• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERSAIIIAAIII IIAK DALITM ISLITM

Dalam dokumen BELAJAR ISIAM TIDAK BERMAZHAB (Halaman 41-48)

I}I.,AHA ESA

F. PERSAIIIAAIII IIAK DALITM ISLITM

Salah satu sendi ajaran Islam yang paling agung adalah prinsip persam:ran hak yang telah disyariatkan bagi umat manusia. Semua manusia sama dalam pandangan Islam. Tidak ada perbedaan antara yang hitam dan yang putih, antara kuning dan merah, kaya dan mis- kin, raja dan rakyat, pemimpin dan yang dipimpin. Orangyang paling mulia ialah yang paling bertaqwa dan yang paling banyak amal ke- baikannya. Al Qur'an menegaskan hal itu dalam beberapa

a!atn!":

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan lemu dari se-

orang lakiJaki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertalsa di antara lemu.

Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.'

(N Hujunt

13)

"... Barangsiapa yang menge{akan kejahatan, nixaya alen di- beri pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat-

'WSAjf,dK6tr6$6ifu.

xr:a;S:;i;t:;-ygit;;;A

o'EU

kan pelindung dan tidak pula penolong baginya selain dari Allah.

Barangsiapa yang menger;iakan amal-amal shaleh, baik laki{aki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka iht masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedlkit- pun." (r{n Nisaa' 123-124)

Rasulullah menguatkan prinsip persamaan hak ini dan menerap- kannya datam kehidupan masyarakat, seperti tercermin dalam sabda- nya:

dV

V

e J#$, $rv6{Lq,i,9:,

-Manusia adalah sama bagaikan gigisisir,

r*-".""#:*

bagi bangsa Arab atas {iami kecuali dengan bertaqwa."

|adi, Islam dalam ajaran syariatnya mengukuhkdn adanya peng- hormatan terhadap manusia, menjamin kebebasan kehidupan dan hak asasi mereka, dan kedudukan mereka di hadapan hukum adalah sama. Tidak ada ajaran untuk melebihkan satu dari yang lain di hadapan hukum, kecuali dengan mengamalkan kebaikan dan me- ninggalkan perbuatan dosa dan pelanggaran. Bentuk dari pelaksa- naan prinsip persamaan hak itu antara lain ialah penerapan hukum bagi pelaku kejahatan tanpa membeda-bedakan status sosial pelaku- nya.

Pada suatu kasus, Usamah bin Zaid, orang yang sangat dicintai Rasulullah, berusaha memohonkan ampunan bagi seorang wanita dari Bani'Makhzum bernama Fathimah binti Aswad yang telah ter- bukti melakukan pencurian. Seketika itu Rasulullah marah dan ber- kata, "Apakah engkau mau minta pembebasan bagi pelanggarhukum- hukum Allah?" Setelah ifu Rasulullah berkhutbah di hadapan kaum muslimin, "sesungguhnya dibinasakan umat-umat sebelum kamu karena mereka membiarkan tanpa hukuman, pencuri dari golongan terhormat. Tetapi bila yang mencuri dari kalangan awam, mereka menghukumnya. Demi Allah, kalau Fathimah binti Muhammad men- curi, pastilah aku sendiri akan memotong tangannya."

Persamaan hak adalah sendi keadilan dalam ajaran Islam. Abu Bakar Ash Shiddiq, khalifah pertama, telah pula menjabarkan arti persamaan hak di kalangan masyarakat yang dipimpinnya. Ini ter- ungkap dalam awal khuthbahnya seusai pengukuhannya sebagai 44

khalifah. Ia menyadari, bila dalam suatu masyarakat tidak ada persa- maan hak, pastilah akan timbul kezaliman dan ketidakadilan. Bila dalam suatu masyarakat tidak terdapat keadilan, maka runtuhlah masyarakat itu. Karena itu, Abu Bakar menegaskan dalam khutbah- nya, "Wahai sekalian manusia, orang yang paling kuat

di

antara kalian di hadapanku adalah orang lemah karena aku berikan kepada- nya haknya, dan orang yang paling lemah di antara kalian adalah yang kuat sehingga aku mengambil hak orang lain yang ada padanya."

Marilah kita perhatikan pula satu peristiwa yang menunjukkan betapa prinsip persamaan hak dijunjung tinggi dalam ajaran Islam.

fabalah Bin Aiham adalah seorang raja dari Al Ghassani yang telah memeluk Islam. Ia datang ke Makkah bersama 500 orang pengiring berkuda.

