• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pernikahan Usia Dini

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

F. Pernikahan Usia Dini

Me|nurut WHO, pernikahan di|ni (early married) adalah pernikahan yang dilakukan oleh pasangan atau salah satu pasangan mas|ih dikategorikan anak-anak atau remaja yang berus|ia dibawah us|ia 19 tahun. Me|nurut United Nat|ions Childre|n’s Fund (UNICEF) me|nyatakan pernikahan us|ia di|ni adalah pernikahan yang dilaksanakan secara resmi atau t|idak resmi yang dilakukan sebelum us|ia 18 tahun. Me|nurut UU RI Nomor 1 Tahun 1974 pasal 7 ayat 1 me|nyatakan bahwa pernikahan hanya diizi|nkan jika pihak pria sudah me|ncapai umur 19 tahun dan pihak wanita sudah me|ncapai umur 16 tahun. Apabila mas|ih di bawah umur

tersebut, maka di|namakan pernikahan di|ni. Pernikahan dibawah umur yang belum meme|nuhi batas us|ia pernikahan, pada hakikatnya di sebut mas|ih berus|ia muda atau anak-anak yang ditegaskan dalam Pasal 81 ayat 2 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002, anak adalah seseorang yang belum berus|ia 18 tahun dikategorikan mas|ih anak-anak, juga termasuk anak yang mas|ih dalam kandungan, apabila melangsungkan pernikahan tegas dikatakan adalah pernikahan dibawah umur.

Sedangkan pernikahan di|ni me|nurut BKKBN adalah pernikahan yang berlangsung pada umur di bawah us|ia reprodukt|if yaitu kurang dari 20 tahun pada wanita dan kurang dari 25 tahun pada pria. Pernikahan di us|ia di|ni re|ntan terhadap masalah kesehatan reproduks|i sepert|i me|ni|ngkatkan angka kesakitan dan kemat|ian pada saat persali|nan dan nifas.

Pada negara-negara berkembang sepert|i I|ndones|ia, pernikahan us|ia anak merupakan masalah sos|ial yang mas|ih banyak terjadi dan membutuhkan perhat|ian serius dari berbagai pihak. Set|iap tahun, satu dari set|iap sembilan anak di I|ndones|ia diperkirakan me|nikah sebelum mereka berumur 18 Tahun. Disampi|ng itu ada sekitar 50.000 anak perempuan me|nikah sebelum mereka me|ncapai us|ia 15 Tahun, sehi|ngga secara keseluruhan ada sekitar 23 juta pe|ngant|i|n anak di I|ndones|ia, dimana angka tersebut setra de|ngan 27% anak I|ndones|ia.

Berdasarkan data dari Pe|ngadilan Agama Kabupate|n Luwu T|imur, pada Tahun 2021 tercatat ada 107 perkara permohonan perkawi|nan anak dibawah umur di Kabupate|n Luwu T|imur, padahal pernikahan anak merupakan pelanggaran terhadapa hak dasar anak perempuan, kare|na prakt|ik i|ni membatas|i pe|ndidikan, kesehatan, pe|ndapatan masa depan, keamanan dan kemampuan anak perempuan.

Oleh kare|na itu pe|ncegahan perkawi|nan anak harus dimulai dari akar rumput, mulai dari desa harus memiliki pemahaman terkait perkawi|nan yang baik dan adanya komitme|n seluruh pihak, t|idak hanya pemeri|ntah tetapi juga unsur masyarakat. Oleh sebab itu, untuk melaksanakan pe|ncegahan perkawi|nan pada us|ia anak, diperlukan suatu i|nstrume|nt hukum sebagai landasan dalam me|nerapkan kebijakan yang bers|ifat me|ngikat bagi seluruh warga Kabupate|n Luwu T|imur, yakni melalui Rancangan Peraturan Daerah te|ntang Pernikahan Us|ia Anak.

1. Faktor-Faktor Pe|ndorong Pernikahan Di|ni

a. Faktor Ekonomi. Kesulitan ekonomi me|njadi salah satu faktor pe|nyebab terjadi|nya pernikahan di|ni, keluarga yang me|ngalami kesulitan ekonomi akan ce|nderung me|nikahkan anaknya pada us|ia muda. Pernikahan i|ni merupakan solus|i bagi kesulitan ekonomi keluarga, de|ngan me|nikah diharapkan akan me|ngurangi beban ekonomi keluarga, sehi|ngga akan sedikit dapat me|ngatas|i kesulitan ekonomi. Disampi|ng itu masalah ekonomi yang re|ndah dan kemiski|nan me|nyebabkan orang tua t|idak mampu me|ncukupi kebutuhan anaknya dan t|idak mampu membiayai sekolah, sehi|ngga mereka memutuskan untuk me|nikahkan anaknya de|ngan harapan lepas tanggung jawab untuk membiayai kehidupan anaknya ataupun de|ngan harapan anaknya bisa memperoleh pe|nghidupan yang lebih baik.

b. Faktor Pe|ndidikan Pe|ndidikan. remaja memiliki hubungan sebab akibat terhadap kejadian pernikahan di|ni. Remaja yang berpe|ndidikan re|ndah

mempe|ngaruhi kejadian pernikahan us|ia di|ni, semaki|n re|ndah pe|ndidikan remaja maka semaki|n beres|iko untuk melakukan pernikahan us|ia di|ni kare|na kurangnya kegiatan atau akt|ifitas remaja sehari-hari sehi|ngga remaja memilih melakukan pernikahan us|ia di|ni.

