• Tidak ada hasil yang ditemukan

Problem Kerukunan: Kategorisasi Konflik Berlatar Agama

Dalam dokumen Download (2MB) - Repository IAIN Kediri (Halaman 47-56)

Bab V Kerukunan Umat Muslim-Tionghoa di Kota Kediri

D. Problem Kerukunan: Kategorisasi Konflik Berlatar Agama

36 Rule Model Kerukunan Umat Beragama

ketika yang minoritas ingin membangun tempat ibadah di daerah yang mayoritas muslim, maka umat Islam mesti bersikap resiprokal, dengan cara memosisikan dirinya pada posisi orang lain. Berpikir sama, ketika pada daerah tertentu, di mana umat Islam berjumlah minoritas, di sisi lain agama lain mayoritas, maka yang mayoritas tidak boleh bersikap diskriminatif terhadap yang minoritas. Secara tidak langsung, yang mayoritas merasakan seperti minoritas dan sebaliknya juga demikian.

Namun sebenarnya, istilah mayoritas dan minoritas tidak pantas melekat pada negara yang menjunjung tinggi sikap toleransi dan demokrasi.59 Semua warga negara adalah satu kesatuan, sekalipun ada, hal itu hanya untuk data statistik yang tidak berpengaruh pada kebijakan dan kekuasaan dalam ranah sosial dan kenegaraan. Prinsip kebersamaan (equal) menghilangkan kata-kata “kelompok besar atau kelompok kecil”, istilah tersebut tidak mengisyaratkan pembedaan hak. Negara Pancasilais, tidak memandang mayoritas dan minoritas, ketika telah berada pada satu negara kesatuan, maka semuanya memiliki hak yang sama untuk mewujudkan kerukunan sejati.

D. Problem Kerukunan: Kategorisasi Konflik

konflik keagamaan. Konflik memiliki makna berbeda dengan kekerasan, tidak dapat disamakan.jika disamakan akan fatal, karena semua bentuk konflik tentu harus ada aksi anarkisme.

Menurut hemat penulis, kekerasan hanyalah bagian kecil dari cara penyelesaian konflik. Selain dengan kekerasan, konflik juga dapat diselesaikan dengan cara islah. Sehingga, konflik tampak lebih mapan dan bijaksana.

Dalam hal ini, johan Galtung berpendapat:

Violence is anything that prevents people from self-actualizing (any avoidable impediment to self-realization). Implies two categories of violence, namely first, direct or personal violence, namely violence perpetrated by one party against another party, and second, indirect or structural violence, namely violence that occurs built-in in the structure, so that it does not there is a direct culprit. Children who live in poverty and cannot afford to go to school are not directly caused by someone’s crime, but the inability to actualize themselves in the education they need is due to an unfair social structure. With this conceptualization of structural violence, the state can be considered as the main actor and the one who perpetrates violence the most, because the state determines the conditions that cause a person to be prevented from self-actualizing or fulfilling their basic needs. Violence that is structural in nature by the state will certainly lead to new violence committed by the community / society as a reaction to violence perpetrated by the state.

Thus this conceptualization shows that violence can occur at two levels, the first is at the state level and the second is at the community level. In another explanation, Galtung then added another typology of violence, namely the three cultural violence. So Galtung’s theoretical concept of violence forms a triangle of violence. According to Galtung, cultural violence is a cultural space, namely a symbolic space for

38 Rule Model Kerukunan Umat Beragama

human existence, defensiveness, violence because it is to protect oneself as exemplified in religion and ideology, art and language, science that can be used to justify or legitimize direct and structural violence. The party symbol, the cross, the crescent moon, the totem, the lecture, the song, the story, is something that exists in the cognitive system/

human mind, or exists in symbolic space that can become a source and legitimize direct or structural violence.60 Secara pemaknaan yang sederhana, konflik adalah hubungan yang tidak sekata antara dua belah pihak atau lebih yang memiliki tujuan kepentingan berbeda.61 Pada definisi ini, jelas bahwa akar konflik adalah “ketidakselarasan” (tapi bukan perbedaan) tentang suatu hal. Kehidupan sehari-hari, kerapkali ditemui ketidaksamaan, perbedaan pendapat, ide, pemikiran, tindakan dan sebagainya.

