47
c. Visi dan Misi Tahfidzul Qur’an Yusuf Abdussatar
Secara spesifik, lembaga tahfizul qur’an Yusuf Abdus Satar tidak memiliki visi dan misi tersendiri. Visi misi yang diacu oleh lembaga ini adalah visi misi pondok pesantren Yusuf Abdus Satar,61 yaitu “Mencetak para penghapal Al-Qur’an yang berprestasi dan berakhlak mulia”. Sedangkan misinya adalah: I) Terlaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif bagi santri sesuai potensi masing-masing. 2). Menumbuhkan semangat keunggulan kepada santiwan dan santriwati. 3). Mendorong dan membantu setiap santri untuk menangani potensi dirinya, sehingga dapat dikembangkan secara optimal. 4) Menumbuhkan penghayatan terhadap Al-Qur’an dan ajaran agama. 5) Menerapkan manejemen transparansi dan partisipasi dengan melibatkan seluruh warga sekolah dan pihak terkait.
Dalam mewujudkan visi dan misi tersebut kegiatan-kegiatan tahfizul Qur’an serta kegiatan pendukungnya dilakukan di lembaga ini. Ketiadaan visi dan misi tersendiri bagi lembaga ini dikarenakan setiap lembaga yang dikelola pesantren Yusuf Abdus Satar merupakan satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan dari pesantren.
48
Khuwailid Yusuf, dan merupakan cucu dari TGH. Yusuf Abdus Satar.
Dibesarkan dalam keluarga dan lingkungan penghafal al-Qur’an, H. Ahmad Azmil Umur, seperti hanya orang tua maupun kakeknya, menghafal al-Qur’an sejak masih kecil.
Ketika penelitian ini dilakukan TGH Yusuf Abdus Satar masih menerima setoran hafalan dari santri kelas 3 Aliyah khusus kelas A, walaupun TGH Yusuf Abdus Satar sudah tidak terlibat sebagai pengelola secara lansung. Untuk mengelola dan memimpin pondok pesantren, TGH Yusuf Abdus Satar telah digantikan oleh TGH Abdul Basith, anaknya. Demikian juga program tahfiz dipimpin oleh cucunya, H. Azmil Umur serta pembina pondok putri, ustazah Fathiyatul Maula yang juga cucunya.62
Dalam proses penyelenggaraan tahfizul Qur’an, H. Azmil Umur dibantu oleh ustaz maupun ustazah yang juga adalah hafiz dan hafizhah, mereka adalah:
Keadaan Guru Tahfizul Qur`an Yusuf Abdussatar Kediri Lobar Tahun Pelajaran 2015/201663
