153 152
pulsive judgement) tentang seseorang dan pada umumnya dengan empati dia akan menjadi lebih sensitif dan ikhlas.
Warmth
Hubungan yang saling membantu (Helping Relationship) dilakukan untuk memberikan kesempatan klien mengeluarkan ”unek-unek” (perasaan dan ni- lai-nilai) secara bebas. Dengan kehangatan, perawat akan mendorong klien untuk mengekspresikan ide-ide dan menuangkannya dalam bentuk perbuat- an tanpa rasa takut dimaki atau dikonfrontasi. Suasana yang hangat, permisif, dan tanpa adanya ancaman menunjukkan adanya rasa penerimaan perawat terhadap klien.
Sehingga klien dapat mengekpresikan perasaanya secara lebih bebas dan mendalam. Kondisi ini akan membuat perawat mempunyai keempatan lebih luas untuk mengetahui kebutuhan klein. Kehangatan juga dapat dikomuni- kasikan secara nonverbal. Penampilan yang tenang, suara yang meyakinkan, dan pegangan tangan yang halus menunjukkan rasa belas kasihan atau kasih sayang perawat kepada klien.
155 154
4) Perawat harus menyadari pentingnya kebutuhan pasien baik fisik mau- pun mental
5) Perawat harus menciptakan suasana yang memungkinkan pasien memi- liki motivasi untuk mengubah dirinya baik sikap maupun tingkah laku- nya sehingga tumbuh makin matang dan dapat memecahkan masalah- masalah yang dihadapi
6) Perawat harus mampu menguasai perasaan sendiri secara bertahap un- tuk mengetahui dan mengatasi perasaan gembira, sedih, marah, keber- hasiln maupun frustasi
7) Mampu menentukan batas waktu yang sesuai dan dapat mempertahan- kan konsistensinya
8) Memahami betul arti simpati sebagai tindakan yang terapeutik dan seba- liknya simpati yang bukan tindakan terapeutik.
9) Kejujuran dan komunikasi terbuka merupakan dasar dari hubungan tera- peutik
10) Mampu berperan sebagai role model agar dapat menunjukkan dan me- yakinkan orang lain tentang kesehatan, oleh karena itu perawat perlu mempertahankan suatu keadaan sehat fisik, mental, sosial, spiritual dan gaya hidup
11) Disarankan untuk mengekspresikan perasaan yang dianggap meng- ganggu
12) Perawat harus enciptakan suasana yang memungkinkan pasien bebas berkembang tanpa rasa takut
13) Altruisme, mendapatkan kepuasan dengan menolong orang lain secara manusiawi.
14) Berpegang pada etika dengan cara berusaha sedapat mungkin keputus- an berdasarkan prinsip kesejahtraan manusia
15) Bertanggung jawab dalam dua dimensi yaitu tanggung jawab terha- dap dirinya atas tindakan yang dikaukan dan tanggung jawab terhadap orang lain tentang apa yang di komunikasikan.
Komunikasi Terapeutik
155 154
Tabel 7.4 : Fase-Fase Hubungan Terapeutik
Fase Tugas Perawat Contoh
Pra-interaksi - mengumpulkan data tentang klien
- mengeksplorasi perasa- an, fantasi dan ketakut- an diri
- menganalisa kekuatan professional diri dan ke- terbatasan
- membuat rencana per- temuan dengan klien (kegiatan, waktu, tem- pat)
- Perawat menggali pe- rasaan diri, kecemas- an,pengalaman dan tingkat pengetahuan yang dimiliki tentang latihan batuk efektif - Mencari data-data kli-
en dan mengobservasi keadaan klien, sebelum melakukan komunikasi terapeutik
- Siapkan rencana perca- kapan baik secara tertu- lis ataupun tidak tertulis Orientasi - memberikan salam dan
tersenyum pada klien - memperkenalkan diri
dan menanyakan nama klien
- melakukan validasi (kog- nitif, psikomotor, afektif) pada pertemuan beri- kutnya
- menentukan mengapa klien mencari pertolong- an
P : Selamat pagi, Bu Tuti K : Selamat pagi, suster P : Kenalkan saya... biasa di- panggil suster ..., nama ibu siapa ?
K : oh, iya, nama saya tuti P : Sepertinya Bu Tuti tampak lebih segar sekarang
K : Pagi ini saya merasa senang sekali, karena nafas sudah lega dan tidak sesak seperti kemarin, tapi kadang-kadang masih batuk.
Komunikasi Terapeutik
157 156
- menyediakan keperca- yaan, penerimaan, dan komunikasi terbuka - membuat kontrak tim-
bale balik
- mengeksplorasi pera- saan klien, pikiran dan tindakan
- mengidentifikasi masa- lah klien
- mendefinisikan tujuan dengan klien
- menjelaskan waktu yang dibutuhkan untuk mela- kukan kegiatan
- menjelaskan kerahasia- an
Oh ya, kemarin suster men- janjikan sesuatu pada saya, untuk latihan batuk efektif, Apakah akan dilakukan seka- rang sus ?
