• Tidak ada hasil yang ditemukan

Puisi Bebas

Dalam dokumen Selain Cinta dan Perjuangan” (Halaman 42-51)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

B. Hakikat Puisi

4. Puisi Bebas

(2) Terzina (sajak tiga seuntai), artinya baitnya teridir atas tiga buah kalimat.

Terzina bersajak a-a-a, a-a-b, a-b-c, atau a-b-b.

(3) Quantrain (sajak empat seuntai), artinya setiap baitnya teridir atas empat buah kalimat. Quantrain bersajak a-b-a-b, a-a-a-a, atau a-a-b-b.

(4) Quint (sajak lima seuntai), artinya terdiri atas lima baris. Quint bersajak a- a-a-a-a.

(5) Sektet (sajak enam seuntai), artinya terdiri atas enam buah kalimat dalam setiap baitnya. Sektet mempunyai sajak yang tidak beraturan. Pengarang bebas menyatakan perasaannya tanpa menghiraukan persajakan atau rima bunyi.

(6) Septima (sajak tujuh seuntai), artinya setiap baitnya terdiri atas tujuh buat kalimat. Persajakan dalam septima tidak berurutan.

(7) Stanza (sajak delapan seuntai), artinya sajak yang terdiri atas delapan kalimat. Persajakan dalam stanza tidak berurutan.

(8) Seoneta (sajak empat belas seuntai), artinya sajak yang terdiri atas empat bait (dua bait pertama masing-masing terdiri atas empat baris, dua bait terakhir masing-masing terdiri atas tiga baris).

(9) Puisi bebas, yaitu puisi yang tidak terikat oleh beberapa aturan khusus, yaitu jumlah baris setiap bait, jumlah suku kata setiap baris, sajak, irama, ritma, dan pilihan kata.

adalah kumpulan puisi pendek yang berisi berbgaia contoh realisasi kebebasan untuk berkarya. Kebebasan sering kali membawa perkembangan persoalan, namun dalam berkarya kebebasan merupakan sesuatu yang harus dimiliki oleh seniman yang bertanggung jawab. Dalam puisi, seorang seniman akan benar- benar ingin membawakan sebuah karya puisi yang luar biasa seandainya dari setiap faktor tekanan dan persoalan kehidupan yang menghimpit, cukup ketika ia sedang menghadap pena dan kertas dan mulai menuangkan ide-idenya ke dalam puisi.

Pradopo dalam (Rahmi, 2009: 312), menyatakan bahwa para penyair baru (modern) menulis puisi tanpa memperdulikan ikatan-ikatan formal itu merupakan sarana kepuitisan saja, bukan hakikat puisi. Waluyo (1995: 15) mengemukakan bahwa para pecinta puisi baru berusaha melepaskan ikatan- ikatan puisi lama. Namun demikian, ikatan itu lebih bersifat longgar dibandingkan dengan ikatan puisi lama. Jadi, dapat disimpulkan bahwa puisi bebas adalah puisi yang tidak terikat oleh unsur-unsur persajakan.

Puisi bebas biasanya juga dikatakan sebagai Puisi Baru yang tidak terikat lagi oleh aturan yang mana bentuknya lebih bebas dari pada puisi lama dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun rima. Langkah-langkah yang harus dilakukan untuk dapat menulis puisi bebas adalah sebagai berikut:

a. Menentukan tema yang akan diangkat jadi puisi.

b. Sebelum menulis puisi, bebaskanlah hati dari segala macam rasa takut seperti takut tidak berbobot, takut salah, takut diprotes dan sebagainya.

c. Dalam tahap ini tidak perlu merisaukan penggunaan diksi, atau pilihan kata. Tulislah semua kata yang muncul di dalam benak yang terikat dengan tema tersebut.

d. Setelah dirasa cukup atau selesai mulailah cermati keindahan diksi, penerimaan, urutan, keserasian, dan unsur-unsur puisi lainnya (metafora, citraan, tema dan amanat).

