BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.7. Waktu Dan Tempat
Waktu dan tempat pelaksaan kegiatan pada pengujian alat yang dilakukan sebagai laporan pada tugas akhir ini sebagai berikut:
Tempat pengujian : PT Pupuk Sriwidjaja Palembang pada bagian Pengatongan Pupuk Urea
Waktu pengujian : 09:00
Tempat Bengkel Kegiatan : Bengkel Fabrikasi PT Pupuk Sriwidjaja Palembang
26
Tabel 3.1. jadwal kegiatan penelitian
NO KEGIATAN MINGGU
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 Studi
lapangan 2 Studi
literatur 3 Perancangan
alat
4 Pembuatan alat
5 Pengujian alat
6 Pembahasan 7 Kesimpulan
27 BAB IV
PERHITUNGAN DAN PEMBAHASAN
4.1.Perhitungan Belt Conveyor yang akan disambung Spesifikasi belt conveyor yang akan digunakan yaitu
600 x EP-150x3ply x 3.0 x 3.0 x 500m Dimana : Lebar : 600 mm
Jenis ply : polyester polyamide Kekuatan : 150 Kgf/cm/Ply Lapisan : 3 Ply
Lapisan atas: 3.0 mm Lapisan bawah : 3.0 mm Panjang belt : 500 m
Jadi 150 Kgf/cm/Ply x 3 Ply = 450Kgf/cm total tergangan, untuk menentukan kelayakan belt conveyor untuk beroprasi dengan menggunakan rumus:
Gambar 4.1 Spesifikasi Belt Conveyor Yang Digunakan
28
i > π . ππππ₯
π΅ .πΎπ‘
...
(Lit. 2. Hal. 137) Dimana :i = Jumlah ply
SMax = Teganan teoretis belt maksimum, kg K = Faktor keselamatan (Tabel 4.1) B = Lebar belt, cm
Kt = Tegangan ultimate per cm lapisan, kg/cm Jumlah lapisan belt (plies) 2-4 4-5 6-8 9-11 12-14
Faktor Keamanan k 9 9,5 10 10,5 11
Tabel 4.1 Faktor Keselamatan k dan jumlah lapisan Belt
Menentukan keamanan belt conveyor dioprasikan dapat dilakukan perhitungan sebagai berikut:
i > π . ππππ₯
π΅ .πΎπ‘
3 = 9 . Smax
60cm .150 kg/cm
3 = 9 . Smax
9000kg
Smax = 9000 kg .3
9
Smax = 3000 kg
Muatan maksimal belt conveyor memiliki 400 kg pada belt conveyor akan tetapi beban maksimal teoritis lebih besar (3000 kg) dari beban muatan belt conveyor yang dipakai sehingga belt conveyor aman dioperasikan dengan normal.
4.2.Perhitungan Sambungan Belt Conveyor
Pada saat melakukan penyambungan belt conveyor perlu melakukan perhitungan terhadap penyambungan berikut karena untuk memperlama jangka waktu saat digunakan.
Gambar 4.3 Proses Penyambungan Belt Conveyor Gambar 4.2 Muatan Belt Yang Digunakan
30
3
Pada penyambungan berikut ini digunakan belt dengan lebar 600 mm dan fabric strenge pada belt conveyor
L = (0.3 x B) + (S x (n-1)) + 25 + 50 L = (0.3 x 600) + (150 x (3-1)) + 25 + 50 L = 180 + 300 + 25 + 50
L = 555 mm
4.3.Perhitungan Bagian-Bagian Alat
Adapun bentuk dan ukuran bagian-bagian dari alat penjepit belt conveyor yang darancang sebagai berikut, seperti gambar berikut 4.1.
Gambar 4.5 Bentuk Dan Ukuran Modifikasi Alat Penjepit Belt Conveyor
50 150 150
25 180
Gambar 4.4 Hasil Sambungan Belt Conveyor
555
2
1
4
Pada gambar 4.6 terdapat baut yang di dapatkan gaya momen yang sama setiap 4 baut dengan kekuatan torsi divariasikan yaitu 280N.m, 290N.m, 300 N.m dan 310N.m.
