konstruksi bangunan (lantai, dinding, langit- langit, penerangan dan ventilasi). Ruang produksi yang nantinya didesain oleh PT. Makmur Sejahtera yaitu dengan memakai keramik yang anti air dan juga menghindari genangan air dengan memperhatikan tingkat kemiringan lantai. Bahan-bahan yang digunakan pada atap bangunan PT. Makmur Sejahtera dengan memilih yang kuat supaya ketika hujan tidak mengalami kebocoran. Terdapat ventilasi supaya udara di ruang produksi dapat terjaga serta terdapat sumber pencahayaan yang selalu dinyalakan supaya tidak melelahkan mata saat bekerja bagi tenaga kerja.

c. Fasilitas sanitasi

Sanitasi merupakan salah satu bentuk tingkat upaya dalam menjaga kebersihan lingkungan dan kesehatan masyarakat yang melalui pengawasan lingkungan atau untuk menghindari adanya suatu kontaminasi dalam produk akhir yang dihasilkan di dalam suatu

industri.Terdapatnya pendamping fasilitas yang ada di dalam industri dimana sanitasi akan ditingkatkan dengan adanya pembersihan toilet, dengan menyediakan tempat cuci tangan dan dilengkapi dengan sabun, lap tangan serta tisu. Selain itu juga, fasilitas kebersihan yang dapat meliputi sapu, pel, lap kaca, cairan pembersih. Kemudian ruang toilet yang berada di PT.

Makmur Sejahtera disediakan secara terpisah dimana pintu toilet tidak berhadapan langsung dengan pintu ruang produksi.

d. Mesin dan peralatan

Mesin dan peralatan pada industri dengan perlu diadakan perawatan mesin dan peralatan agar mesin dan peralatan tersebut tidak cepat rusak. Hal ini juga, ketika melakukan perawatan mesin dan peralatan otomatis akan menunjang kelancaran dari proses produksi.

Mesin dan peralatan ini harus memiliki sifat yang anti karat dimana untuk menghindari terjadinya perkaratan. Selain itu juga, peralatan tidak boleh menggunakan bahan mudah lapuk. Dalam upaya penerapan GMP ialah dengan pembuatan jadwal dengan tujuan untuk membersihkan mesin dan peralatan secara teratur. Kemudian posisi mesin dan peralatan ini juga tidak mepet dengan dinding agar ketika sedang membersihkan mesin lebih mudah.

Peralatan yang digunakan saat proses produksi diwajibkan harus bersih, tidak karatan, dan aman digunakan.

e. Bahan baku

Sanitasi pada bahan baku juga termasuk dalam hal yang penting, karena bertujuan untuk menjaga bahan baku supaya tetap dalam keadaan yang steril. Selain itu, bahan baku ini juga harus terjaga dari kontaminasi karena juga berpengaruh terhadap kualitas mutu produk akhir (Agustina, 2018). Salah satu kegiatan sanitasi pada bahan baku yang dapat meliputi pencegahan dari adanya jamur dan hama. Tidak hanya itu saja, sanitasi bahan baku juga dilakukan dengan pengawasan terkait kebersihan bahan. Salah satu bahan baku utama dalam pembuatan produk NIPODRINK yaitu buah nypah. Buah nipah yang digunakan harus dapat dipastikan masih dalam keadaan segar, tidak busuk. Tujuan pemilihan buah nypah segar ini yaitu yang bertujuan untuk dapat memberikan produk akhir yang memiliki kualitas baik.

f. Pengawasan proses

Pengawasan proses merupakan salah satu ruang lingkup GMP yang bertujuan untuk menghindari dan mengurangi output yang tidak memenuhi syarat mutu dan keamanan melalui pengawasan yang ketat terhadap potensi timbulnya bahaya pada setiap tahapan proses (Maitimu dan Pattiapon, 2021). Pengawasan proses produksi NIPODRINK dilakukan mulai dari pengadaan bahan baku yaitu pada proses receiving dan storage. Bahan baku yang diterima dari pemasok harus memenuhi standar kualitas dan kuantitas yang ditetapkan perusahaan. Area storage juga dibersihkan secara berkala agar terhindar dari debu, hama, dan

binatang lainnya. Tumpukkan bahan baku yang disimpan tidak boleh melebihi kapasitas tumpukan maksimal untuk menghindari bahan baku terjatuh dan mengalami kerusakan.

