• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perspektif Hukum Islam Terhadap Pembayaran Utang

BAB II PRAKTIK PEMBAYARAN UTANG PIUTANG SETELAH

B. Perspektif Hukum Islam Terhadap Pembayaran Utang

yang beragam dan tidak terbatas membuatnya untuk melakukan utang piutang dari orang-orang yang dapat memberikannya utang. Sehingga dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak terlepas dari bantuan orang lain,maka untuk mencapai tujuan dan kemajuan hidup manusia diperlukan kerjasama dan sikap saling tolong menolong antar sesama yang dalam Fiqh diistilahkan dengan muamalah.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dipaparkan pada bab sebelumnya, tentang tinjauan hukum islam terhadap utang piutang dengan jangka waktu panjang di Desa Wadukopa Kecamatan Soromandi Kabupaten Bima, maka setelah mengadakan pengolahan data dengan menjadikan Desa Wadukopa sebagai lokasi penelitian, maka pada bab ini penulis dapat menganalisa terhadap praktik tersebut.

B. PerspektifHukum Islam Terhadap Pembayaran Utang Piutang Setelah

tersebut, bahwa tinjauan hukum Islam terhadap praktik utang piutang yaitu dengan bertambahnya jumlah utang yang disesuaikan dengan besarnya nilai utang dapat peneliti uraikan sebagai berikut:

1. Perspektif hukum Islam terhadap pelaksanaan (akad) perjanjian utang piutang yang dilakukan oleh masyarakat Desa Wadukopa.

Akad utang perjanjian utang piutang yang dilakukan oleh masyarakat Desa Wadukopa berdasarkan observasi dan wawancara yang peneliti telah uraikan sebelumnya, bahwa ketidak wajaran menurut peneliti dalam transaksi tersebut adalah bunga yang diistilakan pada saat pengembalian utang sesuai dengan yang telah menjadi kesepakatan antara kedua belah pihak.

Kesepakatan dalam utang piutang tersebut ada ketika seorang yang akan berutang (penerima utang) datang kepada pemberi utang (pemilik uang) untuk melakukan utang piutang. Kemudian pemberi utang (pemilik uang) menentukan jangka waktu dan sebagainya pada saat akad ijab dan qabul berlangsung. Transaksi utang piutang dengan ini sudah berlangsung sejak lama. Sebagai bahan analisa peneliti terhadap praktik utang piutang tersebut, bahwa menurut peneliti akad perjanjian tersebut bertolak belakang dengan ketentuan yang terdapat didalam hukum islam.

Pengertia riba secara bahasa adalah tambahan. Kata riba juga digunakan dalam pengertian bukit yang kecil, jadi penggunaan kata riba memiliki satu makna yang sama yaitu pertambahan, bik secara kualitas,

maupun kuantitas. Namun, yang di maksud riba dalam ayat al-Qur’an yaitu, setiap penambahan yang diambil tanpa adanya transaksi penggati atau penyeimbang. Dengan kata lain, sedikitpun tambahan yang diambil seseorang dalam transaksi utang piutang dan tidak ada transaksi penggati atau penyeimbang yaitu perilaku riba. Sehingga menjadikan sebuah transaksi menjadi batil. Sebagai mana firman Allah SWT. dalam Surat Ali Imran (3): 130.

اوُقَّتا َّو ةَفَع ٰضُّم ا فاَعْضَا ۖ َلاوُلُك ْأَتا ٓوٰب ِ رلا َنْيِذَّلاا ْوُنَمٰا ٰٓي اَهُّيَا َن ْوُحِلْفُت ْمُكَّلَعَل َٰللّ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jangalah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (Ali Imran (3):130).61

Yang dimaksud dengan riba dalam ayat di atas adalah, riba nasi’ah. Menurut sebagian besar ulama bahwa riba nasi’ah itu selamanya haram, walaupun tidak berlipat ganda. Riba nasi’ah adalah pembayaran lebih yang disyaratkan oleh orang yang memberikan utang.

Ibnu Katsir Rahimahullah ketika menafsirkan ayat ini berkata: “Allah SWT melarang kaum mukmin dari praktik dan memakan riba yang senantiasa berlipat ganda.”62

Dahulu pada zaman jahiliyah, apabila piutang telah jatuh tempo dan pihak yang berutang tidak dapat membayar maka iya akan

61 QS. Al- Imran, (3):130.

62Muh. Zuhri, Riba dalam al-Qur’an dan masalah perbankan: sebuah titikan antisipatif (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996), h. 50-51

menambah jumlah pembayarannya. Demikianlah setiap telah jatuh tempo, sehingga utang piutang yang sedikit menjadi berlimpat ganda sehingga menjadi besar jumlahnya beberapa kali lipat dari jumlah awal utang. Pada ayat ini Allah SWT. memerintahkan oran yang mampu mengembalikan utang dengan sebaik-baiknya, maka tambahan atas jumlah utang tersebut boleh diberikan oleh yang berutang. Berkaitan dengan hal ini tersebut disebutkan dalam Al-Qur’an bahwa dengan tegas melarang riba nasi’ah besar maupun kecil sebagaimana disampaikan dalam surat al-Baqarah (2):279.