a. Baut yang diberi torsi 280 N.m
sambungan belt conveyor yang ditekan penjepit belt sebesar 280 N.m akan mengalami kekurangan ketebalan belt akibat tekanan baut dari penjepit dari tebal belt conveyor 9 mm menjadi 7,4 mm
280 N.m = 280 kg.m/s2.m Gravitasi = 9,807 m/s2 280 N.m = 280 kg.m/s
2.m 9,807 m/s2
280 N.m = 28,551 kg.m menjadi 28.551 kg.mm
T = F.r
F = T
r
F = 28.551 kg.mm 9 mm
F = 3.172,33 kg
32
b. Baut yang diberi torsi 290 N.m
sambungan belt conveyor yang ditekan penjepit belt sebesar 290 N.m akan mengalami kekurangan ketebalan belt akibat tekanan baut dari penjepit dari tebal belt conveyor 9 mm menjadi 7,3 mm
290 N.m = 290 kg.m/s2.m Gravitasi = 9,807 m/s2 290 N.m = 290 kg.m/s
2.m 9,807 m/s2
290 N.m = 29,57 kg.m menjadi 29.570 kg.mm
T = F.r
F = T
r
F = 28.570 kg.mm 9 mm
F = 3.285,55 kg
c. Baut yang diberi torsi 300 N.m
sambungan belt conveyor yang ditekan penjepit belt sebesar 300 N.m akan mengalami kekurangan ketebalan belt akibat tekanan baut dari penjepit dari tebal belt conveyor 9 mm menjadi 6,9 mm
300 N.m = 300 kg.m/s2.m Gravitasi = 9,807 m/s2
300 N.m = 300 kg.m/s
2.m 9,807 m/s2
300 N.m = 30,59 kg.m menjadi 30.590 kg.mm
T = F.r
F = T
r
F = 30.590 kg.mm 9 mm
F = 3.398,88 kg
d. Baut yang diberi torsi 310 N.m
sambungan belt conveyor yang ditekan penjepit belt sebesar 310 N.m akan mengalami kekurangan ketebalan belt akibat tekanan baut dari penjepit dari tebal belt conveyor 9 mm menjadi 6,6 mm
310 N.m = 310 kg.m/s2.m Gravitasi = 9,807 m/s2 310 N.m = 310 kg.m/s
2.m 9,807 m/s2
Gambar 4.6 Ukuran Sebelum Dan Sesudah Belt Conveyor ditekan
34
310 N.m = 31,61 kg.m menjadi 31.610 kg.mm
T = F.r
F = T
r
F = 31.610 kg.mm 9 mm
F = 3.512,22 kg
Grafik : 4.1 Hasil Momen Baut Masing-Masing Baut Penjepit Utama
Dari hasil grafik 4.1 di atas maka semakin tinggi gaya yang diberikan pada baut maka semakin menipis pula belt conveyor ditekan oleh baut tersebut. Keempat gaya pada baut dapat dapat digunakan tetapi saya mengambil torsi 300 N.m untuk perhitungan selajutnya.
7,40
7,30
6,90
6,60
6,20 6,40 6,60 6,80 7,00 7,20 7,40 7,60
280 290 300 310
Ketebalanbelt conveyorsetelah ditekan (mm)
Gaya momen pada baut (N.m)
Grafik Torsi Dan Gaya Pada Baut
4.3.1. Tegengan Tarik Pada Baut
Baut memiliki tegangan tarik maksimum untuk mengikat alat penjepit belt conveyor dengan rumus:
πt = W
A = w
(Ο4)π12 ... (Lit. 1. Hal. 296) Ulir Jarak
bagi p
Tinggi kaitan
π»1
Diameter luar d
Diameter Efektif π2
Diameter inti π1
M18 2,5 1,353 18,000 16,376 15,294
Tabel 4.2 Ukuran Ulir Kasar Metris (M18) (JIS B 0205) Dimana :
πt : Tegangan tarik
d1 : Diameter inti baut berulir πt = w
(Ο4)π12 πt = 3.398,88 kg
(Ο4)15,29421 πt = 18,501 kg/mm2
4.3.2. Tegangan Puntir Pada Baut
Baut memiliki tegangan maksimum untuk mengikat atau mengencangkan jepitan pada penekan utama belt conveyor untuk menjepit belt conveyor tersebut Menggunakan baut M18 untuk mengikat baut tersebut.
