BAB 6 PENERAPAN KONSEP WANPRESTASI
A. Putusan MA RI No. Perkara 1036 K/Pid/1989 tanggal 31
1989 TANGGAL 31 AGUSTUS 1992 TENTANG HUBUNGAN KONTRAK KERJA SAMA PINJAM- MEMINJAM UANG DENGAN JAMINAN CEK ATAS NAMA TERDAKWA MA SIU BING ALIAS SUPIATI.
1. Duduk Perkaranya
Pada hari Selasa tanggal 7 Juli 1987 sekitar jam 08.00.
WIB, telah datang di rumah Haji Asmadin Desa/Kelurahan Rogoturunan, Kecamatan Kota Lumajang dengan membawa tiga lembar cek yang dikatakan ada dananya di BRI Cabang Lumajang, cek tersebut akan ditukarkan dengan uang kontan,
Bab 6
WANPRESTASI
DALAM YURISPRUDENSI SENGKETA
KONTRAKTUAL
TERBUKTI SEBAGAI
TINDAK PIDANA
PENIPUAN
SAMPLE
untuk itu sesuai dengan kesepakatan yang dijanjikan Terdakwa akan memberikan potongan sebesar 10% apabila mendapatkan uang kontan. Adapun tiga lembar cek tersebut nilai nominal Rp 8.000.000,- dengan kata-kata yang disampaikan oleh Terdakwa, korban tergerak hatinya untuk menyerahkan uang sebesar Rp 7.200.000,- namun setelah tiga lembar cek ketika diuangkan di BRI Cabang Lumajang dana atau saldo di rekening yang ada tidak mencukupi, adapun uang yang telah diterima oleh Terdakwa digunakan untuk keperluan membayar utang- utang kepada orang lain.
Dari uraian tersebut di atas, kemudian Jaksa Penuntut Umum mendakwa dengan dakwaan: Terdakwa telah bersalah melakukan tindak pidana “penipuan” sebagaimana diatur dalam Pasal 378 KUHP.
2. Putusan Tingkat Pertama
Pengadilan Negeri Lumajang dalam Putusan Perkara No- mor: 64/1988/Pid.S/PN LMJ tanggal 23 Juni 1988 dengan amar putusannya sebagai berikut:
Menyatakan bahwa Terdakwa Ma Siu Bing alias Supiati tersebut di atas telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “penipuan” menurut Pasal 378 KUHP, menghukum de- ngan pidana penjara selama lima bulan, dipotong masa penahanan, mengembalikan tiga lembar cek dikembalikan kepada Haji Asmadin dan membayar biaya perkara pada tingkat pertama sebesar Rp1.000.1 Ratio decidendi putusan Hakim Pengadilan Negeri Luma- jang dalam Putusan Perkara Nomor: 64/1988/Pid.S/PN LMJ tanggal 23 Juni 1988, bahwa hubungan hukum antara Terdakwa
1 Lihat Putusan Pengadilan Negeri Lumajang Perkara Nomor: 64/1988/Pid.S/PN LMJ tanggal 23 Juni 1988.
SAMPLE
dan saksi korban yang ternyata diawali atau didahului dengan kontrak/perjanjian, akan tetapi ada unsur dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain, dengan akal dan tipu muslihat maupun rangkaian perkataan bohong, membu- juk seseorang untuk menyerahkan barang sehingga seseorang tergerak untuk menyerahan uang, lalu ditukar dengan cek ternyata cek tersebut tidak ada dananya. Perbuatan Terdakwa sejak awal sudah ada niat yang tidak baik untuk membujuk orang untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain den- gan melawan hak.
