Sejarah sebuah tradisi agama merupakan dialog berkelanjutan antara realitas transenden dan peristiwa terkini di ranah duniawi. Orang yang beriman menyelidik masa lalu yang disucikan, mencari-cari pelajaran yang dapat berbicara secara langsung kepada kondisi kehidupan mereka. Sebagian besar agama memiliki figur utama, seorang individu yang menjelmakan ideal-ideal iman tersebut dalam sosok manusia.
Dalam merenungkan kesunyian Buddha, kaum Buddhis melihat realitas tertinggi Nirwana yang ingin diraih oleh masing-masing mereka; dalam Yesus, orang Kristen mendedah kehadiran ilahi sebagai kekuatan kebaikan dan kasih sayang di dunia. Sosok-sosok paradigmatik ini menerangi kondisi yang sering kali suram dalam dunia penuh cacat tempat kita mencari penyelamatan ini. Mereka menunjukkan kepada kita apa yang dapat diraih oleh manusia.
Kaum Muslim telah senantiasa memahami ini. Kitab suci mereka, Al-Quran, memberi mereka sebuah misi:
untuk menegakkan masyarakat yang adil dan layak, yang di dalamnya segenap anggotanya diperlakukan dengan hormat. Kesejahteraan politik komunitas Muslim dulu, dan juga kini, merupakan hal yang sangat penting.
Layaknya setiap cita-cita agama, hal itu nyaris mustahil untuk dipenuhi, namun setelah setiap kegagalan, kaum Muslim mencoba untuk bangkit dan memulai kembali.
Banyak ritual, filosofi, doktrin, teks suci, dan tempat suci Islam merupakan hasil dan kontemplasi atas peristiwa politik dalam masyarakat Islam yang sering kali menyakitkan dan kritis terhadap diri sendiri.
Kehidupan Nabi Muhammad (570-632 M) sama pentingnya dengan upaya perwujudan cita-cita Islam itu di zaman sekarang.
Perjalanan hidupnya menyingkapkan kerja Tuhan yang misterius di dunia, dan mengilustrasikan ketundukan sempurna (dalam bahasa Arab, kata untuk
"tunduk" adalah islam) yang harus dilakukan setiap manusia kepada yang ilahi. Sejak masa hidup Nabi, kaum Muslim telah berupaya untuk memaknai kehidupan beliau dan menerapkannya kepada kehidupan mereka sendiri. Kurang lebih seratus tahun semenjak wafatnya Muhammad, ketika Islam terus menyebar ke wilayah-wilayah baru dan mendapatkan pemeluk baru, para sarjana Muslim mulai mengompilasi kumpulan besar ucapan (hadis) dan kebiasaan (Sunnah) Nabi, yang kelak akan menjadi landasan bagi hukum Islam. Sunnah mengajarkan kaum Muslim untuk meneladani cara Muhammad berbicara, makan, mencintai, bersuci, dan beribadah, agar dalam detail-detail terkecil kehidupan sehari-hari mereka, mereka mereproduksi kehidupan beliau di muka bumi dengan harapan mereka akan meraih kecenderungan batin Nabi untuk tunduk sepenuhnya kepada Tuhan.
Pada masa yang kurang lebih bersamaan, pada abad kedelapan dan kesembilan, sejarahwan Muslim yang pertama mulai menuliskan riwayat hidup Nabi Muhammad: Muhammad ibn Ishaq (w. 767); Muhammad ibn 'Umar Al-Waqidi (w. s. 820); Muhammad ibn Sa'd (w.
845); dan Abu Jar'ir Ath-Thaban (w. 923). Para sejarahwan ini tidak sekadar mengandalkan ingatan dan kesan-kesan mereka sendiri, melainkan sedang mengupayakan rekonstruksi sejarah yang serius.
Mereka memasukkan dokumen-dokumen awal dalam narasi mereka, melacak tradisi lisan hingga ke sumber aslinya, dan, kendati memuliakan Muhammad sebagai hamba Allah, mereka bukannya sama sekali tidak kritis.
