• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil pengukuran pertumbuhan ikan mas kelompok 16 akan disajikan dalam tabel dibawah ini:

Tabel 4. Pertumbuhan ikan mas kelompok 16 SL

(mm)

FL (mm)

TL (mm)

Lingkar Kepala (mm)

Lingkar Tubuh (mm)

Bobot (gram)

145 157 172 125 150 96

Berdasarkan data hasil pengukuran (Tabel 2), ikan mas kelompok 16 memiliki ukuran panjang tubuh SL (Standart lenght) 145 mm, FL (Fork lenght) 157 mm, TL (Total lenght) 172 mm, lingkar kepala 125 mm, lingkar tubuh 150 mm dan memiliki bobot sebesar 96 gram.

4.2.1 Pengelompokan Kelas Ukuran

Pengelompokan ikan dilakukan untuk membagi suatu kelompok ikan ke dalam kelas ukurannya yang memiliki rentang ukuran yang relatif sama. Berikut ini grafik distribusi bobot ikan mas:

0%5%

10%15%

20%25%

30%35%

1% 4% 9%

21%

31%

24%

4% 4%

Distribusi Bobot Ikan Mas

interval presentase

Gambar 6. Grafik distribusi bobot ikan mas

Dari hasil data diatas, dapat diketahui bahwa distribusi bobot ikan mas dengan satuan gram dibagi menjadi 8 kelas. Kelas ke-1 (36-54 gram) sebanyak 1 ekor dengan persentasi 1%. Kelas ke-2 (55-73 gram) sebanyak 3 ekor dengan persentasi 4%. Kelas ke-3 (74-92 gram) sebayak 6 ekor dengan persentasi 9%.

Kelas ke-2 (55-73 gram) sebanyak 3 ekor dengan persentasi 4%. Kelas ke-3 (74- 92 gram) sebayak 6 ekor dengan persentasi 9%. Kelas ke-4 (93-111 gram) sebanyak 15 ekor dengan persentasi 21%. Kelas ke-3 (74-92 gram) sebayak 6 ekor dengan persentasi 9%. Kelas ke-5 (112-130 gram) sebanyak 22 ekor dengan persentasi 31%. Kelas ke-6 (131-149 gram) sebayak 17 ekor dengan persentasi 24%. Kelas ke-7 (150-168 gram) sebanyak 3 ekor dengan persentasi 4%. Kelas ke-3 (74-92 gram) sebayak 6 ekor dengan persentasi 9%. Kelas ke-8 (169-187 gram) sebanyak 3 ekor dengan persentasi 4%.

Dari populasi ikan sebanyak 70 ekor, didapatkan hasil persentasi tertinggi pada interval bobot (112-130 gram) sebanyak 22 ekor ikan mas.

4.2.2 Pola Pertumbuhan

Pola pertumbuhan ikan mas disajikan dalam grafik regresi hubungan panjang dan bobot ikan mas dibawah ini:

2.10 2.15 2.20 2.25 2.30 2.35 2.40 0.00

0.50 1.00 1.50 2.00 2.50

f(x) = 2.6x - 3.86 R² = 0.8

Hubungan Panjang dan Berat Ikan Mas

log L (X) log W (Y) Linear (log L (X) log W (Y)) Log Panjang

Log Bobot

Gambar 7. Grafik hubungan panjang dan berat ikan mas

Pengukuran panjang dan bobot ikan bertujuan untuk mengetahui variasi bobot dan panjang tertentu dari ikan secara individual. Hubungan panjang dan bobot ikan dalam suatu populasi dapat diketahui dengan mencari regresi pertumbuhannya terlebih dahulu. Dari hasil grafik diatas didapatkan nilai b = 2,955. Apabila nilai b < 3 = alometrik negatif (pertumbuhan berat < panjang).

Maka pertumbuhan berat ikan mas lebih cepat dari pertumbuhan panjangnya.

4.2.4 Faktor Kondisi

Salah satu derivat penting dari pertumbuhan adalah faktor kondisi. Faktor kondisi menunjukan keadaan ikan dilihat dari segi kapasitas fisik untuk bertahan hidup dan reproduksi.

Grafik faktor kondisi disajikan dalam gambar dibawah ini:

Gambar 8. Grafik faktor kondisi

Dari grafik diatas menunjukan nilai faktor kondisi terbesar berada pada interval (142-153 gram). Hal ini menunjukan ikan sehat, dapat bertahan hidup dan reproduksinya baik. Pada interval (166-177 gram) menunjukan faktor kondisi paling rendah, hal ini disebabkan karena ikan kekurangan asupan makanan. Hal ini sesuai dengan pernyataan King (1995) apabila faktor kondisi tinggi, menunjukan ikan dalam perkembangan gonad, sedangkan faktor kondisi rendah menunjukan ikan kekurangan asupan makanan.

Selama dalam faktor pertumbuhan, tiap pertambahan bobot material ikan akan bertambah panjang dan perbandigan linearnya kan tetap. Hal tersebut dianggap bahwa, bobot ikan yang ideal sama dengan pangkat tiga dari idealnya.

Apabila terdapat perubahan bobot tanpa diikuti oleh perubahan panjang atau sebalikya, akan menyebabkan nilai perbandingan tersebut (Effendi 2002)

4.3 Reproduksi 4.3.1 Rasio Kelamin

Kelompok 16 mengambil sampel Ikan Mas (Cyprinus carpio) jantan.

Setelah dilakukannya pembedahan, isi perut diperiksa dan didapat gonad jantan.

