• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pisuke Dalam Tinjauan Al-Urf

Dalam dokumen penentuan pisuke dalam tradisi pernikahan (Halaman 132-140)

BAB I PENDAHULUAN

B. Pisuke dalam Pandangan Al-Urf

2. Pisuke Dalam Tinjauan Al-Urf

sebagian besar yang lain adalah prinsip-prisip dasarnya saja yang diatur), tidak demikian halnya dalam masalah ibadah, sebagian besar diatur secara detail termasuk teknis pelaksanaannya.

sebagai ganti biaya orang tua perempuan yang sudah membesarkan anak gadisnya.

Untuk membangun relasi antara pisuke yang merupakan hukum adat dan Hukum Islam, maka yang dapat menjembataninya adalah konsep al-urf yang dapat disinonimkan dengan adat/kebiasaan. Al-urf diterima sebagai salah satu landasan hukum. Namun mengingat tidak semua adat dijadikan sebagai hukum, maka para ulama menetapkan beberapa syarat agar suatu aturan adat dapat diterima sebagai hukum. Syarat-syarat tersebut adalah:

a. Mengandung kemaslahatan dan logis

b. ‘urf tersebut berlaku umum pada masyarakat c. ‘urf tersebut berlaku pada saat itu

d. Tidak bertentangan dengan dalil syara’

e. Tidak berlaku pada ibadah mahdhah

f. Adat atau ‘urf berlaku umum dan merata di kalangan orang-orang yang erada di lingkungan adat itu.

Berdasarkan penerapan di lapangan, penerapan pisuke lebih dominan berdampak positif dari pada berdampak negatif. Penerapan pisuke yang berdampak negatif, bukan pada penerapan pisuke nya, akan tetapi lebih kesenjangan antara tawaran dan kemampuan. Para pihak belum mampu untuk menemukan kata sepakat pada tingkat ideal, sehingga mampu memediasi kepentingan masing-masing pihak.

Dengan demikian, diharapkan penerapan pisuke akan mewujudkan maslahah yang merupakan tujua syariat. Jika unsur maslahatnya lebih banyak, maka adat tersebut adalah adat yang shahih serta dapat diterima, begitu pula sebaliknya.

Ulama Malikiyyah dan Hanabilah mensyaratkan tiga syarat kemaslahatan sebagai dalil dalam menetapkan hukum, yaitu:

a. Kemaslahatan yang sejalan dengan kehendak syara’ dan termasuk jenis b. kemaslahatan yang didukung nash secara umum.

c. Kemaslahatan yang bersifat rasional dan pasti, bukan sekedar perkira- an, sehingga hukum yang ditetapkan benar-benar menghasilkan man- faat dan menghindari atau menolak kemudharatan.

d. Kemaslahatan yang menyangkut kepentingan orang banyak, bukan kepentingan pribadi atau kelompok kecil tertentu.

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan uraian pada bab-bab terdahulu, maka terkait penerpan pisuke dalam tradisi pernikahan masyarakat Lombok Barat, dapat ditarik beberapa kesimpulan berikut:

1. Penentuan pisuke dalam tradisi pernikahan di Masyarkat Lombok Barat dilakukan mulai ketika prosesi neyeaba, penenutuannya berdasarkan musyawarah dan negosiasi kedua belah pihak keluarga. Untuk pernikahan antar kampung, jumlah pisuke sudah ditetapkan berdasarkan awiq- awiq/regulasi yang telah dibuat dan disahkan otoritas kampung, sedangkan Pisuke pada pernikahan diluar kampung berdasarkan pada musyawarah dan negosiasi yang umumnya terjadi lebih dari dua kali. Pisuke merupakan salah satu prosedur dalam sistem pernikahan di Masyarakat Lombok Barat, penyelesaian masalah pisuke merupakan suatu tahapan yang harus dilalui kaena merupakan salah syarat untuk penyelesaian prosesi berikutnya. Standarisasi jumlah pisuke umumnya didasarkan pada tingkat pendidikan, profesi dan status keluarga pihak perempuan, akan tetapi pada akhirnya sangat bergantung pada tingkat kemampuan pihak- pihak laki-laki, sehingga pisuke benar-benar merupakan hasil mufakat

yang tidak memberatkan masing-masing pihak, kedua belah pihak saling suka, saling ridha dan saling ikhlas atas pernikahan yang terjadi.

