• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab 4 Kepatuhan

C. H armonisasi Musrenbang Formal Versus Informal: Sebuah Indeksikalitas Kepatuhan

2. Rembug Warga Tengger

Sebagaimana yang telah diungkapkan sebelumnya bahwa disamping musrenbang desa yang dilakukan secara formal di bulan Januari sebagai bentuk kepatuhan kepada pemerintah, perbedaan menonjol di desa Tengger khususnya Desa Ngadisari dengan desa lainnya di luar Tengger adalah dilakukannya “rembug warga” di akhir tahun. Rembug warga ini merupakan mekanisme yang sesungguhnya terjadi dan bukan hanya sekedar formalitas.

Pada saat dilakukan rembug warga tersebut, semua masyarakat tanpa terkecuali, diundang untuk hadir di balai desa. Pelaksanaannya di bulan Desember dengan terlebih dahulu menentukan hari baik. Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh petinggi dan sesepuh Suku Tengger sebagai berikut:

“ Dalam tradisi masyarakat Tengger ketika melaksanakan semua kegiatan, khususnya yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat banyak kami selalu menentukan hari baik menurut hitungan Tengger, kami percaya bahwa dengan menghitung hari baik, semua proses akan berjalan dengan lancar....” (S, 2 Februari 2011)

“ Kami percaya bahwa semua hari baik, tapi ada satu hari yang paling baik

untuk melakukan kegiatan warga. Cara penentuan hari baik dilihat dari bintang dalam satu minggu. Kegiatan paling banyak dilakukan dihari baik yaitu ngahat, kamis dan jumuhat...(J, 2 Februari 2011).

Berdasarkan informasi dari dua sumber tersebut peneliti mencari litetarur terkait dengan hari baik dan hari buruk di Suku Tengger.

Menurut Suku Tengger, bintang-bintang yang kelihatan dalam satu minggu dapat digunakan untuk menentukan hari baik dan hari buruk. Jika bintang bersifat baik maka hari munculnya bintang tersebut merupakan hari baik. Tetapi, jika bintang ini bersifat jahat maka hari munculnya bintang tersebut merupakan hari buruk. Tabel 11 dan 12 dibawah ini dapat digunakan untuk menentukan hari baik dan hari buruk. Papan keterangan yang ada juga dapat digunakan untuk menentukan jam-jam baik dan buruk pada suatu hari.

Tabel 13: Hari Baik di Suku Tengger

Hari Bintang Keterangan Hari Nama Umum

Ngahad Arka Baik Matahari

Senen Dwiyodipati Tidak Tentu Bulan

Selasa Angraka Buruk Mars

Rabu Rauhineya Tidak Tentu Mercurius

Kamis Wrihaspati Baik Jupiter

Jumahat Arumdhati Baik Venus

Sabtu Shana Tidak Tentu Saturnus

Tabel 14 : Papan Keterangan Hari dan Jam yang Baik dan Tidak Baik

Hari Bintang Keterangan

Ngahat Arka Baik. Tetapi, segala pekerjaan dilarang disebabkan mulai dari hari dan waktu “Arka”, penghabisan hasilnya menjadi tidak baik Senen Dwiyodipati Tidak Menentu. Bila untuk membeli dan

menjual barang akan mendapatkan untung.

Jika menulis surat akibatnya jadi, dan bila berjualan hasilnya selamat. Tetapi, bagi orang yang malas dan orang yang bekerjanya perlahan-lahan, hasilnya buruk

Selasa Angaraka Buruk. Jika mulai berjalan atau sesuatunya akan mendapat celaka. Jika berbicara dusta akan mendapat persoalan. Jika mempunyai maksud tertentu, jangan dilakukan

Rabu Rauhineiya Tidak menentu. Untuk melakukan pembelian dan penjualan akan mendapat untung. Bila menulis sesuatu dapat terlaksana. Bila mulai berjalan akan selamat. Buat orang yang malas dan pelan bekerjanya akan merupakan hari buruk