Dalam menuangkan ide, gagasan dan pengalaman ke dalam bentuk puisi bebas perlu latihan dan pengetahuan tentang puisi yang memadai. Hal ini yang perlu diingat bahwa puisi merupakan karya sastra yang bersifat puitis, yang membangkitkan perasaan, menarik perhatian dan menimbulkan tanggapan yang jelas. Beberapa teori telah dipaparkan oleh penulis. Adapun teori yang mendukung penelitian ini yaitu tentang:

1) tema, 2) Diksi, 3) amanat atau tujuan, 4) tipografi.

Contoh Puisi Bebas:

Desaku Di Pagi Hari Kicau burung bersahutan Di pagi yang penuh kehangatan Bermain-main di pucuk dan dahan Melengkapi alam desa penuh keindahan.

Udara segar bersemilir Memasuki sela-sela desa Hari baru mulai bergulir Suasana rasa sentosa.

C. Teknik Menulis Puisi

Setelah mengetahui bagaimana puisi yang baik, tentu timbul pertanyaan, bagaimanakah variasi teknik kreatif yang memungkinankan akan menggiring secara mudah dalam menulis puisi? Banyak terknik dalam pengajaran menulis puisi jika berani kreatif dalam melakukannya. Teknik-teknik ini berkaitan dengan keberanian, pemahaman puisi, igenuitas (luwes), penguasaan style, dan kemampuan empati. Variasi teknik kreatif dalam menulis puisi dapat diuraikan sebagai berikut.

1. Teknik Peta Pasang Kata

Teknik ini berpusat pada keberanian dalam memasangmasangkan kata secara bebas tetapi imajinatif. Disinilah, akan dimungkinkan munculnya kata- kata baru yang imajinatif pula. Hal ini, kemudian menjadi hal yang secara potensial dapat dikembangkan menjadi bait, selanjutnya dapat disempurnakan puisi yang utuh.

Langkah pertama kita perlu membayangkan sentral kata yang menggerakkan inspirasi kita. Tugas kita dalam langkah ini, adalah menyeleksi dari sekian pengalaman dan empati kita untuk memilih focus pada diksi tertentu. Inspirasional diksi yang menggerakkan ini menggugah ingatan kita pada hal-hal yang seringkali secara tidak sadar akan menghasilkan eksplorasi kata yang luar biasa.

Langkah kedua mengaitkan kata dengan kata lain (memasang kata). Ini membutuhkan keberanian untuk tidak terjebak pada ketakutan apakah pasangan kata yang dibuat salah atau benar sesuai dengan kaidah bahasa

Indonesia. Dalam menulis puisi tidak dikenal salah atau benar, sebab penyair memiliki kebebasan untuk menyimpang dari kaidah yang dikenal dengan licensia poetica.

Contoh: Mata lupa, aroma, dusta, hitam hati, dan lain sebagainya.

Langkah ketiga setelah kita secara acak bermain-main dengan memasang kata dengan berbagai kata secara bebas maka selanjutnya mengembangkannya menjadi larik-larik yang menarik. Larik-larik menarik dalam puisi tidak terikat oleh kaidah kebahasaan, tetapi seorang penyair diberikan kebebasan untuk berkarya.

Contoh: Aroma dusta bermuara pada tatapan luka/

Mata lupa mengingatnya karena/

Langkah keempat mengkategorikan larik-larik yang telah dibuat ke dalam tema kecil (pokok permasalahan) yang biasa disebut subject matter. Di sini, dibutuhkan kemampuan analisis terhadap isi dan makna larik kemudian merangkai gagasan larik ke dalam keutuhan bait yang memikat.

Langkah kelima dekat dengan langkah keempat, mengkategorikan larik ke dalam kelompok larik yang membangun bait. Di sinilah dibutuhkan kejelian untuk menentukan larik-larik yang manakah yang memiliki nuansa yang sama, berdekatan, dan bahkan berurutan “pikiran”. Dengan begitu, maka akan sangat membantu dalam mengklasifikasikan larik.

2. Teknik Epigonal

Teknik epigonal pada dasarnya adalah teknik pengekoran terhadap puisi-puisi yang telah ada. Adapun langkah-langkah yang ditempuh adalah; (a)

sebanyak mungkin membaca puisi para penyair, (b) mengidentifikasi kemenarikan puisi, (c) mengkategorikan aspek kemenarikan puisi, (d) menyisihkan puisi-puisi yang insprirasional dan menarik, (e) mengedit secara cermat sehingga puisi yang ditulisnya sudah relative memesona.

