HATAH SETELAH UTS (UAS)
2. Perkawinan Beda Agama di Indonesia
○ Pasal 2 UU No. 1/1974 → “..menurut agama dan kepercayaan masing-masing pihak yang menikah.”
○ KepPres No. 12 Tahun 1983: Kantor Catatan Sipil walalala
○ Sehingga setelah berlakunya KepPres tersebut: perkawinan beda agama tidak lagi diperbolehkan di Indonesia
○ Apabila terdapat sepasang kekasih WNI berbeda agama yang menikah secara sipil di luar negeri, kembali ke Indonesia dan mendaftarkan perkawinannya di Kantor Catatan Sipil di Indonesia,
■ Pertanyaan 1 → Apakah perkawinan tersebut merupakan Penyelundupan Hukum menurut hukum Indonesia?
Jawaban 1 → Mereka beda agama dan mereka ingin menikah, menurut hukum Indonesia tidak bisa maka dilihat dari intensinya mereka menghindari hukum Indonesia sehingga ini termasuk penyelundupan hukum. Syarat sah perkawinan harus ditinjau dari syarat materil & formil, maka apabila salah satu dari syarat itu tidak terpenuhi maka termasuk dalam penyelundupan hukum dan perkawinan itu tidak sah/dapat dibatalkan.
■ Pertanyaan 2→ Apakah penyelundupan hukum hanya dapat digugat apabila para pihak bersengketa?
Jawaban 2 → Penyelundupan Hukum bersifat kasuistis sehingga hanya berakibat kepada para pihak yang bersangkutan.
● Diskusi (Breakout Room)
○ Persamaan antra Penyelundupan Hukum dengan Ketertiban Umum
■ Kedua-duanya bertujuan agar hukum nasional sang hakim yang dipakai dengan mengesampingkan hukum asing
■ Sama-sama bersifat asbtrak
■ Kedua-duanya hendak mempertahankan agar yang berlaku adalah kaida hukum nasional (lex fori)
■ Contoh: Kasus Estlandse Naturalisatie Van A
○ Perbedaan antara Penyelundupan Hukum dengan Ketertiban Umum
■ Penyelundupan hukum dengan ketertiban umum memiliki perbedaan tertentu. Adapun perbedaan di antara keduanya adalah pada pemberlakuan stelsel hukum. Untuk ketertiban umum, terdapat sebuah pengesampingan hukum internasional berdasarkan
pertentangannya dengan sendi-sendi hukum nasional, maka stelsel hukum yang digunakan adalah hukum nasional. Hal tersebut berlainan dengan penyelundupan hukum yang mana pihak terkait berusaha untuk menghindari atau mengesampingkan penggunaan hukum nasional untuk menggunakan hukum asing guna melakukan suatu intensi atau tujuan tertentu.
Pada ketertiban umum, hukum asing yang seharusnya dipakai itu dikesampingkan karena dianggap bertentangan dengan sendi-sendi pokok/asasi dari lex fori sehingga adanya upaya defensiveyang mana jika diberlakukan dikhawatirkan akan mengguncang sendi-sendi asasi negara yang bersangkutan. Sedangkan pada penyelundupan hukum, tidak diberlakukannya hukum asing itu bagi yang bersangkutan adalah karena ia berusaha menghindari pemakaian hukum yang seharusnya berlaku bagi dirinya, yaitu hukum nasional sesuai kewarganegaraannya.
Selain itu, apabila dilihat dari sudut pandang Ketertiban Umum, hukum nasional dianggap tetap berlaku karena pengesampingan dilakukan untuk kepentingan hakim. Sedangkan dari sudut pandang Penyelundupan Hukum, hukum nasional tetap berlaku dan dianggap tepat pada suatu peristiwa hukum saja karena sifatnya menghindarkan hukum nasional. Artinya, Penyelundupan Hukum bersifat kasuistis dalam kasus-kasus tertentu saja.
