• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proses Pengembangan Model Edukasi Untuk Mendeteksi Risiko Tinggi Kehamilan

Proses dalam mendesain dan mengembangkan model edukasi untuk mendeteksi risiko tinggi kehamilan melalui beberapa tahapan, tahapan ini adalah bagian dari langkah utama pendekatan system (Model ADDIE) yaitu tahap Analisis, tahap desain, tahap pengembangan, tahap implementasi dan tahap evaluasi. Proses dalam mendesain dan mengembangkan model edukasi untuk mendeteksi risiko tinggi kehamilan. Tahap pertama yang dilakukan adalah analisis yang terdiri dari analisis kebutuhan, analisis karakteristik ibu hamil, analisis kemampuan prasyarat dan kemampuan awal, serta analisis lingkungan belajar.

Hasil dari analisis kebutuhan model edukasi ibu hamil berdasarkan kajian literatur ditemukan bahwa model edukasi multimedia dapat meningkatkan pengetahuan dan berkontribusi pada pemberdayaan dalam pengambilan keputusan.

Berbagai penelitian yang relevan menunjukkan telah banyak penelitian pengembangan aplikasi yang digunakan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan ibu hamil. Perkembangan teknologi mobile semakin memudahkan manusia dalam bersosialisasi, edukasi, dan pemenuhan kebutuhan lainnya (Musgrave,et.al, 2020:969). Hasil penelitian menunjukkan bahwa edukasi menggunakan aplikasi mobile dapat meningkatkan pengetahuan ibu hamil. Hasil penelitian sebelumnya belum ditemukan model edukasi berbasis aplikasi untuk mendeteksi risiko tinggi kehamilan yang sederhana dapat digunakan ibu hamil secara mandiri dan melindungi privasi ibu hamil.

Hasil penelitian Devita, dkk (2020) menyebutkan bahwa berbagai teknologi kesehatan di bidang kesehatan ibu dan bayi telah teridentifikasi, namun sebagian besar disediakan oleh tenaga kesehatan. Dibutuhkan pengembangan teknologi secara khusus berupa alat atau perangkat yang sederhana dan praktis untuk menilai kesehatan janin dengan sasaran pengguna ibu hamil dengan kehamilan risiko tinggi.

Berdasarkan analisis yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa dibutuhkannya sebuah model edukasi yang bisa digunakan oleh ibu hamil secara mandiri, bisa digunakan kapan saja dan dimana saja serta media edukasi yang tidak membosankan, menarik, dan mempermudah ibu dalam mengingat, memahami dan mempelajari tentang risiko tinggi kehamilan, serta meningkatkan motivasi belajar ibu hamil dan dibutuhkan oleh ibu

hamil tidak bekerja maupun bekerja, dengan semua rentang usia terutama pada usia 20-35 tahun, serta di semua tingkat pendidikat terutama SMA, dan pada semua status kehamilan serta jumlah anak terutama dengan status kehamilan serta jumlah anak dibawah atas sama dengan 3.

Tahap kedua yaitu tahap desain yang merupakan kegiatan perancangan produk sesuai dengan yang dibutuhkan (Jatmika, dkk. 2019:20).

Berdasarkan kajian terhadap berbagai penelitian yang relevan, perbedaan penelitian penulis dengan penelitian sebelumnya yaitu penulis mengembangkan model edukasi berbasis aplikasi untuk mendeteksi risiko tinggi kehamilan, aplikasi ini tidak mengumpulkan data pengguna yang bersifat pribadi sehingga privasi pengguna terjaga, selanjutnya aplikasi yang dirancang menggunakan materi aplikasi dari sumber pustaka yang terpercaya sehingga sumbernya jelas. Aplikasi yang didesain mengembangkan alat atau perangkat yang sederhana dan praktis untuk mendeteksi risiko tinggi kehamilan dengan sasaran pengguna ibu hamil.

Selanjutnya berdasarkan analisis kebutuhan, diketahui bahwa model edukasi yang selama ini digunakan yaitu model edukasi dengan metode ceramah tanya jawab dan media buku KIA maupun leaflet, namun ditemukan bahwa pengetahuan ibu hamil masih kurang, sementara motivasi dan lingkungan belajar ibu hamil cukup baik. Sehingga dikembangkan model edukasi berbasis teknologi. Aplikasi yang diciptakan diberi nama Bumilpedia. Pada tahap desain, urutan kegiatan yang dilakukan yaitu pertama menentukan tim pengembang, menentukan persyaratan dan tugas setiap tim, kemudian menentukan jadwal pengembangan, menentukan struktur materi, menentukan spesifikasi multimedia yang dikembangkan, membuat storyboard multimedia pembelajaran, menyiapkan instrumen penilaian, dan mengidentifikasi teknologi pendukung produksi multimedia pembelajaran.

Produk yang dirancang memuat materi yang dapat meningkatkan pengetahuan ibu hamil tentang risiko tinggi kehamilan, menarik, meningkatkan motivasi belajar ibu hamil, dan mudah digunakan dimana saja dan kapan saja. Spesisifikasi produk yang dirancang yaitu konsep proses belajar mengajar menggunakan multimedia pembelajaran berupa aplikasi yang dapat digunakan melalui smartphone.

Tahap ketiga yaitu tahap pengembangan. Proses pada tahap pengembangan ini yaitu melakukan validasi produk oleh validator ahli dan validator praktisi. Validasi materi intervensi/produk dilakukan sebanyak 2-3 tahap, pada tahap ini dilakukan beberapa revisi sesuai saran validator, setelah dilakukan validasi didapatkan hasil penilaian sangat baik dan layak.