Ia

mengenakan pakaian kebesaran yang dihiasi dengan emas dan perak. Pada saat thawaf di Ka'bah, tanpa sengaja pakaian- nya terinjak oleh seorang dari Fazarah. Dengan berang ia menoleh ke arah orang itu, lalu menempelengnya hingga tulang hidungnya retak.

Orang itu segera mengadu kepada Umar Ibnul rchaththab. Kemudian Umar memanggil fabalah dan menanyakan permasalahannya.

"Orang itu menginjak jubahku sehingga mengotorinya. Kalau saja bukan karena menghormati tanah suci, pasti sudah kukeluarkan kedua biji matanya," tutur Iabbalah.

"Sekarang engkau telah mengakui perbuatanmu," jawab Umar setelah mendengar penuturan Jabalah, "maka pilihlah: mendapatkan kerelaannya, atau aku yang membalas unruknya."

"Apakah engkau akan membalasku, padahal aku seorang raja sedang dia orang awam?"

"Wahai Jabalah, Islam telah menyamakan antara engkau dengan yang lain, tidak ada keutamaan satu dengan yang lain, kecuali dengan kebaikan," Umar menjelaskan.

"sungguh aku telah mendambakan kehormatan yang lebih besar dalam Islam daripada dalam jahiliyyah," keluh fabalah.

"fangan menyebut itu, tinggalkanlah," Umar menukas.

"Kalau begitu aku akan masuk agama Nasrani."

"Bila engkau murtad, maka akan kupenggal lehermu," ancam Umar.

"Kalau bqgtu, tundalah keputusannya sampai esok, wahai Amirul Mukminin."

Umar pun menyetujui permohonan penundaan itu. Ketika malam tiba, fabbalah bersama tentaranya kabur menuju Konstantinopel, kemudian memeluk agama Kristen dan berlindung kepada lGisar

45

Hiraqlius. Namun, setelah beberapa waktu telah berlalu, fabbalah diliputi kerinduan terhadap Islam yang menyamakan kedudukan manusia

itu.

Diungkapkannya kerinduan dan penyesalannya itu dalam syairnya:

;a6'";,15w.'u&; # .i &3r,fi6#

JA:,;$r}$'Qu'i

/i,;2tr'#6y,tS

Fr'qaU&;

;4tE'=*tiq.9CF)

,#;-tt-^p{'i:AE

:4teGJdlV;

#5,;t\A\d.4V;

Aku menjadi raja Kristen karena takut tamparan semata.

Padahal tak ada apa-apa, bila aku sabar sejenak saja.

Terrutup rasa angkuh dan keras kepala.

Hingga mata sehat aku tukar buta sebelah.

Alangkah baiknya,

jika aku dulu tak dilahirkan bunda.

Alangkah baiknya,

jika dulu ucapan Umar kuikuti.

Alangkah baiknya,

jika aku gembala anak unta di sabana.

Dan menjadi tawanan Bani Mudhar atau Rabi'ah Alangkah baiknya,

jika aku mempunyai penghasilan di Syam, walau tak seberapa.

Aku dapat duduk berkumpul dengan kaumku bercengkerama Tak mendengar dan melihat yang tiada berguna

Begitulah persamaan hak yang adil antara raja dengan rakyat jelata. Hak orang yang kecil tetap dipertahankan, meskipun yang menganiaya adalah seorang raja. Keadilan dan persamaan hak ada- 46

lah prinsip dalam ajaran Islam yang suci. Bandingkan dengan prinsip etika pada filsafat Yunani, dengan Aristoteles sebagai mahaguru per- tama, yang dipuja dan dibanggakan. Aristoteles dalam bukunya ten- tang etika mengungkapkan dengan terang-terangan ajaran diskrimi- nasi dalam masyarakat dan menamakannya keadilan yang terbagi.

Prinsip itulah yang telah menuntun negara ke arah diskriminasi yang didasarkan pemilahan kedudukan, derajat, dan harta kekayaan. Dan prinsip

ini

berlaku dan dipraktikkan dalam kehidupan masyarakat atas nama etika dalam kurun waktu yang lama.

Dalam ajann Islam, persamaan hak merupakan unsur penting yang tak dapat diabaikan, karena merupakan sumber dari prinsip keadilan yang komprehensif yang

tidak

mengandung kezaliman.