2. Dampak penerapan pisuke dalam tradisi pernikahan masyarakat Narmada Lombok Barat dapat diklasifikasikan menjadi dua bentuk yaitu dampak positif dan dampak negatif. Apabilaa penentuan pisuke berjalan lancar tanpa kendala yang berarti maka akan berdampak positif, meliputi::

terpenuhinya rasa keadilan, terciptanya saling ridha antar keluarga dan terjaganya pernikahan. Sedangkan apabila penentuan/negosiasi pisuke tidak menemukan kata sepakat, dapat mengarah ke dampak negatif, meliputi: terhambatnya proses pernikahan, renggangya hubungan antar berkeluarga, dan rentan terhadap perceraian.

3. Pisuke dalam Tinjauan Hukum Islam, dapat dikatagorikan sebagai al-Urf.

Pisuke merupakan produk budaya yang lahir dari kearifan masyarakat Lombok, namun dapat diakomodir sebagai bagian dari hukum Islam dengan pendekatan al-urf berdasarkan ketentuan syar’i. Pisuke dapat dikatagorikan sebagai al-urf ash-shahihah karena sudah diterima oleh masyarakat secara umum dan sudah melekat sebagai bagian dari tradisi pernikahan secara turun temurun. Permasalahan yang timbul karena pisuke, umumnya bukan disebabkan oleh penerapan pisuke, namun disebabkan ketidaksepakatan soal nominal pisuke.di sinilah masing- masing pihak dituntut untuk saling memahami dan saling pengertian.

B. Saran-Saran

Menutup laporan hasil penelitian ini, izinkan peneliti untuk memberikan saran-saran yang kiranya dapat menjadi rujukaan kebijakan dalam rangka meberikan kebijakan sehubugam dengan masalah terkait:

1. Pisuke itu perlu digalakkan karena didalamnya terkandung hal-hal yang dapat diterima oleh syariah. Sepanjang pelaksanaannya masih dalam koridor syar’ie, pisuke memberikan dampak yang positif untuk mewujudkan hubungan yang harmonis dalam keluarga.

2. Perlu diupayakan kesepakatan-kesepakatan yang saling mendukung dalam negosiasi pisuke agar menghasilkan kesimpulan yang berkeadilan dan saling mendukung, tidak saling menzalimi dan tidak pula saling merugikan. Mengingat tujuan dari pernikahan adalah menggabungkan dua keluarga menjadi satu dalam ikatan pernikahan.

3. Bagi instansi terkait agar memberikan solusi dan sosialisasi terhadap masayarakat mengenai penerapan pernikahan secara syar’ie, agar dalam pelaksanaannya lebih memprioritaslan aspek rukun dan syarat, adapul hal- lain seperti pisuke merupakan hal sekunder. Jangan sampai sekunder mengalahkan yang primer.

DAFTAR PUSTAKA

Abdur Rahman al-Juzairi, al-Fiqh `ala al-Madzahib al-Arba`ah, Jilid 4 Dar al- Fikri, Beirut, 1990.

Ahmad Azhar Basyir, Hukum Perkawinan Islam UII Press, Yogyakarta, 2000 Ahmad Warson Munawwir, Al-Munawwir: Kamus Arab-Indonesia Pondok

Pesantren al-Munawwir, Yogyakarta, 1984

Akh. Minhaji, Islamic Law and Local Tradition: A Socio-Historical Approach Kurnia Kalam Press, Yogyakarta, 2008

Arso Sosroatmodjo dan Wasit Aulawi, Hukum Perkawinan di Indonesia Bulan Bintang, Jakarta, 1978.

Erni Budiwanti, ”The Impact of Islam on the Religion of the Sasak in Bayan, West Lombok” dalam Kultur, Volume I, No.2 Tahun 2001.

Fathan Aniq, Konflik peran gender pada tradisi merarik Di pulau lombok, Comperence Proceding, AICIS XII, 2016

Fatihi, Kafaah Dalam Perkawinan Masyarakat Bangsawan Sasak di Kecamatan Praya Barat, Tesis PPs. UIN Mataram 2017

Fatma Amilia Reinterpretasi Tradisi Merariq Sebagai Resolusi Konflik Adat:

Studi Pemikiran Tokoh Agama dan Tokoh Adat di NTB, Schemata, Volume 6, Nomor 2, Desember 2017.

Hadari Nawawi, Metode Penelitian Bidang Sosial Yogyakarta: Gajah Mada UniverSekolah Islam Terpaduy Press, 1985.

Isma`il Raja l-Faruqi, At-Tawhid: It`s Implications for Thought and Life Virginia USA: International Institute of Islamic Thought, 1992.

John Bartholomew, Alif Lam Mim: Kearifan Masyarakat Sasak Yogyakarta: Tiara Wacana, 2001.

Kamil Muhammad Uwaidah, Fiqh Wanita Terj., M. Abdul Ghoffar E.M. Penerbit Pustaka Al-Kautsar, t.th.

Khoiruddin Nasution, Hukum Perdata Keluarga Islam Indonesia dan Perbandingan Hukum Perkawinan di Dunia Muslim ACAdeMIA+TAZZAFA, Yogyakarya, 2009

Khoiruddin Nasution, Hukum Perdata Keluarga Islam Indonesia dan Perbandingan Hukum Perkawinan di Dunia Muslim Tazzafa dan ACAdeMIA, Yogyakarta, 2009

Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian kualitatif, Bandung: Remaja Rosdakarya,1991.

Mahyuddin Lukman, Eperkawinan Masyarakat Suku Sasak Lombok (Merariq) Dalam Muara Pluralisme Hukum. Jurnal IUS Vol II Nomor 6 Desember 2014

Masnun dkk, (Editor), Antologi Hasil Peneliltian Islam dalam Pergumulan Lokalitas & Institusi Pendidikan, Mataram: Pusat Penelitian dan Penerbitan LP2M IAIN Mataram Pres, 2013.

Milles dan Huberman, Analisis Data Kualitatif, Jakarta: UniverSekolah Islam Terpaduas Indonesia Press, 1992.

Moh. Idris Ramulyo, Hukum Perkawinan Islam Bumi Aksara, Jakarta, 1999.

Moh. Idris Ramulyo, Hukum Perkawinan Islam: Suatu Analisis dari Undang- Undang No. 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam Bumi Aksara, Jakarta, 1996

Muslim, Sahih Muslim ttp, al-Qanāah, tt, I: 623, “ kitab an-Nikah,” “Bāb Istihbāb an- Nikāhi zāti ad-Dini.”

Peunoh Daly, Hukum Perkawinan Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1988 R. Soeroso, Pengantar Ilmu Hukum Sinar Grafika, Jakarta, 1993

Sayuthi Thalib, Hukum Kekeluargaan Indonesia UI Press, Jakarta, 1986

Sutrisno Hadi, Metodologi Researc I, Yogyakarta: Fak. Psikologi UGM, 1987.

Sanapiah Faisal, Format-Format Penelitian Sosial, Dasar-Dasar dan Aplikasi Jakarta: Raja Garafindo Persada, 1989

UU No. 1 Tahun 1974 Tentang Pernikahan

W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia Balai Pustaka, Jakarta, 1985.

Dalam dokumen penentuan pisuke dalam tradisi pernikahan (Halaman 132-140)