BAB IV HASIL PENELITIAN
A. Profil Lokasi Penelitian
1. Sejarah singkat MTS. Muhammadiyah Salaka Kab. Takalar
MTS. Muhammadiyah Salaka Kab.Takalar didirikan pada Tahun 1954 oleh yayasan pendidikan pimpinan cabang Muhammadiyah Salaka Kab.Takalar.terletak dekat dengan perkampungan warga sehinnga membantu siswa untuk menuntut ilmu.
2. Profil Singkat MTS. Muhammadiyah Salaka Kab.Takalar
MTS. Muhammadiyah Salaka Kab.Takalar yang berada di Jl. H.
Manakku Dg. Maling Kec. Pattallassang, Kab. Takalar ini memiliki siswa sebanyak 121 siswa.
a. Identitas Sekolah
Nama Sekolah : MTS. Muhammadiyah Salaka Kab.Takalar Jenjang Pendidikan : SMP
Status Sekolah : Swasta b. Lokasi Sekolah
Alamat : Jl. H. Manakku Dg. Maling Kelurahan : -
Kecamatan : Pattallassang Kabupaten : Takalar
Kode Pos : 92212
38
c. Data Pelengkap Sekolah
SK Pendirian Sekolah : 23628/MPK/1954 Tanggal SK Pendirian : 10 Juni 1954
3. Kepemimpinan MTS. Muhammadiyah Salaka Kab. Takalar
Sejak MTS. Muhammadiyah Salaka KabTakalar didirikan telah dipimpin oleh 3 (tiga) Kepala Sekolah yaitu:
a. Dra. H. Ny. Aisyah Damapolii , Kepala MTS. Muhammadiyah Salaka Kab. Takalar yang pertama periode tahun 1954 sampai tahun 1990 b. H. Djalangkara, BA , Kepala MTS. Muahammadiyah Salaka Kab.
Takalar yang kedua periode tahun 1990 sampai tahun 1999
c. Drs. H. A. Hamid, M.Pd. Kepala MTS. Muhammadiyah Salaka Kab.
Takalar yang ketiga periode 1999 sampai tahun 2005
d. H. M. Tahir Nonci, S.ag Kepala MTS. Muhammadiyah Salaka Kab.
Takalar yang keempat periode 2005-2012
e. Drs. Muhammad Rusdi Amir. Kepala MTS. Muhammadiyah Salaka Kab. Takalar yang kelima periode 2012-2013
f. Bakhtiar T, S,Ag Kepala MTS. Muhammadiyah Salaka Kab. Takalar yang keenam periode 2013-2017
g. Wanti Dewayani, SE. Kepala MTS. Muhammadiyah Salaka Kab Takalar yang ketujuh periode 2017- Sekarang
4. Visi Misi MTS. Muhammadiyah Salaka Kab Takalar a. Visi
“ Terwujudnya Madrasah yang unggul dalam prestasi, padu dalam ilmu dan amal barakhlakul karimah dengan berwawasan lingkungan hidup”.
b. Misi
1. Menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas.
2. Meningkatkan kualitas pembelajaran dan mengembangkan semangat berprestasi peserta didik.
3. Meningkatkan kedisiplinan tenaga pendidik dan kependidikan
4. Membentuk perilaku berprestasi, pola pikir yang kritis dan kreatifpada siswa
5. Menanamkan sikap spiritual dan social dalam kegiatan kurikuler dan ekstrakulikuler.
Berdasarkan Visi Misi di atas peneliti dapat menyimpulkan bahwa keberadaan MTS. Muhammadiyah Salaka Kab. Takalar telah dirasakan sangat besar peran dan adilnya bagi pendidikan dan pembinaan generasi muda dan merupakan salah satu proses pembentukan manusia yang berkualitas, berkualitas dari segi intelektual maupun dari segi mental spiritual dalam upaya membangun bangsa kearah yang lebih baik, sehingga melahirkan generasi-generasi yang berkepribadianserta bertanggung jawab dengan keselarasan ilmu, iman dan amal.