Bahan baku yang disimpan pada storage disusun dengan sistem FIFO untuk bahan baku mentah dan FEFO untuk bahan baku yang memiliki tanggal expired.

Perusahaan memiliki catatan produksi yang berisi rincian bahan baku yang digunakan selama proses produksi berlangsung untuk mencegah adanya bahan asing yang tercampur pada produk. Pegawai produksi wajib menjalankan prosedur sanitasi yang ditetapkan, dan sanitasi mesin, peralatan, serta area produksi dilakukan secara berkala. Pada area produksi terdapat SOP pengoperasian mesin dan peralatan serta tidak boleh menggunakan peralatan berbahan kayu untuk mencegah kontaminasi. Produk akhir yang dihasilkan selalu diperiksa kualitas dan kuantitasnya. Pada warehouse terdapat catatan produk yang disimpan, tanggal produksi, dan tanggal expired produk. Hal tersebut bertujuan untuk menerapkan sistem FIFO sehingga produk yang lebih cepat expired disalurkan terlebih dahulu pada konsumen. Area pengolahan limbah terpisah dari area produksi dan dilakukan pengawasan dan pengujian yang ketat sebelum disalurkan pada pihak ketiga maupun sebelum dibuang ke lingkungan.

g. Produk akhir

Menurut Maitimu dan Pattiapon (2021), produk akhir yang dihasilkan perusahaan harus memenuhi standar kualitas yang ditetapkan oleh otoritas kompeten sehingga tidak membahayakan kesehatan yang dapat merugikan konsumen. Produk minuman serbuk NIPODRINK melalui pengujian kualitas terlebih dahulu sebelum disimpan pada warehouse dan disalurkan pada konsumen. Pengujian kualitas dilakukan pada laboratorium oleh departemen Quality Control (QC). Standar mutu NIPODRINK mengikuti SNI Nomor 01- 4320 tahun 1996 tentang minuman serbuk. Produk NIPODRINK juga memiliki spesifikasi akhir terkait dengan warna, rasa, aroma, tingkat kehalusan serbuk, komposisi, nilai gizi, berat produk, dan lainnya.

h. Laboratorium

Perusahaan memiliki laboratorium untuk menguji kualitas bahan baku, proses, dan produk akhir. Pengujian kualitas di laboratorium dilakukan oleh departemen QC. Setiap bahan baku yang diterima dari pemasok akan diuji terlebih dahulu sebelum digunakan pada proses produksi. Apabila terdapat spesifikasi bahan baku yang tidak memenuhi standar mutu perusahaan maka dilakukan prosedur pengembalian pada pemasok. Produk akhir juga diuji kualitasnya sebelum disimpan pada warehouse dan disalurkan pada konsumen. Apabila terdapat kontaminasi pada produk yang tidak memenuhi standar mutu yang ditetapkan maka produk akan dimusnahkan dan tidak disalurkan pada konsumen. Laboratorium NIPODRINK menerapkan prinsip Good Laboratory Practices yang merupakan pedoman berisi persyaratan

dan kriteria manajemen kualitas pada laboratorium kesehatan non-klinis untuk memastikan kualitas dan keamanan produk. GLP menerapkan pengujian secara reliable, traceable, dan reprodusible (Annisa, 2020). Laboratorium juga digunakan untuk mengembangkan produk baru yang dilakukan oleh departemen Research and Development (R&D).