36
9
Gambar 4.7 Baut Penekan Utama Penjepit Belt Conveyor
Pada gambar di atas adalah baut penekan utama penjepit belt conveyor yang akan di hitung momen punter yaitu:
Οpuntir = Mπ
Wπ ... (Lit. 1. Hal. 340)
= MIπ
r
Dimana =
Mπ = Momen yang terjadi pada poros yang berulir (F.L)(kg.mm)
Wπ = Momen perlawanan puntir terjadi pada poros berulir (mm3) I = Momen inersia penampang untuk batang berulir (mm4) I = Ο
64d4 ... (R.K Jain. Hal. 66) I = Ο
64(18mm)4
I = 5152.99 mm4
r = Jari β jari yang berulir dalam = 7,647mm
M18
L = 120
152,4
πp = Mπ
Wπ = F.LI
r
πp = 3.398,88 kg.120 mm 5152.99 mm4
7,647mm
πp = 10,350 kg/mm2 πp = 1.035 kg/cm2
4.3.3. Tegangan tekan Penekan Utama Belt Konveyor
Pada penekan utama penjepit belt konveyor juga perlu dihitung kekuatan tekan pada alat supaya dapat mengetahui tekanan yang diterima pada belt konveyor tersebut sebagai berikut.
Gambar 4.8 Penekan Utama Belt Conveyor
Pada gambar di atas dapat diketahui bahwa penjepit belt conveyor berbentuk persegi Panjang dan dapat diperhitungkan tekanannya adalah : πT = FTotal
A
...
(Lit. 1. Hal. 89) 680 680650
38
πT = 4. FBaut + Berat Cover Bagian Atas A
πT = 4 x 3.398,88 kg +10 kg 680mm .650mm
πT = 13.605,52 kg 442000 mm2 πT = 0,03 kg/mm2 πT = 3 kg/cm2
4.4. PEMBAHASAN
Dari Pengujian di atas kita ketuahui bahwa alat penjepit belt telah diperoleh grafik hasil pengujian pada Grafik 4.1 dan semakin penampang dibuat akan semakin mengecil tekanan yang diberikan jika menggunakan jumlah baut dan ukuran baut yang sama.
Gambar 4.9 Penekan Belt Conveyor
39 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan
Setelah memodivikasi alat dan pembuatan alat penjepit belt conveyor untuk penyambungan belt conveyor dengan metode penyambungan dingin dapat disimpulkan bahwa alat bekerja dengan baik dan dapat digunakan dengan baik dan penyusunan ini dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Pengujian alat dilakukan pada lebar belt konveyor 600mm dengan jenis mobile conveyor.
2. Alat berfungsi dengan baik, jika lebar belt conveyor tidak melebihi lebar alat tersebut.
3. Semakin besar alat maka semakin besar kemungkinan alat dapat digunakan belt konveyor yang lebih lebar tapi jika alat yang besar akan menyulitkan penyambungan belt konveyor yang lebih kecil.
5.2. Saran
Adapun saran yang dapat penyusun berikan dengan harapan yang akan disampaikan.
1. Alat dapat di kembangkan menjadi penyambungan panas jika kita dapat mengatur temperatus pada pemanas yang akan digunakan dan memiliki lem panas pada pekerjaan tersebut.
Alat memang tidak diharuskan melakukan perawatan berjangka tapi harus diyakinkan kelayakan alat yang digunakan.
40
2. Jika alat mau dibuat lebih besar dapat dilakukan dengan beberapa perhitungan yang dilakukan seperti menambah baut pada sisi penjepit utama.
Pradaya. Jakarta, 2013.
2. Zainuri, Ach. Muhib. Mesin Pemindahan Bahan, ANDI. Yogyakarta, 2009.
3. Taufiq Rochim, Teori dan Teknologi Proses Permesinan, Higher Education Development Support Project, Jekarta, 1993.
4. Jain R.K Mechine Design, Khama Publisher Delhi, 3rd Edition, New Delhi, 1983.
5. Menggambar Mesin Menurut Standar ISO, G Takeshi S, N. Sugiarto H, Cetakan ke 8 PT. Pradnya Pamita, Jakarta, 1993.
6. Wiryosumanto, Harsono, Dan Toshie Okumura. Teknologi Pengelasan Logam.
Pradaya Paramita, 2010
LAMPIRAN 1
Hasil Momen Baut 1
Hasil Momen Baut 2
Hasil Momen Baut 3
Hasil Momen Baut 4
xz
Alat Dioperasikan