Penghormatannya kepada prinsip persamaan hak mencakup pula persamaan hak antara kaum muslimin dan nonmuslim. Islam mem- berikan jaminan penuh kepada nonmuslim untuk hidup berdam- pingan dengan rukun dan aman. Islam menghendaki agar kaum muslimin memelihara pergaulan yang baik, menjaga harta benda, kehormatan mereka dan tempat-tempat suci mereka. Aturan ini dinyatakan Allah dengan firman-Nya:

"Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil."

(N

Mumtala-

,ah

8)

Ketetapan syariat tentang persamaan hak tersebut tidak hanya kata-kata indah yang tertera dalam

Al

Qur'an semata, namun juga diterapkan dalam praktik kehidupan. I(asus anak Amr bin Ash (gu- bernur Mesir pada masa khilafah Umar) dengan seorang penduduk Mesir dari bangsa Qibthi adalah bukti yang nyata penerapan syariat tersebut.

Anak Amr bin Ash ketika itu menzalimi penduduk Qibthi tersebut, sehingga dia mengancam akan mengadukan kezaliman itu kepada Amirul Mukminin. Putera Amr

bin

Ash tidak mempedulikannya, bahkan dengan lantang berkata, "Aku adalah anak dua orang yang mulia."

IGtika musim haji tiba, Amr dan anaknya pergi menunaikan ibadah haji, dan orang Qibthi

itu

mengikuti mereka dari belakang. Orang Qibthi itu kemudian mengadukan masalahnya kepada Amirul Muk- minin, ketika Amr dan anaknya menghadap Umar. Berulang-ulang 47

terngiang oleh Umar kata-kata "anak orang mulia", seperti yang diucapkan oleh anak Amr. Kemudian dengan marah beliau berdiri sambil menatap Amr bin Ash, "Sejak kapan engkau memperbudak manusia, padahal mereka dilahirkan oleh

ibu

mereka bebas dan merdeka?" Umar

lalu

memberikan sebuah cambuk kepada orang Qibthi itu seraya berkata, "Cambuklah anakyang mulia itu, seperti ia memukulmu."

Contoh

lain

tentang penerapan prinsip persamaan

hak

dalam masyarakat Islam ini, dalam hal ini kesejajaran hak antara muslim dan nonmuslim, adalah seperti yang dilakukan Ali bin Abi Thalib di hadapan pengadilan. Suatu ketika seorang Yahudi mengadukan Ali

kepada Amirul Mukminin. Dalam proses pengadilan yang menangani sengketa tersebut, Amirul Mukminin memanggil Ali denganiulukan- nya, yakni "Abal Hasan". Sebutan

itu

membuat

Ali

berubah raut mukanya, sehingga Amirul Mukminin bertanya kepadanya, "Apakah engkau merasa tidak senang karena lawan sengketamu itu seorang Yahudi, dan engkau tidak mau disamakan?"

"Bukan, bukan karena

itu,"

sahut

Ali,

"tetapi karena Amirul Mukminin tidak menyamakan antara aku dengan dia

di

hadapan pengadilan. Engkau telah mengutamakan aku dari dia, engkau me- manggilku dengan julukanku, dan memanggil orang

itu

dengan namanya saja."

Demikianlah,

Ali

menolak perlakuan pengadilan yang dianggap- nya kurang mengindahkan persamaan hak di hadapan hukum, pada- hal Ali adalah pihak yang digugat. Ali tidak senang dipanggil dengan julukannya yang menunjukkan penghormatan, dengan maksud, agar orang Yahudi itu merasa tenteram dan yakin terhadap keadilan hukum yang akan ditetapkan oleh Amirul Mukminin. Betapa jauhnya perbe- daan antara persamaan hak yang ada dalam Islam dengan persamaan hak yang ada dalam undang-undang negara manapun, bahkan di negara-negara yang telah mencapai kemajuan di bidang kehidupan material, sosial, ilmu pengetahuan, dan demokrasi sekalipun. Sistem apartheid yang berlaku di negara-negara maju dewasa ini telah men- coreng wajah demokrasi. Puncak dari praktik apartheid

itu

adalah yang terjadi di Afrika Selatan. Minoritas kulit putih yang merupakan pendatang, merendahkan dan menghina orang kulit hitam penduduk asli negeri itu. Mereka mengharamkan penduduk asli memperoleh hak asasi dalam kehidupan mereka. Mereka tidak diperkenankan memasuki rumah makan, tempat-tempat minum, dan tinggal di per- kampungan kulit putih; bahkan dilarang memperoleh hak bernegara

sebagai warga negara dan penduduk asli wilayah itu.

Di Australia dan New Zealand, dengan sengaja Inggris memus- nahkan penduduk asli wilayah itu, semata-mata karena mereka bukan dari kulit putih. Pembantaian dilancarkan dengan gencar dan siste- matis, sehingga penduduk asli benua

itu

nyaris punah. Bahkan di Inggris sendiri, pada tahun-tahun terakhir ini, muncul gerakan teror- ganisir yang mengancam keselamaan jiwa orang-orang kulit hitam.

Setiap hari polisi Inggris menemukan sejumlah mayat orang hitam terkapar

di

jalan-jalan, dan sering terjadi demonstrasi menuntut pemusnahan orang-orang berkulit hitam.

Demikian pula halnya di Amerika Serikat, tempat berdiri gedung Perserikatan Bangsa-Bangsa yang selalu mengkampanyekan demok- rasi, kita akan melihat tragedi yang paling keji yang pernah melanda hak asasi manusia di muka bumi ini. Suku-suku Indian, yang me- rupakan penduduk asli negeri itu, nyaris musnah. Dan orang-orang

kulit

putih

itu

melengkapi kebiadaban yang riada tara

itu

dengan mengucilkan, membunuh, dan membantai orang-orang kulit hitam yang sebelumnya mereka datangkan sendiri seclra paksa dari Afrika.

Mereka menginjak-injak hak asasi warga kulit hitam dengan semena- mena. Orang-orang kulit hitam tidak boleh belajar di lembaga{em- baga pendidikan untuk orang kulit putih. Mereka ridak boleh aktif dalam organisasi atau klub orang

kulit

putih. Bila naik kendaraan umum, mereka harus duduk di belakang orang kulit putih, dan apa- bila kendaraan itu penuh, maka orang kulit hitam harus berdiri, t€mpat duduknya harus diberikan kepada orang

kulit

putih. Kesempatan melakukan protes bagi orang kulit hitam, ditutup sama sekali.

Pada suatu peristiwa, seorang wanita tua berkulit hitam naik ken- daraan umum dan mendapat tempat duduk. Di tengah perjalanan, naik seorang yang kulit putih yang kemudian memerintahkan nenek

tua itu

untuk memberikan tempat duduknya kepadanya. Namun, wanita tua itu menolaknya. Orang kulit putih itu lalu meminta ban- tuan polisi, sehingga wanita tua itu dihngkap dan diajukan ke penga- dilan. Dia dinyatakan bersalah dan diharuskan meinbayar denda.

Kejadian itu mengundang kemarahan orang-orang kulit hitam lain, sehingga mereka sepakat memboikot kendaraan-kendaraan umum.

Tetapi, pemerintah yang mengaku demokratis itu tidak membenar- kan protes ringan mereka. Akibatnya, tak kurang dari seratus orang pengunjuk rasa ditangkap dan diajukan ke pengadilan dengan tuduhan memboikot sarana angkutan umum.

Undang-undang yang pernah diberlakukan

di

beberapa negara 49

bagian Amerika menjadi catatan hitam dalam sejarah kemanusiaan.

Dalam undang-undang tersebut terclntum hukuman mati, bakar, atau pemotongan bagian tubuh bagi warga kulit hitam yang melaku- kan hubungan badani dengan orang

kulit

putih, sekalipun orang

kulit

putih

itu

melakukannya dengan suka rela. Namun, hukuman serupa tidak ditimpakan kepada orang kulit putih.

Pelaksanaan demokrasi secara semu yang t€riadi di negara-negara Barat sungguh tidak sebanding dengan keadilan Islam. rcita telah saksikan, betapa Bilal, seorang bekas budak berkulit hitam, menda- pat penghormatan yang jauh lebih baik daripada kebanyakan para bangsawan Arab, bahkan daripada pembesar-pembesar Quraisy sen- diri. Islam adalah din yang benar-benar melaksanakan persamaan hak yang sejati, keadilan yang mutlak, dan demokrasi yang benar.

Kalau orang-orang Negro di Amerika dan orang-orang kulit hitam di Afrika Selatan mengenal ajaran Islam ini dengan lebih baik, pastilah mereka akan segera memeluk Islam, karena paling tidak, Islam akan mengembalikan hak asasi mereka dalam kehidupan ini sebagaimana yang dimiliki bangsa,bangsa lain.

G. KEKUATAN BELAS KASIH DALITM

Dalam dokumen BELAJAR ISIAM TIDAK BERMAZHAB (Halaman 41-48)