• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proyeksi Perekonomian Provinsi DKI Jakarta

Dalam dokumen RANCANGAN - PPID DKI Jakarta (Halaman 119-124)

RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

3.1 Arah Kebijakan Ekonomi Daerah

3.1.7. Proyeksi Perekonomian Provinsi DKI Jakarta

Proyeksi perekonomian daerah tahun 2016 menjelaskan asumsi dasar ekonomi dan target ekonomi makro daerah Provinsi DKI Jakarta tahun 2016 yang memuat analisis dan perkiraan pertumbuhan ekonomi, inflasi, tingkat pengangguran terbuka, tingkat kemiskinan, tingkat kesenjangan dan Indeks Pembangunan Manusia.

Penetapan asumsi dasar ekonomi DKI Jakarta tahun 2016 memasukkan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS dengan mengikuti

asumsi yang digunakan oleh Pemerintah Pusat. Hal ini karena nilai tukar bukan merupakan kewenangan Pemerintah Provinisi DKI Jakarta.

3.1.7.1. Pertumbuhan Ekonomi Jakarta

Perekonomian DKI Jakarta mencerminkan perekonomian Nasional sehingga pergerakan yang terjadi pada perekonomian DKI Jakarta akan mempengaruhi perekonomian Nasional. Perekonomian DKI Jakarta juga tergantung pada perkembangan perekonomian global. Berdasarkan kondisi riil perekonomian DKI Jakarta tahun 2014 dan proyeksi tahun 2015, maka prospek perekonomian tahun 2016 dapat diuraikan sebagai berikut.

Pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta pada tahun 2015 diproyeksikan berada pada kisaran 5,9 - 6,3% (yoy) atau dapat dikatakan relatif stabil dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi tersebut ditopang oleh prospek peningkatan investasi dengan adanya akselerasi proyek pembangunan infrastruktur, baik oleh swasta maupun pemerintah.

Pengoperasian PTSP DKI Jakarta juga turut mendukung kinerja investasi yang lebih baik dengan adanya streamlining dari perizinan. Sementara itu, meningkatnya kinerja konsumsi rumah tangga terkait dengan pertumbuhan kelas menengah dan meningkatnya tingkat pendapatan, di tengah kondisi ekonomi makro yang stabil.

Kemudian untuk pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta tahun 2016 diproyeksikan berada pada kisaran 6,2% - 6,6% (yoy). Semakin membaiknya perekonomian Jakarta pada tahun 2016 dipengaruhi oleh berlanjutnya perbaikan dari faktor eksternal (perekonomian global), serta semakin menguatnya kinerja perekonomian domestik. Peningkatan pertumbuhan ekonomi global akan mendukung perbaikan ekspor produk Jakarta baik ke pasar internasional maupun domestik, khususnya kinerja sektor industri manufaktur. Dukungan pertumbuhan juga bersumber dari meningkatnya kinerja investasi serta konsumsi rumah tangga. Namun, impor diprediksi juga turut meningkat terkait dengan masih besarnya ketergantungan pada bahan baku luar negeri dari industri manufaktur.

Gambar 3.6. Gambaran Menuju Stabilitas Pertumbuhan Ekonomi 2016

Sumber: Bank Indonesia, diolah

Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta tahun 2016 sebagaimana yang telah diproyeksikan, perlu mendapat didukung oleh sejumlah faktor penting dalam perekonomian, diantaranya dengan upaya:

1. Dukungan agar ekspor produk Jakarta dapat tumbuh hingga mencapai 6% (yoy). Peluang untuk mendorong pertumbuhan ekspor tersebut dilakukan dengan cara mengoptimalkan kesempatan yang terbuka dari kondisi membaiknya permintaan global dan domestik. Adapun kunci dari kompetisi dalam memperebutkan pasar ekspor adalah perbaikan daya saing serta diversifikasi produk manufaktur.

2. Faktor stabilitas makro dan perbaikan infrastruktur akan mendukung kinerja investasi dan aktivitas perdagangan. Semakin giatnya pembangunan infrastruktur dan pembenahan sistem logistik, serta mekanisme perizinan, akan memperbaiki iklim investasi yang akan mendukung pertumbuhan investasi.

3. Terjaganya stabilitas ekonomi makro akan mendukung penciptaan lapangan kerja dan peningkatan tingkat pendapatan, baik di sektor formal maupun informal. Lapangan kerja berkualitas tercipta dengan semakin berkembangnya bisnis di sektor jasa, yang diantaranya terkait dengan dimulainya penerapan pasar tunggal MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) 2015.