No Nama Alamat
Pendidikan terahir
1 Tgh. Yusuf Abdussatar Kediri Mekkah
2 Tgh. Abdul Basit Yusuf Kediri Mekkah
3 Ust. H. Ahmad Azmil Umur, Lc Kediri Madinah
4 Ust. H. Farid Mustafa Bukbuk Alumnus
62 Wawancara Kasratul Aini, santri tahfizul Qur’an tanggal 23 Agustus 2015
63 Dokumentasi Pondok Pesantren Yusuf Abdus Satar. Diambil taggal 5 Agustus 2015
49
5 Ust. H. Taufiqurrahman, S. Pd.I Gerung S1 6 Ust. H. Abdurrahman, S. Pd.I Gerung S1
7 Ust. H. L. Ibrahim Luqman, SQ Kateng Al-Islahudiny 8 Ust. Abdul Hafiz, S. Pd.I Masbagik S1
9 Ust. Saharudin, S. Pd.I Kediri S1
10 Ust. Sulhan Efendi, S. Pd.I Kumbung S1 11 Ust. Zohdi Rijlan, S. Pd Jelantik S1 12 Ust.Azhar Hariadi, S. Pd Nyerot S1
13 Ust. Zuhad Kediri Alumnus
14 Ust. Izhar Mayadi, S. Pd Mantang S1 15 Ust. M. Jaelani Muksin Sukarara Alumnus 16 Ust. Junial Qorny Al-Bagdady, S.
PdI
Bangkat Dalam S2
17 Ust. Zuhaidi Firdaus, PN Kediri Alumnus 18 Ust. Abdurrahim Gusdur, S.Th.I Rumak Alumnus 19 Ust. Zainuri Fadli, S.Pd Masbagik Alumnus 20 Ust. Habib Piqri As-Shofi Kediri Alumnus 21 Ustz. Hj. Niswatun Habibah Gerung Alumnus 22 Ustz. Fathiyatul Maula, S, Pd.I Kediri S1
23 Ustz. Fatmawati Kediri Alumnus
24 Ust. Fuad Hasan Sukarara Alumnus
25 Ust. Awwaluddin Kediri Alumnus
50
26 Ust. Zaenuddin Mataram Alumnus
Untuk menunjang proses pembelajaran, pondok pesantren tahfizul Qur’an didukung oleh sarana dan prasarana yag memadai, meliputi64
No
Jenis Prasarana
Jml Ruang
Jml Ruang Kondisi
Ruang
Jml Ruang Kondisi
Rusak
Katagori Kerusakan
RR RS RB
1 R. Kelas 6 6 - - - -
2 Kkantor 1 1
3
R.
Lab.bahasa
- - - -
Secara khusus sarana prasarana yang dimiliki oleh lembaga tahfizul Qur’an Yusuf Abdus Satar adalah ruang kantor, sedangkan ruang kelas yang digunakan sebagai kelas untuk kegiatan tahfiz merupakan sarana yang dipakai bersama dengan sekolah formal. Pada pagi harinya kelas tersebut digunakan oleh Tsanawiyah maupun Aliyah sedangkan pada sore harinya digunakan untuk kegiatan tahfizul Qur’an.65
Siswa tahfiz pondok pesantren Yusuf Abdus Satar berjumlah 312 orang.
Jumlah ini bukan merupakan keseluruhan santri pondok pesantren Yusuf Abdus
64 Dokumentasi Pondok Pesantren Yusuf Abdus Satar. Diambil taggal 5 Agustus 2015
65 Wawancara ustazah Sul, salah seorang guru program tahfizul Qur’an tanggal 13 September 2015
51
Satar. Santri pondok pesantren Yusuf Abdus Satar yang menjalani program sekolah formal baik Tsanawiyah, Aliyah maupun SMK, diperkenankan untuk memilih apakah mereka akan mengambil program (luar sekolah) diniyah atau tahfizul Qur’an.66 Menurut penjelasan Fathiyatul Maula, pembina tahfiz putri pondok pesantren Yusuf Abdus Satar, bahwa jumlah siswa tahfiz lebih besar dari santri diniyah. Santri diniyah hanya sekitar 15% dari jumlah santri sedangkan selebihnya mengambil program tahfiz.67 Demikian juga ada sebagian santri yang tidak tinggal di dalam pondok tapi bolak balik dari rumah mereka walaupun mereka juga mengikuti program tahfiz. Sul, seorang ustazah di lembaga tahfizul Qur’an mengungkapkan bahwa kondisi santri yang tidak tinggal di pondok tapi datang setiap hari untuk melaksanakan tahfiz, sangat tidak mendukung dan tidak efektifnya kegiatan tahfiz.68
Secara rinci, dapat dijelaskan jumlah santri tahfizul Qur’an sebagai berikut:
a. Kelas A, Putra/ Putri MTs : 45 orang b. Kelas B Putra I Putri MTs : 59 orang c. Kelas C Putra I Putri MTs : 75 orang d. Kelas A Putra I Putri Aliyah / SMK : 40 orang e. Kelas B Putra .I Putri Aliyah / SMK : 41 orang
66 Wawancara dengan Fathiyatul Maula, salah satu pembina program tahfizul Qur’an tanggal 23 Agustus 2015
67Wawancara dengan Fathiyatul Maula, salah satu pembina program tahfizul Qur’an tanggal 23 Agustus 2015
68 Wawancara ustazah Sul, salah seorang guru program tahfizul Qur’an tanggal 13 September 2015
52
f Kelas C Putra / Putri Aliyah / SMK : 52 orang69 E. Proses Tahfizul Qur’an
Program tahfiz merupakan program utama dan pertama sejak pesantren ini didirikan. Penerapan metode Tasmi’ di lembaga tahfizul Qur’an Yusuf Abdus Satar Kediri Lombok Barat sudah dilakukan sejak awal berdirinya lembaga tahfiz tersebut, yaitu di mana setiap santri menyetor hafalannya kepada para asatiz sesuai dengan kesiapan mereka masing-masing. Dulu, pada masa awal pendiriannya, ketika pesantren ini masih sangat sederhana, santri menyetor hafalannya lansung pada pimpinan pondok pesantren. TGH Yusuf Abdus Satar tak hanya membina santri tapi juga anak-anaknya untuk menjadi hafiz dan hafizah. Seiring dengan perkembangan pondok pesantren dan selesainya putra putri TGH Yusuf Abdus Satar serta santri yang lain, para santri dan putra putri kiai ikut membantu membina lembaga tahfiz dan menjadi ustaz dan ustazah yang berjuang membina santri-santri baru.
