• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pola Interaksi Pembelajaran Yang Digunakan Guru Mata

BAB III PEMBAHASAN

A. Pola Interaksi Pembelajaran Yang Digunakan Guru Mata

BAB III

Pertama, melalui pola interaksi dalam pembelajaran berpusat pada isi.

Pada hakikatnya, suatu strategi pembelajaran terdiri atas semua komponen materi atau paket pengajaran dan prosedur yang akan digunakan untuk membantu peserta didik dalam mencapai tujuan pengajaran tertentu. Dalam hal ini,strategi pembelajaran dipusatkan pada materi pelajaran. Materi pelajaran lebih berfungsi sebagai masukan (input) yang akan berbaur dalam proses pembelajaran.

Strategi pembelajaran yang berpusat pada materi berkembang seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan yang disertai arus globalisasi yang berakibat pengajar tidak lagi menjadi sumber informasi.

Sekolah tidak mungkin lagi menjadi satu-satunya sumber informasi, karena banyak media yang dapat digunakan untuk mendapatkan informasi, seperti melalui media massa dan elektronik. Proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru adakalanya terlihat kegiatan yang semata-mata berpusat pada guru, dan adakalanya pula berpusat pada siswa.

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan peneliti, dalam kegiatan pembelajaran yang berpusat pada isi atau materi ini guru telah melaksankan tugasnya dalam menyampaikan materi dan begitu juga dengan siswa memperhatikan guru yang memberikan materi, tetapi pola interaksi ini dianggap kurang efektif dalam pembentukan sikap sosial siswa karna dalam proses pembelajaran yang menjadi tujuan utama adalah pemahaman terhadap materi, sedangkan untuk memberikan pengertian yang lebih kuat tentang materi tersebut diperlukan juga interaksi lebih antara guru yang menjelaskan

dengan siswa, seperti kegiatan-kegiatan didalam kelas yaitu praktik atau diskusi untuk mempermudah pemahaman siswa.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pola interaksi pembelajaran yang berpusat pada materi ini dianggap kurang efektif dalam pembentukan sikap sosial siswa, karena dalam proses pembelajaran interaksi dilakukan sebatas untuk pemahaman terhadap materi yang sedang dibahas.

Kedua, melalui pola interaksi dalam pembelajaran berpusat pada guru.

Pola pembelajaran yang kegiatannya semata-mata berpusat pada guru, pada umumnya terjadi proses yang bersifat penyajian atau penyampaian isi atau materi pembelajaran. dalam praktek pembelajaran semacam ini, kegiatan sepenuhnya ada di pihak guru, sedangkan siswa hanya menerima dan diberi pembelajaran (pasif).

Pada pembelajaran ini, guru menjadi pusat kegiatan belajar mengajar dan pada praktek pembelajaran sepenuhnya di pihak guru. Dalam hal ini, guru memiliki peran sebagai pusat informasi dan juga pusat belajar siswa, dimana guru sumber belajar siswa melalui materi pelajaran yang di sampaikan olehnya. Dalam pola pembelajaran ini juga memiliki kelebihan dan kelemahan yaitu:

- Kelebihan

a. Bahan belajar dapat disampaikan secara tuntas oleh pendidik sesuai dengan program pembelajaran yang telah disiapkan sebelumnya.

b. Dapat diikuti oleh peserta didik dalam jumlah yang besar.

c. Waktu yang digunakan akan tepat sesuai dengan jadwal waktu pembelajaran yang telah ditetapkan.

d. Target materi pembelajaran yang telah direncakan relatif mudah tercapai.

- Kelemahan

a. Mudah menimbulkan rasa bosan pada diri peserta didik sehingga hal ini dapat mengurangi motivasi, perhatian dan konsentrasi peserta didik terhadap kegiatan pembelajaran.

b. Keberhasilan pembelajaran, dalam hal ini perubahan sikap dan perilaku peserta didik, relatif sulit untuk diukur karena yang diinformasikan kepada peserta didik pada umumnya lebih banyak menyentuh ranah kognisi.

c. Kualitas pencapaian tujuan belajar yang telah ditetapkan adalah relatif rendah karena pendidik sering hanya mengejar target waktu untuk menghabiskan materi pembelajaran.

Dari hasil observasi yang peneliti lakukan ketika proses belajar mengajar sedang berlangsung didalam kelas, dalam proses pembelajaran Guru lebih banyak berperan (aktif) dan siswa hanya menerima apa yang disampaikan oleh guru atau siswa (pasif), oleh karena itu pola interaksi pembelajaran ini dianggap kurang efektif karena siswa mudah bosan ketika proses pembelajaran berlangsung, dimana siswa mengikuti pembelajaran sesuai dengan aturan dari guru tersebut. hal ini dapat mengurangi motivasi, perhatian serta konsentrasi siswa dalam proses pembelajaran.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pola interaksi yang berpusat pada guru ini juga kurang efektif dalam pembentukan sikap sosial siswa, karena siswa kurang termotivasi dan tidak bebas mengeluarkan pendapat mereka dalam kegiatan pembelajaran dan siswa juga merasa terikat karena aturan pembelajaran yang digunakan harus sesuai dengan kehendak guru.