Gonad tersebut memiliki ciri memiliki warna putih susu dan ukurannya memanjang dari dekat insang sampai anal. Rasio kelamin adalah perbandingan

antara jantan dan betina dalam suatu populasi (dalam hal ini populasi ikan uji angkatan).

Dilketahui ikan jantan yang diperoleh dari praktikum adalah 54 ekor sementara ikan betina sejumlah 16 ekor, maka Rasio Kelamin uji Ikan Mas adalah 54 : 16. Untuk menghitung rasio masing-masing jenis kelamin dalam satuan persen, maka caranya adalah populasi jenis kelamin tersebut dibagi oleh kesulurhan populasi dikalikan 100%. Berikut adalah grafik rasio kelamin dalam satuan persen.

77%

23%

Rasio Kelamin Ikan Mas (Cyprinus carpio)

Jantan Betina

Gambar 9. Grafik rasio kelamin

Dari grafik tersebut didapat bahwa populasi kelamin Jantan adalah 77%

dari keseluruhan populasi ikan uji, sedangkan populasi kelamin betina adalah 23%

dari keseluruhan populasi ikan uji. Menurut Sadhatomo dan Potier (1991), di perairan perbandingan jenis kelamin ikan diharapkan seimbang, bahkan diharapkan jumlah ikan betina lebih banyak daripada jantan sehingga populasinya dapat dipertahankan walaupun ada kematian alami dan penangkapan.

4.3.2 Tingkat Kematangan Gonad

Tingkat kematangan gonad dapat dipergunakan sebagai penduga status reproduksi ikan, ukuran dan umur pada saat pertama kali matang gonad, proporsi jumlah stok yang secara produktif matang dengan pemahaman tentang siklus reproduksi bagi suatu populasi atau spesies. Sejalan dengan pertumbuhan gonad, maka gonad akan semakin bertambah besar dan berat sampai batas maksimum ketika terjadi pemijahan. Indeks kematangan gonad semakin meningkat dengan meningkatnya pematangan gonad (Wahyuningsih dan Barus 2006).

Tingkat Kematangan Gonad yang diperoleh kelompok 16 menggunakan acuan kriteria Tingkat Kematangan Gonad menurut Effendi (1979) yaitu TKG III dengan ciri-ciri permukaan testes tampak bergerigi, warna makin putih, testes makin besar, serta dalam keadaan diformalin mudah putus.

0 2 4 6 8 10 12

1 2

3 4

5 6

7 8

9

2 1

2 6

1

10

1 2

1 2

4 9

4 2 2

3

2 2

1 2 3 4 5 6 7 8 9

Distribusi TKG Ikan Mas (Cyprinus carpio L)

54-71 72-89 90-107 108-125 126-143 144-161 162-179

Tingkat Kematangan Gonad Persentase

Gambar 10. Grafik distribusi TKG ikan mas

Berdasarkan data angkatan yang diperoleh, hasil yang terbanyak dari populasi ikan mas adalah ikan dengan TKG IV dengan total 36 Ikan (29 Jantan dan 7 Betina). Bobot ikan sampel yang memiliki TKG tersebut berkisar antara 54 – 179 gram. Hal tersebut berarti ikan mas dapat memulai kematangan gonad dari

ukuran yang tidak terlalu besar, namun ikan dengan TKG IV terbanyak adalah dari bobot kelas ke-5 yaitu 108 – 125 gram. Menurut Effendi (1979), Tingkat Kematangan Gonad IV memiliki ciri-ciri hampir sama seperti tingkat III namun Testes semakin pejal untuk jantan, sementara untuk betina Ovari semakin besar, telur berwarna kuning dan mudah dipisahkan, serta butir minyak tidak tampak.

4.3.3 Indeks Kematangan Gonad

Indeks Kematangan Gonad yaitu suatu nilai dalam persen sebagai hasil perbandingan berat gonad dengan berat tubuh ikan termasuk gonad dikalikan 100%. Diketahui bobot gonad dari ikan uji adalah 10,65 gram, sedangkan bobot tubuh ikan sendiri adalah 96 gram. Maka perhitungan IKG ikan uji dengan acuan perhitungan Effendie (1992) adalah 11,09%.

0.00 2.00 4.00 6.00 8.00 10.00 12.00 14.00 16.00

1.17 2.02 1.49 7.38

14.84

0.992.59 0.05

10.98

0.00

Nilai IKG (%) (♂) Nilai IKG (%) (♀)

Tingkat Kematangan Gonad Indeks Kematangan Gonad

Gambar 11. Grafik perbandingan nilai IKG dan TKG.

Jadi Indeks Kematangan Gonad (IKG) pada Ikan Mas uji kelompok 16 adalah sebesar 11,09%. Berdasarkan data yang diperoleh, jika dibandingkan dengan populasi Ikan Mas lain, hasil uji kelompok 16 menunjukkan nilai yang tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah karena hasil yang diperoleh umumnya berkisar dari 8 – 13 %.

4.3.4. Hepatosomatik Indeks

Indeks Hepatosomatik/Hepatosomatic Index (HSI) adalah suatu metode yang dilakukan untuk mengetahui perubahan yang terjadi dalam hati secara kuantitatif.

Hati merupakan tempat terjadinya proses vitelogenesis.

TKG I TKG II TKG III TKG IV TKG V 0.00

5.00 10.00 15.00 20.00

Hepatosomatik Indeks Ikan Mas

Nilai IKG (%) (♂) Nilai IKG (%) (♀) Nilai HSI (%) (♂) Nilai HSI (%) (♀) Tingkat Kematangan Gonad Persentase

Gambar 12. Grafik perbandingan Nilai HSI, IKG, dengan TKG.