3. Teknik Lengkapi

Puisi teknik ini merupakan latihan mendasar mengawali puisi, mengisi isi puisi, sampai bagaimana mengakhiri puisi yang menarik. Di samping itu, teknik ini juga melatihkan agar secara kreatif kita dapat menyesuaikan secara cepat dengan gaya puisi dirumpangkan. Langkah-langkah yang dapat dimanfaatkan dalam teknik ini adalah sebagai berikut (a) menghilangkan sebait dua bait awal kemudian mengisinya dengan ungkapan beda tetapi semakna, (b) menghilangkan bait-bait isi puisi kemudian mengisinya dengan ungkapan beda tapi semakna, (c) menghilangkan sebait terakhir kemudian mengisinya dengan ungkapan beda tapi semakna, (d) mengedit ulang apakah pengisian bait-bait rumpang itu secara totalitas makna sudah padu.

4. Teknik Outbond

Pada prinsipnya teknik outbond mengajak kita untuk terlibat langsung dengan objek, dan karena itu, pemaksimalan penulisan menggunakan teknik ini menarik jika dilakukan di luar ruang-ruang bersekat, tetapi dialam terbuka.

Misalnya, di pinggir kali, di alun-alun kota, di objek wisata, di pesawahan, di keramaian, dan seterusnya. Langkah-langkah yang dapat ditempuh dalam teknik outbond adalah: (a) memilih tempat yang cocok dengan tema yang dipilih, (b) memaksimalkan objek langsung sebagai sumber inspirasi dan

ekspresi, (c) mengekspresikannya sesuai dengan objek amatan, dan (d) menata dengan baik berbasis objek langsung.

5. Teknik Panggil Pengalaman

Sumber yang paling diyakini dapat membantu dalan pengerjaan menulis puisi adalah mengangkat pengalaman pribadi, mengundang ide atau gagasan (brainstorming). Dalam kegiatan ini, satu tema bisa dipilih, misalnya yang paling sederhana, kegiatan akhir pecan. Ini bisa dimulai dengan menulis paragraph pendek tentang kegiatan akhir pecan yang tak terlupakan. Setelah itu dengan bimbingan bisa dilanjutkan menulis puisi berdasarkan pengalaman yangbtak terlupakan.

D. Kerangka Pikir

Komponen kompetensi pembelajaran bahasa Indoneisa terdiri atas kompetensi bersastra dan kompetensi berbahasa. Ada empat keterampilan berbhasa, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Salah satu keterampilan berbahasa yang paling tinggi tingkatnya adalah keterampilan menulis.

Untuk mempersiapkan siswa mengembangkan kemampuan menulis puisinya, penting untuk mengetahui cara menulis puisi. Dalam pembelajaran, faktor pengajar dan strategi pembelajaran sangat menentukan pencapaian belajar siswa dan dapat mendorong siswa untuk lebih terpacu dalam belajar. Selain itu, seorang guru juga harus pandai dalam memilih metode, media, prosedur, dan strategi pembelajaran yang tepat untuk menciptakan suasana belajar yang berharga sehingga siswa tidak perlu merasa lelah dalam proses pengajaran dan

pembelajaran.pembelajaran sastra seperti puisi, cerita pendek, fantasi, dan lain sebagainya memang mendapat sedikit porsi di sekolah. Apalagi keterbatasan waktu dan lemahnya kemampuan siswa. Pembelajaran menulis puisi di SMP Negeri 35 Makassar masih belum ideal, karena prosedur yang digunakan pendidik masih tahap pelatihan.

Analisis pembelajaran menulis puisi ini bisa dimanfaatkan untuk menanggulangi permasalahan yang ada pada siswa kelas VIII SMP Negeri 35 Makassar.