■ Satu contoh lain dari penyelundupan hukum a. Kasus Naturalisasi di Islandia
Seorang Warga Negara Belanda bernama Van A menikah dengan seorang Warga Negara Indonesia. Kemudian, ingin mengajukan perceraian dengan WNI tersebut. Akan tetapi, menurut Burgerlijk Wetboek, alasan untuk mengajukan perceraian tersebut belum cukup sehingga hanya diadakan perpisahan meja dan ranjang. Setelah mengetahui kemudahan untuk melangsungkan perceraian di Islandia, Van A kemudian melakukan naturalisasi ke Islandia dengan tujuan untuk mengajukan perceraian di Baltik, Islandia. Setelah permohonan naturalisasi Van A dikabulkan, selanjutnya diperoleh pula keputusan
cerai atas perkawinannya tersebut dengan dasar telah hidup terpisah selama 3 tahun.
→ Termasuk Teori Subyektif dimana ada niat untuk menghindari keberlakuan hukum Belanda dengan cara mengubah titik pautnya (kewarganegaraan)
b. Kasus Perceraian Zevenburgen
Dalam hukum Italia dan Austria tidak dikenal mengenai perceraian, yang dikenal hanyalah kesepakatan antara suami istri untuk berpisah.
Ketentuan tersebut juga didukung oleh Pasal 111 Bürgerliches Gesetzbuch (BGB) Austria yang menyatakan bahwa perceraian bagi suami istri Katolik dilarang, kecuali oleh kematian. Oleh karena itu, Warga Negara Italia dan Austria yang tidak bisa bercerai akan memohonkan suatu keputusan pisah meja dan pisah tempat tidur dari Badan Peradilan Austria, kemudian pergi ke Hungaria untuk melakukan naturalisasi menjadi Warga Negara Hungaria dan menjadi anggota gereja protestan di Gereja Zevenburgen. Selanjutnya, keputusan pisah meja dan pisah tempat tidur berdasarkan hukum Austria diubah menjadi keputusan cerai yang definitif oleh badan peradilan gerejani di Klausenburg. Dengan adanya keputusan cerai ini, maka perkawinan mereka dianggap sudah bubar sehingga dapat melakukan pernikahan lagi dengan pihak ketiga. Pernikahan baru ini juga dapat dilakukan di Austria, karena pada tahun 1907 Mahkamah Agung Austria mengakui sahnya perkawinan baru tersebut setelah dilakukan perceraian.
c. Kasus Penyelundupan Hukum Tanah
kasus penyelundupan ini sering terjadi di Indonesia. Sebagai contohnya adanya larangan kepemilikan hak atas tanah berupa hak milik bagi WNA, orang asing tersebut kemudian meminjam nama seorang WNI untuk mendapatkan hak milik atas tanah yang dibiayai oleh orang asing dengan jaminan utang piutang sesuai harga tanah atau yang telah disepakati kedua pihak WNA & WNI dengan akta notariil untuk mengikat WNI. Maka, WNI yang terikat dengan piutang inilah yang membeli tanah tersebut (atas namanya) dengan jaminan hutang tanah yang dibelinya.
■ Apakah “keadilan” menjadi faktor untuk menentukan suatu perbuatan hukum merupakan penyelundupan hukum?
Suatu penyelundupan hukum merupakan hal yang abstrak atau dapat dikatakan tidak bersifat ajek, bisa berubah yang perubahannya didasarkan pada suatu dinamika hukum dan sosial yang terdapat dalam suatu masyarakat. Konsep keadilan merupakan suatu konsep yang bersifat subjektif atau bergantung pada orang atau sekelompok orang (masyarakat). Maka berdasarkan hal ini, dapat dikatakan perkembangan dinamika akan suatu hukum merupakan suatu penyelundupan atau bukan, dapat disandingkan dengan apakah itu adil menurut suatu kelompok masyarakat atau pribadi, yang apabila adalah adil, maka bisa dikatakan bukan suatu penyelundupan hukum, dan berlaku sebaliknya.