i. Karyawan

Karyawan atau tenaga kerja merupakan salah satu aspek yang diatur untuk menerapkan GMP. Tenaga kerja merupakan sumber daya utama perusahaan yang juga berpotensi menyebabkan pencemaran atau kontaminasi pada bahan baku, proses, dan juga produk akhir (Maitimu dan Pattiapon, 2021). Karyawan NIPODRINK mengikuti prosedur hygiene personal GMP yaitu menggunakan seragam bersih, masker, hairnet/penutup rambut, sarung tangan, dan safety shoes saat memasuki area produksi. Karyawan wajib mencuci tangan sebelum memasuki area produksi, kuku jari harus pendek dan bersih, dan dilarang menggunakan cat kuku dan kuku palsu. Pada area produksi dilarang menggunakan staples, parfum, jam tangan, perhiasan, riasan yang berlebihan, jarum pentul, peniti, dan pakaian dengan manik-manik untuk mencegah kontaminasi fisik pada produk. Seragam dan safety shoes harus dilepas jika keluar dari area produksi termasuk saat pergi ke toilet dan dipakai saat memasuki area produksi. Apabila terdapat luka harus dibalut menggunakan perban dan plester bermotif. Karyawan dilarang membawa obat-obatan, senjata tajam, makanan, dan minuman saat berada di area produksi. Karyawan juga dilarang menggunakan handphone, membuang sampah sembarangan, menginjak/duduk di atas material, produk, mesin dan alat.

Karyawan NIPODRINK harus menjalani pelatihan atau pembinaan GMP, SSOP, dan SOP proses produksi terkait penggunaan mesin, alat, dan lainnya. Karyawan juga dibekali dengan pelatihan K3 untuk menghindari terjadinya kecelakaan kerja.

j. Pengemasan

Pada kegiatan pemilihan kemasan dalam sebuah produk perlu memperhatikan bahan kemasan yang digunakan. Tujuan dari kegiatan pengemasan untuk melakukan pencegahan terhadap kerusakan produk dari kontaminasi mikroorganisme patogen. Bahan pengemas yang digunakan harus bebas dari bahan yang beracun dan dapat melindungi produk dari kerusakan seperti kontak langsung dengan udara serta sinar matahari. Jenis kemasan yang digunakan untuk produk minuman serbuk secara umum menggunakan kemasan primer dan kemasan sekunder untuk melakukan pendistribusian produk. Kemasan primer yang dipakai yaitu dai bahan alumunium foil. Kemasan primer pada produk minuman serbuk ini digunakan karena kemudahannya didapatkan di pasaran dan harganya terjangkau. Kemasan yang digunakan berupa kardus, hal tersebut dikarenakan pengguaan kardus dapat melindungi produk dari benturan saat dilakukan kegiatan pendistribusian. Steps pengemasan minuman serbuk dimulai

dengan memasukan serbuk minuman kedalam kemasan primer dan dilanjutkan ke kemasan sekunder. Kardus dipilih karena ramah lingkungan, harga murah dan ringan. Penentuan pemilihan kemasan didasarkan dari keamanan dalam menyimpan produk dan kemudahan dalam mengeluarkan isi produk.

k. Label dan Keterangan Produk

Label dan keterangan sebuah produk adalah elemen yang perlu dicantumkan pada sebuah kemasan. Keterangan produk yang harus dicantumkan dalam kemasan harus jelas dan lengkap yang isinya untuk membantu memperjelas produk. Keterangan yang ada didalam kemasan meliputi tata cara penyimpanan produk, tanggal kadaluarsa, komposisi, berat bersih, kandungan nutrisi, kode produksi, nomor izin edar (BPOM RI), nama dan alamat produsen.

Sebelum dilakukannya proses pendistribusian produk, label yang dicantumkan harus sesuai dengan peraturan dari menteri kesehatan mengenai tata cara pelabelan yang baik dan benar.

Tujuan pemberian label pada kemasan yaitu untuk memberikan kemudahan konsumen dalam memilih, mengolah, menyimpan dan mengkonsumsi suatu produk. Peraturan pemerintah yang mengatur pelabelan produk adalah PP RI No. 69 Tahun 1999 tentang label dan iklan pangan.