c. Faktor Orang Tua. pernikahan di|ni juga dapat disebabkan kare|na pe|ngaruh bahkan paksaan orang tua. Ada beberapa alasan orang tua me|nikahkan anaknya secara di|ni, kare|na khawat|ir anaknya terjerumus de|ngan pergaulan bebas dan berakibat negat|if, orang tua me|njodohkan anaknya de|ngan anak saudara de|ngan alasannya agar harta yang dimiliki t|idak jatuh ke orang lai|n, tetapi tetap dipegang oleh keluarga. Faktor pe|ndidikan orang tua juga sangat berpe|ngaruh dalam pernikahan di|ni, semaki|n re|ndah pe|ndidikan orang tua maka semaki|n besar orang tua akan me|nikahkan anaknya di us|ia di|ni.

d. Kebiasaan dan Adat Setempat. Adat ist|iadat yang diyaki|ni masyarakat terte|ntu semaki|n me|nambah perse|ntase pernikahan di|ni. Misalnya keyaki|nan bahwa t|idak boleh me|nolak pi|nangan seseorang pada putri|nya walaupun mas|ih dibawah umur us|ia 18 (delapan belas) tahun, kare|na hal tersebut akan dianggap me|nghi|na pihak yang melamar sehi|ngga hal tersebut me|nyebabkan orang tua me|nikahkan putri|nya. kebiasaan dan adat di li|ngkungan setempat mempe|ngaruhi kebiasaan warganya untuk me|nikah di us|ia di|ni

e. Married by Accide|nt (me|nikah kare|na kecelakaan). Terjadi|nya kehamilan di luar nikah, kare|na anak-anak melakukan hubungan yang melanggar

norma, memaksa mereka untuk melakukan pernikahan di|ni, guna memperjelas status anak yang dikandung. Pernikahan i|ni memaksa mereka me|nikah dan bertanggung jawab untuk berperan sebagai suami istri serta me|njadi ayah dan ibu, sehi|ngga hal i|ni berdampak pada pe|nuaan di|ni, kare|na mereka belum s|iap lahir bat|i|n. Disampi|ng itu, de|ngan kehamilan anak diluar nikah membuat ketakutan orang tua, sehi|ngga hal tersebut me|ndorong orang tua me|nikahkan anak pada us|ia muda.

2.

Dampak Pernikahan Di|ni a. Dampak Ekonomi

Anak remaja yang us|ianya dibawah 18 (delapan belas) tahun seri|ng kali belum mapan atau t|idak memiliki pekerjaan yang layak dikare|nakan t|i|ngkat pe|ndidikan mereka yang re|ndah. Hal tersebut me|nyebabkan anak yang sudah me|nikah mas|ih me|njadi tanggung jawab keluarga khususnya orang tua dari pihak laki-laki (suami). Jadi pernikahan yang dilangsungkan dius|ia di|ni memiliki dampak dari segi ekonomi yaitu bahwa suami belum mampu me|nghidupi istri|nya dikare|nakan kemungki|nan suami belum me|ndapatkan pekerjaan, dan faktor pe|ndidikan yang kurang sehi|ngga me|nghambat ia me|ndapatkan pekerjaan.

b. Dampak Kesehatan

Me|nikah muda memiliki ris|iko t|idak s|iap melahirkan dan merawat anak, dan apabila mereka melakukan abors|i, maka berpote|ns|i melakukan abors|i yang t|idak aman dan dapat membahayakan keselamatan bayi dan ibunya sampai kepada kemat|ian. Jadi pernikahan yang dilakukan di us|ia di|ni

dapat me|nimbulkan bahaya bagi wanita. Pada saat hamil dan melahirkan organ reproduks|i belum s|iap. Sehi|ngga saat melahirkan kemungki|nan me|nyebabkan kemat|ian terhadap ibu maupun anak cukup besar.

c. Dampak Ps|ikologis

Bagi pelaku pernikahan di bawah umur secara ps|ikis mereka belum s|iap, kare|na pada us|ia tersebut mereka pada dasarnya mas|ih i|ngi|n bebas sepert|i teman-teman yang lai|n, pergi sekolah dan bekerja tanpa tanggung jawab terhadap suami ataupun anak. Mereka mas|ih labil sehi|ngga kadang merasa resah dan marah-marah tanpa alasan. Pernikahan us|ia di|ni membutuhkan tanggung jawab dan kesabaran, sebab permasalahan kecil dalam keluarga bisa me|nimbulkan kesalahpahaman yang berlanjut de|ngan percekcokan dan berakhir me|ni|nggalkan pasangannya dan bisa terjadi perceraian.

pernikahan us|ia di|ni dapat berdampak pada ps|ikis suami dan istri, dimana remaja yang mas|ih memiliki pemikiran labil dan belum bisa me|nge|ndalikan emos|i, bisa me|nyebabkan konflik dalam rumah tangga, sehi|ngga hal tersebut bisa me|nimbulkan perceraian.

Dokumen terkait