Sebagian besar lantaran upaya-upaya merekalah kita tahu lebih banyak tentang Muhammad daripada tentang hampir semua pendiri tradisi-tradisi religius besar lainnya. Sumber-sumber awal ini tak dapat diabaikan oleh para penulis biografi Nabi yang belakangan, dan saya akan sering merujuk kepada mereka di halaman- halaman buku ini.
Karya biografer Muhammad yang pertama barangkali tidak akan memuaskan bagi seorang sejarahwan modern.
Mereka adalah orangorang dan masa mereka sendiri dan sering memasukkan kisah-kisah mukjizati dan bersifat legendaris yang akan ditafsirkan secara berbeda hari ini.
Tetapi mereka sadar akan kerumitan bahan mereka.
Mereka tidak mengajukan satu teori atau interpretasi atas peristiwa-peristiwa tertentu sembari mengabaikan yang lainnya. Terkadang mereka menjajarkan dua versi yang berbeda atas sebuah peristiwa, dan memberikan bobot yang setara kepada kedua kisah, sehingga para pembaca bisa membuat keputusan mereka sendiri.
Mereka tidak selalu setuju dengan riwayat yang mereka muat, tetapi mencoba untuk menyampaikan kisah Nabi mereka sejujur dan sebenar mungkin yang mereka bisa.
Ada bagian-bagian yang hilang dalam pengisahan mereka. Kita nyaris tak tahu apa-apa tentang kehidupan awal Muhammad sebelum beliau mulai menerima apa yang diyakininya sebagai wahyu dan Allah pada usia empat puluh. Tak pelak, legenda-legenda penuh pemujaan berkembang tentang kelahiran Muhammad,
masa kecil dan masa mudanya, namun ini benar-benar lebih memiliki nilai simbolis daripada historis.
Juga sangat sedikit bahan tentang karier politik Muhammad yang awal di Makkah. Pada masa itu, beliau merupakan sosok yang relatif samar, dan tak seorang pun berpikir ada manfaat untuk merekam aktivitasnya.
Sumber informasi utama kita adalah kitab suci yang dibawakannya dalam bahasa Arab. Selama kurang lebih dua puluh tiga tahun, dan sekitar 610 hingga wafatnya pada 632, Muhammad menyatakan bahwa beliau adalah penerima pesanpesan langsung dan Tuhan, yang dikumpulkan menjadi teks yang kelak dikenal sebagai Al- Quran. Kitab ini tidak memuat kisah yang terang tentang kehidupan Muhammad, tentu saja, tetapi turun kepada Nabi sedikit demi sedikit, sebaris demi sebaris, ayat demi ayat, surah demi surah. Kadang-kadang, wahyu itu berkenaan langsung dengan situasi khusus di Makkah atau Madinah. Di dalam Al-Quran, Tuhan menjawab para pengkritik Muhammad; beliau meninjau argumen mereka; beliau menjelaskan arti penting yang lebih mendalam dan sebuah pertempuran atau perselisihan di dalam masyarakat itu. Ketika setiap kumpulan ayat baru diwahyukan kepada Muhammad, kaum Muslim menghafalkannya, dan mereka yang bisa menulis menuliskannya.
Kompilasi Al-Quran resmi yang pertama dibuat pada 650, dua puluh tahun setelah kematian Muhammad,dan meraih status kanonik.
Al-Quran merupakan firman suci Allah, dan otoritasnya tetap bersifat mutlak. Tetapi kaum Muslim tahu bahwa menafsirkan Al Quran tidak selalu mudah.
Hukum-hukum Al-Quran mula-mula diserukan kepada
sebuah komunitas kecil, tetapi satu abad setelah wafat Nabi, kaum Muslim menguasai sebuah kekaisaran yang luas, merentang dan Himalaya hingga Pirenia.
Lingkungan mereka sama sekali berbeda dan lingkungan Nabi dan kaum Muslim pertama, dan Islam harus berubah dan beradaptasi. Esai-esai pertama dalam sejarah Muslim ditulis untuk menjawab kebingungan ini.