Secara sederhana, keadilan dapat disimpulkan sebagai persamaan perlakuan atau hak setiap orang. Dengan konsep penyelundupan hukum, yakni suatu perbuatan hukum yang dilakukan untuk mengelakkan keberlakuan hukum nasional tertentu dengan menundukkan diri atau memilih hukum asing. Maka terdapat sebuah kepentingan atau hak masyarakat-hukum nasional yang tidak diperlakukan secara sama pada setiap warga negaranya. Maka keadilan dapat dikatakan sebagai sebuah faktor dalam menentukan sebuah tindakan untuk memisahkan diri dari hukum nasional yang berlaku bagi seluruh masyarakat nasionalnya untuk mengejar sebuah pilihan hukum asingnya.
○ Hambatan Teori Obyektif
■ v
■ v
○ Hambatan Teori Subyektif
■ Dikarenakan teori subjektif merupakan teori yang menitikberatkan pada keberadaan fakta-fakta tipu muslihat para subjek hukum, maka akan menjadi sulit untuk mengkategorikan suatu perbuatan hukum merupakan bentuk penyelundupan hukum. Hal ini dikarenakan tipu muslihat tersebut harus dapat diidentifikasi secara jelas hingga mampu menunjukkan adanya “penyelundupan hukum”.
■ Sebagai contoh adalah pada kasus De Ferrari di mana kasus ini dinamakan “forum shopping” yaitu mencari forum yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan apa yang dikehendaki. Sehingga, tidak dapat dinyatakan sebagai penyelundupan hukum dan harus ditelusuri kembali niat asli dari para pihak.
■ Dalam melakukan pembuktian, para pihak yang bersangkutan memiliki celah untuk mengelak atau tidak mengakui adanya niat buruk pada dirinya.
DISKUSI KELOMPOK 4
● Hambatan Teori Subjektif
● Dikarenakan teori subjektif merupakan teori yang menitikberatkan pada keberadaan fakta-fakta tipu muslihat para subjek hukum, maka akan menjadi sulit untuk mengkategorikan suatu perbuatan hukum merupakan bentuk penyelundupan hukum. Hal ini dikarenakan tipu muslihat tersebut harus dapat diidentifikasi secara jelas hingga mampu menunjukkan adanya
“penyelundupan hukum”.
● Sebagai contoh adalah pada kasus De Ferrari di mana kasus ini dinamakan
“forum shopping” yaitu mencari forum yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan apa yang dikehendaki. Sehingga, tidak dapat dinyatakan sebagai penyelundupan hukum dan harus ditelusuri kembali niat asli dari para pihak.
● Dalam melakukan pembuktian, para pihak yang bersangkutan memiliki celah untuk mengelak atau tidak mengakui adanya niat buruk pada dirinya.
● Definisi teori subyektif:
○ Teori subyektif menitikberatkan ada tidaknya niat buruk dari pihak yang bersangkutan dalam melakukan perbuatan hukum tersebut sebelum perbuatan hukum itu dikategorikan sebagai suatu penyelundupan hukum. Harus jelas ada suatu tipu muslihat (intention frauduleuse, animus fraudandi).
○ Ketiadaan fakta-fakta tipu muslihat mengakibatkan tidak terangnya
“penyelundupan” dari suatu perbuatan hukum, dan karena itu tidak bisa kita kategorikan sebagai suatu penyelundupan hukum.
○ Indikator utamadalam teori subyektif, ialahniat atas tindakan hukum tersebut yang menjadikan suatu tindakan hukum merupakan penyelundupan hukum.
○ Teori Subjektif adalah mengenai niat yang buruk perbuatan hukum yang dilakukan dan hal ini haruslah terang benderang sehingga terlihat upaya
“penyelundupan” itu dilakukan.
○ Perbuatan penghindaran bertentangan dengan jiwa dan makna perundang-undangan yang seharusnya berlaku
● Apakah “keadilan” menjadi faktor untuk menentukan suatu perbuatan hukum merupakan penyelundupan hukum?
● Penyelundupan hukum (PH) adalah suatu perbuatan yang dilakukan oleh seseorang guna mendapatkan akibat hukum tertentu (hak) berdasarkan hukum asing karena apabila didasarkan dengan hukum nasionalnya akibat hukum yang diharapkan tidak dapat terwujud.
