BAB 6 PENERAPAN KONSEP WANPRESTASI
B. Putusan MA RI No. Perkara 933K/Pid/1994 tanggal 28 Agustus
SAMPLE
Berkaitan dengan putusan Majelis Hakim Mahkamah Agung tersebut, dapat kita lihat Arrest Hoge Raad tanggal 1 November 1920 sebagaimana dalam Nederlandse Jurispruden
tie Tahun 1920, halaman 1215, yang dimuat dalam Weekblad van het Recht Nomor: 10650, seperti yang dikutip oleh P.A.P.
Lamintang dan Djisman Samosir.6 dalam bukunya Hukum Pidana Indonesia, dinyatakan bahwa, termasuk tipu muslihat adalah di antaranya “Perbuatan menyerahkan cek, yang diketa- huinya bahwa cek tersebut tidak dapat diuangkan”, merupakan kejahatan penipuan.
B. PUTUSAN MA RI NO. PERKARA 933K/PID/1994
SAMPLE
perkataan bohong marasuk orang supaya memberikan sesuatu barang, membuat utang atau menghapuskan piutang dilakukan dengan cara yaitu pada waktu dan tempat sebagaimana dilihat di atas, terdakwa mendatangi korban untuk meminjam uang dan berjanji akan dikembalikan dalam waktu satu bulan, maka saksi memberikan pinjaman uang sebesar Rp 43.900.000,- dengan rician:
a. Tanggal 16 April 1992 sebanyak Rp7.500.000,- b. Tanggal 28 April 1992 sebanyak Rp11.000.000,- c. Tanggal 2 Mei 1992 sebanyak Rp10.000.000,- d. Tanggal 4 Mei 1992 sebanyak Rp5.400.000,- e. Tanggal 9 Mei 1992 sebanyak Rp10.000.000,-
Kemudian supaya saksi percaya Terdakwa memberikan lima lembar cek kontan sejumlah nilai uang tersebut yang se- benarnya Terdakwa sudah mengetahui dana di Bank Central Asia tidak ada dananya, karena rekening ditutup pada tanggal 8 April 1992, saksi telah memeperingatkan Terdakwa agar cek tersebut tidak kosong dananya, setelah cek diuangkan tidak ada dananya kemudian saksi menyuruh Betty Lestari menghubungi Terdakwa untuk menyelesaikan cek kosong tersebut, Terdakwa berjanji akan melunasi utangnya namun tidak dipenuhi akibatnya saksi mengalami kerugian sebesar Rp 43.900.000,- perbuatan Terdakwa diancam pidana Pasal 378 KUHP. Berdasarkan rangkaian perbuatan di atas, Jaksa Penuntut Umum mendakwa dengan dakwaan, Primair: melang- gar Pasal 378 KUHP, Subsidair: melanggar Pasal 372 KUHP.
2.
Putusan Tingkat PertamaPengadilan Negeri Surakarta dalam Putusan Perkara Nomor: 87/1993/Pid.B/Pn Ska tanggal 23 Desember 1993,
SAMPLE
dengan amar putusan:7
Menyatakan bahwa Terdakwa Denguk Nugroho bersalah melakukan tindak pidana penipuan, menghukum terdakwa oleh karenanya dengan pidana delapan bulan penjara, dengan masa percobaan selama enam bulan, dengan syarat khusus: Terdakwa harus mengem- balikan uang korban Rp 43.900.000,- dalam tempo enam bulan dan membayar ongkos perkara dan memerintahkan kepada Terdakwa tetap diluar tahanan.
Ratio decidendi Majelis Hakim Pengadilan Negeri Surakarta:
Bahwa seluruh unsur-unsur perbuatan yang didakwa merupakan perbuatan yang dikehendaki, juga telah terbukti secara sah dan meya- kinkan. Majelis Hakim tidak sependapat dengan penasihat hukum terdakwa yang menyatakan bukti-bukti cek tersebut beserta catatan pembukuan telah menunjukkan bahwa perkara ini mengandung aspek perdata, karena di samping kebenaran penggantian cek-cek beserta catatan pembukuan tidak dapat dikonfrontasi dengan saksi Bety Lestari, justru jika keadaan itu benar qua non telah menunjukan etika buruk Terdakwa yang tidak pernah memberi janji yang benar, sehingga tidak ada dasar-dasar yang membenarkan atau memaafkan perbuatan Terdakwa, oleh karenanya Terdakwa harus dipersalahkan dan dijatuhi pidana sesuai Pasal 378 KUHP.
3.
