BAB V PEMBARUAN PENDIDIKAN ISLAM
B. Pola Pembaruan Pendidikan Islam
perintah supaya anak sampai umur dewasa jangan dihalangi masuk madrasah. Ia mengadakan perubahan dalam kurikulum madrasah dengan menambahkan pengetahuan umum ke dalamnya. Dalam hal ini, madrasah-madrasah tradisional tetap berjalan, selain itu, Sultan Mahmud II juga mendirikan dua sekolah untuk mempelajari ilmu pengetahuan umum yaitu, Mekteb-i Ma’arif (Sekolah Pengetahuan Umum) dan Mekteb-i Ulum-u Edibiye (Sekolah Sastra). Siswa untuk kedua sekolah itu dipilih dari lulusan madrasah yang bermutu tinggi.
Di kedua sekolah itu diajarkan bahasa Perancis, ilmu bumi, ilmu ukur, sejarah, dan ilmu politik, di samping bahasa Arab. Sekolah pengetahuan umum yang pertama mendidik siswa untuk menjadi pegawai-pegawai administrasi, sedang sekolah yang kedua bertujuan untuk mengadakan penterjemah-penterjemah untuk keperluan pemerintah. Selain mendirikan sekolah, Sultan Mahmud II juga mengirim siswa-siswa ke Eropa, yang mana setelah kembali ke tanah air juga mempunyai pengaruh dalam penyebaran ide-ide baru di Daulah Utsmaniyyah (Nasution, 1988).
Sebagaimana halnya di Turki pada periode modern, di Mesir juga terjadi pembaruan di sana sini terutama dalam bidang pendidikan.
Orang pertama yang mula-mula dianggap sebagai motor pembaruan di Mesir adalah Muhammad Ali Pasya yang mendirikan kementrian pendidikan untuk menunjang dan membantunya dalam mengembangkan pendidikan dan ilmu pengetahuan; mendirikan Sekolah Militer untuk pertama kalinya di Mesir pad tahun 1815;
Sekolah Teknik pada tahun 1816; sekolah kedokteran pada tahun 1927. Guru-gurunya didatangkan dari Barat, dan karena tidak pandai berbahasa Arab, maka ceramah-ceramah mereka diterjemahkan oleh penterjemah ke dalam bahasa Arab dan turki. Selain mendatangkan ahli-ahli dari Eropa, Muhammad Ali juga mengirim siswa-siswa untuk belajar ke sana. Menurut data statistik, antara tahun 1813-1843, ia telah mengirim 311 orang pelajar Mesir ke Italia, Pracis, Inggris, dan Austria, sehingga berdirilah satu rumah di Paris untuk menampung pelajar-pelajar yang berasal dari Mesir itu (Nasution, 1988 – 36 -37).
Dalam konteks reformasi kelembagaan, Muhammad Abduh memainkan peran yang signifikan. Ia melihat bahwa pendidikan dan
keilmuan sangat menentukan maju mundurnya Islam dibandingkan dengan bidang lain. Oleh karena itu, ia mereformasi almamaternya sendiri yaitu Universitas al-Azhar. Hal yang paling penting yang ia lakukan ialah memperjuangkan para mahasiswa Al-azhar juga diajarkan mata kuliah filsafat, demi menghidupkan dan mengembangkan intelektualisme Islam yang telah padam itu. Usaha ini mengalami kegagalan, karena ditolak oleh dewan guru besar Al- Azhar. Namun liberalisme Islam yang ditanamkannya itu berkembang terus, dan berkelanjutan dalam mempengaruhi jalan pikiran generasi muslim terpelajar.
Dengan memperhatikan sebab-sebab kemajuan dan kekuatan yang dialami oleh Bangsa Eropa, maka pada garis besarnya terjadi tiga pola pemikiran pembaharuan pendidikan Islam. Ketiga pola tersebut adalah: (1) pola pembaharuan pendidikan Islam yang berorientasi pada pola pendidikan modern di Eropa, (2) golongan yang berorientasi pada sumber Islam yang murni, (3) usaha yang berorientasi pada Nasionalisme.
1. Pola pembaruan yang berorientasi pada pendidikan modern di Barat
Mereka berpandangan, pada dasarnya kekuatan dan kesejahteraan yang dialami Barat adalah hasil perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang mereka capai. Golongan ini berpendapat bahwa apa yang dicapai oleh Barat sekarang ini merupakan pengembangan dari ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang pernah berkembang di dunia Islam. Maka untuk mengembalikan kekuatan dan kejayaan umat Islam, sumber kekuatan itu harus dikuasai kembali. Cara pengembalian itu tidak lain adalah melalui pendidikan, karena pola pendidikan Barat dipandang sukses dan efektif, maka harus meniru pola Barat yang sukses itu. Pembaharuan pendidikan dengan pola Barat, mulai timbul di Turki Utsmani akhir abad XXI H. /XVII M. setelah mengalami kalah perang dengan berbagai negara Eropa Timur pada masa itu.