Bagan Kerangka Pikir

Bahasa Indonesia

MENULIS PUISI

KESULITAN DAN HAMBATAN MENULIS

PUISI

ANALISIS

KESIMPULAN SEBELUM MENULIS

PUISI

SESUDAH MENULIS PUISI

BAB III

METODE PENELITIAN A. Jenis dan Tipe Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Metode deskriptif digunakan dalam penelitian ini karena penulis ingin mendeskripsikan fakta mengenai proses kegiatan pembelejaran menulis puisi pada siswa kelas VIII. Bentuk penelitian adalah penelitian kualitatif yang bermaksud unutk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian. Kehadiran penelitian dalam situasi ini tidak berpengaruh apapun terhadap objek. Sesuai dengan jenis penelitian yang akan diterapkan data berupa hasil observasi secara langsung dan hasil wawancara akan dianalisis kemudian dicatat selengkap-lengkapnya dan seobjektif mungkin.

B. Lokasi Penelitian

Penelitian ini memilih lokasi penelitian SMP Negeri 35 Kota Makassar.

Pemilihan lokasi penelitian ini didasarkan karena peneliti melihat adanya potensi besar yang dimiliki oleh Kota Makassar sebagai salah satu wilayah strategis dan ini memungkinkan bagi peneliti untuk dapat menggali informasi yang lebih mendalam mengenai kesulitan dalam pembelajaran sastra Indonesia yang terlibat dalam sektor pendidikan di Kota Makassar. Selain itu, keterlibatan para guru dan siswa dalam ruang lingkup berbagai hal masih dalam angka yang cukup minim, dan ini juga menjadi alasan mengapa peneliti sangat tertarik dalam memilih Kota Makassar sebagai lokasi penelitian ini.

C. Data dan Sumber Data 1. Data

Data dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII di SMP Negeri 35 Makassar. Data penelitian yang terkumpul dari hasil observasi dianalisis dengan langkah-langkah sebagai berikut. (a) penulis menyajikan data yang diperoleh melalui observasi. (b) mengklasifikasikan data sesuai dengan masalah yang diteliti. (c) menganalisis data dan mendeskripsikan kemudian memberikan kesimpulan. Selanjutnya adalah guru yang mengampu pembelajaran Bahasa Indonesia guna mendapatkan informasi dan data dari guru.

2. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini akan digunakan sebagai informasi yang akan diteliti. Adapun wujud data berupa hasil observasi memuat informasi yang mengenai persiapan pembelajaran, proses pembelajaran menulis puisi, pelaksanaan pembelajaran dan evaluasi oleh siswa dalam pembelajaran menulis puisi. Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII.7 yang melaksanakan pembelajaran menulis puisi di SMP Negeri 35 Makassar tahun ajaran 2021/2022.

D. Teknik Pengumpulan Data

Untuk mendapatkan data yang lengkap digunakan teknik 1) Observasi:

Peneliti menggunakan observasi nonpartisipan karena peneliti tidak terlibat secara langsung dengan aktivitas dan hanya sebagai pengamat independen yang mencatat, menganalisis, dan selanjutnya membuat kesimpulan, 2) Wawancara:

Pada tahap ini, wawancara dilakukan untuk mengumpulkan data menulis puisi pada siswa. Wawancara dilakukan melalui pertanyaan-pertanyaan yang diberikan kepada guru dan siswa untuk memperoleh informasi mengenai pembelajaran menulis puisi yang dilaksanakan selama ini dan hasil yang dicapai siswa kelas VIII dan 3) Dokumentasi: yaitu, mengumpulkan, mengelolah, menyimpan, dan menyebarkan kembali dokumen dalam penelitian ini. Langkah-langkah yang digunakan pada tahap pengumpulan data adalah sebagai berikut:

1. Berdasarkan jadwal yang ditetapkan, peneliti menghubungi kembali guru bahasa Indonesia yang telah ditunjuk kepala sekolah.

2. Peneliti mulai mengobservasi kegiatan pembelajaran menulis puisi di dalam kelas kemudian pada pertemuan selanjutnya peneliti menyampaikan beberapa penjelasan yang perlu kepada siswa sehubungan dengan pelaksanaan penelitian dan memulai kegiatan wawancara kepada siswa kemudian dilajutkan kepada guru.

3. Setelah kegiatan wawancara selesai, peneliti mengolah informasi yang diperoleh dari siswa dan sebagian guru.

E. Teknik Analisis Data

Analisis data yang dilakukan setelah semua data terkumpul dengan menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif. Proses pengelolaan data melalui 3 tahap. Analisis ini dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Identifikasi; pada tahap ini peneliti merangkum dan memilih beberapa data yang penting yang berkaitan dengan hal-hal yang menghambat dan mempersulit siswa dalam pembelajaran menulis puisi pada siswa kelas

VIII SMP Negeri 35 Makassar. Dan kemudian akan disajikan dalam bentuk teks yang bersifat naratif dalam laporan penelitian.

2. Klasifikasi; setelah di identifikasi kemudian tahap selanjutnya adalah mengklasifikasi atau mengelompokkan masalah yang tertuang dalam teori- teori dan penjelasan melalui para ilmuan dari penelitian ini.

3. Analisis; tahap terakhir ini yang dilakukan adalah menganalisis secara kritis berdasarkan fakta-fakta yang diperoleh dilapangan. masalah yang berasal dari pembahasan penelitian sebagai bahan penarikan kesimpulan yang dikemukakan dalam bentuk naratif sebagai jawaban dari rumusan masalah yang sudah dirumuskan sejak awal. Penggunaan metode analisis dan interpretasi bertujuan untuk memberikan penjelasan secara deskriptif agar membantu pembaca mengetahui apa yang terjadi dilingkungan pengamatan, seperti apa pandangan partisipan yang berada dilator belakang penelitian. Deskripsi yang cukup dan pernyataan langsung dimaksudkan untuk membantu pembaca memahami secara penuh dari orang yang terwakili secara naratif dengan pembelajaran menulis puisi bebas siswa.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Hasil Analisis Data

Pada bab ini, dideskripsikan secara rinci tentang hasil pembelajaran menulis puisi bebas pada siswa kelas VIII SMP Negeri 35 makassar. Untuk mengetahui kemampun pembelajaran rata-rata siswa dalam menulis puisi bebas ditinjau dari segi struktur fisik puisi (diksi, pengimajian, kata kongkret, bahasa figuratif dan tipografi) dan ditinjau dari segi struktur batin puisi (tema, nada, perasaan dan amanat). Hal tersebut akan di rinci sebagai berikut:

1. Deskripsi Pembelajaran Menulis Puisi Bebas pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 35 Makassar Ditinjau dari Segi Struktur Fisik Puisi

Aspek-aspek yang dinilai dalam puisi bebas ditinjau dari segi struktur fisik puisi yaitu, diksi, pengimajian, kata kongkret, bahasa figurative, dan tipografi.

Untuk memperjelas hasil penelitian ini, berikut dibahas aspek-aspek yang dijadikan pedoman dalam menulis puisi bebas ditinjau dari segi struktur fisik puisi.

a. Deskripsi Pembelajaran Menulis Puisi Bebas pada Aspek Diksi Siswa Kelas VIII SMP Negeri 35 Makassar

Menurut Wardoyo (2003), diksi atau pilihan kata adalah dasar bangunan setiap puisi. Diksi dapat dijadikan sebagai tolak ukur untuk penyair itu sendiri, mengenai daya cipta yang asli. Dalam menggunakan diksi penyair selalu dapat memperhitungkan hal-hal yang penting, seperti: 1)

kaitan dengan gagasan dasar yang akan diekspresikkan atau dikomunikasikan; 2) wujud kosakatanya; 3) hubungan antara kata dalam bentuk susunan tertentu sebagai sarana retorik sehingga tercipta kiasan- kiasan yang terkait dengan gagasan; dan 4) kemungkinan efeknya bagi pembaca.

Aspek penilian dalam aspek diksi terdiri dari 4 kriteria penilaian yakni, penggunaan diksi dalam satu bait terdapat 2-3 kata dengan penggunaan kata yang sangat tepat dengan skor 4, penggunaan diksi dalam satu bait 2-3 kata dengan sedikit sekali kesalahan dalam memilih dan menggunakan kata dengan skor 3, penggunaan diksi dalam satu bait 2-3 kata, tetapi sering menggunakkan kata yang kurang tepat dengan skor 2, dan penggunaan diksi dalam satu bait 2-3 kata, tetapi kata-kata yang digunakan tidak terpilih, sehingga makna yang diungkapkan tidak bisa dipahami dengan skor 1.