Dalam proses tahfiz, setiap asatiz yang masuk kelas, para santri lansung menyetor hafalannya, karena para santri sudah mempersiapkan terlebih dahulu hafalan mereka di asrama. Penerapan metode Tasmi’ menjadi pilihan karena memiliki kelebihan tersendiri dalam pelaksanaan kegiatan tahfizul Qur’an yaitu siswa akan terpacu untuk mengulang hafalannya sesering mungkin, sedangkan guru atau asatiz yang menyimak dapat melatih dan mengulang hafalannya (muraja’ah)
69 Data Santri dan Santriwati pondok pesantren Yusuf Abdus Satar, diambil tanggal 15 Agustus 2015
53
Sebelum pelaksanaan tahfizul Qur’an dimulai, selama beberapa bulan setiap santri diwajibkan untuk mengikui program persiapan, membaca bin Nazhar untuk memperbaiki bacaan dan menghindari kesalahan dalam menghafal.70 Salah satu metode untuk memperbaiki bacaan dan meghindari kesalahan bacaan, seorang santri dianjurkan untuk memperdengarkan dan membaca bin nazhar ayat yang dihafalnya kepada ustaz atau ustazahnya. Dalam menghafal Al Qur’an, metode yang diterapkan oleh TGH Abdus Satar adalah para santri menghafal satu persatu ayat (metode Wahdah) walaupun ketika melakukan penyetoran hafalan dilakukan sekaligus berdasarkan banyaknya ayat yang hendak disetor kepada para asatiz.
Di samping menggunakan metode Tasmi’, tahfizul Qur’an Yusuf Abdus Satar juga menerapkan metode Kitabah, yaitu dengan menulis ayat-ayat yang hendak dihafal oleh santri akan tetapi metode Kitabah jarang digunakan secara formal, kecuali ketika pelaksanaan ujian. Jika ada santri yang melakukannya, itu atas inisiatif mereka sendiri.
Walaupun metode-metode tersebut (Wahdah maupun Kitabah) telah diperkenalkan kepada para santri namun secara teknis, metode mana yang cocok untuk masing-masing santri sangat tergantung pada santri sendiri.71
Banyaknya hafalan yang harus disetorkan oleh para santri kepada asatiz tidak ditentukan jumlahnya. Hal tersebut diserahkan kepada santri berdasarkan kemampuan. Artinya tidak ada pemaksaan terhadap banyak setoran santri, karena yang ditekankan adalah menyetor hafalan.
70Wawancara dengan Fathiyatul Maula, salah satu pembina program tahfizul Qur’an tanggal 23 Agustus 2015
71Wawancara dengan Fathiyatul Maula, tanggal 23 Agustus 2015
54
Strategi yang sama digunakan oleh santri ketika muraja’ah hafalan, yaitu dengan menyetorkan hafalan lama kepada asatiz. Berdasarkan penjelasan dari santri putra maupun putri, jumlah ayat yang diulang setiap harinya bervariasi.
Kurniawan, santri kelas 3 menuturkan bahwa ia hanya sanggup muraja’ah sehari sebanyak 3 lembar. Rizki santri kelas 3 Aliyah mengatakan ia muraja’ah 2,5 halaman, sedang Kasratul Aini, hanya mampu 5 lembar. Pondok pesantren menentukan waktu menghafal sejak jam 3 sore sampai menjelang Magrib. Waktu dari jam 3 sore sampai menjelang Magrib ini dibagi menjadi 2 jam, jam pertama untuk tahfiz dan jam ke dua untuk setoran muraja’ah, pembahasan kitab, Tajwid dan Tilawah.72
Proses tahfizul Qur’an dan muraja’ah hafalan lama dilakukan secara bergantian. Selama satu bulan pertama digunakan untuk menghafal al-Qur’an sedangkan bulan berikutnya digunakan untuk takrir atau mengulang hafalan.73 Sul, seorang ustazah menceritakan bahwa beberapa tahun yang lalu pembagiannya, dilakukan dengan membagi hari dalam seminggu, empat hari untuk menghafal hafalan baru dan tiga hari untuk mengulang hafalan, menurut Sul justru pembagian waktu perbulanlah yang lebih efektif untuk membuat santri memiliki hafalan lebih lancar.74 Lebih lanjut dijelaskan Sul bahwa pembagian tersebut merupakan aturan secara formal tapi tidak menutup kemungkinan santri tahfiz mengulang sendiri hafalannya ketika waktu menghafal hafalan baru tengah berjalan, selain itu berapapun hasil hafalan maupun takrir santri tercatat oleh ustazah maupun ustaz mereka.