Putusan Tingkat BandingPutusan Pengadilan Tinggi Jawa Tengah di Semarang da- lam Perkara Nomor: 40/Pid/1994/PTSmg, tanggal 26 Maret 1994 dengan amar putusannya sebagai berikut:
Memperbaiki putusan Pengadilan Negeri Surakarta tanggal 23 Desember 1993 Nomor 7/1993/Pid.B/Pn Ska, menyatakan bahwa Terdakwa Denguk Nugroho, terbukti bersalah melakukan pidana kejahatan penipuan, menghukum terdakwa pidana penjara selama (8)
7 Putusan Pengadilan Negeri Surakarta Nomor: 7/1993/Pid.B/Pn Ska, tanggal 23 Desember 1993.
SAMPLE
delapan bulan dengan masa percobaan selama (1) satu tahun. Dengan syarat khusus Terdakwa harus mengembalikan uang milik korban Sudarmanto sebesar Rp 43.900.000,- dalam tempo (1) satu tahun.8 Ratio decidendi Hakim Pengadilan Tinggi Jawa Tengah, bahwa putusan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Surakarta dengan pertimbangan hukumnya sudah tepat dan benar se- hingga dapat disetujui serta diambil alih Pengadilan Tinggi Jawa Tengah di Semarang dalam memeriksa dan mengadili perkara, kecuali mengenai pidana yang dijatuhkan dan amar putusan harus diperbaiki.
Pertimbangan yang dijadikan dasar oleh Hakim Pengadilan Tinggi Jawa Tengah adalah membenarkan putusan Pengadilan Negeri Surakarta dan menambah hukuman dari delapan bulan masa percobaan selama enam bulan, menjadi delapan bulan penjara dengan masa percobaan selama satu tahun.
4.
Putusan Tingkat KasasiMahkamah Agung Republik Indonesia dalam putusannya tanggal 28 Agustus 1997 Perkara Nomor: 933/K/Pid/1994, dengan amar putusan:
Memperbaiki amar putusan Pengadilan Tinggi Jawa Tengah pada tanggal 26 Maret 1994 Nomor: 40/Pid/1994/PTSmg mengenai pidana yang dijatuhkan menyatakan Terdakwa Denguk Nugroho terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah telah melakukan kejahatan “penipuan”; Menghukum Terdakwa dengan pidana penjara selama 8 (delapan) bulan, dengan masa percobaan selama 1 (satu) tahun dan membayar biaya perkara tingkat kasasi ini ditetapkan sebesar Rp2.500,-.9
8 Putusan Pengadilan Tinggi Jawa Tengah di Semarang Nomor: 40/Pid/1994/PTSmg, tanggal 26 Maret 1994.
9 Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor: 933 K/Pid/1994, tanggal
SAMPLE
Ratio decidendi Hakim Pengadilan Tinggi Jawa Tengah tetap menggunakan pertimbangan Pengadilan Negeri Surakarta, padahal Pengadilan Negeri Surakarta telah mencampur adukan antara perkara pidana dan perdata oleh karena itu putusan tersebut harus dibatalkan. Bahwa pertimbangan Pengadilan Negeri Surakarta tentang unsur-unsur kesengajaan adalah keliru karena antara pemohon kasasi dan saksi korban telah terjadi pinjam-meminjam bukan utang piutang dengan bunga 5% perbulan.
Bahwa Pengadilan Tinggi Jawa Tengah mempersalahkan pemohon kasasi (Terdakwa) karena telah menutup rekeningnya di Bank merupakan pertimbangan hukum yang keliru karena tidak menerima kebenaran keterangan saksi A De Charge.
Pengadilan Tinggi Jawa Tengah mencampuradukkan antara perkara pidana dan perkara perdata karena pemohon kasasi dihukum penjara kemudian dihukum lagi untuk membayar utangnya kepada saksi korban, hal ini bertentangan dengan Pasal 10 KUHP.
Pertimbangan Mahkamah Agung:
1. Mengenai pertimbangan ad 1, 2, 3, 4 tidak dapat dibe- narkan karena Pengadilan Tinggi tidak salah menerapkan hukumnya dan mengenai penilaian pembuktian yang bersifat penghargaan tentang suatu kenyataan tidak dipertimbang- kan pada tingkat kasasi;
2. Mengenai pertimbangan ad 5 dapat dibenarkan karena syarat khusus mengembalikan uang milik korban pada hakikatnya adalah masalah perdata, dan oleh karenanya tidak dapat disamakan dengan keharusan mengganti ke-
28 Agustus 1997.
SAMPLE
rugian sebagaimana yang diatur dalam Pasal 14 c ayat (1) KUHP, kesalahan tersebut tidak menyebabkan batalnya putusan, tetapi cukup diperbaiki.
5.
AnalisisSecara umum Putusan Majelis Hakim mulai Pengadilan Negeri Surakarta, Pengadilan Tinggi Jawa Tengah sampai Mahkamah Agung mengandung kesamaan pendapat bahwa terhadap perkara tersebut di atas, sudah memenuhi unsur-un- sur delik “penipuan” sebagaimana dimaksud dalam Pasal 378 KUHP, sehingga Terdakwa diberi sanksi “pidana penjara dengan masa percobaan” atau yang lebih dikenal dengan istilah ‘pidana bersyarat’ (voorwaardelijke veroordeling).
