Gambar Diagram Alur Penelitian
1. Studi Literatur
Sebuah studi literatur merupakan kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan data Pustaka, membaca dan mencatat, serta mengolah bahan penelitian. Pengertian lain tentang studi literatur merupakan cara mencari referensi teori yang relevan dengan kasus atau permasalahan yang ditemukan.
Referensi ini dapat diperoleh dari jurnal, buku, artikel, laporan penelitian, dan situs internet. Studi literatur memiliki output yaitu terkoleksinya referensi yang relevan dengan perumusan masalah (Pilendia, 2020).
Studi literatur yang mendukung penelitian ini meliputi :
a. Spesifikasi komponen electrostatic precipitator di PLTU Jawa Tengah 2 Adipala.
b. Masalah yang sering terjadi pada electrostatic precipitator
c. Penggunakan metode FMEA dalam melakukan analisis suatu permasalahan.
2. Identifikasi Komponen ESP
Electrostatic Precipitator merupakan komponen yang akan kita analisis untuk mendapatkan hasil untuk melakukan pengembangan Tindakan perbaikan.
Maka dari itu electrostatic precipitator harus kita identifikasi agar mengetahui spesifikasi, serta memahami bagaimana electrostatic precipitator bekerja dan bagaimana komponen-komponen tersebut dapat bekerja untuk mengumpulkan partikel-partikel yang terdapat dalam gas buang. Dengan demikian maka dapat melakukan Analisa dalam pengoptimalan kinerja electrostatic precipitator agar tetap efektif selama beroperasi.
Gambar Spesifikasi ESP
3. Identifikasi Mode Kegagalan (Failure Mode)
Tahap Mode kegagalan atau failure mode merupakan tahap awal untuk mengetahui kondisi di mana suatu sistem atau komponen tidak berfungsi sesuai dengan yang diharapkan. Identifikasi mode kegagalan penting untuk mencegah kerusakan yang lebih besar dan memastikan keandalan sistem. Tahapan ini merupakan tahap awal untuk melakukan analisis, d engan mengetahui mode kegagalan, kita dapat merencanakan tindakan perbaikan atau pencegahan yang tepat untuk mengurangi risiko kegagalan yang lebih besar pada suatu komponen atau alat di masa yang akan datang.
Gambar Temuan Ketidaksesuaian dalam ESP
Pada gambar diatas terdapat temuan ketidaksesuaian pada sistem ESP pada saat teknisi melakukan Tindakan preventive maintenance. Temuan tersebut menjadi data identifikasi mode kegagalan yang selanjutnya akan diolah menjadi suatu hasil nilai perhitungan Risk Priority Number (RPN) menggunakan metode Failure Mode Effect and Analysis (FMEA). Hasil RPN digunakan untuk mendapatkan hasil potensi resiko dan tingkat keparahan untuk melakukan tindakan perbaikan atau perawatan dengan segera untuk mencegah kegagalan sistem yang lebih parah.
4. Penilaian Potensial Dampak (Severity)
Tahap pertama dalam dalam metode Failure Mode Effect and Analysis (FMEA) adalah penentuan penilaian potensial dampak atau severity. Severity atau potensial dampak merupakan parameter untuk mengukur tingkat bahaya
pada suatu komponen. Parameter S dapat dilihat pada Tabel 1 dengan memperhatikan kriteria dan tingkatnya.