Tabel 4.1
Keadaan Guru MTS. Muhammadiyah Salaka Kab. Takalar
No Nama Jabatan Status
1. Wanti Dewa yani,SE Kepala Sekolah GTY
2. Laode akbar nur,Spd.i Guru BK GTY
3. Fitriani,S.pd Guru Bahasa Inggris PNS
4. Sitti wahyuni. S.pd Guru matematka PNS 5. Harliati,.S.pd Bahasa seni budaya PNS 6. Mudira Zakaria,S.pd Bahasa Indonesia GTY
No Nama Jabatan Status
7. Nurliah ,S.pd Guru IPS GTY
8. Salmawati ,S.pd Guru TIK GTY
9. Irmawati ,Spd.i Guru SKI GTY
10. Rosliana hamid,S.pd.i Al-Qur‟an dan hadist GTY
11. Gerhanawati, S.Pd.i Guru fiqih GTY
12. Ilma ,S.pd.i Guru akidah akhlak GTY
13. Rahmatul Ummah Sudirman, S.pd
Guru PKN GTY
14. Hardiyanti, S.pd.i Guru SKI GTY
15. Nulianah,S.pd.i Guru Fiqih GTY
16. Arlinah Abbas, S.Pd Guru matematika GTY 17. Shaiful Muslim, S.Pd Guru penjaskes GTY 18. Laode akbar nur,Spd.i Al-Qur‟an dan hadist GTY 19. Hj. Khadijah S.Ag Guru seni budaya GTY 20. Irmawati, S.Pd.I Guru Bahasa arab GTY 21. Juliati T, S.pd GuruBahasa Indonesia GTY
22. St. Muslimah, S.Pd Guru Ipa GTY
23. Muh. Taufik, S.Pd Guru Penjaskes GTY
24. Mansur, S.E., S. Pd Guru IPS GTY
25. Ahmad Yasin, S. Pd Guru PKN GTY
26. Nurliah S.Pd. Guru muatan lokal GTY
Sumber Data: Diambil dari Tata Usaha MTS. Muhammadiyah Salaka Kab.Takalar 2019
Tabel 4.2
Keadaan Siswa MTS. Muhammadiyah Salaka Kab Takalar
No Kelas Jenis Kelamin
Jumlah Laki-Laki Perempuan
1. VII 23 25 48
2. VIII 20 20 40
3. IX 19 14 33
Jumlah 121
Sumber Data: Diambil dari Tata Usaha MTS. Muhammadiyah Salaka Kab.
Takalar 2019.
6. Fasilitas Sekolah
Pada dasarnya fasilitas yang berupa sarana dan prasarana adalah berfungsi sebagai faktor pendukung proses belajar mengajar. Oleh karena itu, maju dan mundurnya suatu sekolah akan banyak ditentukan oleh baik atau buruknya fasilitas yang dimiliki oleh sekolah tersebut:
