• Tidak ada hasil yang ditemukan

III 18:20 III 18:20

B. Pembahasan Penerapan Evidence Based Nursing

4.1 PICOT EBN

67

Kesimpulan/ Hasil EBN

Apakah head up 30˚ efektif untuk menurunkan tekanan intrakranial pada pasien trauma kepala? Hasil penelitian ini sesuai dalam teori dan beberapa hasil penelitian dimana terdapat perbedaan tekanan intrakranial pada pasien trauma kepala antara sebelum dan sudah diberikan perlakuan posisi head up 30 derajat pada pasien trauma kepala di IGD RSUD Dr.

Soedirman Kebumen. Penurunan tekanan intrakranial ini bisa disebabkan oleh posisi head up 30˚ yang sesuai dengan posisi anatomis tubuh manusia sehingga kebutuhan oksigenasi diotak terpenuhi dan terhindar dari terjadinya hipoksia pada pasien dan tekanan intrakranial menjadi stabil dalam batas normal dan mempertahankan tingkat kesadaaran.

Pasien dengan trauma kepala selain mengalami penurunan kesadaran akibat perdarahan pada kepala dan kemungkinan mengalami fraktur tengkorak, juga mengalami kelemahan pada salah satu bagian tubuh disertai kebingungan bahkan terjadi penurunan kesadaran hingga koma, terjadi muntah proyektil atau menyembur, terjadi abnormalistas pupil, terjadi defisit neurologis berupa gangguan penglihatan dan pendengaran, kejang otot dan gangguan pergerakan. Bila terjadi perdarahan dan fraktur pada tengkorak maka akan terjadi hematoma yang menyebabkan peningkatan tekanan intra kranial. Indikasi pemberian elevasi kepala 30˚disebabkan oleh terjadinya peningkatan tekanan intrakranial ditandai dengan adanya nyeri kepala akibat trauma pada bagian otak, tekanan darah yang meningkat, mual muntah, perubahan perilaku. Elevasi kepala 30˚ akan meningkatkan aliran vena jugularis yang tidak berkatup sehingga mampu menurunkan volume darah vena yang menurunkan volume darah vena sentral yang dapat menurunkan tekanan intrakranial sehingga nyeri kepala, peningkatan tekanan darah, mual muntah, dan perubahan perilaku dapat teratasi.

Pada penelitian Supraptini Ngabdi dan Wahidin pada tahun 2020 ini posisi head up 30° merupakan posisi menaikkan kepala dari tempat tidur dengan sudut sekitar 30° dan posisi badan sejajar dengan kaki.

Posisi head up 30° memiliki manfaat untuk menurunkan tekanan intrakranial pada pasien cedera kepala. Selain itu posisi tersebut juga dapat meningkatkan oksigen ke otak. Hal ini akan menambah rileks serta memindahkan fokus perhatian pada nyeri yang dialami seseorang.

Sehingga muncul kenyaman yang berdampak pada nyeri yang berkurang.

Setelah diberikan terapi peninggian kepala 30˚ pada Tn. I dan Tn. A tidak mengalami sesak dan kesadaran klien meningkat. Hal ini dibuktikan dari 2 klien dengan GCS awal 12 (apatis) menjadi sadar penuh atau GCS 15.

Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan kedua klien setelah dilakukan posisi head up 30˚ selama 1 x 6 jam ketidakefektifan perfusi jaringan serebral kembali efektif.

Menurut asumsi peneliti Luci Riani, Kuat Sitepu, Renni Ariana bahwa responden setelah dilakukan pemberian oksigen dan elevasi kepala 30º mengalami peningkatan tingkat kesadaran dan pada sebelum dilakukan pemberian oksigen dan elevasi kepala 30º. Pemberian oksigen disesuaikan dengan kebutuhan oksigen dan ketika dilakukan pemberian oksigen sekaligus pasien di berikan posisi elevasi kepala 30º. Otak mempunyai tingkat metabolisme yang tinggi, aliran darah di otak juga harus terjaga agar metabolisme dengan bantuan oksigen dapat berlangsung dengan baik di otak. Pemberian elevasi kepala 30º menurunkan tekanan intrakranial sehingga memberi kelancaran pada aliran darah vena di otak sehingga oksigen dapat adekuat, nyeri kepala teratasi, mual muntah teratasi dan tekanan darah stabil. Pemberian oksigen dan elevasi kepala 30º pada pasien cedera kepala sedang tersebut mempunyai kualitas peningkatan kesadaran yang cenderung meningkat dimana ada perbedaan sebelum dilakukan penanganan dan sesudah dilakukan penanganan sehingga dapat meminilisir cedera kepala sedang ke keadaan yang lebih buruk.