Kelayakan ini disebabkan telah diperbaikinya bagian –bagian sesuai saran validator, bagian-bagian yang diperbaiki seperti pada materi intervensi/produk yaitu bagian dari aspek dibutuhkan untuk meningkatkan deteksi resiko tinggi kehamilan, aspek kelogisan dan ketersediaan teori pendukungnya, dan aspek unsur perangkat monitoring pada Ibu Hamil Risiko Tinggi dalam perangkat intervensi.

Kelengkapan tahapan intervensi pada produk aplikasi untuk meningkatkan deteksi resiko tinggi kehamilan dapat meningkatkan efektivitas penggunaan aplikasi dan hasil yang dicapai dari edukasi melalui produk tersebut. Hal ini sejalan dengan penelitian Mbuagbaw et al. (2018) yang berjudul The Cameroon Mobile Phone SMS (CAMPS) Trial: A Randomized Trial Of Text Messaging Versus Usual Care For Adherence To Antiretroviral Therapy menemukan bahwa pengetahuan dan perilaku ibu hamil dalam deteksi risiko tinggi kehamilan dapat meningkat dengan aplikasi yang lengkap termasuk informasi tentang tanda-tanda risiko tinggi kehamilan, jadwal pemeriksaan antenatal, dan intervensi yang tepat.

Tahap terakhir yaitu tahap implementasi merupakan tahapan menggunakan produk, sedangkan tahap evaluasi merupakan kegiatan menilai apakah setiap langkah kegiatan dan produk yang telah dibuat sudah sesuai dengan spesifikasi atau belum (Jatmika, 2019:20). Hasil implementasi uji satu persatu, uji kelompok kecil, dan uji kelompok besar di dapatkan penilaian terhadap aplikasi Bumilpedia dengan kategori sangat baik, revisi dilakukan pada uji satu persatu dan uji kelompok kecil.

Menurut Checkland,P, and Scholes,J (1999) dalam Rusdi (2019) bahwa kerangka evaluasi produk perkembangan salah satunya yaitu efficiency. Efficiency merupakan sejauhmana penggunaan produk dapat menghemat waktu, biaya dan penggunaan sumber-sumber dukung lainnya.

Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa ibu hamil mengatakan aplikasi mudah digunakan dan bisa mengatur waktu kapan untuk belajar tentang risiko tinggi kehamilan. Selanjutnya, evaluasi tentang sejauhmana produk yang dihasilkan memiliki style atau gaya yang anggun dan menyenangkan (elegance) juga merupakan salah satu kerangka evaluasi produk pengembangan. Dari hasil wawancara, pengguna mengatakan bahwa aplikasi sangat menarik, dengan video diakhir aplikasi menyebabkan ibu hamil menjadi lebih paham terhadap materi yang disampaikan.

Pengembangan model edukasi terdiri dari rangkaian kegiatan terdiri dari perencanaan, pengembangan dan evaluasi terhadap model edukasi yang sedang dikembangkan tersebut sehingga mengalami revisi beberapa kali dan dapat memuaskan bagi pengembangan (Sukadi, 2008:56).

Hasil evaluasi pada kelompok besar yang ditemukan, aplikasi Bumilpedia ini dinilai sudah bagus/sesuai dan menarik untuk digunakan oleh ibu hamil sehingga tujuan akhir dari revisi adalah produk aplikasi Bumilpedoa menjadi produk final dan layak atau sesuai digunakan untuk dilakukan evaluasi dampak pada uji lapangan.

Hasil uji lapangan ditemukan bahwa ada pengaruh signifikan penggunaan model edukasi aplikasi Bumilpedia terhadap pengetahuan dan sikap ibu hamil. Hasil uji N-Gain juga menunjukkan bahwa model edukasi aplikasi Bumilpedia ini efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan sikap ibu hamil.

Peningkatan pengetahuan ibu hamil dapat dikaitkan dengan daya tarik aplikasi, hasil uji lapangan diketahui bahwa aplikasi menarik dan tidak membosankan. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Simani M Price, et.al (2014) yang berjudul Educating women about congenital cytomegalovirus: assessment of health education materials through a web- based survey menemukan bahwa skor pengetahuan Cytomegalovirus meningkat secara signifikan setelah penyajian video atau lembar fakta dari pendidikan kesehatan melalui survei berbasis web (dari 3,7 dari 10 menjadi 9,1 dari 10, p <0,001). Peningkatan sikap dapat disebabkan pendidikan orang dewasa yang diterapkan. Menurut Suprijanto (2009) pendidikan orang dewasa bertujuan untuk mencapai perubahan pengetahuan, sikap, nilai serta ketrampilan, melalui proses belajar yang sistematis dan berkelanjutan pada seseorang yang memiliki status dewasa, pendidikan orang dewasa diselenggarakan dalam rangka pengarahan diri pribadi untuk memecahkan masalah. Sejalan dengan hasil penelitian Fitriami dan Achmad (2022) tentang edukasi pencegahan stunting berbasis aplikasi android dalam meningkatkan pengetahuan dan sikap ibu mendapatkan hasil bahwa terdapat perbedaan peningkatan nilai pre-test dan post-test yang signifikan pada aspek sikap dan pengetahuan ibu.

2. Kelayakan Model Edukasi Untuk Mendeteksi Risiko Tinggi Kehamilan

Dokumen terkait