Semisal ketidaksamaan pendapat antara suami dan istri, antara pekerja dengan pemilik modal, pemeluk Agama Islam ingin mendirikan tempat ibadah namun ditentang oleh agama lain, ini namanya konflik.

Dalam literasi lain, johan Galtung (2003) mengatakan bahwa kekerasan adalah ucapan atau tindakan yang berakibat pada bentuk anarkis, kerusakan, brutal secara fisik, jiwa maupun lingkungan dan berdampak pada orang lain bersifat merugikan.62

60 Dengan asumsi ini, maka kekerasan dengan konflik sangat berbeda namun memiliki keterkaitan.

Kekerasan adalah sikap keras baik fisik maupun nonfisik, sedangkan konflik adalah hal yang tidak selaras antara kenyataan dengan idealitas. Namun konflik juga dimaknai dengan bagian umum dari kekerasan, secara tidak langsung, kekerasan adalah bagian dari konflik yang berupa cara penyelesaian. Lihat johan Galtung, “On The Social Costs of Modernization: Social Desinteration, Atomie/Anomie and Social Development” dalam Development Change, 27(2) 2012, 67.

61 Konflik berasal dari kata latin “con” yang berarti “bersama” dan “fligere” yang berarti

“benturan atau tabrakan”. jika disatukan, arti konflik secara etimologis adalah “benturan secara bersamaan”, pemahaman bebasnya adalah benturan kepentingan atau tujuan yang terjadi secara bersama dalam satu waktu. juga bisa diartikan dengan percekcokan, perselisihan atau pertentangan. Secara terminologis, oleh Coser (1992) sebagaimana dikutip Elly (2011) adalah proses pencapaian tujuan dengan cara melemahkan pihak lawan tanpa memperhatikan aturan, norma, etika maupun nilai yang berlaku. Pengertian ini identik dengan politik kekuasaan, di mana terdapat tujuan yang akan dicapai dengan cara melemahkan lawan. Namun lebih dari sekadar hal tersebut, karena tujuan bisa jadi ekonomi, sosial, pendidikan dan sebagainya. Lihat Elly M. Setiadi; Usman Kolip, Pengantar Sosiologi Pemahaman Fakta dan Gejala Permasalahan Sosial: Teori, Aplikasi dan Pemecahannya. jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011, 345.

62 Temesgen Tilahun, “johan Galtung’s Concept of Positive and Negative Peace in the Contemporary Ethiopia: an Appraisal”, Academicresearch Journals, 3(6) 2015, 1-8.

Dengan pemaknaan ini, maka kekerasan lebih kepada “aksi”

bukan “situasi”. Tidak setiap konflik bersifat anarkis atau keras, tergantung bagaimana resoler mengambil langkah untuk menyelesaikan dengan halus atau kekerasan.

Dengan demikian, konflik bisa saja bersifat desktruktif namun bisa pula konstruktif, tergantung bagaimana manajemen yang digunakan saat menyelesaikan konflik. Kita bisa melihat dalam realita sosial, konflik yang dikelola dengan tepat dapat menghasilkan manfaat. Seperti keberadaan preman di suatu daerah, yang sebelumnya mengancam kenyamanan dan keamanan daerah, kemudian diberikan peran sebagai aparat keamanan.63 Semisal lagi, konflik antar gerakan keagamaan (sekte, aliran) dapat selesai dengan cara-cara adat dan menambah rasa saling menghormati antar perbedaan.64