Pada dasarnya, mereka (golongan ini) berpandangan bahwa pola pendidikan Islam harus meniru pola Barat dan yang dikembangkan oleh Barat, sehingga pendidikan Islam bisa setara dengan pendidikan mereka. Mereka berpandangan bahwa usaha pembaharuan pendidikan Islam adalah dengan jalan mendirikan lembaga pendidikan/sekolah dengan pola pendidikan Barat, baik sistem maupun isi pendidikannya. Jadi intinya, Islam harus meniru Barat agar bisa maju.
2. Pola pembaruan yang berorientasi pada sumber Islam yang murni
Mereka berpendapat bahwa sesungguhnya Islam itu sendiri merupakan sumber dari kemajuan dan perkembangan peradaban Ilmu Pengetahuan modern. Dalam hal ini Islam telah membuktikannya. Sebab-sebab kelemahan umat Islam meurut mereka adalah karena tidak lagi melaksanakan ajaran Agama Islam sebagaimana mestinya. Ajaran Islam yang sudah tidak murni lagi digunakan untuk sumber kemajuan dan kekuatan. Pola ini dilakukan oleh Muhammad bin Abdul Wahab, Jamaluddin Al-Afghani, dan Muhammad Abduh.
Di samping itu, dengan berhentinya perkembangan ilmu yang ditandai dengan penutupan pintu ijtihad, umat Islam telah kekurangan daya untuk mengatasi problematika hidup yang menantangnya sebagai akibat dari perubahan dan perkembangan zaman. Pola pembaharuan ini telah dirintasi oleh Muhammad bin Abdul Wahab, kemudian dicanangkan kembali oleh Jamaluddin al- Afghani (akhir abad XIX M). Menurut Jamaluddin al-Afghani, pemurnian ajaran Islam dengan kembali kepada al-Qur’an dan al- Hadits dalam artinya yang sesungguhnya, tidaklah mungkin tidak dilakukan. Ia berkeyakinan bahwa Islam adalah sesuai untuk semua bangsa, zaman dan semua keadaan.
Dalam hal ini, apabila ditemukan adanya pertentangan antara ajaran Islam dengan kondisi yang ada pada perubahan zaman, penyesuaian akan diperoleh dengan mengadakan interpretasi baru
pada ajaran Islam. Oleh karenanya, pintu ijtihad harus dibuka.
Menurut Jamaluddin Al-Afghani, kemunduran umat Islam bukanlah karena Islam, sebagaimana dianggap oleh kebanyakan orang karena tidak sesuai dengan perubahan zaman dan kondisi baru. Umat Islam mundur, karena telah meninggalkan ajaran-ajaran Islam yang sebenarnya dan mengikuti ajaran yang datang dari luar lagi asing bagi Islam. Ajaran Islam sebenarnya hanya tinggal dalam ucapan dan diatas kertas. Jadi, umat Islam harus kembali kepada ajaran Islam murni yang tidak terkontaminasi oleh ajaran dan paham asing. Kalau manusia berpedoman kepada agama, ia tidak sesat untuk selama- lamanya.
3. Orientasi pendidikan Islam ke arah nasionalisme
Golongan ini melihat di Barat rasa Nasionalisme ini timbul bersamaan dengan berkembangnya pola kehidupan modern sehingga mengalami kemajuan yang menimbulkan kekuatan politik yang berdiri sendiri. Keadaan ini pada umumnya mendorong Bangsa timur dan bangsa terjajah lainnya untuk mengembangkan nasionalisme mereka masing-masing. Yang mendorong berkembangnya nasionalisme adalah karena kenyataannya mereka terdiri dari berbagai bangsa dengan latar belakang dan sejarah perkembangan kebudayaan yang berbeda satu sama lain.
Golongan ini berusaha memperbaiki kehidupan umat Islam dengan memperhatikan situasi dan kondisi objektif umat Islam yang bersangkutan. Dalam usaha mereka bukan semata mengambil unsur- unsur budaya Barat yang sudah maju, tetapi juga mengambil unsur dari budaya warisan bangsa yang bersangkutan. Ide kebangsaan inilah yang akhirnya menimbulkan timbulnya usaha merebut kemerdekaan dan mendirikan pemerintahan sendiri dikalangan pemeluk Islam.
Sebagai akibat dari pembaharuan dan kebangkitan kembali pendidikan ini terdapat kecendrungan dualisme sistem pendidikan kebanyakan negara tersebut, yaitu sistem pendidikan modern dan sistem pendidikan tradisional.