Tingkat Bahaya Kriteria Tingkat
Sangat Berbahaya Sekali
Kegagalan menyebabkan kerusakan kecelakaan besar secara tiba-tiba dan membahayakan keselamatan kerja
10 Sangat Berbahaya Kegagalan menyebabkan kerusakan kecelakaan
besar secara tiba-tiba dan membahayakan namun ada peringatan atau pendeteksian dini
9 Sangat Tinggi Kegagalan komponen mengakibatkan mesin
mati dan kehilangan fungsi utamanya
8 Tinggi Kegagalan komponen mengakibatkan mesin
masih beroperasi
7 Menengah Kegagalan komponen mengakibatkan kinerja
sistem menurun drastis namun masih dapat beroperasi
6 Rendah Kegagalan komponen mengakibatkan kinerja
sistem menurun secara bertahap dengan mesin masih dapat beroperasi
5 Sangat Rendah Kegagalan komponen mengakibatkan pengaruh
kecil pada kinerja sistem dengan mesin masih berjalan sempurna
4 Kecil Komponen mengalami kinerja menurun namun
sistem dan mesin masih berjalan
3 Sangat Kecil Komponen dipandang buruk namun kinerja
komponen masih baik dan sistem serta mesin masih berjalan sempurna
2
Tidak ada Tidak ada pengaruh 1
Tabel Tingkat Keparahan (S)
5. Penentuan Tingkat Kejadian (Occurance)
Tahap selanjutnya dalam penerapan metode FMEA adalah penentuan tingkat kejadian atau occurance. Occurance (O) merupakan parameter yang berfungsi untuk mengukur tingkat seberapa banyak kejadian kegagalan pada komponen electrostatic precipitator. Parameter Occurance (O) dapat ditunujukkan pada Tabel 2 dengan memperhatikan beberapa kriteria dan tingkat hasilnya.
Tingkat Terjadi Jumlah Kejadian Tingkat Sangat sering terjadi
hingga kerusakan tidak bisa dihindari
Hampir setiap saat terjadi dalam waktu kurang dari 1-2 kali operasi.
10
Sangat sering terjadi Sangat tinggi terjadi dalam waktu kurang dari 3-4 kali operasi
9
Sering terjadi (1) Tinggi terjadi dalam waktu kurang dari 5-8 kali operasi
8
Sering terjadi (2) Cukup tinggi dalam waktu kurang dari 9-20 kali operasi
7
Jarang terjadi (1) Menengah terjadi dalam waktu kurang dari 21- 80 kali
6
Jarang terjadi (2) Rendah terjadi dalam waktu kurang 81-400 kali operasi
5
Jarang terjadi (3) Jarang terjadi dalam waktu kurang dari 401- 2000 kali operasi
4
Sangat jarang terjadi (1)
Sangat jarang dalam waktu kurang dari 2001- 15000 kali operasi
3
Sangat jarang terjadi (2)
Hampir tidak pernah dalam waktu lebih dari 15001 kali operasi
2
Tidak pernah terjadi Tidak pernah terjadi 1
Tabel 2. Tingkat Kejadian (O)
6. Pengenalan Kemampuan Deteksi (Detection)
Tahap ketiga dalam melakukan Analisa menggunakan metode FMEA adalah melakukan pengenalan kemampuan pendeteksian atau detection. Pengenalan kemampuan deteksi merupakan parameter yang berfungsi untuk mengatur kemampuan dalam mendeteksi kejadian kegagalan dalam suatu kejadian yang terjadi. Parameter detection (D) dapat ditunjukkan dalam tabel 3 dengan memperhatikan kriteria dan tingkatannya.
