• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III BAB III

C. Perubahan

Jika kita melihat kebelakang tentang kurikulum yang pernah berlaku di negara kesatuan Republik Indonesia, yaitu dimulai dari Rencana Pelajaran

tahun 1947, struktur program yang terdapat didalamnya berupa serangkaian mata pelajaran menurut disiplin ilmu pengetahuan, salah satu diantaranya adalah gerak badan (lichamelijke oevening), dan pada Rencana Pendidikan 1964, struktur program kuriklum bukan lagi dipandang sebagau suatu sususnan mata pelajaran menurut disiplin ilmu, tetapi secara konsepsional dijadikan alat untuk mengembangakan sikap hidup sebagai manusia dan warga negara Indonesia yhang bersiwa pancasila, nama mata pelajaran adalah pendidikan jasmaniah dan keshatan, dan kurikulum 1964 ini akhirnya disempurnakan menjadi kurikulum 1968, yakni perubahan nama beberapa mata pelajaran. Dan pada tahun 1975 kurikulum 1964/1968 disempurnakan lagi, salah satu yang esensi dalam perubahan ini adalah terjadinya penggabungan mata pelajaran atau pembentukan bidang studi, pada mata pelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan (Standar Isi) dikenal dengan penggabungan asosiatif yang pendidikan agama/budi pekerti dengan pendidikan jasmani dan pendidikan kesehatan.

Pada tahun 1984 terjadi kembali perubahan kurikulum, nama mata pelajaran ini adalah pendidikan Olahraga dan Kesehatan, kurikulum 1984 disempurnakan kembali menjadi kurikulum 1994, nama pelajaran ini adalah Pendidikan Jasmani dan Kesehatan.

Kemudian pada tahun 2004, terjadi suatu perubahan paradigma dalam pengembangan kurikulum, dimana kurikulum 1994 berorientasi konten dan kurikulum 2004 beroreintasi pada kompetensi.

Kurikulum merupakan perangkat pendidikan yang dinamis, oleh karena itu kurikulum juga harus peka dan sekaligus mampu merespon beragam perubahan dan beragam tuntutan stakeholders yang menginginkan adanya peningkatan kualitas pendidikan. Negara-negara berkembang dan negara- negara dewasa ini tengah berupaya meningkatkan kualitas pendidikannya.

Salah satu upaya peningkatan mutu pendidikan ini adalah melalui perubahan kurikulum.

Dalam perubahan kurikulum itu digunakan model-model yang dipandang dapat menjawab tantangan pendidikan yang dihadapi, terutama yang terkait dengan peningkatan mutu. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh NIER (1999), model kurikulum yang digunakan di berbagai negara dapat dibedakan ke dalam tiga model, yaitu: 1) kurikulum yang berbasis konten atau topik (content base curriculum), 2) kurikulum yang berbasis hasil atau kompetensi (outcome or competency base curriculum), dan 3) Campuran kedua model tersebut.

Negara-negara seperti China dan Perancis mengunakan model kurikulum berbasis konten. Negara-negara seperti Australia dan Thailand menggunakan model kurikulum berbasis kompetensi. Adapun negara- negara seperti Korea, New Zealand, Amerika Serikat, Malaysia dan Filipina menggunakan model kurikulum campuran kurikulum berbasis konten dan kompetensi. Kecenderungan seperti ini menggambarkan bahwa kurikulum berbasis kompetensi merupakan salah satu model yang dewasa ini digunakan dalam kurikulum di negara-negara seperti disebutkan di atas.

Indonesia sebagai negara berkembang yang tidak ingin tertinggal dari berbagai negara berkembang serta negara-negara maju lainnya sedang berupaya menuju kearah penerapan model kurikulum berbasis kompetensi.

Penerapan model kurikulum berbasis kompetensi diharapkan dapat menghasilkan lulusan sekolah dalam sistem pendidikan kita yang sesuai dengan tingkat kecakapan yang dibutuhkan dalam kehidupan, memiliki keunggulan kompetetif dan komparatif yang sesuai dengan standar mutu pendidikan nasional menuju pencapaian standar mutu pendidikan internasional. Hal ini membawa implikasi terhadap perubahan-perubahan kebijakan, khususnya dalam bidang pendidikan.