3.1.7.2. Inflasi Jakarta

Inflasi DKI Jakarta pada tahun 2015 diproyeksikan berada pada kisaran 5,0–6,0 persen, lebih tinggi dari proyeksi inflasi nasional yang berada pada kisaran 4,4 persen. Proyeksi Inflasi DKI Jakarta pada tahun 2015 lebih rendah dibandingkan realisasi inflasi tahun sebelumnya dikarenakan telah terlihatnya upaya untuk mengatasi defisit pangan sehubungan relatif kuatnya permintaan masyarakat urban, khususnya kelas menengah yang perlu ditopang dengan peningkatan pengawasan terhadap harga pokok juga karena terus dilakukan dengan meningkatkan peran aktif dari Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) guna meminimalisir gejolak inflasi, disamping telah digalakannya program remunerasi Pegawai Kementerian/Lembaga dan Pemprov. DKI Jakarta berupa penyesuaian penghasilan.

Gambar 3.7. Gambaran Resiko Inflasi Jakarta Jangka Pendek tahun 2016

Sumber: Bank Indonesia

Selanjutnya tren penurunan tekanan inflasi akan terus berlanjut dimana untuk inflasi tahun 2016 diproyeksikan lebih rendah dari tahun 2015 sebesar 4,1 – 4,5%. Kondisi tersebut terjadi dengan asumsi nilai tukar yang diharapkan mulai bergerak ke arah stabil dan pasokan kebutuhan pokok masyarakat yang terjaga. Terkait dengan faktor risiko inflasi di Jakarta, sejumlah langkah strategis yang dapat diambil adalah:

1. Peningkatan kapasitas dan kualitas program layanan publik yang dapat membantu kesejahteraan masyarakat, sehingga tekanan upah dapat diminimalkan. Selain itu, dapat diberikan subsidi biaya transportasi, perumahan, pendidikan, dan kesehatan dengan sistem insentif;

2. Pembangunan infrastruktur strategis dalam rangka mengefisiensikan sistem logistik di Jakarta yang dapat menekan biaya produksi/distribusi barang serta jasa;

3. Pengarahan ekspektasi masyarakat melalui transparansi informasi harga;

4. Penguatan kerjasama daerah terutama melalui skema B-to-B (peran BUMD) untuk mendukung ketersediaan pasokan dan keterjangkauan harga pangan.

3.1.7.3. Nilai Tukar

Selanjutnya, Nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika pada tahun 2016 sebagaimana diproyeksikan pada kerangka ekonomi makro dan pokok-pokok kebijakan fiskal (KEM PPKF) RAPBN 2016 Kementerian Keuangan akan berada pada kisaran Rp. 12.800 – 13.200. Angka tersebut relatif lebih tinggi proyeksi pada APBN penetapan 2015 sebesar Rp.11.900.,- dan angka proyeksi pada APBN-Perubahan 2015 yang sebesar Rp.12.200.,-

Gambar 3.8. Gambaran Resiko Inflasi Jakarta Jangka Pendek tahun 2016

Sumber: Bloomberg dalam paparan BKF

Proyeksi nilai tukar rupiah pada tahun 2016 diperkirakan belum stabil meskipun masih terdapatnya peluang untuk semakin membaik.

Kondisi ini didasari oleh ekspektasi semakin membaiknya neraca perdagangan Indonesia, masuknya arus modal, baik Foreign Direct Investment (FDI) maupun portofolio, serta semakin menguatnya sumber-sumber pembiayaan domestik yang seiring pelaksanaan kebijakan financial inclusion and deepening.

Berdasarkan penjelasan di atas maka secara ringkas, ketiga indikator utama perekonomian daerah dapat dilihat sebagaimana pada Tabel 3.12 berikut.

Tabel 3.12 Asumsi Pertumbuhan Ekonomi, Inflasi dan Nilai Tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika

No. VARIABEL PENETAPAN

2015 PENETAPAN 2016 1. Pertumbuhan Ekonomi (%)

DKI 5,9 – 6,3 6,2 – 6,6*

Nasional 5,6 5,8 – 6,2**

2. Inflasi (%)

DKI 5,0 – 6,0 4,1 – 4,5*

Nasional 4,4 4,0±1,0**

3. Nilai tukar (Rupiah per Dollar Amerika)

DKI/Nasional 11.900 12.800-13.200*

Sumber : BPS Provinsi DKI Jakarta

Sumber *: Proyeksi Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia dan Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, 2015

Sumber** : kerangka ekonomi makro dan pokok-pokok kebijakan fiskal (KEM PPKF) RAPBN 2016 Kementerian Keuangan, 2015

Pertumbuhan ekonomi tahun ini terjadi peningkatan dari 5,9 - 6,3 persen menjadi 6,2 - 6,6 persen, inflasi juga diprakirakan akan terjadi penurunan dari tahun 2015 sebesar 5,0 - 6,0 persen dan pada tahun 2016 menjadi 4,1 - 4,5 persen. Selanjutnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat melemah dari Rp. 11.900.-/per dolar

Amerika Serikat pada tahun 2015 menjadi Rp. 12.800 – 13.200.-/ per dolar Amerika Serikat pada tahun 2016.

Dalam dokumen RANCANGAN - PPID DKI Jakarta (Halaman 119-124)