Deteksi Kriteria Tingkat
Mustahil untuk terdeteksi
Tidak akan terdeteksi akan adanya penyebab potensi kegagalan selanjutnya
10
Sangat sulit terdeteksi
Sangat sulit untuk mengontrol perubahan untuk mendeteksi penyebab potensi dan jenis
kegagalan selanjutnya
9
Sulit untuk terdeteksi
Sulit untuk mengontrol perubahan untuk mendeteksi penyebab potensi dan jenis kegagalan selanjutnya
8
Untuk terdeteksi sangat rendah
Sangat rendah untuk mendeteksi penyebab potensi dan jenis kegagalan selanjutnya
7
Untuk terdeteksi renda h
Renda h untuk mendeteksi penyebab potensi da n jenis kega ga la n sela njutnya
6
Untuk terdeteksi seda ng
Ha mpir tida k muda h untuk mendeteksi penyeba b potensi da n jenis kega ga la n sela njutnya
5
Untuk terdeteksi menenga h ke a ta s
Ha mpir muda h untuk mendeteksi penyeba b potensi da n jenis kega ga la n sela njutnya
4
Muda h terdeteksi Muda h terkontrol untuk mendeteksi penyeba b potensi da n jenis kega ga la n sela njutnya
3
Sa nga t muda h untuk terdeteksi
Sa nga t muda h terkontrol untuk mendeteksi penyebab potensi da n jenis kega ga la n sela njutnya
2
Deteksi da pa t dila kuka n denga n meliha t sa ja
Da pa t diduga a ka n seringnya terja di menga kiba tkan deteksi pa da potensi penyeba b da n kejadia n
1
Tabel 3 Detection (D)
7. Perhitungan Nilai Risk Priority Number (RPN)
Akhir tahapan dalam melakukan analisis menggunakan metode FMEA adalah mendapatkan nilai Risk Priority Number (RPN). Nilai Risk Priority Number (RPN) akan digunakan dalam analisis risiko untuk menilai tingkat risiko suatu kejadian atau potensi kegagalan. Risk Priority Number (RPN) dihitung dengan mengalikan tiga faktor yang saling terkait, yaitu Severity (keparahan), Occurrence (kejadian), dan Detection (deteksi). Rumus perhitungan nilai Risk Priority Number adalah RPN = Severity x Occurrence x Detection. Nilai RPN menjadi dasar dalam melakukan tindakan perbaikan, semakin tinggi nilai RPN maka semakin tinggi tingkat resiko yang dimiliki.
Matriks penilaian dari parameter RPN dapat ditunjukan pada tabel 4.
Komponen S O D RPN
Komponen 1 𝑋11 𝑋11 𝑋11 𝑅𝑃𝑁1
Komponen 2 𝑋21 𝑋22 𝑋21 𝑅𝑃𝑁2
Komponen 3 𝑋31 𝑋32 𝑋31 𝑅𝑃𝑁3
Komponen 4 𝑋41 𝑋42 𝑋41 𝑅𝑃𝑁4
Komponen 5 𝑋51 𝑋52 𝑋51 𝑅𝑃𝑁5
Komponen 6 𝑋61 𝑋62 𝑋61 𝑅𝑃𝑁6
Tabel 4 Perhitungan Nilai RPN
8. Pengembangan Tindakan Perbaikan (Action Plan)
Langkah selanjutnya adalah mengembangkan tindakan perbaikan atau action plan untuk mengurangi resiko yang di identifikasi. Nilai Risk Priority Number (RPN) yang didapatkan menjadi dasar dalam melakukan tindakan perbaikan.
Tindakan perbaikan atau action plan dibagi menjadi tiga kategori, yaitu : 1) Tindakan Pemeliharaan Preventive atau Preventive Maintenance 2) Tindakan Pemeliharaan korektif atau Corrective Maintenance 3) Tindakan Pemeliharaan prediktif atau Predictive Maintenance
Dalam pengembangan tindak perbaikan atau action plan tergantung kepada hasil dari RPN, Penentuan tindakan perbaikan dengan RPN dapat diklasifikasikan seperti pada tabel 5.
Rank Tindakan Perbaikan Kriteria
1 Pemeliharaan Prediktif RPN>300
2 Pemeliharaan Preventif 200<RPN<300
3 Pemeliharaan Korektif RPN<200
Tabel 5 Pemilihan kriteria untuk tindakan perbaikan
9. Implementasi dan Pemantauan
Agar permasalahan diatas terlaksana dengan baik, maka tahap terakhir yaitu implementasi dan pemantauan. Ketika tindakan pengembangan atau action plan telah dilakukan, maka tahap pemantauan dan implementasi ini sangat penting.
Implementasi sendiri adalah proses melaksanakan rencana sehingga suatu konsep menjadi kenyataan. Sehingga setelah kita mendapatkan nilai pemilihan kriteria perbaikan maka ditahap ini melakukan yang sudah diperoleh dalam data klasifikasi tindakan perbaikan. Setelah dilaksanakan tindakan perbaikan maka Langkah yang tidak kalah penting yaitu pemantauan. Pemantauan adalah kegiatan mengamati perkembangan pelaksanaan rencana pembangunan, mengidentifikasi atau mengukur pengaruh dari kegiatan yang sedang berjalan (on going).