Jika selama ini kebijakan pengembang pendidikan dilakukan secara terpusat (sentralistik), di mana semua kebijakan mulai dari kurikulum sampai pedoman pelaksanaan teknis ditangani oleh pusat; dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 tentang otonomi daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 tahun 2002 tentang pembagian kewenangan antara pemerintah pusat dan kewenangan provinsi sebagai daerah otonom, daerah dan sekolah memiliki kewenangan yang luas dalam mengelola pendidikan, termasuk menjabarkan kurikulum nasional sesuai dengan kebutuhan daerah sehingga tercapai diversifikasi kurikulum.

Seiring perjalan waktu Kurikulum Berbasis Komptensi masih dalam tahap ujicoba (piloting) pada beberapa sekolah di 8 provinsi, pada tahun 2003 dikeluarkan UU no 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pendidikan, dan penyempurnaan lebih lanjut dilakukan dengan memperhatikan segala sesuatu yang diamanatkan oleh ndang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yaitu berkenaan dengan pasal-pasal sebagai berikut:

1) Pasal 3 tentang Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab;

2) Pasal 35 Ayat (1) tentang Standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan yang harus ditingkatkan secara berencana dan berkala

3) Pasal 36 ayat (1) dan (2) tentang pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada standar nasional dan tujuan pendidikan, serta memperhatikan prinsip diversifikasi sesuai dengan potensi peserta didik;

4) Pasal 37 Ayat (1) tentang muatan wajib pada kurikulum pendidikan dasar dan menengah; dan

5) Pasal 38 Ayat (1) tentang kerangka dasar dan struktur kurikulum pendidikan dasar dan menengah ditetapkan oleh Pemerintah, dan Ayat (2) tentang peran koordinasi dan supervisi dinas pendidikan atau kantor departemen agama kabupaten/kota untuk pendidikan dasar dan provinsi untuk pendidikan menengah dalam pengembangan kurikulum pendidikan dasar dan menengah sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan dan komite sekolah.

Pada tahun 2004 Kurikulum Berbasis Kompetensi, yang lazim dikenal dengan kurikulum 2004 (KBK) telah rampung dikerjakan, Departemen Pendidikan Nasional membentuk Badan Standar Nasional Pendidikan yang selanjutnya disebut BSNP adalah badan mandiri dan independen yang bertugas mengembangkan, memantau pelaksanaan, dan mengevaluasi standar nasional pendidikan.

Dengan lahir badan ini, maka segala sesuatu yang berkaitan dengan pengemangan standar nasional diambil alih pengerjaannya oleh BSNP, dan kurikulum 2004 (KBK) dijadikan sebagai bahan dasar pengembangan standar pendidikan, dalam cakupan Standar Isi Pendidikan, yang diantaranya memuat Standar Kompetensi dan Kompetensi mata pelajaran.

Menurut Bambang Sudibyo (Ketua BSNP), 90 % substansi isi SK dan KD mata pelajaran yang terdapat dalam standar isi berasal dari kurikulum 2004 (KBK).

Lingkup pekerjaan yang digarap oleh BSNP tersebut tertuang dalam PP No.

19 tentang Standar Nasional Pendidikan tahun 2005 mencakup: standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan.

Departeman Pendidikan Nasional menyikapi PP 19 tahun 2005 tentang Standar Pendidikan Nasional, mengeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional, No. 22 tentang Standar Isi, No. 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan, No. 24 tahun 2006 dan No. 7 tahun 2006 tentang Pelaksanaan, No.

16 tentang Kompetensi Guru, No. 13 tentang Standar Kepala Sekolah, No.

19 Standar Pengelolaan, No. 20 tentang Standar Penilaian, No. Tentang Standar Sarana dan Prasarana. Hanya satu standar yang belum dikeluarkan peraturannya yaitu, tentang Standar Pembiayaan.

D. Implementasi Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan