BAB VII PENUTUP
C. Kerangka Berpikir
3. Relevansi Pendidikan Pesantren dalam Gerakan Deradikalisasi Pendidikan
Pemahaman terhadap al qur’an dan ḥadiṡ sebagai sumber dasar memerlukan metode yang memadai agar hasilnya mampu mengakomodir perkembangan hidup manusia yang majemuk. Kemampuan memahami al qur’an dan ḥadiṡ yang berwawasan multikultural itu dapat melahirkan pemahaman aktual yang dibutuhkan masyarakat.128
Dalam membangun paradigma tafsir qur’an dan ḥadiṡ multikultural perlu dibangun berdasarkan “nilai-nilai dasar” (ideal moral) al qur’an sebagai landasan pembangunan ajaran Islam, sehingga nilai-nilai dasar itu menjadi nash qath’î al-dilâlah, yakni nash-nash qur’an ḥadiṡ yang memiliki arah dan perintah jelas dan tegas dalam pelaksanaannya. Sementara itu, nash-nash qur’an ḥadiṡ yang mengatur legal spesifik dan “kerangka operasional”
perlu ditafsirkan dan dikontekstualisasi dengan kondisi empiris kehidupan umat manusia di masa kini.129
3. Relevansi Pendidikan Pesantren dalam Gerakan
masjid dan madrasah di Indonesia kemudian dikenal dengan istilah pendidikan pesantren salaf (tradisional) yang menjadi rujukan warga masyarakat terutama dari pedesaan untuk keperluan mencari ilmu-ilmu agama Islam, tetapi dalam perkembangannya menjadi pesantren khalaf (modern), bahkan pesantren komprehensif.131
Dalam bidang pelajaran, para tokoh penyebar Islam (wali/kiai) menyampaikan materi agama Islam yang terintegrasi dengan nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. Paradigma pendidikan pesantren dipandang sebagai paradigma pembelajaran Islam yang mempertahankan tradisi lama, sehingga orientasi pendidikan ini melihat masa lalu sebagai inspirasi yang perlu dipertahankan untuk mendidik generasi masa kini.
Dalam bidang ilmu pengetahuan, pendidikan tradisional memandang bahwa ilmu pengetahuan berasal dari Allah Swt, sehingga jika ada perbedaan antara kebenaran ilmu agama Islam dan ilmu rasional-empiris, maka yang didahulukan adalah kebenaran ilmu agama Islam yang berasal dari wahyu Allah Swt. Selain itu, pendidikan Islam di masa lalu menempatkan ilmu pengetahuan sebagai sesuatu yang utuh dan terpadu, sehingga kajian ilmu-ilmu terdahulu terbangun secara harmonis sebagaimana praktik penulisan kitab tafsir tematik. Pada masa lalu, pendidikan Islam dikelompokkan menjadi dua kategori, yakni lembaga formal eksklusif seperti sekolah dan perguruan tinggi, dan lembaga sampingan (informal) seperti kuttab, ṣuffah, ḥalâqah, majlis dan masjid serta rumah ulama dengan ciri khas masing-masing yang berbeda-beda antar satu tempat.
Pendidikan Islam tradisional tersebut memiliki orientasi pembelajaran yang berpusat kepada guru, sehingga guru memiliki peranan besar dalam menentukan keberhasilan proses belajar mengajar termasuk materi pelajarannya. Ijazah belajar ilmu agama dari guru atau kiai menjadi bekal untuk mengajarkan lagi kepada orang
131 Haris (2016): h. 1-10.
lainnya. Kurikulum pendidikan tradisional tidak mengajarkan berbagai macam ilmu agama, mata pelajaran agama Islam hanyalah satu mata pelajaran, setelah itu baru mempelajari materi pelajaran lainnya yang lebih tinggi.
Pelaksanaan belajar ditentukan sepenuhnya oleh guru atau kiai yang memberikan mata pelajaran agama.132
Orientasi pendidikan yang hanya memetakan teori teosentris kemudian dimaksudkan kepada upaya membangun realitas empiris, yakni berparadigma antroposentris. Data penelitian menyebutkan bawah paradigma (pendidikan) inklusif dapat diterapkan dengan tidak hanya dituntut inovasi berkelanjutan tetapi juga inovasi yang mampu membaca tuntutan perkembangan zaman yang pesat dan menyiapkan muatan keilmuan multikultural yang perlu diajarkan oleh guru/kiai pada masyarakat sebagai peserta didiknya.133
b. ParadigmaAkomodatif
Globalisasi telah melahirkan budaya baru bagi umat manusia. Globalisasi memberikan pengaruh positif dan negatif bagi kehidupan umat manusia. Globalisasi telah menimbulkan berbagai dampak baik dampak positif dengan lahirnya berbagai kemudahan dan gaya hidup baru dan juga dampak negatif dengan adanya berbagai perilaku bebas hingga pada hal-hal yang dilarang agama seperti pergaulan bebas antar jenis. Globalisasi telah menciptakan masyarakat dunia yang tanpa batas. Burhanuddin juga telah mengemukakan bahwa globalisasi mampu memberikan pengaruh yang penting terhadap arah pendidikan Islam, tidak hanya menimbulkan dampak positif, tetapi juga dampak negatif. Dalam menjawab globalisasi, budaya pendidikan Islam tidak boleh menutup diri, tetapi juga tidak
132 Haris (2016): h. 1-10.
133 Haris (2016): h. 1-10; Les Sulfianah dan M Ansor Anwar, ‘Implementasi Kepemimpinan Kiai dalam Pengembangan Pesantren: Studi Kasus di Pondok Pesantren Al-Ichsan Brangkal Sooko’, Dirasat: Jurnal Manajemen & Pendidikan Islam, Vol 1 No 2 (2016): h. 172-173.
boleh membuka diri selebar-lebarnya yang menyebabkan pendidikan Islam kehilangan jati dirinya.134
Paradigma pendidikan pesantren multikultural diperlukan sebagai bagian dari usaha untuk membangun sikap keterbukaan dan akomodasi terhadap dinamika kehidupan masyarakat setempat, nasional dan global, sehingga pesantren yang memiliki prinsip “al-muḥâfaẓah ‘ala al-qadîm al-ṣâliḥ wa al-akhẑ bi al-jadîd al-aṣlaḥ” (memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik) menjadi prinsip pendidikan pesantren hingga kini, sehingga sejak lahirnya pendidikan pesantren mulai sebelum Kemerdekaan RI hingga kini tetap bertahan dan bahkan berkembang dengan pesat di era reformasi.
Sikap pendidikan pesantren yang mengembangkan upaya akomodasi terhadap adanya dinamika kehidupan masyarakat Indonesia mencerminkan bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan yang lahir dan besar dari budaya bangsa Indonesia yang memiliki keragaman dalam segala seginya, baik etnik, budaya, agama, ras dan bahasa.
Sikap akomodatif itu tercermin dalam falsafah hidup bangsa Indonesia yang menyebutkan bahwa walaupun ada perbedaan suku, etnik, bahasa, agama dan budaya, tetapi tetap memiliki tujuan yang sama, yakni mewujudkan bangsa Indonesia yang kokoh, beridentitas yang kuat, terhormat dihadapan bangsa lain. Hal itu diperlukan untuk mewujudkan cita-cita pendiri bangsa Indonesia, yakni mewujudkan bangsa yang maju, adil, makmur dan sejahtera. Oleh sebab itu, seluruh komponen bangsa harus bersatu dan bekerjasama untuk mencapai terwujudnya kemakmuran, keadilan dan kesejahteraan bersama. Sikap akomodatif juga mengharuskan adanya sikap saling menghargai satu sama lain dan meninggalkan sekat-sekat yang membatasi antara sesama anak bangsa untuk bersatu
134 Rosidin, ‘Relasi dan Rekonsiliasi Antara Pendidikan Islam dengan Pendidikan Barat’, Journal Evaluasi, (2018)<Https://Doi.Org/10.32478/Evaluasi.V1i2.75>: h. 243-246; Suriana, Pendidikan Islam di Era Globalisasi: Menggapai Peluang, Menuai Tantangan, Jurnal Mudarrisuna, Vol 4 No 2 (2014): h. 373; Jajat Burhanuddin, Mencetak Muslim Modern: Peta Pendidikan Indonesia (Jakarta:
Rajagrafindo Persada, 2006).
dan bekerjasama mencapai cita-cita mulia tersebut.
Pendidikan pesantren multikultural itu memiliki target untuk menjadikan ruang pendidikan tidak hanya diberikan kepada seseorang yang berkemampuan dalam segala aspeknya, tetapi juga untuk seluruh elemen anak bangsa harus merasakan adanya pemerataan pendidikan.135
Pesantren sebagai lembaga pendidikan agama Islam di Indonesia memiliki karakter akomodatif terhadap adanya dinamika kehidupan sosial dan budaya masyarakat yang ditandai dengan adanya keterbukaan sikap dan perilaku kiai dan santri dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.
Pesantren sebagai lembaga pendidikan agama Islam di Indonesia telah membuktikan dirinya mampu mengakomodasi beragam perkembangan masyarakat dan bangsa, sehingga pendidikan pesantren menjadi salah satu benteng penangkal adanya arus budaya global yang membawa gerakan radikalisme.136
c. Paradigma Relatifis
Pendidikan pesantren bukan menjadi satu-satunya faktor yang mendorong seseorang sebagai alumni dalam melakukan tindak kekerasan atau radikal, tetapi ada faktor lain yang mempengaruhi lahirnya tindak kekerasan itu, misalnya ada faktor globalisasi yang membentuk pasar bebas yang juga membawa peluang sekaligus ancaman, yakni membuka peluang untuk dapat bekerja di luar negeri lebih mudah dan juga sekaligus orang luar lebih mudah untuk menjadi tenaga kerja di Indonesia. Demikian juga orang luar juga bebas membuka lembaga pendidikan di negara Indonesia dan juga sebaliknya. Dari hal tersebut, pendidikan pesantren perlu mempertahankan dan meningkatkan paradigma berpikir keislaman yang memberikan kemampuan bagi persaingan bebas antara
135 Dede Rosyada, ‘Pendidikan Multikultural di Indonesia Sebuah Pandangan Konsepsional’, Sosio Didaktika: Social Science Education Journal, Vol 1 No 1 (2014)<https://doi.org/10.15408/sd.v1i1.1200>: h. 1-2.
136 Irham, (2015).
tenaga kerja, barang, jasa, dan modal, baik pasar luar negeri maupun pasar domestik. Relatifitas berpikir keislaman dibutuhkan untuk membangun kemampuan berpikir dalam menjawab dan mencari solusi atas kehidupan beragama yang kompleks dan rumit.
Dengan demikian, pesantren di masa depan menghadapi berbagai tantangan yang semakin rumit dan berat, yakni (a) tata nilai yang rasional dan sekuler yang dapat mengganggu sendi-sendi akidah Muslim; (b) tradisi toleransi dan sifat kekeluargaan pesantren yang terbangun juga dihadapkan dengan nilai-nilai modern yang individualistis, sekularistis, dan materialistis; dan (c) tradisi akhlakul karimah yang terbangun dengan baik dihadapkan dengan dengan perilaku masyarakat yang serba bebas.137
Agama Islam yang diajarkan di pesantren diselenggarakan dengan menerima nilai-nilai rasional dan empiris yang memiliki nilai penting karena hal itu dapat menjadikan agama Islam sebagai nilai yang membumi, tidak konservatif, apalagi radikal. Jika agama diajarkan dengan cara-cara kekerasan dan dogmatis/radikal, maka hasilnya melahirkan adanya penolakan dan bahkan perlawanan fisik bagi kelompok yang moderat atau penerimaan bagi kaum radikal untuk melakukan tindak kekerasan dalam melawan adanya perbedaan.138 Oleh sebab itu, paradigma relativis berusaha membangun fleksibilitas dalam memahami dan menyikapi adanya perbedaan dan mudah menerima perbedaan yang terdapat dalam pemikiran non-dogmatis dan dialektis.
137 Suriana (2014): h. 372-373; Siti Rohmah, ‘Relevansi Konsep Pendidikan Islam Ibnu Khaldun dengan Pendidikan Modern’, Forum Tarbiyah, Vol 10 No 2 (2012): h. 268-270; Umma Farida,
‘Radikalisme, Moderatisme, dan Liberalisme Pesantren: Melacak Pemikiran dan Gerakan Keagamaan Pesantren di Era Globalisasi’, Edukasia : Jurnal Penelitian Pendidikan Islam, Vol 10 No 1 (2015)<Https://Doi.Org/10.21043/Edukasia.V10i1.789>: h. 146-148.