Berdasarkan penilaian pada aspek diksi tersebut dapat dilihat bahwa, siswa yang mampu menggunakan diksi dalam satu bait 2-3 kata, tetapi kata- kata yang digunakan tidak terpilih, sehingga makna yang diungkapkan tidak bisa dipahami sebanyak 1 orang, siswa yang mampu menggunakan diksi dalam satu bait 2-3 kata, tetapi sering menggunakan kata yang kurang tepat sebanyak 6 orang, siswa yang mampu menggunakan diksi dalam satru bait 2-3 kata sebanyak 21 orang, dan siswa yang mampu menggunakan diksi dalam satu bait terdapat 2-3 kata dengan penggunaan kata yang sangat tepat sebanyak 3 orang. Dengan demikian, siswa yang mampu menulis puisi

bebas dengan tepat sebanyak 24 orang, presentase ini lebih besar dari standar tolak ukur pembelajaran menulis puisi bebas yaitu 75%, sehingga pada aspek penilaian diksi, siswa dinyatakan telah mampu menulis puisi bebas.

b. Deskripsi Pembelajaran Menulis Puisi Bebas pada Aspek Pengimajian Siswa Kelas VIII SMP Negeri 35 Makassar

Menurut Wadoyo (2003), pengimajian adalah gambaran angan yang terbentuk dan diekspresikan melalui medium bahasa yang merupakan hasil dari pengalaman indra manusia.

Aspek penilaian pada pengimajian terdiri atas 3 kriteria penilaian yakni, menggunakan tiga pengimajian dalam puisi dengan skor 3, menggunakan dua pengimajian dalam puisi dengan skor 2, dan menggunakan satu pengimajian dalam puisi dengan skor 1.

Berdasarkan penilaian pada aspek pengimajian diperoleh gambaran bahwa, siswa yang mampu menggunakan satu pengimajian dalam puisi sebanyak 1 orang, siswa yang mampu menggunakan dua pengimajian dalam puisi sebanyak 23 orang, dan siswa yang mampu menggunakan tiga pengimajian dalam puisi sebanyak 7 orang. Dengan demikian, siswa yang mampu menulis puisi dengan tepat sebanyak 30 orang (99%), presentase ini lebih besar dari standar tolak ukur pembelajaran menulis puisi bebas yaitu 75%, sehingga pada aspek penilaian pengimajian, siswa dinyatakan telah mampu menulis puisi bebas.

c. Deskripsi Pembelajaran Menulis Puisi Bebas pada Aspek Kata Kongkret Siswa Kelas VIII SMP Neger 35 Makassar

Menurut Wardoyo (2003), kata kongkret yaitu yang digunakan oleh seorang penyair untuk suatu arti dari segi keseluruhan, dengan kata lain kata kongkret adalah kata-kata yang mampu memberikan pengimajian kepada pembaca atau pendengar.

Aspek penilaian pada kata kongkret terdiri atas 4 kriteria penilaian yakni, penggunaan kata kongtkret dalam keseluruhan puisi 3-4 dengan penulis menggambarkan suatu kiasan keadaan atau suasana batin sehingga membangkitkan imaji pembaca dengan skor 4, penggunaan kata kongkret dalam keseluruhan puisi 3-4 kata atau lebih dengan ada usaha penulis mengkongkretkan kata-kata sehingga dapat menyaran kepada arti yang menyeluruh dengan skor 3, penggunaan kata kongkret dalam keseluruhan puisi 3-4 kata denga nada usaha penulis mengkongkretkan kata-kata, tetapi sedikit menyaran kepada arti yang menyeluruh dengan skor 2, dan penggunaan kata kongkret dalam keseluruhan puisi 3-4 kata dengan tidak ada sama sekali usaha penulis mengkongkretkan kata-kata, sehingga tidak menyaran kepada arti yang menyeluruh dengan skor 1.