P : Ya bu, saya lihat kondisi ibu sekarang lebih baik dan tidak sesak, ini saat yang paling te- pat untuk latihan, apakah ibu setuju kalau latihan ini kita lakukan sekarang ?
K : Setuju Suster, saya sudah siap kok.
P : Baiklah kita butuh waktu 20 – 30 menit untuk melaku- kan latihan ini
Kerja - memberi kesempatan klien untuk bertanya - menanyakan keluhan
utama/keluhan yang mungkin berkaitan de- ngan kelancaran pelak- sanaan kegiatan - memulai kegiatan de-
ngan cara yang baik - melakukan kegiatan se-
sui rencana
P : Ibu pernah dengar istilah batuk efektif ?
K : Yang saya dengar, ya ba- tuk, itu saja suster, tidak ada kata efektifnya, kalau batuk sih, setiap orang pasti meng- alami kan suster, biasanya se- seorang akan batuk kalau ada rangsangan dari tenggorok- an akibat debu atau mung- kin seseorang sakit saluran pernafasannya, apa mungkin begitu sus !
Komunikasi Terapeutik
157 156
P : Memang betul pendapat ibu, perlu saya tambahkan, bahwa batuk efektif itu meru- pakan batuk yang produktif, artinya batuk yang dapat me- ngeluarkan dahak, jadi kalau ibu batuknya misalnya ter- dengar suara “ grok grok”, itu berarti ada lendir disana dan ini harus dikeluarkan.
K : Jadi cara mengeluarkan- nya dengan batuk efektif itu ya sus ?
P : Ya, Bu Tuti
K : Kalau begitu segera ajari saya latihan batuk efektif ini sus.
P : Kelihatannya ibu tertarik sekali ya !
Sekarang coba ibu duduk di tepi tempat tidur ini, dan saya akan memberikan contoh la- tihan batuk efektif ini.
K : Ya suster
P : Mari ibu saya bantu duduk K : Saya bisa sendiri kok sus P : Nah, sekarang saya akan memberi contoh bentuk la- tihan batuk efektif ini
Komunikasi Terapeutik
159 158
Pertama-tama kita tarik na- fas dalam, sesudah itu tahan nafas selama 2 detik, dan se- gera batukkan 2 kali, batuk pertama batuk kecil dan yang kedua usahakan batuk yang kuat. ( Perawat melakukan demonstrasi ), jangan lupa sebelumnya siapkan dulu pe- nampung dahak, ya bu ? K : Ya suster, oh ya, apa man- faatnya batuk kecil dan batuk kuat itu, sus ?
P : Batuk kecil biasanya untuk melepaskan lendir sedang- kan batuk kuat untuk mendo- rong lendir keluar
K : Sekarang saya sudah jelas sus, saya ingin segera menco- banya
Terminasi - menciptakan realitas perpisahan
- menyimpulkan hasil ke- giatan: evaluasi hasil dan proses
- saling mengeksplorasi perasaan penolakan, ke- hilangan, sedih, marah dan perilaku lain
P : Kalau ibu sudah menger- ti, sebelum ibu melakukan latihan ini, coba ibu jelaskan pengertian batuk efektif dan manfaatnya !
K : Batuk efektif merupakan teknik batuk produktif yang bertujuan untuk mengeluar- kan dahak atau lendir .
Komunikasi Terapeutik
159 158
- memberikan reinforce- ment positif
- merencanakan tindak lanjut dengan klien - melakukan kontrak
untuk pertemuan selan- jutnya (waktu,tempat, topic)
- mengakhiri kegiatan de- ngan baik
P : Betul Bu, nah, sekarang coba ibu untuk latihan batuk efektif ini
K : Ya sus, kalau salah tolong beritahu ya
P : Tentu, Bu!
Sambil membawa penam- pung dahak, klien mencoba menarik nafas dalam, selan- jutnya klien tampak menahan nafas (sambil melihat arloji , agar tepat 2 detik), setelah itu klien membatukkannya seba- nyak 2 kali, tapi dahak tidak keluar, klien mencoba sekali lagi, kali ini dahak keluar dan ia tampung di tempat yang sudah disediakan.
K : Wah saya berhasil dalam latihan ini ya, sus
P : Ya bu, mulai sekarang , kalau batuk usahakan batuk yang efektif agar lendir yang mengganggu pernafasan ibu bisa bersih.
K : Ya suster saya akan lakukan saran – saran dari suster P : Oh itu Dokter Nardi rupa- nya akan visite Bu, dan saya harus mendampingi beliau, bagaimana jika pertemuan ini kita akhiri sekarang ?
Komunikasi Terapeutik
161 160
K : Oh tidak apa-apa sus- ter, terima kasih ya atas bantuannya.nanti kalau ada waktu kita kan bisa berbin- cang-bincang lagi, kan sus ? P : Tentu, nanti kalau ada waktu saya siap untuk ber- bincang-bincang lagi dengan ibu, sudah ya Bu Tuti
K : Ya, suster. Trimakasih