Berdasarkan data yang diperoleh, kelompok yang melakukan perhitungan HSI berdasarkan Effendie (1997) kebanyakan dari kelompok tersebut mendapat nilai 20 - 30%. Hal tersebut berarti berat hati ikan adalah 20 – 30% dari bobot tubuh. Terdapat salahsatu data yang menunjukkan ikan uji betina tersebut memiliki HSI sebesar 32%, IKG 19,71%, dan TKG IV. Kemudian ada ikan uji dengan HSI rendah yaitu 16% hanya memiliki persentasi IKG 1,96% dan masih di TKG I. Hal tersebut menunjukkan Indeks Hepatosomatik berbanding lurus dengan IKG dan TKG.

4.3.5. Diameter Telur

Kelompok yang mendapat ikan betina dan menghitung diameter telur memiliki kisaran 50 µm diameter kecil sampai 80 µm diameter besar. Umumnya pada data, telur yang berdiameter tersebut memiliki TKG III keatas. Terdapat juga telur yang memiliki diameter 40 µm dan telur tersebut berasal dari ikan betina yang hanya memiliki IKG sebesar 1,96% dan TKG I. Hal tersebut menunjukkan

berpengaruhnya diameter telur pada kematangan gonad ikan. Ada satu ikan uji betina yang telurnya memiliki diameter kecil hanya 40 µm namun diameter sedang dan besarnya diatas 100. Hal ini merupakan anomali dimana telur tidak berkembang dengan baik di satu bagian gonad. Kelompok 16 Tidak mendapat ikan betina sehingga tidak memiliki dokumentasi dan data yang akurat mengenai proses perhitungan diameter telur.

4.3.6. Fekunditas

Menurut Bagenal (1978) dalam Effendi (1997) fekunditas yaitu jumlah telur matang yang akan dikeluarkan. Berdasarkan data yang diperoleh dari data angkatan, fekunditas ikan mas betina bermacam-macam walaupun beberapa dari ikan tersebut memiliki TKG serupa. Ikan betina yang memiliki TKG I memiliki fekunditas sebanyak 2.515 dan ada ikan dengan TKG IV yang hanya memiliki fekunditas 2.899, meskipun ikan yang memiliki fekunditas tertinggi yaitu 27.525 juga memiliki TKG tingkat IV.

150 180 210 240

0 10000 20000 30000

f(x) = 0 x^5.19 R² = 0.09

Perbandingan Total Length (mm) dengan Fekunditas Ikan Mas

TL (mm) Fekunditas

Gambar 13. Perbandingan total length dengan fekunditas

Hal tersebut menunjukkan Tingkat Kematangan Gonad bukan satu-satunya faktor dalam mengembangkan fekunditas. Namun berdasarkan grafik, pertumbuhan dapat mempengaruhi fekunditas karena rata-rata fekunditas naik seiring dengan panjang total ikan. Ikan dengan fekunditas 27.525 telur memiliki

TL diatas 210 mm. Namun terdapat pula ikan terpanjang namun fekunditas dibawah rata-rata. Hal tersebut bisa terjadi karena faktor seperti nutrisi yang dibutuhkan sel pembentuk telur. Menurut Effendie (1997), faktor – faktor yang mempengaruhi fekunditas adalah umur, makanan, ikan yang berukuran kecil yang kematangan gonadnnya lebih awal, dan kandungan makanan.

4.3.7. Tingkat Kematangan Telur

Terdapat 3 kategori untuk perhitungan Tingkat Kematangan Telur yaitu pada tahap inti ditengah, tahap inti menuju kutub, dan inti yang telah melebur (Yaron dan Levavi 2011). Berdasarkan data yang ada, perbedaan angka dapat dikatakan sangat jauh berbeda. Angka terbesar 3 tahap tersebut berturut-turut adalah 5.713, 4.570, 6.855 sementara angka TKT terendahnya secara berurutan yaitu 0, 4, 14. Terdapat beberapa data yang rancu seperti 103, 2.500, 31.010.

Masih belum diketahui apa penyebab kerancuan data tersebut, kemungkinannya adalah kesalahan input data. Jadi pembahasan untuk Tingkat Kematangan Telur belum bisa dilakukan secara maksimal.

4.4 Kebiasaan Makan dan Cara Makan Ikan 4.4.1 Jenis Pakan yang Terdapat Di Perairan

Jenis pakan yang terdapat di perairan, disajikan dalam bentuk grafik dibawah ini:

0200 400600

Jenis Pakan yang Terdapat Di Perairan

Gambar 14. Grafik jenis pakan

Adapun jenis pakan yang terdapat di perairan berdasarkan tabel pengamatan, diantaranya fitoplankton sebanyak 570 spesies, zooplankton 50 spesies, bagian hewan sebanyak 230, bagian tumbuhan sebanyak 120, dan detritus 50.

4.4.2 Indeks Preponderan

Kebiasaan makanan dianalisis dengan menggunakan indeks preponderan (Effendie 1979). Indeks preponderan adalah gabungan moted frekuensi kejadian dan volumetrik. Dalam indeks preponderan ini kita dapat mengetahui kebiasaan makan dari populasi ikan dan dapat mengelompokan pakan apa saja yang cocok untuk ikan tersebut. Ada lima pengelompokan pakan yaitu fitoplankton, zooplankton, bagian tumbuhan, bagian hewan dan detritus.

Cyanophycae 0.00%

10.00%

20.00%

30.00%

40.00%

0.00%

31.71%

2.09%2.09%0.44%0.09%1.92%2.61%1.39%

0.00%

3.22%

10.63%

0.00%

26.31%

14.20%

3.31%

0.00%

Indeks Propenderan Ikan Mas

` IP

Gambar 15. Grafik indeks propenderan ikan mas

Dari grafik dia atas bisa bisa diketahui bahwa ikan mas memiliki pakan utama yaitu dari fitoplankton kelas yaitu Chlorophyceae, karena pada grafik persentase paling tinggi yaitu dari kelompok fitoplankton sebesar 31,71% sesuai dengan penyataan dari Nikolsky (1963) bahwa setiap kelompok pakan dapat dikategorikan berdasarkan nilai indeks preponderan (IP) yaitu sebagai kelompok pakan utama bagi ikan apabila IP lebih besar dari 25%, pakan pelengkap apabila 5% ≤ IP ≤ 25% dan pakan tambahan apabila IP kurang dari 5%.

4.4.3 Indeks Pilihan

Indeks pilihan merupakan perbandingan antara organisme pakan ikan yang terdapat dalam lambung dengan organisme pakan ikan yang terdapat dalam perairan. Nilai indeks pilihan ini berkisar antara +1 sampai -1, apabila 0 < E < 1 berarti pakan digemari, dan jika nilai -1 < E < 0 berarti pakan tersebut tidak digemari oleh ikan. Jika nilai E=0 berarti tidak ada seleksi oleh ikan terhadap pakannya (Effendi 1979).

Dari data yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa pakan yang digemari dari oleh ikan mas ada sembilan kelas yaitu, Bacillariophycae, Desmidiacae, Rhizopoda, Entomostraca, Copepoda, Nemata, Platyhelmintes, bagian hewan, dan bagian tumbuhan. Sembilan kelas ini merupakan pakan yang digemari karena sesuai dengan teori indeks pilihan yang dihasilkan yaitu 0 < E < 1 sedangkan ada delapan kelas yang tidak digemari yaitu dari kelas Cyanophycae,Chlorophycae, Chrysophycae, Rotatoria, Tardigrada, Bhentos, Detritus, dan Ikan. Karena indeks pilihan yang dihasilkan yaitu -1 < E < 0 dapat diartikan bahwa pakan tersebut tidak digemari oleh ikan mas. Dapat disimpulkan bahwa ikan mas merupakan ikan yang bersifat omnivora atau pemakan segala karena dari hasil tersebut terdapat fitoplankto, zooplankton, bagian hewan, dan bagian tumbuhan.

4.4.4 Tingkat Trofik

Tingkat trofik ikan dikategorikan menjadi tingkat trofik 2 yaitu untuk ikan yang bersifat herbivora, tingkat 2,5 untuk ikan yang bersifat omnivora dan tingkat trofik 3 atau lebih untuk ikan yang bersifat karnivora (Caddy dan Sharp 1986 dalam Tjahjo 2001 dalam Nugraha 2011).

Berdasarkan pengamatan terhadap isi lambung ikan mas, diperoleh makanan yang ditemukan di dalam isi lambung ikan mas yang terdiri dari Bacillariophycae, Desmidiacae, Rhizopoda, Entomostraca, Copepoda, Nemata, Platyhelmintes, bagian hewan, bagian tumbuhan Cyanophycae,Chlorophycae, Chrysophycae, Rotatoria, Tardigrada, Bhentos, Detritus, dan Ikan. Dari hasil pengamatan praktikum dihasilkan tingkat tropik 2,1188 sehingga dapat

disimpulkan bahwa ikan mas merupakan ikan omnivore yang lebih cenderung menjadi herbivore hal tersebut sesuai dengan pernyataan Suseno (2004) ikan Mas tergolong jenis omnivora, yakni organisme yang dapat memangsa berbagai jenis makanan, baik yang berasal dari tumbuhan maupun binatang renik. Namun, makanan utamanya adalah tumbuhan dan binatang yang terdapat di dasar dan tepi perairan.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Kesimpulan dari praktikum biologi perikanan mengenai anlisis biologis Ikan Mas (Cyprinus carpio) adalah sebagai berikut:

a. Pertumbuhan ikan mas besifat alometrik dimana pertumbuhan panjang ikan mas lebih cepat dari pertumbuhan bobotnya.

b. Rasio kelamin ikan jantan lebih besar dari ikan betina dan termasukkedalam ikan poliandri.

c. Ikan mas merupakan ikan yang bersifat omnivora atau pemakan segala.

5.2 Saran

Dalam melaksanakan praktikum, praktikan sebaiknya lebih teliti dalam melakukan pengukuran data agar data yang dihasilkan akan akurat.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul, R. 1985. Ekologi Ikan. Fakultas Perikanan Malang : Universitas Brawijaya Ardiwinata, R.O. 1981. Pemeliharaan Ikan Jilid 3: Pemeliharaan Gurami.

Bandung : Sumur Bandung

Effendie, M.I. 1979. Metode Biologi Perikanan. Bogor: Yayasan Pustaka Nusantama

Effendie, M.I. 1997. Biologi Perikanan. Jakarta : Yayasan Pustaka Nusatama Effendie, M.I. 2002. Biologi Perikanan. Jakarta : Yayasan Pustaka Nusatama Fujaya, Y. 2004. Fisiologi Ikan Dasar Pengembangan Teknik Perikanan. Cetakan

pertama. Rineka Putra. Jakarta.

Ghufran, M. dkk. 2010. Pembenihan Ikan Laut Ekonomis Secara Buatan.

Yogyakarta: Lily Publisher

Herawati, Titin. 2017 Metode Biologi Perikanan.Bandung: Unpad press.