Tabel 4.3
Gambaran Fasilitas MTS. Muhammadiyah Salaka Kab. Takalar
No Uraian keterangan
Jumlah Baik Rusak
1. Ruang kelas 6 - 6
2. Ruang Guru 1 - 1
3. Ruang TU 1 - 1
4. Ruangan Perpustakaan 1 - 1
5. Ruang Komputer 1 - 1
6. Ruang BK 1 - 1
7. Ruang UKS 1 - 1
8. Ruang Aula 1 - 1
9. Mushollah 1 - 1
10. Kantin 1 - 1
11. Parkiran Kendaraan 1 - 1
No Uraian keterangan
Jumlah Baik Rusak
12. WC Kantor 1 - 1
13. WC Guru 2 - 2
14. WC Siswa 3 1 4
15. Lapangan Olahraga 1 - 1
16. Taman Belajar 1 - 1
Sumber Data: Diambil dari Tata Usaha MTS. Muhammadiyah Salaka Kab.Takalar
B. Peran Pengawas Pendidikan Agama Islam dalam Meningkatkan Kemampuan Guru PAI di MTs Muhammadiyah Salaka.
Interaksi antara pengawas dan guru merupakan komponen penting dalam peningkatan profesionalisme proses pembelajaran. Proses tersebut menjadi kondisi dasar dalam proses belajar mengajar. Guru yang kompeten dan berperilaku positif cenderung memiliki siswa yang berprestasi tinggi dan memiliki ketrampilan positif dalam mengerjakan tugas-tugasnya. Guru yang profesional mampu menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan dan melibatkan siswa secara aktif dan cenderung lebih menguntungkan dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Oleh karena itu, kompetensi guru memberikan sumbangan positif terhadap dinamika pencapaian tujuan pembelajaran dan prestasi belajar siswa.
Seperti yang banyak dialami oleh para guru di MTs. Muhammadiyah Salaka. Atas saran dan masukan dari pengawas, mereka senantiasa melakukan inovasi dan menciptakan sebuah lingkungan yang belajar yang kondusif. Bagi mereka, jika suasana kelas masih gaduh dan kotor, proses belajar mengajar akan terhambat disebabkan suasana kelas yang tidak kondusif. Sitti Rosliana Hamid
misalanya mengakui bahwa setiap ada pengawas selalu memberikan perbaikan kepada guru dari masalah-masalah yang dihadapi dalam proses pembelajaran.
Selain itu, mereka selalu memberikan motivasi dan saran dalam hal proses dan metode pembelajaran. Para guru menjadi semangat dan terinspirasi hingga menunjukkan sikap – sikap profesional.
Setiap upaya yang dilakukan oleh pengawas pendidikan agama Islam dalam rangka meningkatkan prestasi kemampuan mengajar para guru tidak terlepas dari usaha guru pendidikan agama Islam itu sendiri dalam meningkatkan profesionalisme atas kinerjanya. Artinya sebagai guru bersangkutan hendaknya mempunyai motivasi yang tinggi terhadap profesinya sebagai guru. Namun motivasi ini tidak lahir dengan sendirinya. Para guru mengakui bahwa butuh adanya saling mempengaruhi satu sama lain. Dibutuhkan respon semua pihak, baik guru, peserta didik, kepala sekolah hingga pengawas. Semuanya itu akan melahirkan respon yang membuat para guru semakin termotivasi dalam melakukan tugasnya sebagai tenaga pendidik. Dalam perkembangannya, peningkatan profesionalisme adalah salah satu cara dari banyak cara yang bisa ditempuh.
Peningkatkan profesionalisme Guru Pendidikan Agama Islam adalah dengan memberikan kesempatan yang luas kepada para guru untuk mengikuti pelatihan- pelatihan PTK (penelitian tindakan kelas), work shop dan pengembangan penilaian. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan bapak Muh.
Amir H, S.Pd., MM bahwa:
Upaya Pengawas pendidikan agama Islam di MTs Muhammadiyah Salaka dalam rangka meningkatkan prestasi mengajar guru adalah bagaimana usaha dari masing- masing guru untuk meningkatkan profesionalismenya agar guru tersebut dapat total dalam menjalankan tugasnya. Prestasi mengajar guru sangat erat kaitannya dengan profesionalisme guru, apabila guru sudah ahli dan total dalam mengajar secara otomatis prestasi siswa juga akan meningkat. Sedangkan sekolah ini berusaha memberikan kesempatan yang luas kepada para gurunya untuk meningkatkan profesionalisme guru pendidikan Islam yaitu memberikan pelatihan- pelatian, work shop dsb. Biasanya sekolah ini mengkiblat pada sekolah Unggulan di Takalar dengan mengundang pihak sekolah tersebut untuk memberikan pelatihan-pelatihan atau tutor di sekolah kami. Hal ini merupakan usaha besar kami bagaimana agar sekolah ini dapat terangkat prestasi gurunya atau sekolahnya.36
Usaha yang dilakukan oleh para pengawas dalam rangka meningkatkan profesionalisme guru yaitu dengan meningkatkan keprofesionalan guru sebagai langkah yang semestinya merupakan batu pijakan bagi para guru di sekolah tersebut untuk memperbaiki kinerjanya serta memberikan pelayanan bimbingan yang efektif. Karena guru sebagai tenaga profesional akan mengajar siswanya untuk mengembangkan diri lebih maju dan berfikir kritis. Sebagai tenaga profesional guru harus menyadari konsekuensi yang disandangnya sebagai tenaga profesional yang mana guru dihadapkan pada tantangan dimana tenaga profesional dituntut untuk melayani kliennya dengan ramah, sabar, penuh kepercayaan diri, bertanggung jawab, menciptakan rasa aman serta siswa selalu merasa mendapatkan perhatian.
Penelitian tindakan kelas ini bisa dengan mengundang para guru pendidikan agama islam untuk beberapa sekolah, atau bisa dengan melakukan kunjungan langsung pada sekolah bersangkutan. Cara kedua juga sekaligus
36 Muh. Amir H, S.Pd., MM, Pengawas Guru PAI Kementrian Agama Takalar(Hasil wawancara, Lokasi Kemenag Takalar, 03-09-2019).
menjadi bukti keseriusan pihak pengawas dalam usaha meningkatkan profesionalitas guru pendidikan agama islam. Kunjungan ini harus dikemas dalam bentuk paling sederhana dan kekeluargaan agar pihak sekolah khususnya guru tidak merasa tertekan dengan kegiatan ini. Mereka sedapat mungkin diberikan pengertian bahwa peningkatan profesionalitas ini penting untuk meningkatkan prestasi siswa di kelas.
Apabila guru sudah profesional otomatis prestasi siswa juga akan meningkat. Dengan asumsi bahwa guru yang mempunyai ketrampilan mengajar yang baik akan dapat melaksanakan proses belajar mengajar dengan baik pula.
Dengan keterampilan mengajar yang dimilikinya, kondisi proses belajar mengajar dapat menjadi sangat menyenangkan. Pada kondisi seperti ini akan lebih menguntungkan dalam pencapaian tujuan pembelajaran karena siswa akan merasa senang untuk belajar dan terlibat aktif dalam pembelajaran. Hal ini akan meningkatkan prestasi belajar siswa.
Keefektifan pelaksanaan kurikulum di lapangan dan tercapainya tujuan kurikulum sangat ditentukan oleh kemampuan pengawas dan guru dalam memahami dan melaksanakan kurikulum secara efektif. Sehingga pelaksanaan kurikulum yang efektif akan menunjang pencapaian prestasi belajar siswa yang diajarnya. Hj. Khadijah, S.Ag merasa terbantu dengan aktifitas pengawasan dan pelatihan tersebut. Guru ini mengakui cara dan metodenya dalam mengajar semakin efektif dan cair. Para siswa juga tidak merasa bosan dan cenderung terlibat aktif dalam proses belajar mengajar, tuturnya. Kehadiran pengawas sekali dalam sebulan akan membuat para guru semakin percaya diri dan semakin
bahagia karena merasa mendapat perhatian serius dalam hal peningkatan profesionalitas mereka.
Melalui pelatihan-pelatihan yang dilaksanakan dan diselenggarakan di MTs Muhammadiyah Salaka bagi para guru di sekolah tersebut diharapkan mampu menjadikan pengetahuan baru bagi para guru di sekolah ini sehingga profesionalismenya pun juga akan meningkat. Hal ini terbukti dengan fakta di lapangan bahwa prestasi belajar guru dan siswa di MTs Muhammadiyah Salaka ini cenderung mengalami peningkatan.
Peran profesionalisme dalam kajian di sini adalah dimaksudkan untuk melihat bagaimana peranan ataupun kontribusi dari profesionalisme guru pendidikan agama Islam di MTs Muhammadiyah Salaka terhadap peningkatan prestasi belajar siswa. Oleh karena itu, untuk membahasnya maka harus melibatkan data mengenai profesionalisme guru pedidikan agama Islam sebagaimana tersebut di atas, serta melibatkan pula data mengenai prestasi siswa sebagaimana yang ada pada pemaparan di atas.
Dari data yang berkaitan dengan profesionalisme guru Pendidikan Agama Islam di atas, didapat informasi bahwa secara umum guru PAI di sekolah ini dapat digolongkan kepada guru yang profesional. Walaupun demikian tidak berarti guru PAI di sekolah tersebut sesuai dalam segala hal dengan profil guru profesional.
Hal ini dikarenakan guru PAI di sekolah ini masih memiliki kekurangan- kekurangan yang harus segera dibenahi. Secara langsung atau pun tidak langsung, keberadaan guru PAI seperti yang terdeskripsikan di atas ikut memberikan peranan penting dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. Hal ini dibuktikan
dengan temuan data yang menggambarkan bahwa prestasi belajar siswa di sekolah ini berpredikat baik. Secara jelas data di atas membuktikan bahwa prestasi belajar siswa di sekolah ini baik. Ada sebuah peningkatan perihal prestasi, baik sebelum dan sesudah penelitian. Hal ini termasuk faktor yang membuat peneliti tertarik melakukan penelitian di sekolah ini.
Secara lebih rinci data di atas menunjukkan bahwa kompetensi pedagogik antara Pengawas dan guru PAI di sekolah ini memiliki tingkat profesionalisme yang cukup baik. Secara keseluruhan, dari data hasil wawancara menggambarkan bahwa pengawas maupun guru PAI di sekolah ini mempunyai kemampuan merencanakan program perencanaan pembelajaran, kemampuan melaksanakan proses belajar mengajar, kemampuan menggunakan alat peraga dan pemanfaatan teknologi pembelajaran, kompetensi melaksanakan penilaian proses belajar mengajar. Sedangkan hal yang berkaitan dengan kompetensi psikologis guru adalah sikap disiplin dari guru dan teladan sikap guru yang berakhlak mulia, arif dan berwibawa. Selanjutnya, berkaitan kemampuan sosial guru adalah peran aktif guru dalam berkomunikasi dengan anak didik, kepala sekolah, teman sesama guru dan dengan masyarakat.
C. Profesionalisme Guru PAI
Sebagaimana dijelaskan pada bab terdahulu bahwa profesionalisme guru terdiri dari empat pilar. Artinya apabila guru tidak memenuhi keempat pilar tersebut maka guru tersebut belum dapat atau tidak dapat disebut guru profesional, dan sebaliknya jika guru dapat memenuhi atau sesuai dengan kriteria keempat pilar tersebut maka dapat dengan singkat guru tersebut termasuk guru profesional.
Sebagaimana dijelaskan pada bab terdahulu, bahwa keempat pilar tersebut adalah kompetensi pedagogik, kompetensi psikologik, kompetensi sosiologik, dan yang terakhir adalah kompetensi profesional.
Berdasar pada uraian singkat di atas, maka untuk mendapatkan deskripsi profesionalisme guru pendidikan agama Islam di MTs Muhammadiyah Salaka, digunakan wawancara atau interview kepada guru Pendidikan Agama Islam berdasarkan kepada keempat pilar profesionalisme guru sebagaimana tersebut di atas. Untuk lebih sistematis, maka berikut paparan temuan data di lapangan berdasarkan wawancara dengan guru pendidikan agama Islam.
Kompetensi pedagogik merupakan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran untuk menciptakan suasana belajar mengajar yang efektif dan efisien. Pengajaran pada dasarnya adalah suatu proses terjadinya interaksi antara guru dan siswa melalui kegiatan terpadu dari dua bentuk kegiatan yaitu kegiatan belajar siswa dan kegiatan mengajar guru. Oleh karena itu, guru dituntut untuk mampu atau ahli dalam hal mengelola kegiatan belajar mengajar agar tujuan pembelajaranpun dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan.
Untuk mendapatkan gambaran yang jelas mengenai kompetensi pedagogik guru di MTs Muhammadiyah Salaka maka berdasarkan teori yang telah penulis paparkan pada bab terdahulu bahwa kompetensi pedagogik terdiri dari kemampuan guru dalam menyusun rencana pembelajaran, kemampuan guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar, serta kemampuan guru melaksanakan penilaian proses belajar mengajar. Berikut ini paparan hasil
penelitian mengenai kompetensi pedagogik guru pendidikan agama Islam di MTs Muhammadiyah Salaka.
Kemampuan Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Guru yang baik adalah guru yang selalu berusaha sedapat mungkin agar pengajarannya berhasil. Salah satu faktor yang bisa membawa keberhasilan itu ialah guru tersebut senantiasa membuat persiapan mengajar sebelumnya. Para guru di MTs Muhammadiyah Salaka senantiasa melakukan evaluasi dan koreksi pada pembuatan RPP setiap bulannya. Evaluasi dan koreksi itu dilakukan dibawah bimbingan pengawas bersama dengan kepala sekolah. Muh. Amir selaku pengawas muda tingkat MTs mengatakan bahwa dia rutin datang ke sekolah memeriksa dan mengevaluasi perangkat pembelajaran guru. Dari hasil pengawasan beliau, terdapat temuan berupa keluhan dari para guru terkait keadaan anak – anak yang mempunyai minat belajar yang masih kurang sehingga membutuhkan motivasi dari guru-guru. Muh. Amir mengatakan bahwa guru selayaknya memberikan motivasi kepada anak – anak terkait pentingnya belajar dan masa depan mereka yang masih panjang. Selain itu, persoalan sarana dan prasaran yang kurang mendukung dalam proses pembelajaran yang belum lengkap secara maksimal mengharuskan seorang guru menggunakan sarana atau perangkat-perangkat sederhana yang bisa mendukung proses pembelajaran yang efektif.
Keberhasilan guru mengelola proses belajar mengajar dapat diukur melalui kesiapan guru merencanakan pembelajaran. Berdasarkan hasil wawancara disebutkan bahwa persiapan yang dilakukan oleh guru-guru pendidikan Agama
Islam sebelum memulai pelajaran adalah sebagaimana yang diungkapkan Ibu Irnawati, S.Pd yaitu:
Persiapannya seperti RPP guru harus punya, perangkat mengajar termasuk didalamnya Silabus, RPP yang harus dibuat sebelum guru memulai mengajar selain dari pada itu seorang guru juga harus menguasai materi. (Wawancara Penulis dengan Ibu Irnawati Sabtu, 31- 08 – 2019/ 09.00-09.30di Ruang Kepala Sekolah)37
Hal serupa juga dilakukan oleh Ibu Sitti Rosliana Hamid, S.Pd.I yang menyatakan bahwa:
Persiapan yang saya lakukan sebelum mengajar yaitu dengan membaca buku-buku terkait dengan materi yang akan saya ajarkan. Saya mengajar mata pelajaran Akidah Akhlak ya...sebelum mengajar saya banyak membaca tentang Konsep Islam tentang Aqidah Akhlak utamanya saya mengajar kelas VII yang dipelajari tentang Konsep Islam terkait Aqidah pada masa Rasulullah paling tidak saya harus menguasai materi tersebut maka terlebih dahulu saya membaca literatur-literatur mengenai, biografi serta sejarah perihal aqidah zaman Rasulullah.. Kemudian untuk penyampaian materinya saya berpedoman pada RPP dan silabus yang saya buat sebelumnya untuk rencana pembelajaran selama satu tahun. (Wawancara Penulis dengan Ibu Sitti Rosliana Hamid pada Sabtu, 31- 08 – 2019/ 09.30-10.00 di ruang tamu kepala sekolah).38
Ibu Hj. Khadijah,S.Ag yang mengajar Alquran Hadist mengatakan bahwa ;
Kalau persiapan saya sebelum mengajar terlebih dahulu saya menyusun rencana pembelajaran dengan berpedoman pada kurikulum serta buku pelajaran. Selain dari pada itu, sebelum proses belajar mengajar terlebih dahulu saya kondisikan anak-anak dalam situasi yang tenang, evaluasi pelajaran yang lalu, refleksi materi pelajaran dengan menyuruh anak untuk merangkum materi yang lalu serta penerapan materi pelajaran dalam kehidupan sehari-hari. (Wawancara Penulis dengan Hj. Khadijah,S.Ag di Ruang Guru)39