Terdakwa menyadari jika cek yang diterbitkan tidak ada da na nya, akan tetapi Terdakwa tidak segera untuk mengganti- nya atau memenuhi jumlah tertentu pada rekeningnya sebagai kewajiban yang harus dilakukan oleh Terdakwa. Menurut Yurisprudensi Mahkamah Agung Republik Indonesia Tanggal 15 November 1975 Nomor: 133.K/Kr/19732 yang menyatakan bahwa, seseorang menarik cek yang diketahuinya atau disadarinya bahwa cek itu, tidak ada dananya di Bank, merupakan “kejahatan penipuan”, eks-Pasal 378 KUHP.
3.
Putusan Tingkat BandingPutusan Pengadilan Tinggi Surabaya Perkara Nomor:
270/Pid/1988/PT Sby tanggal 6 Desember 1988, yang amar putusannya sebagai berikut:
Membatalkan putusan Pengadilan Negeri Lumajang tanggal 23 Juni 1988 Nomor: 64/Pid.S/1988/PN LMJ yang dimohonkan banding, menyatakan bahwa Terdakwa Ma Siu Bing alias Supiati tersebut dilepaskan dari segala tuntutan hukum, menyatakan barang bukti
2 Lihat Putusan Mahkamah Agung RI Nomor: 133.K/Kr/1973, Dalam Varia Pradilan 90, h. 46.
SAMPLE
berupa tiga lembar cek dikembalikan kepada yang paling berhak, membebankan biaya perkara kepada Negara.3
Ratio decidendi hakim Pengadilan Tinggi, bahwa dalam putusannya mempunyai pendirian berbeda dengan hakim pengadilan tingkat Pertama, hakim Pengadilan Tinggi menilai hubungan hukum antara saksi dan Terdakwa bukan meru- pa kan perjanjian, melainkan merupakan hubungan hukum pinjam-meminjam dengan jaminan tiga lembar cek. Dalam transaksi ini diperjanjikan bahwa pinjam-meminjam uang dengan jaminan cek yang dipotong 10%, dan minus 10%
telah diterima oleh saksi korban Haji Asmudin, dengan fakta ini, maka Pasal 378 KUHP tidak dapat diterapkan terhadap perbuatan Terdakwa, karena antara Terdakwa dan saksi kor- ban hanya terikat dalam suatu “perjanjian utang piutang”
dengan jaminan cek yang dipotong 10% dan sudah diterima oleh saksi Haji Asmudin, karena fakta yang terbukti tersebut merupakan “perjanjian utang piutang dengan uang jaminan,”
maka perbuatan Terdakwa ini bukan merupakan kejahatan atau pelanggaran, sehingga Terdakwa harus “dilepaskan dari segala tuntutan hukum” (ontslag van Rechtver volging).
4.
Putusan Tingkat KasasiMahkamah Agung Republik Indonesia dalam putusan tanggal 31 Agustus 1992 Nomor: 1036/K/Pid/1989, amar pu tus an nya sebagai berikut:
Membatalkan putusan Pengadilan Tinggi Surabaya tanggal 6 Desem- ber 1988 Nomor: 270/Pid/1988/PT Sby, menyatakan Terdakwa Ma Siu Bing alias Supiati terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah
3 Putusan Pengadilan Tinggi Surabaya Nomor: 270/Pid/1988/PT Sby, tanggal 6 Desember 1988.
SAMPLE
melakukan tindak pidana “penipuan”, menghukum Terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara lima bulan, dan dikurangi masa penahanan, barang bukti tiga lembar cek dikembalikan kepada saksi Haji Asmadin, membayar biaya perkara pada semua tingkat peradilan.4 Ratio decidendi Mahkamah Agung Republik Indonesia tersebut, bahwa putusan judex facti (Pengadilan Tinggi Jawa Timur) dinilai “salah menerapkan hukumnya”, sehingga putus- an judex facti tersebut harus dibatalkan didasari oleh alasan yuridis sebagai berikut:
■ Dari Berita Acara Persidangan Pengadilan Negeri Lumajang, tidak terbukti adanya transaksi perjanjian utang piutang uang, baik secara lisan maupun tertulis, sehingga ada
“perjanjian utang uang” tersebut merupakan kesimpulan yang tidak tepat dari Pengadilan Tinggi Surabaya;
■ Bahwa uang Rp800.000,- (delapan ratus ribu rupiah) yang dianggap oleh Pengadilan Tinggi Surabaya sebagai keun- tungan 10% dari uang pinjaman Rp8.000.000,- (delapan juta rupiah) yang diserahkan kepada saksi pelapor Haji Asmudin tersebut, pada hakikatnya adalah uang milik Haji Amudin sendiri. Fakta ini seharusnya dinilai sebagai perbuatan “tipu muslihat” untuk menyakinkan kebo hongan Terdakwa;
■ Bahwa sejak semula Terdakwa telah sadar mengetahui bahwa cek yang diberikan kepada saksi korban adalah
“tidak didukung oleh dana yang cukup,” dalam hal ini dikenal masyarakat sebagai “suatu cek kosong”;
■ Dengan alasan yuridis ini, maka Majelis Hakim Mahkamah Agung Republik Indonesia berpendapat bahwa unsur-unsur
4 Putusan Mahkamah Agung RI Nomor: 1036/K/Pid/1989, tanggal 31 Agustus 1992.
SAMPLE
delik penipuan eks-Pasal 378 KUHP, harus dianggap telah terbukti dengan sah dan meyakinkan, sehingga Terdakwa harus dinyatakan bersalah.
Dari putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia terse- but di atas, menurut Ali Boediarto,5 dapat diangkat “Abstrak Hukum” sebagai berikut:
a. Seseorang menyadari dan mengetahui bahwa dirinya tidak mempunyai dana yang cukup pada rekening korannya di suatu Bank. Namun ia menarik beberapa lembar cek de- ngan tanggal mundur, kemudian cek ini ia serahkan kepada seseorang pemilik uang sebagai jaminan atas uang tunai yang diterima oleh penarik cek. Dari jumlah uang tunai itu, lalu dikurangi 10% sebagai imbal jasa untuk si pemilik uang tersebut. Pada saat cek mundur jatuh tempo dan dicairkan oleh pemegangnya, ternyata ditolak oleh Bank yang bersangkutan dengan alasan tidak ada dananya dalam rekening koran pemilik cek tersebut. Perbuatan penarik cek ini dikategorikan sebagai “kejahatan penipuan”, eks-Pasal 378 KUHP.
b. Yurisprudensi Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor: 133.K/Kr/1973, tanggal 15 November 1975 sese- orang menarik cek, yang diketahuinya/disadarinya bahwa cek itu tidak ada dananya di Bank, merupakan “kejahatan penipuan”, eks-Pasal 378 KUHP.
5.
AnalisisAda beberapa hal yang dapat dianalisis dalam perkara yang tersebut di atas. Pertama, perbedaan Putusan Majelis Hakim
5 Lihat Ali Boediarto dalam Varia Peradilan. Edisi 90, h. 46.
SAMPLE
antara Pengadilan Negeri Lumajang dan Pengadilan Tinggi Jawa Timur. Kedua, persamaan Putusan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Lumajang dan Mahkamah Agung.
Perbedaan Putusan Pengadilan Negeri Lumajang dan Pengadilan Tinggi Jawa Timur lebih disebabkan pada ketidak- samaan “ratio decidendi”-nya. Majelis Hakim Pengadilan Ne geri Lumajang berpendapat, meskipun hubungan hukum yang terjadi antara Terdakwa dan Saksi Korban diawali dengan suatu “perjanjian”, akan tetapi perbuatan materiel Terdakwa me ngandung unsur-unsur delik “penipuan” sebagaimana dimaksud dalam Pasal 378 KUHP. Sedangkan Majelis Hakim Pengadilan Tinggi Jawa Timur menilai bahwa hubungan hukum antara Terdakwa dan Saksi Korban merupakan soal
“pinjam-meminjam” yang dibuktikan dengan adanya fakta jaminan berupa tiga lembar cek.