Ketiga, melalui pola interaksi dalam pembelajaran berpusat pada siswa. Pembelajaran berpusat pada siswa merupakan pembelajaran yang lebih berpusat pada kebutuhan, minat, bakat dan kemampuan siswa, sehingga pembelajaran akan menjadi sangat bermakna. Dengan pendekatan pembelajaran berpusat pada siswa menghasilkan siswa yang berkepribadian, pintar, cerdas, aktif, mandiri, tidak bergantung pada pengajar, melainkan mampu bersaing atau berkompetisi dan memiliki kemampuan komunikasi yang lebih baik. Dalam pola pembelajaran seperti ini dapat mengaktifkan siswa dan memberi peluang untuk lebih mandiri, tetapi pola pembelajaran seperti ini juga memiliki kelemahan bagi siswa yang kurang mandiri dan tidak terbiasa bekerja sama dengan teman-temannya.

Berdasarkan pengamatan yang sudah dilakukan peneliti, dalam pola pembeajaran seperti ini guru akidah akhlak memberikan kebebasan belajar kepada siswanya, proses belajar mengajar tidak hanya dilakukan oleh guru dan siswa saja tetapi juga peserta didik belajar kepada teman sebayanya.

dalam pola pembelajaran seperti ini, siswa memang lebih merasa terbuka dan memiliki kesempatan yang luas untuk berpartisipasi dalam proses

pembelajaran, biasanya siswa akan lebih terbuka untuk bertanya kepada teman sebayanya apa yang tidak atau belum mereka pahami, tetapi pola pembelajaran seperti ini dianggap kurang efektif karena dalam proses pembelajaran memerlukan waktu yang lebih banyak dari waktu yang telah ditentukan di RPP, pola pembelajaran ini juga menjadi hambatan bagi siswa yang tidak biasa mandiri dan aktif sehingga proses pembelajaran menjadi kurang efektif.

Berdasarkan uraian diatas, pola interaksi tersebut juga kurang efektif, karena tidak bisa memberikan motivasi kepada seluruh siswa yang mengikuti proses belajar, motivasi hanya terbentuk bagi siswa yang sudah terbiasa aktif dalam kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu pola interaksi seperti ini kurang efektif karena tidak bisa mengaktifkan seluruh siswa yang mengikuti proses pembelajaran.

Keempat, melalui pola Interaksi Pendidik dan Peserta Didik. Dengan pola interaksi pembelajaran seperti ini, selain siswa mendapatkan manfaat, guru juga memperoleh umpan balik (feedback). Guru mengetahui, apakah materi pelajaran yang disampaikannya dapat diterima siswa dengan baik atau tidak. Guru juga mengetahui berbagai persoalan, pengalaman dan imajinasi siswa yang dapat diimplementasikan dalam kegiatan pembelajaran. Interaksi yang baik akan mendorong terciptanya metode pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan83.

83Washadi,” interaksi-guru-dan-siswa-dalam-proses-belajar-mengajar”, dalam http://agupena.or.id/2017/06/01, diakses tanggal 2 juni 2018, pukul 9.04 WITA.

Sebagaimana pengamatan yang sudah dilakukan oleh peneliti ketika proses pembelajaran berlangsung, guru merancang dan melakukan revisi materi pelajaran yang akan disampaikan kepada siswa sebelum kegiatan berlangsung. Guru memantau dan mengarahkan jalannya proses belajar- mengajar. Selanjutnya, guru mengevaluasi dan menyadari bahwa materi yang telah disampaikan sesuai dan dibutuhkan oleh siswa. Pada akhirnya, siswa merasa puas dan betul-betul memahami dan mengingat keseluruhan materi yang telah didapatkannya.

Dengan interaksi yang baik pula, guru akan mengenali dan mengetahui potensi yang ada pada setiap siswa. Tentu saja potensi siswa berbeda-beda. Dalam hal ini guru dituntut untuk cermat dan menguasainya.

Guru harus terus memberikan motivasi dan dorongan terhadap siswa yang memiliki potensi yang kuat. Sedangkan terhadap siswa dengan potensi biasa- biasa saja, guru harus terus memberikan motivasi dan dorongan dengan porsi yang lebih banyak. Guru akan maksimal memberikan ilmu pengetahuan dan keterampilan demi mengembangkan potensi keseluruhan siswanya. Dengan demikian, guru berhasil dalam mengajar dan membentuk kepribadian siswa, sehingga siswa memiliki jatidiri yang jelas84.

Jadi berdasarkan data diatas, pola interaksi pembelajaran yang paling efektif dalam pembentukan sikap sosial siswa di MIN 2 Kota Mataram yaitu pola interaksi pendidik dan peserta didik. karena dalam pola interaksi tersebut

84Ibid,Washadi,” interaksi-guru-dan-siswa-dalam-proses-belajar-mengajar

guru dan siswa secara langsung memperoleh umpan balik (feedback) guru juga dapat mengetahui, apakah materi pelajaran yang disampaikannya dapat diterima siswa dengan baik atau tidak, sehingga guru dapat memutuskan untuk melanjutkan materi pelajaran ke tahap selanjutnya atau mengubah cara penyampain materi supaya lebih mudah dipahami oleh siswanya.

B. Implikasi pola interaksi pembelajaran dalam pembentukan Sikap Sosial Siswa