72 Wawancara dengan Rizki, Kasratul Aini dan Kurniawan, tanggal 20 September 2015
73 Wawancara Laili Sita, santri kelas III Aliyah kelas A tanggal 13 September 2015
74 Wawancara ustazah Sul, tanggal 23 Agustus 2015
55
Ustaz Maliki mengungkapkan bahwa untuk membantu mempermudah membentuk kesan dalam ingatan terhadap ayat-ayat yang dihafal, maka diperlukan strategi tahfiz yang baik. Strategi menghafal al-Qur’an tersebut antara lain:
1. Strategi pengumpulan ganda
Untuk mencapai tingkat hafalan tidak cukup dengan sekali proses menghafal saja. Salah besar apabila seseorang menganggap dan mengharap dengan sekali menghafal saja kemudian ia menjadi seorang penghafal al-Qur’an yang baik.
2. Tidak beralih pada ayat berikutnya, sebelum ayat-ayat yang dihafal benar- benar dihafal.
Pada umumnya kecenderungan seseorang dalam menghafal al-Qur’an adalah cepat-cepat atau cepat mendapat sebanyak-banyaknya. Hal ini menyebabkan proses menghafal itu sendiri menjadi tidak fokus atau tidak stabil. Karena kenyataannya di antara ayat-ayat al-Qur’an itu ada yang mudah dihafal dan sebagaian lagi sulit dihafal.
3. Menghafal urutan-urutan ayat yang dihafal dalam satu kesatuan jumlah setelah benar-benar dihafal ayatnya.
4. Menggunakan satu jenis mushaf. Di antara strategi penghafal yang banyak membantu proses menghafal al-Qur’an adalah menggunakan satu jenis mushaf
5. Memahami pengertian ayat-ayat yang dihafalnya.
56
Memahami pengertian, kisah atau asbab an-nuzul yang terkandung dalam ayat-ayat yang sedang dihafal merupakan unsur yang sangat mendukung dalam mempercepat proses hafalan.
6. Memperhatikan ayat-ayat yang serupa. Ditinjau dari segi aspek makna, lafaz dan susunan atau struktur bahasanya di antara ayat-ayat al-Qur’an banyak terdapat keserupaan atau kemiripan antara satu ayat dengan ayat yang lainnya.
7. Disetorkan kepada seorang ustaz. Menghafal al-Qur’an memerlukan adanya bimbingan yang terus menerus dari seorang ustaz, baik untuk menambah setoran hafalan baru, atau mengulang hafalan
Para ustaz di lembaga tahfizul Qur’an selalu menjelaskan berbagai metode dan teknik yang baik untuk menghafal serta selalu memberi motifasi terhadap santri, tetapi tentang bagaimana pelaksanaan teknik tahfizul Qur’an itu diserahkan kepada para santri. Menurut ustaz Maliki, pembina tahfiz maupun para asatiz tidak secara kaku menerapkan satu atau beragam metode terhadap santri karena disadari bahwa masing-masing orang memiliki kemampuan yang berbeda, memiliki kecendrungan yang berbeda terhadap masing-masing metode.75
Dalam proses menghafal al-Qur’an, pemilihan waktu yang tepat merupakan salah satu faktor yang penting dan tak bisa diabaikan, terlebih bagi santri yang tidak hanya memiliki kegiatan menghafal al-Qur’an tetapi juga harus mengikuti kegiatan sekolah formal dan kegiatan ekstra kulikuler kepondokan.
75 Wawancara dengan Ust Maliki tanggal 30 Agustus 2015
57
Bagi mereka yang menempuh program khusus menghafal al-Qur’an dapat mengoptimalkan seluruh kemampuan dan kapasitas waktu yang dimilikinya, sehingga ia akan dapat menyelesaikan program menghafal al-Qur’an lebih cepat, karena tak ada kendala kegiatan lain. Akan tetapi sebaliknya, jika mereka yang menghafal al-Qur’an di samping kegiatan-kegiatan lain maka harus pandai-pandai memanfaatkan waktu yang ada.
