PRINSIP PERUBAHAN PERILAKU
C. Perubahan Perilaku Karena Terpaksa (Complaince)
Sementara itu, Moh. Surya (1997) mengemukakan bahwa hasil belajar akan tampak dalam kebiasaan, seperti peserta didik belajar bahasa berkali-kali menghindari kecenderungan penggunaan kata atau struktur yang keliru, sehingga akhirnya ia terbiasa dengan penggunaan bahasa secara baik dan benar.
Keterampilan seperti menulis dan berolahraga yang meskipun sifatnya motorik, keterampilan-keterampilan itu memerlukan koordinasi gerak yang teliti dan kesadaran yang tinggi. Pengamatan, yakni proses menerima, menafsirkan, dan memberi arti rangsangan yang masuk melalui indra-indra secara objektif sehingga peserta didik mampu mencapai pengertian yang benar.
Berpikir asosiatif, yakni berpikir dengan cara mengasosiasikan sesuatu dengan lainnya menggunakan daya ingat. Berpikir rasional dan kritis, yakni menggunakan prinsip-prinsip dan dasar-dasar pengertian dalam menjawab pertanyaan kritis, seperti “bagaimana” (how) dan
“mengapa” (why).
Sikap, yakni kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang atau barang tertentu sesuai dengan pengetahuan dan keyakinan. Perilaku afektif, yakni perilaku yang bersangkutan dengan perasaan takut, marah, sedih, gembira, kecewa, senang, benci, dan was-was.
77 Bab 6 Prinsip Perubahan Perilaku Kegiatan-kegiatan rutin yang membuat orangtua dapat mengambil kesimpulan bahwa anaknya sulit diatur dan tidak disiplin. Ketika diminta membereskan mainan, anak justru melanjutkan permainan atau mengambil mainan yang lain. Ketika diminta bangun di pagi hari, akan membuat anak bete sepanjang pagi. Ketika diminta untuk mandi, anak justru asyik bermain dengan peralatan mandinya. Ketika diminta untuk makan, anak justru asyik mengaduk-aduk makanannya atau justru sama sekali tidak mengindahkan panggilan untuk makan.
Semakin orangtua memaksa, justru semakin ramai pergulatan yang terjadi. Semakin tinggi atau keras hukuman orangtua maka akan bertambah tinggi pula tingkat stres di kedua belah pihak, baik orangtua maupun anak.
Salah satu cara yang sebenarnya paling jitu untuk melatih kedisiplinan anak adalah mencari tahu apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh anak, menjadikannya suatu reward dalam kontrak kerja sama antara orangtua dan anak, serta secara konsisten menegakkan.
Kontrak kerja diberlakukan pada anak? Kesannya memang sulit, padahal sebenarnya sangat mudah asalkan orangtua maupun orang dewasa di sekitar anak tetap menjaga kekonsistenannya. Orangtua dan anak tinggal mendiskusikan apa yang sangat diinginkan oleh anak. Jika yang diinginkannya tidak masuk akal, orangtua sebaiknya bernegosiasi sampai mendapatkan suatu bentuk reward yang memang masuk akal.
Reward di sini tidak selalu berupa barang (mainan, sepeda, baju, dan sebagainya), tetapi bisa juga kesempatan untuk menonton film, televisi, main ke mall, atau tempat rekreasi. Pada tahap ini, anak dikenalkan pada konsep tujuan.
Setelah reward berhasil diputuskan bersama, sekarang giliran orangtua yang menegosiasikan keinginan mereka untuk mengubah perilaku anak. Misalnya, anak mau membereskan mainannya sendiri, atau bangun di pagi hari, atau perubahan perilaku yang lainnya.
Sebaiknya satu perilaku untuk setiap reward agar anak lebih mudah mengingat syaratnya.
Pada tahap ini anak akan mulai mengenal syarat dalam memenuhi keinginannya. Syarat yang akan selalu ditemuinya di seluruh waktu hidupnya kelak. Misalnya, Anda mau membeli baju?
Anda harus punya uang. Anda mau uang? Anda harus bekerja.
Jika reward dan target perilaku telah berhasil diputuskan, masih ada beberapa tahap lagi.
Tahap pertama, menegosiasikan jangka waktu kontrak, bisa mulai dari 1 hari sampai 3 bulan, tergantung dari tingkat kesulitan perubahan perilaku. Waktu yang terlalu singkat tidak akan mengubah perilaku anak secara permanen, namun waktu yang terlalu lama akan membuat kedua belah pihak akan bosan dan kehilangan momen. Jangka waktu yang tepat akan sangat berguna untuk melatih anak dalam menunda keinginan dan melatih orangtua untuk bersabar.
Tahap berikutnya adalah membuat bukti tertulis dari kontrak tersebut. Siapkan saja kertas yang bertuliskan semua tahap di atas (bisa juga dengan gambar jika anak masih belum bisa membaca) dan ditandatangani oleh kedua belah pihak. Jangan lupa untuk menyertakan kolom bukti perilaku, yang nantinya akan berisi simbol keberhasilan setiap perilaku yang sesuai dengan kontrak. Simbol ini dapat berupa stempel atau stiker yang ditempelkan setiap kali anak menunjukkan perilaku yang ditargetkan. Letakkan di tempat yang mudah dilihat oleh semua orang.
Tahap yang berikutnya, yaitu tahap pelaksanaan, adalah tahap yang paling berat. Baik bagi orangtua maupun anak. Berat bagi orangtua karena tidak boleh menghukum atau mengancam, hanya mengingatkan anak atas reward yang diinginkan anak jika kontrak berhasil. Alih-alih mengatakan, “Awas … kalau kamu … maka ayah/ibu akan …,” maka dengan sistem kontrak orangtua hanya boleh mengatakan, “Kamu mau … kan? Masih ingat janjinya? Hayo, kalau kamu mau … maka kamu harus ….” Berat, karena kadang-kadang anak mengubah pikiran mereka mengenai apa yang diinginkan. Berat, karena kadang-kadang benda atau momen yang diinginkan anak sebagai reward tidak mudah diperoleh, sehingga orangtua “terpaksa” harus membelinya terlebih dahulu sebelum kehabisan.
Jangan pernah memberikan reward pada anak sebelum waktunya karena anak tidak akan belajar apa pun. Untuk menghindari hal inilah maka tahap pertama, yaitu tahap reward, yang paling penting dan harus dipastikan pemerolehannya.
Berat bagi anak karena sering kali perilaku yang ditargetkan adalah perilaku yang tidak mereka sukai atau memang sulit dilakukannya.
79 Bab 6 Prinsip Perubahan Perilaku Untuk mengatasi hal inilah maka pada tahap kedua, yaitu tahap syarat, orangtua harus benar-benar memahami kemampuan anak dalam kaitannya dengan perubahan perilaku yang diharapkan. Suasana selama pelaksanaan kontrak pun tetap harus dijaga keasyikannya, agar tidak terjebak dalam situasi yang membosankan atau justru situasi yang membuat “panas”.
Tahap terakhir adalah tahap yang paling menyenangkan, di mana perilaku anak berubah dan ia bahagia karena mendapatkan reward.
Pujilah keberhasilannya dan diskusikan situasi-situasi sulit yang mungkin pernah terjadi dengan tetap mengingatkan … bahwa si anak akhirnya berhasil. Misalnya dengan mengatakan, “Tuh … waktu itu kamu marah-marah, terus kamu nangis, terus kamu bilang kalau nggak bisa. Nah, ini buktinya kamu dapat hadiahnya. Berarti bisa kan? Anak ibu/ayah kan hebat!”