Huet, M. 1971. Textbook of Fish Culture, Breeding and Cultivation of Fishing News. London.

Kamler, E. 1989. Early, B. Gunadi. 2002. Budidaya Ikan Mas secara Intensif.

Agro Media Pustaka. Jakarta.

Masonjones, H.D., 2001. The Effect of Social Context and Reproductive Status on The Metabolic Rates of Dwarf Seahorse (Hippocampus zosierae). Compo Biochem. Physol., Part A.

Mulfizar, 2012. Hubungan Panjang Berat dan Faktor Kondisi Tiga Jenis Ikan yang Tertangkap di Perairan Kuala Gigieng, Aceh Besar. Provinsi Aceh.

Suseno, Djoko. 2000. Pengelolaan Usaha Pembenihan Ikan Mas. Jakarta : Penebar Swadaya.

Suwarni. 2009. Hubungan Panjang-Bobot Dan Faktor Kondisi Ikan Butana Acanthurus Mata (Cuvier, 1829) yang Tertangkap di Sekitar Perairan Pantai Desa Mattiro Deceng, Kabupaten Pangkajene Kepulauan, Provinsi Sulawesi Selatan. Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan. Universitas Hasanuddin. Makassar. Vol. 6. Hal : 160 – 165/

Utiah, A. 2006. Penampilan Reproduksi Induk Ikan Baung (Hemibagrus nemurus Blkr) dengan Pemberian Pakan Buatan yang Ditambahkan Asam Lemak n-6 dan n-3 dan dengan Implantasi Estradiol-17 dan Tiroksin. Disertasi.

Institut Pertanian Bogor.

Wahyuningsih, Hesti dan Dr. Ing Ternala Alexander Barus. 2006. Buku Ajar Ikhtiologi. Medan : Universitas Sumatera Utara.

Wardoyo, S.T.H. 1975. Pengelolaan Kualitas Air Proyek Peningkatan Mutu Perguruan TInggi. Fakultas Perikanan. Institut Pertanian Bogor. Bogor Wedemeyer. 1996. Growth and Ecology of Fish Populations Academia Press.

London.

Zonneveld, N. E.A. Huisman and J.H. Boon. 1991. Prinsip-prinsip Budidaya Ikan. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

LAMPIRAN

Lampiran 1. Alat dan Bahan yang Digunakan Dalam Praktikum

Alat Bedah Ikan (pinset, gunting, pisau, dan

sonde)

Cawan Petri

Mikroskop

Timbangan Digital

Milimeter Blok Gelas Ukur

Ikan Mas (Cyprinus carpio)

Lampiran 2. Kegiatan Praktikum

Pengukuran lingkar kepala Pengukuran lingkar

badan

Pengukuran Fork Lenght Pengukuran Total

Lenght

Penimbangan bobot ikan

Pengukuran Standard Lenght

Pengambilan gonad, hati dan usus Pembedahan ikan mas

Penimbangan bobot gonad

Penimbangan bobot hati

Pengeluaran isi usus Pengukuran panjang

usus

Lampiran 3. Tabel

a. Pengukuran Morfometrik

SL (mm) FL (mm) TL (mm) LK (mm) LT (mm) Bobot (gram)

145 157 172 125 150 96

b. Pengukuran Morfologi

Letak Mulut Tipe Mulut Bentuk Tubuh Tipe Sisik

Terminal Biasa Compressed Cycloid

c. Data Pertumbuhan dan Rasio Kelamin Angkatan

Kelomp ok

Pertumbuhan Kelamin

Panjang (mm) Berat Jantan Betina

SL FL TL LK LT (gram)

1 145 155 195 45 62 123 √

2 170 185 210 135 145 120 √

3 160 175 190 140 150 118 √

4 175 191 205 141 149 120 √

5 155 170 190 50 70 113 √

6 150 170 180 45 75 110 √

7 170 186 210 139 150 138 √

8 155 172 187 57 61 110 √

9 170 185 205 148 150 129 √

10 160 178 195 115 157 117 √

11 150 158 182 142 166 135 √

Kelomp Pertumbuhan Kelamin

ok Panjang (mm) Berat

(gram) Jantan Betina

SL FL TL LK LT

12 125 140 157 92 120 61 √

13 146 162 180 140 155 100 √

14 145 160 175 115 160 104 √

15 161 178 195 150 160 125 √

16 100 115 130 90 100 36 √

17 152 160 193 135 139 95,82 √

18 180 160 200 135 165 140,2 √

19 165 185 200 130 155 129,95 √

20 164 185 204 140 150 135,03 √

21 126 140 158 114 128 60,15 √

22 155 174 196 137 139 111,71 √

23 230 168 185 125 153 135,98 √

24 165 184 195 140 154 124,57 √

25 130 145 160 120 130 74 √

26 138 162 181 124 142 110 √

27 138 150 175 95 140 78 √

28 164 180 195 120 133 101 √

29 176 193 209 129 153 147 √

30 167 184 200 126 162 140 √

31 155 185 205 115 140 115 √

32 165 183 198 150 175 138 √

Kelomp ok

Pertumbuhan Kelamin

Panjang (mm) Berat

(gram)

Jantan Betina

SL FL TL LK LT

33 168 190 207 143 155 142 √

34 170 185 210 140 160 140 √

35 180 200 215 140 160 148 √

36 155 172 197 160 172 133 √

37 160 170 190 120 150 89 √

38 150 165 187 141 153 100 √

39 144 158 177 118 140 95 √

40 143 157 172 125 150 96 √

41 150 175 195 120 155 110,18 √

42 175 200 220 45 75 172,42 √

43 160 170 200 110 150 120,77 √

44 125 140 155 80 138 68,9 √

45 142 155 179 111 124 81,81 √

46 160 173 194 140 155 123,73 √

47 160 180 200 80 100 132,89 √

48 192 210 223 155 170 165 √

49 184 200 218 140 160 174 √

50 155 172 189 125 140 109 √

51 152 169 189 115 154 108 √

52 146 157 177 110 123 75 √

53 165 190 212 144 169 169 √

Kelomp ok

Pertumbuhan Kelamin

Panjang (mm) Berat

(gram) Jantan Betina

SL FL TL LK LT

54 160 171 191 120 150 118 √

55 150 175 190 132 145 117 √

56 146 166 182 103 143 110 √

57 152 171 188 135 158 111 √

58 169 183 200 140 150 129 √

59 170 185 204 114 160 139

60 175 191 210 132 158 151 √

61 170 191 205 127 155 144 √

62 164 185 207 124 150 130 √

63 147 163 175 100 120 75 √

64 153 169 185 119 170 134 √

65 147 167 188 132 155 118 √

66 151 171 190 148 158 130 √

67 178 196 212 120 160 137 √

68 180 198 220 119 160 157 √

69 163 175 198 130 146 118 √

70 210 187 172 130 148 129 √

d. Interval Rasio Distribusi Panjang Ikan Mas

No. Interval Rata-rata Jumlah (ekor) Persentase (%)

1 130-141 135,5 1 1%

No. Interval Rata-rata Jumlah (ekor) Persentase (%)

2 142-153 147,5 0 0%

3 154-165 159,5 4 6%

4 166-177 171,5 7 10%

5 178-189 183,5 14 20%

6 190-201 195,5 24 34%

7 202-213 207,5 15 21%

8 214-225 219,5 5 7%

Total 70 100%

e. Interval Rasio Distribusi Bobot Ikan Mas

No. Interval Rata-rata Jumlah (ekor) Persentase (%)