Hanya saja dalam Putusan Mahkamah Agung sejauh soal pertimbangannya yang menyatakan bahwa “syarat khusus mengembalikan uang milik korban pada hakikatnya adalah ma salah perdata, dan oleh karenanya tidak dapat disamakan dengan keharusan mengganti kerugian sebagaimana yang di
atur dalam Pasal 14 c ayat (1) KUHP”, saya (penulis) tidak sependapat.
Menurut hemat penulis, Pasal 14 c ayat (1) KUHP secara normatif mengatur tentang kewenangan hakim yang dapat menambahkan ‘perjanjian khusus’ dalam putusannya supaya Terdakwa mengganti kerugian yang timbul karena akibat tindak pidana yang dilakukannya. Dalam konteks perkara ini, Terdak- wa dipidana karena terbukti secara sah dan meyakinkan telah melakukan tindak pidana “penipuan” yang mengakibatkan Saksi Korban mengalami kerugian uang sejumlah Rp43.900.000,-.
Perintah mengembalikan uang tersebut kepada Saksi Korban harus dimaknakan atau termasuk dalam kategori sebagai
SAMPLE
‘penggantian kerugian’ yang diderita olehnya karena unsur
“melawan hukum” dalam tindak pidana penipuan mengandung konsep ‘melawan hukum materiel’, yakni kepentingan hukum yang hendak dilindungi oleh undang-undang yaitu soal harta kekayaan dan soal kepercayaan.
Berkaitan dengan uraian di atas, menurut Schaffmeister dkk.10 menegaskan bahwa, dalam Ilmu Hukum Pidana ”melawan hukum” disebut dengan istilah ‘wederrechtelijkheid’, yang mem- punyai empat konsep. Pertama, sifat melawan hukum umum, yakni syarat umum untuk dapat dipidana. Kedua, sifat melawan hukum khusus, yakni syarat tertulis untuk dapat dipidana, yang mempunyai arti khusus dalam tiap-tiap rumusan delik yang harus ditafsirkan menurut konteks sosialnya. Ketiga, sifat melawan hukum formal, yakni semua bagian yang tertulis dari rumusan delik telah dipenuhi. Keempat, sifat melawan hukum materiel, yakni melanggar atau membahayakan kepentingan hukum yang hendak dilindungi oleh legislator dalam rumusan delik tertentu.
Misalnya, menurut Andi Hamzah dalam delik “penipuan”
dan “penggelapan”, kepentingan hukum yang hendak dilindungi merupakan kekayaan milik orang lain dan kepercayaan, seperti dalam lalu lintas perdagangan.11 Selain itu, Amar Putusan Pen- gadilan Negeri Surakarta dan Pengadilan Tinggi Jawa Tengah yang memerintahkan Terdakwa melalui perjanjian khusus tersebut untuk mengembalikan uang sejumlah Rp43.900.000,- kepada Saksi Korban, juga tidak dapat ditafsirkan bertentangan
10 Lihat dalam; D. Schaffmeister, et al., Hukum Pidana, terjemahan J.E. Sahetapy dan Agustinus Pohan, Op. cit. h. 39-54.
11 Andi Hamzah, Speciale Delictendi dalam KUHP, Sinar Grafika, Jakarta, 2009, hal. 113. (Selanjutnya disebut Andi Hamza- III).
SAMPLE
dengan Pasal 10 KUHP karena Pasal 14c ayat (1) KUHP itu mengatur norma yang bersifat khusus atau menyimpang dari ketentuan norma dalam Pasal 10 KUHP.
Dengan kata lain, perintah ‘mengembalikan uang’ tersebut tidak termasuk dalam jenis dan bentuk (strafshort) dari ‘sank- si pidana pokok’ maupun ‘sanksi pidana tambahan’ seperti yang termaktub dalam Pasal 10 KUHP. Pengembalian uang itu merupakan ‘syarat khusus’ yang harus ditunaikan oleh Terdakwa (Terpidana) sebagai konsekuensi penjatuhan vonis
‘pidana bersyarat’ oleh majelis hakim. Dalam hal ini Muladi yang mengutip pendapat W.P.J. Pompe dalam “Handboek van het Nederlandse Strafrecht” menegaskan bahwa pidana bersyarat bukanlah merupakan pidana pokok sebagaimana pidana pokok yang lain (strafmaat dan strafshort), melainkan hanyalah merupakan cara penerapan pidana (strafmodus).12
Dengan demikian, menurut hemat saya (penulis) amar putusan Pengadilan Negeri Surakarta dan Pengadilan Tinggi Jawa Tengah sudah benar dan lebih memuat rasa keadilan jika dilihat dari aspek sifat melawan hukum materiel yang terkan- dung dalam delik penipuan. Selain itu, dalam fakta hukumnya, perbuatan materiel Terdakwa yang mengandung unsur-unsur delik penipuan dilakukan sebelum perjanjian antara Saksi Korban dan Terdakwa ditutup (ante factum).
12 Muladi, Lembaga Pidana Bersyarat, Alumni, Bandung 1985, hal. 63.