138 Suriana (2014): h. 372; Rohmah (2012): h. 268; Farida (2015): h. 147; Wahid (2011).
Tabel C
Shifting Paradigm Paradigma Pendidikan Pesantren Multikultural
No Shifting Paradigm dalam Landasan Pemikiran A
Paradigma Lama Paradigma Baru 1 Problem Ideologi
Radikalisme Orientasi Ideologi Multikultural 2 Problem Sosial-Radikalisme Orientasi Sosial-
Multikultural 3 Problem Kultural-
Radikalisme Orientasi Kultural- Multikultural 4 Problem Sosial-Pendidikan
Radikalisme
Orientasi Sosial-
Pendidikan Multikultural B Shifting Paradigm dalam Konstruksi Pendidikan
Pesantren
Paradigma Lama Paradigma Baru 1 Paradigma qur’an ḥadiṡ
radikal Paradigma qur’an ḥadiṡ multikultural
2 Paradigma akidah radikal Paradigma akidah multikultural 3 Paradigma fikih radikal Paradigma fikih
multikultural 4 Paradigma SKI radikal Paradigma SKI
multikultural
C Shifting Paradigm dalam Gerakan Deradikalisasi Pendidikan
Paradigma Lama Paradigma Baru
1 Eksklusif Inklusif
2 Resistensi Akomodatif
3 Absolutis Relatifis
Tabel D Kerangka Berpikir
No Kerangka Berpikir
1 Landasan Pemikiran
Landasan
Ideologis Landasan
Sosial Landasan
Kultural Landasan Sosial- Pendidikan 2
Konstruksi Pendidikan Islam
Qur’an- ḥadiṡ
multikutlural
Akidah multikultu ral
Fikih multikultur al
SKI
multikultur al
3 Gerakan Deradikalisasi Pendidikan
Inklusif Akomodatif Relatifis
67
METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang berlandaskan pada pemikiran post-positivisme yang digunakan untuk meneliti kondisi objek yang alamiah yang mana peneliti sebagai instrumen kunci, pengambilan data dilakukan secara purposive, teknik pengumpulan data menggunakan triangulasi, dan analisis data menggunakan teknik induktif dan deduktif yang menekankan pencarian makna daripada generalisasi. Dalam memandang objeknya, penelitian kualitatif sebagai sesuatu yang dinamis, hasil konstruksi pemikiran dan interpretasi terhadap gejala yang diamati dan bersifat utuh karena setiap aspek objek memiliki satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Demikian juga hubungan peneliti dengan objek penelitian, penelitian kualitatif menempatkan peneliti sebagai human instrument dan teknik pengumpulan data bersifat kajian pustaka.139
Sebagaimana deskripsi Jujun S. Suriasumanteri, tujuan penelitian kepustakaan (library research) bersifat teoritis untuk menemukan data-data ilmiah mengenai paradigma pesantren multikultural, sehingga jenis penelitian ini disebut sebagai penelitian dasar (basic research) yang menargetkan penemuan pengetahuan baru dalam pembahasan paradigma pesantren multikultural Gus Dur. Sebagaimana deskripsi Sugiyono, dari segi tujuannya, penelitian yang bersifat penemuan berarti data-data yang diperoleh dari penelitian mengenai paradigma pesantren multikultural Gus Dur adalah data-data yang baru untuk memberikan sumbangan pemikiran dalam bidang pendidikan pesantren.140
139 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R & D (Bandung:
CV Alfabeta, 2015): h. 15; Gumilar Rusliwa Somantri, ‘Memahami Metode Kualitatif’, Makara Human Behavior Studies in Asia, Vol 9 No 2 (2005)<https://doi.org/10.7454/mssh.v9i2.122>: h.
57-65.
140 Sugiyono (2015): h. 5.
Penemuan data penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pergeseran paradigma dari paradigma lama dalam bidang pendidikan Islam yang berwawasan radikal ke paradigma baru dalam bidang pendidikan Islam yang berwawasan multikultural yang dideskripsikan mulai dari data-data landasan pemikiran, konstruksi pemikiran pendidikan Islam hingga pada relevansinya dalam gerakan deradikalisasi pendidikan di Indonesia.
Tabel E
Aksioma Penelitian Kualitatif141 No Aksioma Penelitian Kualitatif
Paradigma Pendidikan Pesantren Multikultural 1 Sifat
penelitian
Memahami secara
dinamis/progresif dan holistik paradigma pesantren multikultural di Indonesia
2 Hubungan peneliti dengan objek yang diteliti
Interaktif dengan sumber data untuk memperoleh makna dari penelitian tentang paradigma pesantren multikultural di Indonesia
3 Hubungan
variabel Timbal balik dan interaktif antara (a) Landasan pemikiran; (b), Konstruksi pemikiran; dan (c) Implikasi pemikiran
4 Penerapan nilai
Terikat dengan nilai-nilai yang dibawa peneliti dan sumber data, yakni bahwa penelitian paradigma pesantren multikultural dapat dibuktikan relevansinya gerakan deradikalisasi pendidikan di Indonesia melalui perwujudan tiga nilai-nilai utama yang dibutuhkan masyarakat Muslim
141 Sugiyono (2015): h. 18.
No Aksioma Penelitian Kualitatif
Paradigma Pendidikan Pesantren Multikultural Indonesia, yakni nilai inklusif, nilai akomodatif dan nilai relatifis.