Dari pengertian dan penggambaran di atas, kita dapat membedakan antara konflik dengan kekerasan. Selain itu, terdapat pula konflik yang berlatar atau mengatasnamakan agama, yaitu perselisihan berupa klaim, identitas dan ideologi yang membawa- bawa isu keagamaan atau dibingkai seolah-olah berdiri di atas agama. Bisa jadi, konflik yang terjadi benar-benar terkait dengan

63 Dalam salah satu penelitian Wasisto Raharjo jati (2017), mengungkap suatu fenomena kepala daerah yang mampu mengelola posisi preman di Yogyakarta menjadi abdi masyarakat dan pengembangan ekonomi mikro. Preman ditempatkan di pos-pos penjagaan seperti lahan parkir, pasar, mall, menyelesaikan masalah-masalah masyarakat yang berhubungan dengan korporat maupun pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Peran preman diposisikan sebagai pahlawan masyarakat yang membela masyarakat. Lihat lebih lengkap penelitiannya, Wasisto Raharjo jati, “Kuasa dan Kekerasan: Kelembagaan Premanisme Yogyakarta Pasca Reformasi”, Jurnal Sosiologi Islam, 2(1) 2012, 74.

64 Sebagaimana yang diutarakan oleh Wasisto Raharjo jati dalam penelitiannya mengatakan bahwa konflik gerakan keagamaan yang terjadi di negara kita pada prinsipnya merupakan embrio dari ketidakadilan dan marginalisasi kelompok tertentu selama berabad-abad. Konflik gerakan keagamaan lebih mengarah pada perebutan sumber daya, ekonomi, politik dan birokrasi. Rata-rata konflik yang mengatasnamakan gerakan keagamaan tidak dapat diselesaikan dengan pendekatan hukum positif, melainkan harus dengan cara-cara halus seperti kearifan lokal. Sebab berbagai alasan; 1) konflik bersifat keras, walaupun tidak anarkis, hanya dengan cara-cara ringan dan santai dapat diselesaikan; 2) budaya atau kearifan lokal merupakan karakteristik yang disusun berdasar pada cipta dan karsa manusia, sehingga selalu relevan dengan kondisi masyarakat. Budaya juga lebih dekat pada prinsip individu dan masyarakat.

3) secara kultural, masyarakat Indonesia adalah negara berbudaya, segala hal yang terkait dengan agama tidak dapat dilepaskan dari persentuhan budaya setempat. Bahkan konon, agama diintegrasikan kedalam budaya yang telah hidup jauh sebelum agama diakui. Lihat dalam jurnal Wasito Raharjo jati, “Kearifan Lokal sebagai Resolusi Konflik Keagamaan”, Jurnal Walisongo, 21(1) 2013, 413-414.

40 Rule Model Kerukunan Umat Beragama

agama, bisa jadi pula di luar isu keagamaan namun dibingkai dilegitimasi menggunakan dalil-dalil agama. Pada pokoknya, agama sering ditempel-tempelkan untuk menguatkan true claim yang diperjuangkan.

Patrick Tort (2006) menganggap pemahaman agama yang bersifat true claim adalah bagian dari fanatisme, menurutnya:

Fanaticism is an ideology as a product of innocence, which is the subject’s ignorance of the nature of the object he believes in, relevant to characterizing belief. Beliefs are intrinsically related to ideology, which allows beliefs to be manipulated, made real, presented or represented as true, even though they are not true. If belief is closely related to ideology, then faith is not so — faith is a non-ideological actus, because it is based on the knowledge of what is the object of belief in such a way as to free it from false representations of the truth to which it believes. Seen from this point of view, fanaticism is a product of belief, not faith. The expression of religious fanaticism sounds redundant, because the denotation indicated by this expression is the fanaticism of belief wrapped in religion, and it is ideological.

Fanaticism, thus, cannot possibly be born from faith, but the result of amalgamation of beliefs and ideologies.