● Melihat dari faktor keadilan dapat dikatakan bahwa seseorang mencari pengesahan hukum di negara lain demi ketaatan hukum yang diyakininya.
● Akan tetapi, salah satu akibat dari perbuatan penyelundupan hukum ini adalah batalnya perbuatan yang bersangkutan sehingga apabila maksud seseorang melakukan penyelundupan hukum adalah keadilan, walaupun hal tersebut merupakan hukum yang diyakininya, tetapi di lain sisi dapat menjadi bumerang bagi yang bersangkutan karena akan sia-sia melihat dari niat/intensi untuk melakukan perbuatan hukum dengan menyampingkan hukum yang seharusnya berlaku.
● Maka apabila dilihat dari konsep penyelundupan hukum dan keadilan yang bersifat abstrak dan subyektif, hal tersebut membuat keadilan menjadi salah satu faktor dalam menentukan sebuah tindakan hukum merupakan penyelundupan hukum, namun perlu digaris bawahi bahwa hal tersebut bergantung dari intensi, hak, syarat-syarat lain yang dimiliki para pihak sehingga menjadi faktor penyebab seseorang melakukan tindakan hukum dan lebih lanjut yaitu penyelundupan hukum.
● Contoh kasus
1. Kasus perceraian di Zevenburgen. Bagi masyarakat WN Italia dan Austria tidak mengenal adanya perceraian melainkan hanya sepakat untuk berpisah (sebelum 1938). Berdasarkan Paragraf III BGB Austria, perkawinan hanya
dapat diputuskan antara orang beragama Katolik karena meninggalnya salah satu suami atau istri. Apabila WN Austria hendak bercerai, maka harus mencari “kesembuhan atas penyakit mereka” dengan bepergian ke
“buitenlandseherstellingsoord di Hongaria dan naturalisasi menjadi WN Hongaria serta menjadi anggota jemaat protestan di gereja Zevenburgen.
Setelah itu, sepakat pisah baru bisa diubah menjadi keputusan perceraian yang definitif oleh badan peradilan gerejani di Klausenburg.
2. Perkawinan untuk dapat bekerja: (wanita asing yang menikah dengan pria WNI untuk dapat bekerja menghindari ijin kerja khusus WNA berdasarkan Peraturan Menteri Perburuhan (UU No.3 tahun 1958).
3. Perkawinan sejenis bagi WNI yang dilangsungkan di Negara yang melegalkan perkawinan sejenis, contohnya Belanda. Pasal 56 UU Perkawinan : pernikahan antar sesama warga negara Indonesia (WNI) atau seorang WNI dengan warga negara asing di luar negeri sah karena mengacu pada hukum yang berlaku di negara tempat pernikahan itu berlangsung (lex loci celebrationis).
4. Pada zaman dahulu terdapat perkawinan yang dilangsungkan untuk menghindari pengusiran: Wanita-wanita asing yang secara tergesa-gesa menikah dengan pria Belanda pada masa perang, dengan maksud menghindarkan pengusiran oleh jawatan imigrasi.
HATAH -10: PILIHAN HUKUM DALAM HATAH
Apakah buronan merupakan bentuk penyelundupan hukum? Dan masuk ke bidang apa kira-kira? Perdata atau Pidana?
Jawaban:
Ilustrasi kasus ini harus diperjelas terlebih dahulu, apakah ada aspek keperdataan ataukah pidana. Apabila membahas dalam konteks pidana, maka akan kembali ke ketentuan hukum pidana terlebih dahulu. Namun apabila itu terkait aspek perdata (semisal seseorang melakukan PMH dan seharusnya bisa dituntut membayar ganti rugi soalnya dilakukan di Indonesia) dan ternyata si buronan ini yang seharusnya bisa dituntut ganti rugi krn WNI maka dapat dilihat ada pertautan pada hal ini.