Produk minuman serbuk NIPODRINK disini juga harus mencamtumkan label terkait dengan sertifikasi produk halal, hal tersebut dikarenakan minuman serbuk adalah produk yang dikonsumsi langsung oleh masyarakat terutama masyarakat Indonesia. Sertifikasi halal pada produk pangan bertujuan untuk memberikan keyakinan pada konsumen bahwa produk yang dikonsumsi terhindar atau bebas dari bahan-bahan haram atau najis.

l. Penyimpanan

Pada proses penyimpanan perlu memperhatikan jenis bahan baku maupun produk yang akan dilakukan penyimpanan. Kegiatan menyimpan bahan atau produk harus dipisah antara ruang bahan baku datang dengan produk akhir untuk mencegah terjadinya kontaminasi dikeduanya. Penyimpanan bahan baku maupun produk harus dilakukan didalam ruangan yang hiegenis, aliran udara yang baik, suhu udara yang sesuai dengan produk yang disimpan, penerangan yang baik, dan bahan dipastikan tidak menyentuh secara langsung dengan lantai untuk menghindari kontaminasi dan kotor. Penyimpanan bahan bahan pengemas dan label saat proses produksi harus dilakukan penyimpanan ditempat yang bersih agar tetap terjaga kehiegenisannya. Saat penyimpana perlu dilakukan adanya pemberian kode batch untuk memudahkan dalam melakukan pengambilan produk untuk mencegah kerusakan produk.

m. Pemeliharaan dan Program Sanitasi

PT. Makmur Sejahtera melakukan kegiatan pemeliharaan dan program sanitasi secara rutin atau berkala. Hal tersebut dilakukan untuk menjaga mesin dan beberapa peralatan pendukung produksi selalu dalam kondisi yang baik sehingga dapat efektif dan efisien saat digunaan. Pemeliharaan mesin dilakukan saat proses produksi telah selesai dan mesin dalam keadaan off. Pemeliharaan serta perawatan mesin ini dilakukan untuk mengetahui adanya kerusakan yang dialami oleh mesin sehingga seorang montir yang akan melakukan kegiatan perawatan akan lebih mudah mencari letak masalah yang terjadi dalam mesin maupun alat.

Perawatan mesin yang dilakukan juga harus dalam kondisi mati untuk menghindari terjadinya kecelakaan kerja. Kegiatan sanitasi yang diterapkan oleh PT. Makmur Sejahtera juga harus dilakukan dengan sesuai agar sanitasi yang dilakukan dapat berjalan sesuai dengan rencana serta keinginan perusahaan.

n. Pengangkutan

Pada pengangkutan di perusahaan NIPODRINK untuk produk akhir langsung diawasi oleh operator yang berada di gudang. Pengawasan dilakukan agar produk yang akan dijual pada konsumen tetap dalam kondisi yang baik tanpa adanya cacat produk. Menurut Pasigai dkk. (2017) mengungkapkan bahwa, pada pengangkutan hal yang terpenting yaitu dengan menentukan wadah yang sesuai dengan didukung oleh transportasi pengangkut yang aman.

Peangangkutan yang dilakukan di perusahaan NIPODRINK yaitu dengan menggunakan alat berupa forklift. Dengan menggunakan forklift maka dapat mempermudah dalam hal pengangkutan apabila dibutuhkannya peletakkan produk di tempat yang tinggi dan susah untuk dijangkau manusia secara langsung. Untuk meminimalisir kerusakan pada produk, dibutuhkan SOP yang telah disusun sesuai dengan autran yang tersedia dan dipantau secara langsung oleh operator yang bertugas.

o. Dokumentasi dan Pencatatan

Dokumentasi dan pencatatan dilakukan oleh perusahaan NIPODRINK dengan tujuan untuk mengetahui seluruh rekapan produk yang dibuat ataupun yang keluar untuk dijual pada konsumen. Kegiatan ini memudahkan perusahaan dalam merekap seluruh kebutuhan yang nantinya akan digunakan dalam menentukan arah gerak perusahaan untuk kedepannya.