Sepertinya halnya srategi menghafal, pemilihan waktu menghafal antara satu santri dengan santri yang lain juga berbeda. Idayati mengungkapkan bahwa ia memiliki waktu terbaik untuk menghafal sehabis Subuh, di saat itu menurutnya konsentrasinya sangat baik, kondisi fisik juga sangat baik sehingga mempercepat proses menghafal.76 Dimas, santri kelas 3 Tsanawiyah memiliki waktu menghafal yang berbeda dengan idayati, ia memilih jam 11 malam atau lebih. Ia mengungkapkan bahwa semakin sepi suasana, semakin bagus untuk menghafal karena kondisi yang sepi membuat batin terasa tenang, ingatan kepada Allah semakin kuat dan konsentrasi untuk menghafal semakin baik.77
Berbeda juga dengan santri-santri yang lain yang memiliki waktu tersendiri yang terbaik untuk menghafal. waktu-waktu yang dianggap sesuai dan baik untuk menghafal adalah sebelum terbit fajar, setelah fajar hingga terbit matahari, setelah bangun dari tidur siang, setelah shalat waktu di antara Maghrib dan Isya’.
Pemilihan waktu menurut ust Maliki juga tergantung pada masing-masing anak, tergantung pada di mana saat konsentrasi terasa maksimal. Ust Maliki
76 Wawancara dengan Idayati, santri program tahfizul Qur’an tanggal 20 September 2015
77 Wawancara dengan Dimas, santri tahfizul Qur’an tanggal 23 Agustus 2015
58
menjelaskan sebagai contoh, ketika seorang santri memilih menghafal di waktu setelah bangun tidur, maka saat itulah sang santri merasa konsentrasinya tinggi dan badannya fit dan fress.78
Faktor lain yang sangat menentukan proses menghafal adalah tempat menghafal. Situasi dan kondisi suatu tempat ikut mendukung tercapainya program menghafal al-Qur’an. Oleh karena itu untuk menghafal diperlukan tempat yang ideal untuk mencapai konsentrasi. Lingkungan mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam menghafal al-Qur’an, diperlukan tempat yang aman dan nyaman untuk bisa menghafal dengan baik.
Sebagian besar santri yang diwawancarai mengatakan bahwa mushalla adalah tempat terbaik untuk menghafal, mereka mengungkapkan bahwa karena mushalla adalah tempat untuk sholat, tempat yang suci, tak banyak senda gurau di dalamnya dan orang-orang berada di musalla dalam rangka ibadah sehingga suasana mushalla mendukung konsentrasi untuk menghafal. Sebagian lagi mengatakan bahwa kamar merupakan tempat terbaik.79
Lingkungan dalam berbagai kajian memang memiliki pengaruh terhadap prilaku manusia tak terkecuali berpengaruh terhadap faktor psikologis santri penghafal al-Qur’an melalui terpusatnya konsentrasi terhadap ayat-ayat al-Qur’an.
Lingkungan juga merupakan salah satu faktor motivasional santri dalam menghafal al-Qur’an. Pentingnya lingkungan baik keluarga, teman sebaya, lingkungan pondok terungkap dalam pernyataan-pernyataan para santri:
78 Wawancara dengan Ust Maliki tanggal 30 Agustus 2015
79 Wawancara Kasratul Aini, Dimas, Kurniawan dkk tanggal 13 September 2015
59
Saya suka merasa iri kalau ada teman yang menghafal dengan cepat dan lancar, pengen seperti mereka. Itu yang terkadang menjadi motivasi selain motivasi dari orang tua dan keluarga”80
Bagi santri tahfizul Qur’an menjadi seorang penghafal al-Qur’an merupakan kebanggaan tersendiri, karena menurut mereka, seperti yang diungkapkan Sumani, salah seorang santri bahwa al-Qur’an adalah firman Allah yang merupakan mu’jizat, setiap melantunkan satu huruf saja dari al-Qur’an maka ia merupakan ibadah. Sebagai penghafal al-Qur’an santri merasa berkewajiban menjaga diri dari hal-hal yang akan mengaburkan hafalan mereka, karena al- Qur’an tak sejalan dengan dosa dan keburukan, al-Qur’an akan selalu tercerahkan dengan kesucian hati dan jiwa dan penjagaan diri dari segala macam keburukan.81