Kamis Prihaspati Baik. Bila mulai berjalan atau berbuat sesuatu maka hasilnya akan selamat. Bila membuat surat perjanjian, hasilnya akan baik dan selamat. Jika mendapat sakit tidak akan lama. Dan bila ada maksud tertentu, dapat dilaksanakan

Jumahat Arumdhati Baik. Bila mengadakan perhelatan atau main wayang atau gamelan akan berjalan dengan selamat. Juga bila bertunangan dengan maksud untuk menikah akan memberi hasil yang baik. Dan baik juga bila memakan obat bila sakit maka akan cepat sembuh

Sabtu Shana Buruk. Jangan percaya pada orang pada hari dan waktu Shana karena dapat berbalik menjadi buruk. Buruk juga untuk melakukan segala pekerjaan. Yang dapat berhasil hanya bila melakukan pekerjaan untuk membuat rumah, mengerjakan sawah atau membuka tanah. Jika ada niat, jangan dilaksanakan kemauannya. Jangan minum atau memakai obat pada waktu Shana

Untuk melihat waktu yang baik dan buruk dalam satu hari dan malam dapat dicari dalam tabel 11 dan 12 di atas. Pada baris jam, pada kolom pertama menentukan bintang yang berpengaruh pada waktu itu. Tempat-tempat dimana matahari terbit lebih awal dari pukul 06.00, maka waktu antara matahari terbit dan pukul 2.00 siang hari harus dibagi dalam enam bagian yang sama. Hal yang sama juga harus dilakukan jika matahari tenggelamnya lebih dari pukul 06.00, maka waktu antara pukul 12.00 dan tenggelamnya matahari harus dibagi dalam enam bagian yang sama. Dengan demikian, sore hari dan malam hari akan menjadi lebih pendek. Papan keterangan di atas dapat dijadikan sebagai pedoman tanpa harus melakukan perhitungan. Hal yang diperlukan hanyalah mencari bintang yang bersangkutan sebagai panduan untuk mencari hari dan jam yang baik dan buruk.

Tabel 11 dan 12 di atas juga menunjukkan bahwa hari baik menurut orang Tengger adalah Ngahat, Kamis dan Jum’at. Untuk menentukan hari baik di antara ketiga hari tersebut, masyarakat biasanya datang ke Dukun dan meminta saran kapan waktu yang tepat untuk melakukan kegiatan. Penentuan hari juga berlaku untuk rangkaian kegiatan perkawinan seperti temu pengantin, upacara

Walagara, dan Bebanten. Begitu pula dengan penentuan kegiatan masyarakat seperti “rembug warga” pasti akan di tentukan hari baiknya. Rembug warga yang dilakukan oleh masyarakat Suku Tengger tahun 2010 pada tanggal 26 Desember 2010 bertepatan dengan hari minggu. Selain hari minggu sebagai hari baik, hampir semua masyarakat yang bekerja selain petani di ladang, juga dapat ikut hadir memberi masukan kepada pemerintah desa.

Pelaksanaan Musrenbang Desa Ala masyarakat Suku Tengger di Desa Ngadisari menurut teori partisipasi yang dikemukakan oleh Arnstein (1971) dikategorikan dalam tangga partisipasi yang ketiga, yaitu derajat tangga partisipasi penuh. Tangga ini ditandai dengan adanya kemitraan, pendelegasian wewenang dan adanya kontrol oleh warga. Dalam derajat ini tampak bahwa partisipasi masyarakat Suku Tengger dalam proses perencanaan penganggaran berbeda dengan desa-desa lainnya di luar wilayah Suku Tengger. Temuan ini menarik untuk dikaji lebih mendalam terkait dengan pelembagaan partisipasi informal.

Sedangkan menurut teori partisipasinya Moynihan (2003) termasuk dalam partisipasi penuh, dimana dengan keterwakilan yang luas keputusan dibuat oleh pejabat pemerintah dengan pengaruh yang sangat kuat dari partisipasi masyarakat. Partisipasi masyarakat Suku Tengger terjadi dengan adanya diskusi yang cukup intensif antara masyarakat dengan tokoh masyarakat, pemerintah desa dan tokoh adat. Sedangkan menurut teori partisipasinya Vaneklasen dan Miller (2002) termasuk dalam partisipasi intensif di mana masyarakat Suku Tengger hadir secara langsung mengikuti rembug Desa Tengger untuk memberikan usulan pembangunan dan mendengarkan pertanggungjawaban kegiatan selama satu tahun berjalan. Sementara ibu-ibu rumah tangga menyiapkan sesaji dan selamatan untuk kelancaran pelaksanaan Rembug Desa Tengger tersebut.

Berkaitan dengan partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan penganggaran, partisipasi masyarakat masih semu atau sekedar formalitas yang disebabkan oleh banyak hal, diantaranya: (1). partisipasi di dominasi kalangan elit tertentu, (2). partisipasi yang dimobilisasi oleh kelompok kepentingan tertentu, (3). partisipasi yang dikemas dalam acara entertaiment tertentu. Partisipasi yang sekedar formalitas hampir terjadi dihampir seluruh daerah berdasarkan hasil penelitian terdahulu (Prasetyo; 2005, Muluk; 2007, Sopanah; 2008, 2009, Sukardi; 2009, Razak; 2011, dan Ridwan; 2012).

Pelaksanaan Musrenbang Informal Ala Tengger dengan sebutan

Rembug Desa Tengger” menjadi temuan menarik, karena partisipasi informal ini merupakan salah satu bentuk inovasi yang dilakukan oleh desa dengan memperhatikan nilai kearifan lokal. Partisipasi informal ini perlu dilembagakan yang disesuaikan dengan karakteristik daerahnya, sebagaimana partisipasi formal yang telah diatur oleh pemerintah. Indeksikalitas Kepatuhan atau dalam

bahasa Tengger “Setuhu” di wujudkan dengan tetap melakukan mekanisme musrenbang formal meskipun roh partisipasinya terdapat dalam musrenbang informal. “Setuhu” yang merupakan salah satu nilai kearifan lokal Suku Tengger tetap dipertahankan dalam konteks penganggaran merupakan bentuk kepatuhan kepada pemerintah.

Bab 5

Kegotongroyongan:

Partisipasi Masyarakat Suku Tengger Dalam Pelaksanaan Pembangunan Hayo rowang hangayahi kardi, nora kendat pembangunan deso, pamuji murih becik’e, supoyo tansyah maju (mari saudara-saudara menjalankan kewajiban, jangan sampai berhenti membangun desa, memuji sesuatu yang lebih baik, supaya senantiasa maju

(Langgam Mbagun Deso)

Semua pembangunan di Tengger dilakukan secara gotong royong oleh semua warga baik pembangunan didanai APBD maupun swadaya masyarakat.

Para bapak-bapak yang kerja, para ibu-ibu menyiapkan makanan dan minuman (J, Warga Tengger, 2011)

Petikan langgam mbangun deso di atas sering terdengar pada saat masyarakat Suku Tengger melakukan pembangunan. Dalam lirik langgam tersebut menyiratkan ajakan agar masyarakat ikut berpartisipasi dalam pembangunan, sehingga desanya semakin maju. Bentuk dari partisipasi masyarakat Suku Tengger dalam melakukan pembangunan adalah gotong- royong yang dilakukan hampir di seluruh wilayah Suku Tengger. Semua masyarakat Suku Tengger berbondong-bondong datang dan bersama-sama secara sukarela memberikan tenaga dalam membangun desanya.

Pembangunan merupakan proses untuk mewujudkan cita-cita bernegara yaitu menuju masyarakat makmur sejahtera, secara adil dan merata, bagi seluruh rakyat Indonesia. Idealnya pembangunan dapat memecahkan dan menyelesaikan berbagai persoalan yang ada di masyarakat. Semakin lama pembangunan berlangsung, maka seharusnya makin sedikit persoalan- persoalan mendasar yang tersisa untuk diselesaikan. Dengan kata lain, pembangunan harus selalu diikuti dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat.