Religious fanaticism is a phenomenon of manipulation of aspects of belief in religion by ideology, but it is not faith itself. A faith cannot be fanatical, for it is an expression of a holistic and complete “need to believe” in itself. Faith becomes synonymous with religiosity or religious nature-the conception of man as homo religiosus lies here.65

65 jika demikian, fanatisme agama berangkat dari ketidaktahuan terhadap agama secara menyeluruh, atau diistilahkan dengan ketidakpahaman terhadap objek yang dipercayai. Pasalnya, kepercayaan berhubungan langsung dengan ideology yang memungkinkan kepercayaan itu dapat dimanipulasi, dipura-purakan karena ketidakpahamannya. Tentu dengan pemaknaan ini, fanatisme berhubungan dengan kepercayaan, tidak dengan keimanan. Secara tidak langsung, pengungkapan fanatisme atau menyalahkan agama lain dengan mengatakan kebenaran tunggal adalah bentuk kepercayaan semata, bukan bersumber dari hati. Akal dapat diseting

Bisa kita fleshback ke berbagai kasus klasik, terdapat beberapa kasus sesuai yang dimaksud di atas. Semisal pada tahun 1945, organisasi NU menyuarakan resolusi jihad untuk mengusir para penjajah yang hendak menghancurkan Surabaya.66 Nordin M. Top juga kerapkali mengutip ayat-ayat al-Quran untuk membenarkan tindakannya dan banyak lagi contoh lain. Posisi kita bukan untuk menilai benar atau salah, namun disadari atau tidak, konflik tersebut berdalih agama dengan cara melibatkan isu-isu keagamaan. Walaupun sebenarnya, pelibatan isu agama ini penting dilakukan untuk membedakan macam konflik yang non agama.

Model konflik tersebut, sama dengan konflik-konflik lainnya, dapat diselesaikan dengan kekerasan namun juga bisa secara damai. Selama ini, konflik berlatarbelakang agama sering melibatkan isu-isu beragam. Untuk menyelesaikannya, diperlukan analisis kritis agar tampak bentuk konflik keagamaan ke dalam kategorisasi.

Tujuan dari adanya kategorisasi adalah memudahkan analisis dan komunikasi sebagai isu utama yang melatarbelakangi konflik agama. Ali Fauzi (2009) menetapkan beberapa kategori konflik berlatar agama, dari kategori tersebut kelihatan dengan mudah langkah yang akan diambil.

1. Kategori isu komunal, suatu konflik yang melibatkan komunitas agama tertentu dengan agama lain. Seperti konflik Islam- Kristen yang terjadi di Poso Sulawesi Tengah. Isu penundaan agama pada kasus karikatur Nabi Muhammad.

2. Kategori isu politik keagamaan, yang paling senter terdengar

oleh elemen luar manapun termasuk lingkungan dan doktrin. Lihat Patrick Tort, Marz et le Probleme de Ideologie. Paris: Harmattan, 2006, 17.

66 Resolusi jihad hadir sebagai jawaban atas keragu-raguan pemerintah Indonesia dalam menghadapi para penjajah. Perjuangan yang banyak dipelopori oleh santri tersebut berhasil memukul mundur para penjajah. Menurut beberapa santri, resolusi jihad merupakan manifestasi dari bentuk nasionalisme ulama Indonesia untuk menunjukkan peran dan fungsinya mencintai negara.

Ada dua dampak dari perjuangan resolusi jihad ini; 1) menegaskan kedaulatan Indonesia sebagai bangsa merdeka dari bentuk penjajahan apapun; 2) menyatukan para pahlawan dan masyarakat untuk bergerak bersama melawan penjajah, yang kemudian melahirkan TNI.

Inggar Saputra, “Resolusi jihad: Nasionalisme Kaum Santri Menuju Indonesia Merdeka”, Jurnal Islam Nusantara, 3(2) 2019, 205-237.

42 Rule Model Kerukunan Umat Beragama

dari kategori ini adalah perjuangan menjadikan hukum negara ke dalam hukum syariah secara total dan bukan secara substansial, atau dikenal dengan istilah khilafah islamiyah.