37 Irmawati, S.Pdi., Guru Sejarah Kebudayaan Islam. (Hasil wawancara, Lokasi MTs.
Muhammadiyah Salaka, 31-08-2019)
38 Sitti Rosliana Hamid, S.Pdi Guru Aqidah Akhlak sekaligus Pembina Hisbul Wathan Salaka. (Hasil wawancara,Lokasi MTs Muhammadiyah Salaka,31-08-2019)
39 Hj. Khadijah,S.Ag., Guru Quran Hadist. (Hasil wawancara, Lokasi MTs.
Muhammadiyah Salaka, 31-08-2019).
Membaca dan mendesain prosen belajar – mengajar adalah hal paling penting sebagai seorang guru. Penyusunan RPP akan membantu guru mengarahkan materi dan memanejerial waktu yang ada sehingga tidak terbuang sia – sia. Mempersiapkan silabus pembelajaran akan memastikan penguasaan materi yang penting dan kompetensi siswa. Hal seperti itu, idealnya, wajib dilakukan untuk semua guru dimana pun berada. Hal itu sekaligus sebagai ukuran profesionalitas guru bersangkutan.
Ibu Gerhanawati, S.Pd.I selaku guru mata pelajaran Bahasa Arab mengatakan pada wawancara kemarin bahwa ;
Persiapan sebelum mengajar yaitu dengan melihat kurikulum, menyusun silabi, membuat program tahunan, program semester, rencana pembelajaran serta pengolahan penilaian. (Wawancara Penulis dengan Ibu Gerhanawati pada Sabtu, 31- 08 – 2019/ 10.30- 11.00 di ruang kantor MTs. Muhammadiyah Salaka.40
Berdasarkan pernyataan guru-guru pendidikan Agama Islam tersebut di atas jelas bahwa sebagian besar guru pendidikan agama Islam di MTs Muhammadiyah Salaka memiliki kemampuan merencanakan pembelajaran terbukti dari fakta di lapangan seluruh guru di MTs Muhammadiyah Salaka khususnya guru pendidikan agama Islam menyusun rencana pembelajaran sebelum memulai kegiatan belajar mengajar.
Dalam kegiatan pembelajaran terdapat dua kegiatan yang sinergi yaitu guru mengajar dan siswa belajar. Guru mengajarkan bagaimana seharusnya belajar melalui berbagai pengalaman belajar hingga terjadi perubahan dalam dirinya dari aspek kognitif, psikomotor dan afektif. Persoalannya adalah
40 Gerhanawati, S.Pdi., Guru Bahasa Arab. (Hasil wawancara, Lokasi MTs.
Muhammadiyah Salaka, 31-08-2019).
bagaimana mengaktifkan siswa agar secara sukarela tumbuh kesadaran untuk terlibat aktif dalam proses belajar mengajar pada setiap proses pembelajaran.