Peneliti Moh. Rizky, Suwandi Luneto, Sarwan menyimpulkan bahwa yang mana adanya pengaruh elevasi kepala 30 derajat terhadap tingkat kesadaran pada pasien cedera kepala di RS Bhayangkara TK.III Manado. Hal ini di karenakan terjadi peningkatan dari pengaruh elevasi

kepala 30 derajat terhadap kesadaran pada pasien cedera kepala di Rumah Sakit Bhayangkara TK.III kota Manado.

70 BAB V

SIMPULAN DAN SARAN A. SIMPULAN

Setelah melakukan pembahasan kasus yang dibandingkan dengan teori dengan membedakan perawatan langsung pada pasien di lahan praktik melalui asuhan keperawatan yang diterapkan pada An.

R dengan trauma kepala di IGD Rumah Sakit Bhayangkara Makassar, maka penulis dapat mengambil kesimpulan serta memberikan saran-saran sebagai berikut:

1. Pengkajian

Pasien dengan nama An. R umur 11 tahun masuk Rumah Sakit pada tanggal 24 April 2023 dengan diagnosis medik trauma kepala dengan keluhan utama nyeri kepala. Saat dilakukan pengkajian keluhan yang dialami pasien adalah nyeri kepala terus menerus, sesak nafas sejak kurang lebih 1 hari yang lalu, muntah 1 kali, pembengkakan pada kepala, serta muncul edema dan lebam kehitaman pada kedua kelopak mata dan pendarahan pada telinga, terdapat luka lebam pada ektremitas atas dan bawah, observasi tekanan darah 110/60 mmHg, frekuensi nafas 24 x/menit, irama pernapasan tidak teratur, SpO2 95%, suhu 37˚C, nadi 96x/menit, akral teraba dingin, sianosis dan terdapat pendarahan sebanyak ± 23cc, GCS M:5 V:3 E:4 = 12 (Apatis) terdapat luka-luka yang membengkak pada kepala bagian frontalis dan temporalis kiri dan kanan serta beberapa luka-luka kecil dan lebam di ektremitas atas dan bawah. Pasien riwayat kecelakaan motor tunggal 3 hari yang lalu.

2. Diagnosis Keperawatan

Setelah melakukan pengkajian penulis menganalisis data sehingga menemukan 3 maslaah keperawatan yang ada pada pasien yaitu:

a. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan gangguan neurologis (Cidera Kepala) ditandai dengan pasien merasa sesak, pernapasan 24x/menit dan Saturasi 95%.

b. Penurunan kapasitas adaktif intrakranial berhubungan dengan edema serebral.

c. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisik dibuktikan dengan meringis, kesakitan dan gelisah.

3. Perencanaan Keperawatan

Perencanaan keperawatan yang dilakukan meliputi

Monitor status respirasi dan oksigenasi, berikan posisi semi fowler, berikan oksigenasi sesuai kebutuhan, monitor cpp, monitor intake dan output cairan, minimalkan stimulus dengan menyediakan lingkungan tenang, berikan posisi semi fowler dengan posisi head up 30˚, cegah terjadinya kejang, monitor lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan intensitas nyeri, kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri, fasilitasi istirahat dan tidur, ajarkan teknikfarmakologi untuk mengurangi rasa nyeri (teknik relaksasi nafas dalam), kolaborasi pemberian analgetik.

4. Implementasi Keperawatan

Implementasi keperawatan seluruhnya dilaksanakan dengan melibatkan atau bekerja sama dengan pasien, keluarga pasien, sesama perawat dan tim kesehatan lainnya.

5. Evaluasi

Evaluasi keperawatan yang diperoleh yaitu pola napas tertasi, resiko perfusi serebral tidak efektif teratsi dan nyeri akut teratsi.

Dokumen terkait