ْمُكَلَف ْمُتْبُت ْﻥِﺍ َﻭ هِل ْوُس َر َﻭ ِٰاللّ َن ِ م ﺏ ْﺮَحِب ﺍ ْوُنَذْأَف ﺍ ْوُلَعْفَت ْم َّل ْﻥِاَف َﻥ ْوُمَلْظُت َل َﻭ َﻥ ْوُمِلْظَت َل ْمُكِلﺍ َو ْمَﺍ ُﺱ ْﻭُءُر

Artinya : “Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasuinya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak pula dianiaya.”63

Apabila kelebihan pengembalian tersebut tidak disyaratkan dan merupakan kehendak yang ikhlas dari orang yang berutang sebagai balas jasa yang diterimnya, maka demikian bukanlah riba dan diperbolehkan serta menjadi kebaikan bagi si pengutang. Bahkan Rasulullah SAW. pernah mencontohkan keutamaan memberikan kelebihan pengembalian atas utang. Hal ini, melatih kita untuk bersedia berterima kasih karena telah dibantu oleh pihak pemberi utang. Tentu

63 Q.S. Al- Baqarah, (2):270.

saja, sekali lagi, kelebihan pengembalian itu jangan disyaratkan. Karena itu terhitung sebagai husul al-qada’ (membayar utang dengan baik).64

Berdasarkan ketentuan dalam bab fiqh, pendapat mayoritas para ulama, dalam Hadist maupun dalam ketentuan Al-Qur’an atas, dapat kita tarik kesimpulan berdasarkan praktik utang piutang yang dilakukan oleh masyarakat Desa Wadukopa, bahwa dalam praktiknya pada dasarnya dalam akad perjanjian pembayaran utang tersebut tidak disebutkan dalam awal akad perjanjian. Sehingga peneliti dapat memberikan gambaran kepada kita semua bahwa dalam praktik tersebut meskipun pada dasarnya penerima utang dan pemberi utang tidak sadar bahwa yang dilakukan sudah termasuk riba.65

Kemudian, jika kita menganalisa terhadap praktik utang piutang yang dilakukan oleh masyarakat Desa Wadukopa tersebut dari sudut pandang ketentuan dalam cangkupan rukun utang piutang, yang dimana sebelumnya bahwa lafaz ijab dan qabul yang dilakukan masyarakat Desa Wadukopa adalah dengan secara lisan, Selain itu yang dijadikan dasar dalam transaksi ini adalah kepercayaan pada masing-masing pihak, yang berarti tingkat kejujuran, keikhlasan dan kepercayaan diantara mereka sudah tidak diragukan lagi dalam konteks saling percaya satu sama lain.

64Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahan, (Bandung: Syaamil Al-Quran), h. 75.

65Amir Syarifuddin, Garis-Garis Besar Fiqh, (Bogor: Prenada Media, 2003), h. 224-225

Namun, alangkah lebih baiknya akad perjanjian tersebut dilakukan secara tertulis, hal tersebut baik dilakukan karena jika sewaktu ada hal yang tidak diinginkan terjadi, misalanya pihak yag berutang tidak mau membayar utangnya bahkan kabur, dan jika yang berutang mengklaim bahwa dirinya tidak pernah melakukan utang piutang uang (berutang). Maka,perjanjian yang sudah tertulis tersebut dapat menjadi salah bukti bahwa akad utang yang dilakukan masyarakat tersebut benar adanya.66

Terlepas dari masyarakat Desa Wadukopa yang masih terdapat adanya masyarakat yang tidak bisa baca tulis, terutama yang melakukan akad utang piutang dalam temuan peneliti sebelumnya bahwa mereka melakuka akad dengan cara lisan, disebabkan tidak bisa baca tulis, maka dalam hal ini tersebut alangkah baiknya ada keterlibatan para pihak yang lebih berkompeten yang bersedia membantu. Sebagaimana yang disebutkan dalam hukum islam, bahwa pentingnya pencatatan terhadap kegiatan bermuamalah yang manusia lakukan dimuka bumi.

Seperti disebutkan dalam firman Allah SWT. Surat Al-Baqarah (2):

282.

... ُﻩ ْوُبُتْكاَف ىًّمَسُّم لَجَﺍ ىٰٓ لِﺍ نْيَدِب ْمُتْنَيﺍَد َت ﺍَذِﺍ ﺍ ْٰٓوُنَم ﺍ َنْي ِﺬَّلﺍ اَهُّيَآٰ ي

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai, untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya..”(Al-Baqarah 282).67

66Ibid., h. 51.

67Q.S Al-Baqarah, (2): 282.

Dari ketentuan makna terhadap ayat diatas menjadi pengingat bagi kita semua, bahwasannya dalam praktik utang piutang atau dalam ruang lingkup bermuamalah, hendaknya ketika berlansung sebuah akad perjanjian dalam perkara utang piutang sangat ditekankan adanya pencatatan/penulisan pada saat proses berlangsungnya sebuah akad perjanjian. Sebagaimana tujuannya sudah pasti bahwa agar kita bisa terhindar dari permasalahan yang sekiranya terjadi dikemudian hari.

Jadi, pada dasarnya pentingnya pencatatan atau dengan kata lain perlunya perjanjian tertulis agar dapat meminimalisir kemungkinan masalah yang akan muncul dikemudian hari. Adapun kaitannya dengan keadaan masyarakat Desa Wadukopa sebagaimana diuraikan sebelumnya di atas, bahwa akad perjanjian praktik utang piutang yang dilakukan dengan cara lisan tersebut dilakukan karena anggapan masyarakat yang dapat memudahkan.

Dalam pengamatan peneliti ketika melakukan penelitian di Desa Wadukopa, akad secara lisan tersebut memang sangat membantu atau memudahkan masyarakat terutama dalam hal praktik utang piutang tersebut, terlebih keadaan masyarakat atau orang-orang yang melakukan akad perjanjian tersebut notabenenya adalah mereka yang tidak bisa baca tulis. Dari beberapa pengakuan masyarakat yang menyebutkan, bawha sekirannya ada bantuan dari para pihak yang lebih berkompeten dalam bidang pembuatan akad perjanjian utang piutang secara tertulis.

Dimana mereka lebih menyukai dan ingin terus mempertahankan akad

secara lisan tersebut, sebab adanya kemudahan, meski adanya kemungkinan resiko yang bisa saja muncul dikemudian hari.

Berdasarkan ketentuan akad perjanjian yang dilakukan oleh masyarakat Desa Wadukopa tersebut, adapun dapak positif dan negatif yang peneliti lihat berdasarkan hasil analisa terhadap akad secara lisan atau unsur saling percaya yang dilakukan oleh masyarakat Desa Wadukopa dalam melakukan praktik Pembayaran utang piutang setelah jatuh tempo sebagai berikut:

1) Dampak Positif

Dampak yang bisa dirasakan oleh masyarakat Desa Wadukopa dalam melakukan praktik utang piutang dengan menggunakan akad perjanjian secara lisan atau adanya unsur saling percaya satu sama lain, di mana masyarakat merasa dapat kemudahan, dengan keadaan mereka yang sebagian tidak bisa baca tulis maka kadang secara kekeluargaan tersebut sangat memudahkan mereka.

2) Dampak Negatif

Jika sebelumnya masyarakat yang melakukan akad perjanjian secara lisan lalu kemudian merasa dimudahkan dari segi akad tersebut. Berbeda halnya dengan dampak yang akan terjadi pada saat pelunasan utang tersebut.

2. Perspektif hukum islam untuk terpenuhinya syarat utang piutang sebagaimana yang diketentuan fiqh muamalah terhadap praktik utang piutang di Desa Wadukopa.

Jika ditinjaun dari segi terpenuhinya syarat terhadap praktik utang piutang yang dilakukan masyarakat Desa Wadukopa, sejauh pengamatan peneliti, semua sudah terpenuhi jika dilihat dari segi terpenuhinya akad ijab dan qabul, orang yang berakad sudah dewasa atau baligh, harta yang diutangkan harus jelas tekarannya dan lain sebagainya. Adapun terkait kejelasan takaran terhadap praktik utang piutang yang dilakukan masyarakat Desa Wadukopa juga sudah terpenuhi jika dilihat dari segi jenis uang yang diperutangkan.

Maka itu berarti dalam ketentuan terpenuhinya syarat dalam ruang lingkup utang piutang yang dilakukan oleh masyarakat Desa Wadukopa sudah terpenuhi dari unsur persyaratan pokok (akad, percakapan yang berakad, kejelasan objek utang), dalam perkara utang piutang tersebut tidak baik jika dilakukan secara terus menerus.

Terlebih dalam pedoman baik dalam al-Qur’an dan ketentuan syari’at islam tidak ditemukan kebolehannya atau konsep utang piutang semacam itu.

Jadi, dalam pandangan peneliti bahwa praktik utang piutang seperti yang dilakukan oleh masyarakat Desa Wadukopa yang bertentangan dengan beberapa teori yang telah disebutkan diatas, baik mengenai ketentuan utang piutang yang sesuai dengan ketentuan fiqih muamalah dan konsep utang piutang secara pada umumnya yang dipakai.

BAB IV

Dokumen terkait