Dalam proses pengajuan ganti rugi ini ternyata si orang buronan ini pergi keluar negeri demi menghindari tuntutan yang bisa diajukan kepadanya, maka dapat dibilang kemungkinan ada tujuan penyelundupan hukum→ ada intensinya karena dia mau pindah warga negara untuk menghindari membayar ganti rugi. Ia mengubah fakta dengan pergi keluar negeri agar tidak dapat dituntut ini merupakan penyelundupan hukum (pengaplikasian dari Teori Subjektif). Namun dalam aspek pidana tentu akan berbeda lagi sumber dan metode penjawabannya.
—
● Pilihan Hukum Sebagai Istilah Di Bidang Hukum Antar Golongan (HAG)
○ Prof. Sudargo Gautama:
“Segala perbuatan hukum yang mengakibatkan bahwa karena kemauan sendiri, bagi yang bersangkutan berlaku lain hukum perdata daripada hukum perdata yang lazim ditentukan baginya menurut peraturan.”
○ Kemauan sendiri → ada intensi dari para pihak untuk memilih suatu sistem hukum tertentu yang akan digunakan dalam hubungan hukum para pihak. → Nantinya dapat dilihat apakah hubungan hukumnya untuk keseluruhan hub.hukum atau hub.hukum tertentu aja.
● Pilihan Hukum Dalam Hatah Ekstern (HPI)
○ Partij-autonomie, kiesvrijheid, autonomy of the parties, party autonomy (otonomi para pihak)
○ Rechtskeuze, Choice of law, Rehctswahl(pilihan hukum);
○ Intention of the parties(maksud para pihak)
○ Loi d’autonomie
● Perbedaan Antara Pilihan Hukum dalam HPI dan HAG
○ Dalam sistematik HAG ditambahkan rumusan: “termasuk di dalamnya penundukan sukarela untuk perbuatan hukum tertentu dan penundukan-dianggap.”
■ Kenapa akhirnya ketika berbicara pilihan hukum harus ditambahkan rumusan di atas? karena HAG itu berangkat dari latar belakang keberagaman golongan penduduk (nanti kita bakal belajar pergantian penggolongan penduduk).
○ Dalam hubungan intern, pilihan hukum merupakan titik taut pembeda (titik pertalian primer), sedangkan dalam HPI merupakan titik taut penentu (titik taut sekunder)
■ Perspektif HPI: Pilihan hukum membantu kita menjawab pertanyaan mengenai hukum mana yang berlaku jika di suatu permasalahan terdapat pilihan hukum → hukum yang berlaku ialah hukum yang dipilih oleh para pihak
● “Perjanjian Internasional” dan “Kontrak Internasional”
○ Perjanjian internasional: hubungan hukum internasional yang bersifat publik (definisi: UU No. 24/2000 tentang Perjanjian Internasional).
○ Kontrak Internasional: hubungan hukum internasional yangbersifat perdata.
○ Bisa ditetapkan secara garis besar bahwa Perjanjian Internasional merupakan cerminan HINPUB, sedangkan Kontrak Internasional merupakan cerminan dari aspek Perdata. Maka pada hakikatnya,keduanya berbeda.
■ Jika dirujuk menggunakan Bahasa Inggris → perjanjian internasional = treaty/convention, sedangkan kontrak internasional = international contract. Maka dapat dilihat terdapat perbedaan disini.
■ Apabila menyebut istilah treaty, pada umumnya akan merujuk pada konvensi tertentu sebagai sumber hukum internasional yang disepakati oleh berbagai negara, dan memiliki negara-negara anggota → aspeknya publik.
■ Sebaliknya, apabila merujuk pada istilah kontrak internasional (international commercial contract) → yang terlibat pihak privat,
walaupun negara bisa terlibat didalamnya, namun peran negara tidak memiliki imunitas, melainkan sebagai aktor privat seperti dalam transaksi internasional. Aspek yang dititikberatkan → keperdataan/privat.
■ Kenapa pada praktiknya kadang keduanya suka dirujuk ke hal yang sama? Karena ada persamaan asas, yaitu pacta sunt servanda dan kebebasan berkontrak.