Sebagaimana yang diungkapkan oleh Ibu Gerhanawati di atas, bahwa seorang guru sebelum memulai proses belajar mengajar terlebih dahulu harus menguasai skenario pembelajaran yang tersusun dalam rancangan Silabus, RPP, Prota, Promes dan Pengolahan Penilaian.
Kemampuan merencanakan pembelajaran sangat dibutuhkan bagi seorang guru yang berfungsi untuk:
a. Memberikan pemahaman lebih jelas tentang tujuan pendidikan sekolah dan hubungannya dengan pengajaran yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan itu.
b. Membantu guru mengenal kebutuhan-kebutuhan peserta didik, minat peserta didik dan mendorong motivasi belajar.
c. Mengurangi kegiatan yang bersifat trial and error dalam mengajar karena pembelajaran sudah terstruktur dan terencana.
d. Memberikan kesempatan bagi guru untuk memajukan pribadinya dan perkembangan profesionalnya.41
Kompetensi Melaksanakan Proses Belajar Mengajar harus menjadi catatan penting bagi semua guru pendidikan agama Islam. Kemampuan guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar terkadung dalam kemampuan menciptakan pembelajaran efektif, kemampuan menggunakan alat peraga dalam kegiatan belajar mengajar, kemampuan menggunakan metode yang bervariasi, kemampuan mengambil tindak lanjut, kemampuan berkomunikasi serta kemampuan mendiagnosis kesulitan belajar siswa.
Kemampuan Melaksanakan Proses Belajar Mengajar senantiasa dihadirkan pada setiap pertemuan di MTs Muhammadiyah Salaka. Berikut ini
41 Rusman. Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru. H.50
data hasil wawancara penulis dengan guru pendidikan agama Islam terkait dengan kemampuan guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar terkait dengan ketrampilan membuka dan menutup pelajaran. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Ibu Irmawati Dg Tanang bahwa:
„‟Bisanya kalau ngajar itu sebelum saya menjelaskan materi terlebih dahulu saya mengkondisikan mental dan menarik perhatian siswa pada materi yang akan dipelajari misalnya dengan menceritakan kejadian aktual atau yang relevan dengan isi dan indikator kompetensi yang akan dipelajari siswa. Setelah crita kemudian siswa saya beri pertanyaan yang terkait dengan crita yang saya berikan. Tapi yaa...critanya gak boleh lama-lama nanti anak malah gak jadi belajar.
Pokoknya cerita sekedarnya saja supaya anak tertarik untuk belajar.
Biasanya dalam pembelajaran itu anak susah membaca maka anak diberi pertanyaan yang ada hubungannya dengan kompetensi yang akan dicapai yang materinya terdapat di dalam buku mata pelajaran dan LKS. Sedang pada akhir pelajaran saya mengemukakan kembali pokok-pokok pelajaran supaya siswa memperoleh gambaran utuh tentang pokok-pokok materi dan hasil belajar yang telah dipelajari.
Istilahnya siswa diberi penguatan materi. (Wawancara Penulis dengan Ibu Irmawati Dg. Tanang pada Selasa, 03- 09 – 2019/ 13.00-13.30 di Ruang Kepala Sekolah).42
Komponen ketrampilan guru mengelola pembelajaran tidak terlepas usaha guru menciptakan suasana sikap mental dan menimbulkan perhatian siswa agar terarah pada hal-hal yang akan dipelajari. Dalam usaha menarik perhatian dan memotivasi siswa guru sebagaimana yang diungkapkan oleh Ibu Irmawati pada pernyataannya di atas yaitu dengan memberikan cerita terkait dengan materi yang akan di pelajari. Guru yang memiliki improvisasi metode pembelajaran yang relevan akan dapat menarik perhatian dan motivasi belajar siswa.
42 Irmawati Dg Tanang, Guru Sejarah Kebudayaan Islam. (Hasil wawancara, Lokasi MTs.
Muhammadiyah Salaka, 03-09-2019).