Jika dicermati dalam isi Putusan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Lumajang, sesungguhnya mengandung prinsip hukum bahwa “tidak setiap perbuatan yang diawali dengan hubungan hukum kontraktual atau perjanjian, akan selalu terbebas dari pelanggaran yang termasuk kategori tindak pidana”. Dalam konteks perkara ini, “pelanggaran” yang terjadi tidak dianggap sebagai perbuatan “wanprestasi”, melainkan perbuatan yang mengandung unsur-unsur delik “penipuan”. Pendapat Majelis Hakim Pengadilan Negeri Lumajang tersebut didasarkan pada fakta hukum (yang terungkap dalam persidangan) bahwa Terdakwa mendatangi Saksi Korban (Haji Asmadin) dengan membawa tiga lembar cek yang dikatakannya terdapat dana yang cukup bila nanti dicairkan. Kesepakatan dalam perjanjian antara keduanya, bila cek tersebut ditukar dengan uang kon- tan, maka langsung dipotong sebesar 10% dari nominal cek.
SAMPLE
Namun ketika cek tersebut akan dicairkan, ternyata dananya tidak ada seperti apa yang telah dijanjikan.
Dari fakta hukum seperti dijelaskan di atas, dapat disim- pulkan bahwa Terdakwa sejak awal sudah menyadari atau mengetahui cek yang diberikan kepada Saksi Korban memang tidak ada dananya. Hanya saja, untuk memperoleh ‘uang kontan’
(unsur delik ‘menguntungkan diri sendiri’), Terdakwa sengaja
‘membujuk’ dengan cara menggunakan kata-kata bohong dan keadaan yang tidak benar (palsu) supaya Saksi Korban menyerahkan uang kontan sesuai dengan nilai nominal cek meskipun dipotong sebesar 10%.
Dengan demikian, perbuatan Terdakwa yang mengandung unsur-unsur delik ‘penipuan’ dilakukan sebelum kontrak atau perjanjian ditutup (ante factum). Dengan kata lain, hubungan hukum kontraktual atau perjanjian yang dibuat oleh Terdak- wa hanya sebagai ‘kedok’ atau ‘kamuflase’ atau dapat juga dikatakan sebagai ‘modus operandi’ dalam melakukan tindak pidana penipuan.
Adapun persamaan isi Putusan Majelis Hakim Penga- dilan Negeri Lumajang dan Mahkamah Agung terletak pada
‘ratio decidendi’-nya maupun amar putusannya. Pada pertim- bangannya, Majelis Hakim Mahkamah Agung berpendapat tidak terjadi perjanjian utang piutang uang, baik secara lisan maupun tertulis. Potongan 10% dari nilai uang kontan Rp8.000.000,- yang diserahkan Terdakwa kepada Saksi Korban dinilai sebagai perbuatan ‘tipu muslihat’ untuk meyakinkan kebohongan Terdakwa, sehingga Saksi Korban menyerahkan uang Rp8.000.000,- tersebut. Atas dasar pertimbangan yang demikian, Majelis Hakim Mahkamah Agung berpendapat bahwa perbuatan Terdakwa sudah memenuhi unsur delik ‘penipuan’.
SAMPLE
Berkaitan dengan putusan Majelis Hakim Mahkamah Agung tersebut, dapat kita lihat Arrest Hoge Raad tanggal 1 November 1920 sebagaimana dalam Nederlandse Jurispruden
tie Tahun 1920, halaman 1215, yang dimuat dalam Weekblad van het Recht Nomor: 10650, seperti yang dikutip oleh P.A.P.
Lamintang dan Djisman Samosir.6 dalam bukunya Hukum Pidana Indonesia, dinyatakan bahwa, termasuk tipu muslihat adalah di antaranya “Perbuatan menyerahkan cek, yang diketa- huinya bahwa cek tersebut tidak dapat diuangkan”, merupakan kejahatan penipuan.
B. PUTUSAN MA RI NO. PERKARA 933K/PID/1994