● Beberapa aspek hukum publik bisa mengatur aspek-aspek/hak-hak keperdataan, walau bentuknya treaty.
Seperti The Hague Convention → child abductioncontohnya, yang menyentuh ranah privat walaupun diatur ditreaty.
● Kontrak internasional juga bisa, walau tidak secara langsung dapat mengatur aspek-aspek hukum publik. Seperti kontrak yang berkaitan dengan investasi asing antara negara dengan perseorangan → menimbulkan efek ke perekonomian.
● Ada benang merah antara perjanjian & kontrak, yaitu:
1. walau di satu sisi perjanjian itu aspek publik, dan kontrak perdata, tapi keduanya berakar dari kebebasan berkontrak dan prinsip pacta sunt servanda
2. Ada irisan diantara keduanya → perjanjian internasional bisa mengatur hak-hak keperdataan, sebaliknya kontrak internasional juga bisa menimbulkan akibat di bidang-bidang hukum publik.
● Perjanjian Internasional
○ UU No. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional: “perjanjian, dalam bentuk dan nama tertentu, yang diatur dalam hukum internasional yang dibuat secara tertulis serta menimbulkan hak dan kewajiban di bidang hukum publik.”
○ Prof Sudargo Gautama: dalam HPI, “internasional” digunakan dikarenakan adanya unsur asing.
■ Dalam kaidah hk. inggris →foreign element/international dimension.
○ Pilihan hukum sebagai titik pertalian
■ Bisa menjadi elemen, berperan sebagai titik pertalian entah untuk menentukan apakah suatu hub. hukum itu persoalan HATAH, atau lebih jauh lagi maka untuk menjawab hukum mana yang seharusnya diberlakukan terhadap persoalan HATAH tsb.
○ Sifat internasional dalam kontrak internasional
■ Subyek hukum sebagai pihak dalam kontrak; kewarganegaraan, domisili, tempat kediaman/tempat kedudukan badan hukum
■ Substansi/objek kontrak; pergerakan obyek kontrak;letak obyek berada → maksud dari pergerakan obyek kontrak: obyeknya melintasi batas negara lain sehingga pertautan hukumnya menjadi banyak
■ Kesepakatan para pihak dalam kontrak untuk tunduk pada suatu sistem hukum tertentu; hukum yang disepakati akan berlaku sebagai hukum yang mengatur penyelesaian sengketa dalam rangka pelaksanaan kontrak (applicable law/governing law).
● Definisi pilihan hukum
○ “Kebebasan yang diberikan kepada para pihak untuk dalam bidang perjanjian memilih sendiri hukum yang hendak dipergunakan.” (Prof Sudargo Gautama).
■ Pilihan hukum hanya dapat dilakukan di bidang hukum perikatan atau perjanjian.
○ Para pihak: tunduk kepada sistem hukum yang berbeda
■ Ketika berbicara mengenai pilihan hukum dalam ranah HPI, umumnya pihak yang terlibat ialah yang memiliki perbedaan kewarganegaraan, makanya penting untuk mengetahui bahwa keduanya tunduk pada sistem hukum yang berbeda.
○ Ruang lingkup (diambil dari definisi Prof Sudargo Gautama): dibataskan pada perbuatan-perbuatan di bidang hukum harta benda, khususnya di bidang hukum perjanjian/perikatan.
○ Membantu menjawab pertanyaan mengenai hukum mana yang berlaku
● Pendapat para sarjana terkait perkembangan pilihan hukum
○ Awal perkembangannya, ada pertentangan terhadap penggunaan pilihan hukum, tetapi kemudian mayoritas sarjana HPI telah menerimanya
○ Otonomi para pihak merupakan sendi asasi utama dari HPI; one of three pillars of Private International Law(Macini)
○ Empat alasan perlunya lembaga pilihan hukum (Sudargo Gautama):
1. Filosofis → kemauan para pihak, intensi, kehendak itu dianggap sebagai suatu hal yang sakral. Sehingga dengan diwujudkannya keinginan/kehendak manusia untuk memilih suatu hukum tertentu dalam membuat perjanjian itu dijadikan landasan filosofis. Ini merupakan cerminan dihargainya keinginan para pihak untuk memilih hukum tertentu dalam menentukan hukum mereka.