Faktanya, apa yang selama ini disebut sebagai pembangunan ternyata tidak selalu bekerja sesuai dengan harapan itu. Berbagai persoalan pembangunan kerap terjadi. Khususnya pembangunan yang didanai oleh pemerintah melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Pembangunan dengan dana pemerintah terlampau sering gagal menjawab tantangan pemenuhan kebutuhan dasar. Seperti kesehatan, pendidikan, atau kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh, dengan

berbagai alasan. Mulai dari minimnya anggaran, alokasi yang tidak merata dan sebagianya. Lebih dari itu, fakta dari sejumlah kelompok masyarakat menunjukkan pembangunan tidak menyentuh persoalan-persoalan dasar, sehingga masyarakat tidak ikut menikmati manfaat pembangunan pada taraf yang layak bagi kemanusiaan. Bagi mereka, pembangunan yang diprogramkan pemerintah tidak membawa pengaruh signifikan terhadap perbaikan kesejahteraan. Sebaliknya, pembangunan justru menggerogoti kesejahteraan masyarakat karena hanya sebagai proyek, dimana setelah proyek tersebut selesai maka selesailah pembangunan tersebut.

Dasar hukum penyelenggaraan pembangunan daerah bersumber pada Undang-Undang Dasar 1945 pasal 18. Adapun untuk implementasi formalnya adalah Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di daerah. Dalam implementasinya, pembangunan antar daerah tidak bisa sama. Kesenjangan antar daerah tetap ada. Misalnya kesenjangan pembangunan antara perkotaan dan pedesaan, kesenjangan antara wilayah di Pulau Jawa dengan Pulau di Luar Jawa. Oleh sebab itu, muncullah salah satu produk evaluasi pembangunan wilayah yaitu Undang-undang Otonomi Daerah Nomor 22 dan Nomor 25 Tahun 1999 yang telah diamandemen menjadi Undang-Undang Nomor 33 dan Nomor 34 tentang Pemerintahan Daerah dan Tentang Perimbangan Keuangan antara Pusat dan Daerah.

Adanya perubahan tersebut, mengakibatkan sistem pembangunan mengalami perubahan. Asalnya dari pendekatan perencanaan sektoral yang terpusat dan bersifat top down, menjadi pendekatan kewilayahan di tingkat lokal yang sifatnya bottom up. Pembangunan yang bersifat bottom up diharapkan dapat mengurangi berbagai persoalan yang muncul. Karena lebih memperhatikan aspirasi masyarakat yang lebih tahu tentang permasalahan yang terjadi di daerahnya.

Mahardika (2001; 10) menyatakan bahwa pembangunan yang melibatkan masyarakat dalam proses penyusunan dan implementasinya akan menghasilkan pembangunan yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pernyataan tersebut mendorong agar pola-pola top-down ditinggalkan dan kebijakan elit penguasa yang tidak pro-poor budget serta tidak pro-justice budget semakin dijauhi, dan lebih mengedepankan pembangunan yang partisipatif dan bottom-up.

Pembangunan partisipatif diharapkan dapat mengatasi berbagai permasalahan pembangunan, diantaranya kemiskinan, kesenjangan pendapatan, dan kegagalan transformasi. Oleh karena itu diperlukan dukungan yang kuat dan kelembagaan lokal masyarakat desa sehingga dapat terwujud pembangunan seperti yang mereka harapkan (Purwaningsih, 2008).

Pada bagian ini akan diuraikan “benang kusut” dalam pembangunan;

realisasi pembangunan di desa Ngadisari, kegotong royongan mewarnai partisipasi masyarakat Suku Tengger dalam pembangunan dan potret pembangunan dalam bingkai teori partisipasi.

A. Dominasi Penguasa dalam Pembangunan Menyebabkan