Bagaimana kaum Muslim bisa menerapkan wawasan dan kebiasaan Nabi untuk masa mereka sendiri? Ketika para biografer awal menyampaikan kisah kehidupan Nabi, mereka mencoba untuk menjelaskan beberapa ayat Al- Quran dengan mereproduksi konteks historis ketika wahyu tersebut disampaikan kepada Muhammad.
Dengan memahami apa yang telah mendorong munculnya ajaran Al-Quran tertentu, mereka bisa mengaitkannya dengan situasi mereka sendiri dengan menggunakan proses analogi yang ketat. Para sejarahwan dan pemikir masa itu percaya bahwa mempelajari perjuangan Nabi untuk membuat firman Tuhan didengar pada abad ketujuh akan membantu mereka melestarikan semangatnya pada masa mereka sendiri. Dan awal sekali, menulis tentang Nabi Muhammad tak pernah merupakan pekerjaan yang sepenuhnya bertujuan mengenangkan masa lalu (antiquarian). Proses tersebut berlanjut hingga kini.
Sebagian fundamentalis Muslim melandaskan ideologi militan mereka pada kehidupan Muhammad;
kaum ekstremis Muslim yakin bahwa beliau tentu akan memaafkan dan mengagumi perbuatan kejam mereka.
Kaum Muslim lain terperangah dengan klaim ekstremis ini, dan menunjukkan pluralisme Al-Quran yang sangat luar biasa, yang mengutuk tindakan agresi dan memandang semua agama yang diberi petunjuk dengan
benar sebagai agama-agama yang berasal dan satu Tuhan.
Kita memiliki sejarah panjang Islamofobia dalam budaya Barat yang berakar jauh sejak masa Perang Salib.
Pada abad kedua belas, para pendeta Kristen di Eropa berkeras bahwa Islam merupakan agama pedang yang kejam, dan bahwa Muhammad merupakan seorang penipu yang memaksakan agamanya pada dunia yang enggan menerimanya dengan kekuatan senjata; mereka menyebutnya seorang bernafsu besar dan berkelainan seksual. Versi menyimpang tentang kehidupan Nabi ini menjadi salah satu ide yang diterima oleh Barat, dan orang Barat selalu merasa sulit untuk memandang Muhammad dalam sorotan yang lebih objektif. Sejak penghancuran World Trade Center pada 11 September 2001, para anggota Christian Right di Amerika Serikat dan beberapa media Barat telah melanjutkan tradisi kebencian ini, dengan menuduh bahwa Muhammad adalah seorang pecandu perang. Sebagian bahkan lebih jauh lagi menyebutnya sebagai seorang teroris dan pedofili.
Kita tidak bisa lagi membiarkan kebencian semacam itu, karena ini menguntungkan para ekstremis yang bisa menggunakan pernyataan tersebut untuk "membuktikan"
bahwa dunia Barat memang sedang menggalang serangan Perang Salib baru terhadap Dunia Islam.
Muhammad bukanlah seorang yang kejam. Kita mesti mendekati kehidupannya dalam cara yang seimbang agar dapat mengapresiasi capaian-capaiannya yang besar.
Memelihara prasangka yang tak akurat bisa merusak toleransi, kebebasan, dan bela rasa yang semestinya mencirikan budaya Barat.
Saya menjadi yakin akan hal ini lima belas tahun lalu, setelah fatwa Ayatullah Khomeini yang menetapkan hukuman mati bagi Salman Rushdie dan penerbitnya karena apa yang dipersepsi sebagai penghujatan tentang Muhammad dalam Ayat-Ayat Setan. Saya membenci fatwa itu dan yakin bahwa Rushdie memiliki hak untuk menerbitkan apa pun yang dia pilih, tetapi saya terganggu oleh sebagian pendukung liberal Rushdie yang secara halus beralih dan pengecaman fatwa tersebut kepada pengutukan Islam itu sendiri tanpa hubungan sama sekali dengan fakta-fakta. Tampaknya keliru untuk membela prinsip liberal dengan menghidupkan kembali prasangka Abad Pertengahan. Kita sepertinya tidak belajar apa-apa dan tragedi 1930-an, ketika jenis kebencian semacam ini membukakan peluang bagi Hitler untuk membunuh enam juta Yahudi.