Dokumentasi dilakukan dengan cara berkala dengan tujuan agar nantinya dapat berguna sebagai perbandingan apabila adanya peningkatan ataupun penurunan dari hasil produksi.

Pelaksanaan dokumentasi dilakukan pada seluruh divisi yang bertugas untuk mengetahui kinerja dari proses produksi perusahaan. Dengan adanya rekapan hasil dokumentasi dan

pencatatan dapat memudahkan perusahaan untuk menentukan bahan baku dan jumlah produk yang harus dihasilkan untuk kedepannya.

p. Pelatihan System Hygiene

Perusahaan NIPODRINK melaksanakan pelatihan system hygiene yang ditujukan untuk seluruh karyawannya. Hal ini memiliki tujuan agar seluruh karyawan perusahaan selalu memperhatikan kebersihan diri sebelum dan sesudah melaksanakan proses produksi. Tidak hanya melindungi diri, namun juga untuk menciptakan lingkungan yang sehat dan bersih.

Pelaksanaan pelatihan system hygiene dilakukan dengan cara menampilkan presentasi yang nantinya akan dilakukan dengan berdiskusi bersama. Kemudian juga akan diadakan studi kasus yang nantinya akan diketahui juga evaluasi dari studi kasus tersebut. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk memberi kesadaran pada seluruh karyawan kerja untuk menerapkan kebersihan di lingkungan perusahaan.

q. Penarikan Produk

Penarikan produk dilakukan perusahaan NIPODRINK apabila adanya produk yang tidak sesuai dengan SOP yang sudah ditetapkan oleh perusahaan. Adapun salah satu studi kasus yang dapat muncul yaitu barang yang diproduksi sudah kadaluarsa, namun tetap didistribusikan atau diperjual belikan. Perusahaan NIPODRINK akan segera menindak tegas barang yang sudah tidak layak jual untuk ditarik kembali agar tidak berbahaya bagi konsumen, dimana akan berdampak bagi kesehatan. Tidak hanya masa kadaluarsa, apabila terdapat keluhan dari beberapa konsumen pada produk NIPODRINK dirasa menimbulkan efek samping atau rasanya yang kurang manis, maka perusahaan NIPODRINK akan segera melakukan evaluasi terhadap produk tersebut. Sebelum didistribusikan kembali, barang akan kembali diuji coba terlebih dahulu untuk memastikan bahwa produk sudah aman dan tidak ada kendala seperti yang sebelumnya terjadi.

r. Pelaksanaan Pedoman

Perusahaan NIPODRINK memproduksi minuman serbuk yang berbahan dasar dari daging buah nipah telah dilaksanakan dengan berdasarkan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan. Tidak hanya itu, produk yang diproduksi oleh perusahaan NIPODRINK juga sudah sesuai dengan peraturan yang tercantu, pada Kementrian Kesehatan, sehingga produk dari perusahaan NIPODRINK telah terdaftar di BPOM. Pembuatan minuman serbuk yang dilakukan oleh perusahaan NIPODRINK juga sudah sesuai dari pedoman Peraturan badan Pengawas Obat dan Makanan mengenai tata cara pembuatan produk tersebut dan takaran yang diperbolehkan. Seluruh kegiatan produksi yang dilakukan oleh perusahaan NIPODRINK telah sesuai dengan peraturan yang ada, sehingga produk yang dihasilkan juga sudah memenuhi Standar Nasional Indonesia

BAB XI

MANAJEMEN ORGANISASI DAN LEGAL YURIDIS

11.1 Manajemen dan Organisasi SDM

Dalam dokumen TUGAS PROYEK AGROINDUSTRI-KELOMPOK 5 (Halaman 110-118)

Dokumen terkait