1 36-54 45 1 1%

2 55-73 64 3 4%

3 74-92 83 6 9%

4 93-111 102 15 21%

5 112-130 121 22 31%

6 131-149 140 17 24%

7 150-168 159 3 4%

8 169-187 178 3 4%

Total 70 100%

f. Hasil Regresi Pertumbuhan Angkatan

No. TL (L) Bobot

(W) log L (X) log W

(Y) (Log L)2 (Log W)2 log L × log W

1 195 123 2,29 2,09 5,24 4,37 4,79

2 210 120 2,32 2,08 5,39 4,32 4,83

3 190 118 2,28 2,07 5,19 4,29 4,72

4 205 120 2,31 2,08 5,34 4,32 4,81

5 190 113 2,28 2,05 5,19 4,22 4,68

6 180 110 2,26 2,04 5,09 4,17 4,60

7 210 138 2,32 2,14 5,39 4,58 4,97

8 187 110 2,27 2,04 5,16 4,17 4,64

9 205 129 2,31 2,11 5,34 4,45 4,88

10 195 117 2,29 2,07 5,24 4,28 4,74

11 182 135 2,26 2,13 5,11 4,54 4,81

12 157 61 2,20 1,79 4,82 3,19 3,92

13 180 100 2,26 2,00 5,09 4,00 4,51

14 175 104 2,24 2,02 5,03 4,07 4,52

15 195 125 2,29 2,10 5,24 4,40 4,80

16 130 36 2,11 1,56 4,47 2,42 3,29

17 193 95,82 2,29 1,98 5,22 3,93 4,53

18 200 140,2 2,30 2,15 5,29 4,61 4,94

19 200 129,95 2,30 2,11 5,29 4,47 4,86

20 204 135,03 2,31 2,13 5,33 4,54 4,92

21 158 60,15 2,20 1,78 4,83 3,17 3,91

22 196 111,71 2,29 2,05 5,25 4,19 4,69

23 185 135,98 2,27 2,13 5,14 4,55 4,84

No. TL (L) Bobot

(W) log L (X) log W

(Y) (Log L)2 (Log W)2 log L × log W

24 195 124,57 2,29 2,10 5,24 4,39 4,80

25 160 74 2,20 1,87 4,86 3,49 4,12

26 181 110 2,26 2,04 5,10 4,17 4,61

27 175 78 2,24 1,89 5,03 3,58 4,24

28 195 101 2,29 2,00 5,24 4,02 4,59

29 209 147 2,32 2,17 5,38 4,70 5,03

30 200 140 2,30 2,15 5,29 4,61 4,94

31 205 115 2,31 2,06 5,34 4,25 4,76

32 198 138 2,30 2,14 5,27 4,58 4,91

33 207 142 2,32 2,15 5,36 4,63 4,98

34 210 140 2,32 2,15 5,39 4,61 4,98

35 215 148 2,33 2,17 5,44 4,71 5,06

36 197 133 2,29 2,12 5,26 4,51 4,87

37 190 89 2,28 1,95 5,19 3,80 4,44

38 187 100 2,27 2,00 5,16 4,00 4,54

39 177 95 2,25 1,98 5,05 3,91 4,45

40 172 96 2,24 1,98 5,00 3,93 4,43

41 195 110,18 2,29 2,04 5,24 4,17 4,68

42 220 172,42 2,34 2,24 5,49 5,00 5,24

43 200 120,77 2,30 2,08 5,29 4,33 4,79

44 155 68,9 2,19 1,84 4,80 3,38 4,03

45 179 81,81 2,25 1,91 5,08 3,66 4,31

46 194 123,73 2,29 2,09 5,23 4,38 4,79

47 200 132,89 2,30 2,12 5,29 4,51 4,89

48 223 165 2,35 2,22 5,51 4,92 5,21

No. TL (L) Bobot

(W) log L (X) log W

(Y) (Log L)2 (Log W)2 log L × log W

49 218 174 2,34 2,24 5,47 5,02 5,24

50 189 109 2,28 2,04 5,18 4,15 4,64

51 189 108 2,28 2,03 5,18 4,13 4,63

52 177 75 2,25 1,88 5,05 3,52 4,22

53 212 169 2,33 2,23 5,41 4,96 5,18

54 191 118 2,28 2,07 5,20 4,29 4,73

55 190 117 2,28 2,07 5,19 4,28 4,71

56 182 110 2,26 2,04 5,11 4,17 4,61

57 188 111 2,27 2,05 5,17 4,18 4,65

58 200 129 2,30 2,11 5,29 4,45 4,86

59 204 139 2,31 2,14 5,33 4,59 4,95

60 210 151 2,32 2,18 5,39 4,75 5,06

61 205 144 2,31 2,16 5,34 4,66 4,99

62 207 130 2,32 2,11 5,36 4,47 4,90

63 175 75 2,24 1,88 5,03 3,52 4,21

64 185 134 2,27 2,13 5,14 4,52 4,82

65 188 118 2,27 2,07 5,17 4,29 4,71

66 190 130 2,28 2,11 5,19 4,47 4,82

67 212 137 2,33 2,14 5,41 4,57 4,97

68 220 157 2,34 2,20 5,49 4,82 5,14

69 198 118 2,30 2,07 5,27 4,29 4,76

70 172 129 2,24 2,11 5,00 4,45 4,72

159,76 144,21 364,72 298,03 329,41

g. Hasil Reproduksi Angkatan h.

i.

N

j. B o b o t

k. B . G o n

l. B . H a t

m. J.

Ke la mi n

n.

T

o. I K G (

%

p. H S I (

%

( g )

a d (

i ( g

) )

y.

1

z. 1 2 3

aa. 1 5, 8 6

ab. ac. Jan tan

ad.

I ae. 1

3

%

af. 0 , 0 0

ag.

2

ah. 1 2 0

ai. 1 1, 5

3 aj.

ak. Jan tan

al.

II

am.1 0

%

an. 0 , 0 0

ao.

3

ap. 1 1 8

aq. 2, 9

3 ar.

as. Jan tan

at.

II

au. 2

%

av. 0 , 0 0

aw.

4

ax. 1 2 0

ay. 6, 0

1 az. ba. Jan

tan

bb.

I bc. 5

%

bd. 0 , 0 0

be.

5

bf. 1 1 3

bg. 1 4, 8

5 bh.

bi. Jan tan

bj.

I bk. 1

3

%

bl. 0 , 0 0

bm.

6

bn. 1 1 0

bo. 1 8, 0

5 bp.

bq. Jan tan

br.

II bs. 1 6

%

bt. 0 , 0 0

bu.

7

bv. 1 3 8

bw.1 1, 5

2 bx.

by. Jan tan

bz.

I ca. 8

%

cb. 0 , 0 0

cc.

8

cd. 1 1 0

ce. 1 0, 6

1 cf.

cg. Jan tan

ch.

II

ci. 1 0

%

cj. 0 , 0 0 ck.

9

cl. 1 2 9

cm.5, 8

cn. co. Jan tan

cp.

II

cq. 4

%

cr. 0 , 0

0 cs.

1

ct. 1 1 7

cu. 1 0, 4

7 cv.

cw. Jan tan

cx.

V

cy. 9

%

cz. 0 , 0 0 da.

1

db. 1 3 5

dc. 1 9, 5

8 dd. de. Jan

tan

df.

I

dg. 1 5

%

dh. 0 , 0 0 di.

1

dj. 6 1

dk. 1, 9

4 dl. dm.

Betina

dn.

II do. 3

%

dp. 0 , 0 0 dq.

1

dr. 1 0 0

ds. 1 9, 0

1 dt.

du. Jan tan

dv.

V

dw.1 9

%

dx. 0 , 0 0 dy.

1

dz. 1 0 4

ea. 2 2,

7 eb.

ec. Jan tan

ed.

I

ee. 2 2

%

ef. 0 , 0 0 eg.

1

eh. 1 2 5

ei. 1 1, 7

8 ej.

ek. Jan tan

el.

I em.9

%

en. 0 , 0 0 eo.

1

ep. 3 6

eq. 3, 9

3 er. es. Jan

tan

et.

I

eu. 1 1

%

ev. 0 , 0 0

ew.

1

ex. 9 5 , 8 2

ey. 1, 3 8

ez. 0 , 1 7

fa. Be tin a

fb.

II

fc. 1

%

fd. 0 , 0 0

fe.

1

ff. 1 4 0 , 2

fg. 1, 8 4

fh. 0 , 8 1

fi. Be tin

a fj.

I fk. 1

%

fl. 0 , 0 1

fm.

1

fn. 1 2 9 , 9 5

fo. 2 5,

7 fp. fq. Jan

tan

fr.

I

fs. 2 0

%

ft. 0 , 0 0

fu.

2

fv. 1 3 5 , 0 3

fw. 1 1, 6 5

fx. 0 , 2 5

fy. Be tin a

fz.

I ga. 9

%

gb. 0 , 0 0

gc.

2

gd. 6 0 , 1 5

ge. 5, 4

1 gf.

gg. Jan tan

gh.

I gi. 9

%

gj. 0 , 0 0

gk.

2

gl. 1 1 1 , 7

1 gm.