Begitu juga dengan sikap anti pemerintah non muslim, menolak menteri yang beragama berbeda, menolak ideologi barat dan semacamnya.

Meminjam bahasa L.A. Kauffman diistilahkan dengan politik identitas keagamaan, di mana agama dijadikan tunggangan politik kelompok. Dalam suatu simposium, Kauffman mengatakan:

In the beginning, anti-violence politics originated from the student movement known as the student nonviolent coordinating committee, an organization operating in the United States in the early 1960s. Substantially, identity politics is related to the interests of members of social groups who feel excluded and dominated by the state. In America, there are so many movements in the name of religion to pass its interests, so that in 1993, America eliminated religious parties to run in the presidential election, so that religion was left free without contact with state politics. We know, like the Catholic bishops’ religious movement in America that encourages social justice to be implemented in America, it also implies not because of religious reasons. So it can be concluded that religious movements that often act in the name of religion are mostly supported by group interests.67 3. Kategori isu terorisme, konflik ini terkait dengan aksi-aksi

serangan teror yang terencana dan berkelompok, baik ditujukan kepada kelompok tertentu, orang asing maupun

67 Istilah “identitas politik keagamaan” ini memang masih kabur siapa yang dulu mencetuskan.

Tapi secara substantive dan praktik, telah banyak kelompok yang kerap menunggangi kepentingan kelompok menggunakan nama agama, di Amerika yang paling getol adalah Uskup Katolik. Menurut hemat penulis, kalau di Indonesia hal demikian telah lama hidup dan bahkan mulai masa kerajaan dulu, L.A. Kauffman, “the Anti-Politics of Identity”, Socialist Review, 20(1) 1990, 67-80.

pemerintah. Seperti ulah bom Bali yang dilakukan oleh kelompok Samudra dan juga serangan bom di jakarta.68 4. Kategori isu moral, seperti praktik perjudian, narkoba, prostitusi,

asusila dan semacamnya. Isu-isu tersebut dikategorikan isu keagamaan jika melibatkan kelompok keagamaan yang melakukan, atau dibingkai oleh para aktor yang dikenal ahli agama.

5. Kategori isu sektarian, yaitu konflik yang melibatkan perseteruan pemahaman ajaran komunitas agama tertentu sebagai sempalan dari kelompok yang lain. Semisal, dalam Islam ada kelompok Ahmadiyah, HTI dan sebagainya yang kerap memancing adanya konflik keagamaan. Di Kristen ada kelompok Gereja HKBP yang menjadi sekte di negara ini.69

68 Agus Handoko melakukan penelitian terhadap aksi terorisme atas nama agama, nyatanya gairah meletakkan jihad di atas nama agama (terorisme) memiliki beberapa alasan; 1) jihad yang dilakukan untuk menjaga dan mempertahankan keyakinan beragamanya dari gangguan politik maupun agama lain; 2) anggapan bahwa kalau wafat untuk berjihad dianggap mendapat tempat tertinggi bagi mereka yang meninggal dunia yang disebut dengan syahid.

3) kehidupan manusia akan berakhir bahagia, maka kematian harus ditempuh melalui jalan militansi. 4) keyakinan bahwa akan hidup kekal abadi di akhirat, maka untuk itu harus siap dan berada di garis terdepan dalam berjihad. Lihat Agus Handoko, “Analysis of Terrorism Crimes Impersonating Religion”, SALAM; Jurnal Sosial dan Budaya Syar’I, 6(2) 2019, 155-1178.

69 William R. Garrett, “Religion and the Legitimation of Violence”, dalam jeffrey K. Haden and Anson Shupe (eds.), Prophetic Religions and Politics. New York: Paragon House, 1986, 122.

Bab III

Model Resolusi Konflik

Keagamaan

Dalam dokumen Download (2MB) - Repository IAIN Kediri (Halaman 47-56)