Berdasarkan penilaian pada aspek kata kongkret tersebut dapat dilihat bahwa, siswa yang mampu menggunakan kata kongkret dalam keseluruhan puisi 3-4 kata dengan ada usaha penulis mengkongkretkan kata- kata, tetapi sedikit menyaran kepada arti yang menyeluruh sebanyak 11 orang dan siswa yang mampu menggunakan kata kongkret dalam

keseluruhan 3-4 kata atau lebih dengan ada usaha penulis mengkongkretkan kata-kata sehingga dapat menyaran kepada arti yang menyeluruh sebanyak 20 orang. Dengan demikian, siswa yang mampu menulis puisi bebas dengan tepat sebanyak 20 orang (69%), presentase ini lebih kecil dari standar tolak ukur pembelajaran menulis puisi bebas yaitu 75%, sehingga aspek penilaian kata kongkret, siswa dinyatakan belum mampu menulis puisi bebas.

d. Deskripsi Pembelajaran Menulis Puisi Bebas pada Aspek Bahasa Figuratif Siswa Kelas VIII SMP Negeri 35 Makassar

Menurut Wardoyo (2003), bahasa figuratif adalah bahasa yang digunakan oleh penyair untuk mendapatkan suatu kepuitisan. Bahasa kiasan yang digunakan oleh penyair memiliki peranan penting sebagai upaya penyair dalam menggadakan makna dalam sajaknya.

Aspek penilaian pada bahasa figuratif terdiri atas 4 kriteria penilaian yakni, pemilihan dan penggunaan bahasa figuratif sangat tepat dengan skor 4, sedikit sekali melakukan kesalahan dalam memilih dan menggunakan bahasa figuratif dengan skor 3, sering menggunakan bahasa figuratif yang kurang tepat dengan skor 2, dan bahasa figuratif yang digunakan tidak terpilih, sehingga makna yang diungkapkan tidak bias dipahami dengan skor 1

Berdasarkan penilaian pada aspek bahasa figuratif tersebut dapat dilihat bahwa, siswa yang sering menggunakan bahasa figuratif kurang tepat sebanyak 12 orang, siswa yang sedikit sekali melakukan kesalahan dalam memilih dan menggunakan bahasa figuratif sebanyak 18 orang, dan siswa

yang pemilihan dan penggunaan bahasa figuratif sangat tepat sebanyak 1.

Dengan demikian, siswa yang mampu menulis puisi bebas dengan tepat sebanyak 17 orang (60%), presentase ini lebih kecil dari standar tolak ukur pembelajaran menulis puisi bebas yaitu 75%, sehingga pada aspek penilaian bahasa figuratif, siswa dinyatakan belum mampu menulis puisi bebas.

e. Deskripsi Pembelajaran Menulis Puisi pada Aspek Tipografi Siswa Kelas VIIISMP Neger 35 Makassar

Menurut Wardoyo(2003), tipografi atau tata wajah puisi adalah bentuk tampilan suatu karya seorang penyair. Tipografi puisi memiliki beberapa fungsi antara lain sebagai pembeda karya sastra puisi dengn karya sastra lain. Adapun pebagian dalam Tipografi sebagai berikut: (1) pembaitan (terkait dengan bagaimana seorang penyair mewujudkan puisinya ke dalam bentuk bait-baitnya; (2) pungtuasi (penggunaan ejaan dan tanda baca); (3) tipografi (tata hubungan dan tata baris) dan (4) enjabemen (peloncatan suatu sintaksis yang terdapat pada baris tertentu ke dalam baris berikutnya).

Aspek penilaian pada tipografi terdiri atas 4 kriteria penilaian yakni, unsur tipografi dijalin sangat tepat dengan skor 4, penggunaan unsur tipografi sudah ada, tetapi kadang-kadang jalinannya tidak jelas dengan skor 3, unsur tipografi kurang dijalin dengan baik dengan skor 2, dan penggunaan unsur tipografi sama sekali belum dapat diwujudkan dengan skor 1.

Berdasarkan penilaian pada aspek tipografi dapat dilihat bahwa, siswa yang mampu menggunakan unsur tipografi kurang dijalin dengan baik sebanyak 14 orang, siswa yang mampu menggunakan unsur tipografi sudah

Dalam dokumen Selain Cinta dan Perjuangan” (Halaman 42-51)

Dokumen terkait