2. Praktis → ketika ada 2 pihak yang menyepakati suatu kontrak maka siapa yang paling tahu hukum apa yang paling memenuhi keinginan mereka? kan para pihak, jadi itu alasan kenapa perlu lembaga hukum(?)
3. Ekspresi dari tujuan hukum pada umumnya → tujuan hukum terdiri dari 3 (keadilan, kemanfaatan, kepastian). ketika berbicara mengenai perikatan/hukum kontrak dalam ranah HPI, maka apabila ada pilihan hukum antara para pihak, yang harus ditinjau adalah apakah hukum tersebut sudah adil. Keadilan → bagi para pihak untuk dapat memfasilitasi/menunjang pemenuhan hak dan kewajiban di dalam kontrak mereka. Kepastian → ketika sewaktu-waktu terdapat sengketa, maka Hakim hanya perlu merujuk kepada hukum yang dipilih para pihak saja (sudah ada kepastian).Kemanfaatan → maka akan membahas keadilan pula. Apakah hukum itu memberikan manfaat yang sesuai untuk memenuhi kebutuhan para pihak.
4. Kebutuhan riil dari hubungan transaksi yang bersifat internasional
○ Tiga pilar utama HPI
■ Pilihan hukum
■ Pilihan kuorum (?)
■ Pengakuan dan pelaksanaan pilihan hukum asing
● Teori pilihan hukum di berbagai negara
○ Jerman: dipandang sebagai suatu kaidah HPI yang berperan sebagai TPS untuk menentukan hukum yang berlaku dalam suatu kontrak (misalkan berkenaan dengan sahnya dan akibat perjanjian).
○ Prancis (Batiffol): prinsip kebebasan memilih oleh para pihak telah diakui secara tegas (Mahkamah Agung Prancis, 1910), namun ruang lingkupnya hanya sepanjang berkaitan dengan kontrak yang mengandung unsur asing dan dibatasi oleh pengertianordre publicmenurut hukum Prancis.
○ Belanda: Putusan Hoge Raad dalam perkara Treiler “Nicolaas” (1924) dan perkara Solbandera (1947).
● Treiler “Nicolaas”(1924)
○ Perjanjian asuransi kapal
○ Penggugat (Perusahaan Belanda) merupakan pemilik kapal “Nicolaas”
○ Tergugat (11 perusahaan asuransi, 6 diantaranya berkedudukan dan berkewarganegaraan di Belanda, sedangkan lainnya berasal dari Denmark dan Swedia)
○ Kapal mengalami kecelakaan hingga tenggelam
○ Penggugat (Perusahaan Belanda) mengajukan tuntutan klaim pembayaran premi asuransi.
○ Pilihan hukum: Hukum Inggris (berdasarkan Marine Insurance Act1906) dan kebiasaan (usance) dari polisLloydsInggris
○ Dalil tergugat: Hukum Inggris yang berlaku → karena berdasar dari pilihan hukum di perjanjian
○ Dalil penggugat: Hukum Belanda yang berlaku → karena penggugat adalah perusahaan Belanda, dan mayoritas titik pertautannya mayoritas dari Belanda
○ Pertimbangan hakim: Hukum Inggris berlaku (sebagai pilihan hukum para pihak) → dapat dilihat bahwa ada pertautan yang cukup erat antara kaidah sistem hukum Belanda, namun Hakim tetap mengutamakan apa yang menjadi pilihan hukum dalam perjanjian Asuransi yang dibuat.
● Zecha v. Samuel Jones & Co (Export) Ltd. (1935)
○ Pengusaha Belanda (Louis Zecha) yang bertempat tinggal di Sukabumi, melakukan kegiatan perdagangan dengan merek “Soekaboemische Snelpersdrukkerij”
○ Penggugat: Perusahaan Inggrtis (Samuel Jones & Co.) berkedudukan di London