9,1 gn. go. Jan

tan

gp.

I gq. 8

%

gr. 0 , 0 0

gs.

2

gt. 1 3 5 , 9 8

gu. 1 7, 2

1 gv. gw.Jan

tan

gx.

I

gy. 1 3

%

gz. 0 , 0 0

ha.

N

hb. B o b o t ( g )

hc. B . G o n a d ( g )

hd. B . H a t i ( g )

he. J.

Ke la mi n

hf.

T

hg. I K G (

% )

hh. H S I (

% )

hi.

2

hj. 1 2 4

hk. 7, 8

hl. 0 , 1

hm.

Betina

hn.

II

ho. 6

%

hp. 0 , 0

, 5

7 9 7 0

hq.

2

hr. 7 4

hs. 7, 9

6 ht.

hu. Jan tan

hv.

II

hw.1 0, 8 0

hx. 0 , 0 0 hy.

2

hz. 1 1 0

ia. 1 2, 3 6

ib. 0 , 2 9

ic. Jan tan

id.

II

ie. 1 1, 2 3

if. 0 , 0 0 ig.

2

ih. 7 8

ii. 1 2, 2 2

ij. 0 , 1

4 ik. Jan

tan il.

V

im. 1 6, 6 7

in. 0 , 0 0 io.

2

ip. 1 0 1

iq. 2, 1

ir. 0 , 1 6

is. Be tin

a it.

II

iu. 2, 0 8

iv. 0 , 0 0 iw.

2

ix. 1 4 7

iy. 5, 7 5

iz. 0 , 3 8

ja. Jan tan

jb.

II jc. 3, 9 1

jd. 0 , 0 0 je.

3

jf. 1 4 0

jg. 2 4, 8 7

jh. 0 , 2 6

ji. Be tin a

jj.

I

jk. 1 7, 7 6

jl. 0 , 0 0 jm.

3

jn. 1 1 5

jo. 1, 4 5

jp. 0 , 1 5

jq. Jan tan

jr.

I

js. 1, 2 6

jt. 0 , 0 0 ju.

3

jv. 1 3 8

jw. 6, 4 5

jx. 0 , 3

4 jy. Jan

tan jz.

II

ka. 4, 7 0

kb. 0 , 0 0 kc.

3

kd. 1 4 2

ke. 9, 3

5 kf. kg. Jan

tan

kh.

I

ki. 6, 6 0

kj. 0 , 0 0

kk.

3

kl. 1 4 0

km.

80

kn.

ko. Jan tan

kp.

V

kq. 5 7, 1 4

kr. 0 , 0 0 ks.

3

kt. 1 4 8

ku. 1 2,

8 kv.

kw.Jan tan

kx.

I

ky. 8, 6 5

kz. 0 , 0 0 la.

3

lb. 1 3 3

lc. 1 7, 5

8 ld.

le. Jan tan

lf.

V

lg. 0, 1 3

lh. 0 , 0 0 li.

3

lj. 8 9

lk. 2, 7 2

ll. 0 , 3 8

lm. Be tin

a ln.

II

lo. 0, 0 3

lp. 0 , 0 0 lq.

3

lr. 1 0 0

ls. 2, 1 7

lt. 0 , 3

lu. Jan tan

lv.

II

lw. 2, 1 7

lx. 0 , 0 0 ly.

3 lz. 9

5

ma.1 3, 9 5

mb. mc.Jan

tan

md.

I

me.1 4, 6 0

mf. 0 , 0 0 mg.

4 mh.

96

mi. 1 0, 6

5 mj.

mk.

Jantan

ml.

II mm.

11,09

mn.

0,00 mo.

4

mp.

110, 1 8

mq.

19,39

mr. 0 , 6 5

ms.Jan tan

mt.

I mu.

17,60

mv.0 , 5 9

mw.

4

mx.

172 , 4 4

my.2 3, 4 2

mz.0 , 3 8

na. Be tin a

nb.

I

nc. 1 3, 5 8

nd. 0 , 2 2 ne.

4 nf. 1

2 0

ng. 1 2, 9

nh. 0

, ni. Be

tin nj.

I nk. 1

0, 0

nl. 0 , 5

, 7

7 4 6 a 0 0

nm.

4

nn. 6 8 , 9

no. 1 2, 7 7

np. 0 , 1 8

nq. Jan tan

nr.

I

ns. 1 8, 5 3

nt. 0 , 2 6

nu.

4

nv. 8 1 , 8 1

nw.1 0, 9 9

nx. 0 , 2 2

ny. Be tin a

nz.

I

oa. 1 3, 4 3

ob. 0 , 2 7

oc.

4

od. 1 2 3 , 7 3

oe. 1 2, 5 6

of. 0 , 3 5

og. Jan tan

oh.

I

oi. 1 0, 1 5

oj. 0 , 2 8

ok.

4

ol. 1 3 2 , 8 9

om.

15,18

on. 0 , 5 3

oo. Jan tan

op.

I

oq. 1 1, 4 2

or. 0 , 4 0 os.

4

ot. 1 6 5

ou. 1 8, 0 4

ov. 0 , 3 1

ow.Jan tan

ox.

I

oy. 1 0, 9 3

oz. 0 , 1 9

pa.

N

pb. B o b o t ( g )

pc. B . G o n a d ( g )

pd. B . H a t i ( g )

pe. J.

Ke la mi n

pf.

T

pg. I K G (

% )

ph. H S I (

% )

pi.

4 pj. 1

7 4

pk. 2 6, 0

pl. 0 , 3

pm.

Betina pn.

I po. 1

3, 2

pp. 0 , 2

Dokumen terkait