Tetapi saya menyadari bahwa banyak orang Barat yang tidak punya kesempatan untuk merevisi kesan mereka tentang Muhammad, sehingga saya memutuskan untuk menuliskan sebuah kisah populer yang bisa dibaca orang banyak tentang riwayat hidupnya untuk melawan pandangan yang sudah berakar dalam ini. Hasilnya adalah Muhammad: A Biography of the Prophet, yang pertama kali terbit pada 1991. Akan tetapi, dengan terjadinya peristiwa 11 September, kita perlu berfokus pada aspek lain dan kehidupan Muhammad. Maka ini adalah sebuah buku yang sama sekali baru dan sepenuhnya berbeda, yang, saya harap, akan bicara secara lebih langsung kepada realitas dunia pasca 11 September yang mengerikan.
Sebagai sosok yang paradigmatik, Muhammad menyampaikan pelajaran penting, bukan hanya kepada
kaum Muslim, melainkan juga kepada orang-orang Barat.
Kehidupannya adalah sebuah jihad: seperti yang akan kita lihat, kata ini tidak berarti "perang suci", melainkan
"perjuangan". Muhammad secara harfiah berpeluh- peluh dengan upayanya untuk menghadirkan kedamaian di dunia Arab yang tercabik oleh perang, dan kita butuh orang yang siap untuk melakukan hal tersebut hari ini.
Hidupnya merupakan kampanye tanpa lelah untuk melawan ketamakan, kezaliman, dan keangkuhan. Beliau menyadari bahwa tanah Arab sedang berada pada titik balik dan bahwa cara pikir lama tidak lagi memadai.
Maka, beliau mempertaruhkan dirinya sendiri dalam upaya kreatif untuk mengembangkan sebuah solusi yang sama sekali baru. Kita memasuki era sejarah yang lain pada 11 September, dan harus berjuang dengan kesungguhan yang setara untuk mengembangkan cara pandang yang baru.
Anehnya, peristiwa-peristiwa yang berlangsung di Arab abad ketujuh mengajarkan banyak hal kepada kita tentang peristiwa-peristiwa di masa kita dan arti pentingnya yang mendasar jauh lebih banyak, sesungguhnya, daripada ucapan-ucapan para politisi yang pintar bersilat lidah. Muhammad tidak sedang mencoba memaksakan ortodoksi agama beliau tidak terlalu tertarik pada metafisika melainkan mengubah hati dan pikiran orang-orang. Beliau menyebut semangat yang sedang menyebar luas di zamannya sebagai jahili ah.
Kaum Muslim biasanya memahami ini sebagai berarti "zaman kebodohan", yakni periode pralslam di Arab. Akan tetapi, seperti yang ditunjukkan oleh riset terbaru, Muhammad menggunakan istilah jahili ah untuk merujuk bukan kepada era sejarah, melainkan kepada
keadaan pikiran yang menyebabkan kekerasan dan teror di Arab abad ketujuh. Saya akan menunjukkan bahwa jahili ah juga banyak terdapat di Barat hari ini, sebagaimana juga di dunia Muslim.
Muhammad secara paradoks menjadi sosok pribadi yang tak lekang oleh waktu justru karena beliau begitu berakar di dalam periodenya sendiri. Kita hanya bisa memahami pencapaian ini jika kita mau mengerti apa yang dihadapinya pada saat itu. Untuk dapat melihat kontribusi apa yang bisa diberikannya kepada kesulitan yang sedang menimpa kita sendiri saat ini.kita mesti memasuki dunia tragis yang menjadikannya seorang nabi hampir seribu empat ratus tahun silam, di puncak sebuah gunung yang sepi tak jauh dan pinggiran kota suci Makkah. []
***