• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III TINJAUAN KASUS

3.3 Rencana Keperawatan

No. RM : 05-xx-xx Ruangan : Gelatik

Tabel 3.2 Rencana Keperawatan Asuhan Keperawatan Jiwa Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran pada Tn.S

Hari/Tgl Perencanaan Intervensi Rasional

Tujuan Kriteria

Selasa 30/7/19

SP 1 pasien :

1. Bina Hubungan Saling Percaya 2. Menjelaskan isi

halusinasinya 3. Menjelaskan

jenis

halusinasinya 4. Menjelaskan

respon

halusinasinya 5. Menjelaskan

frekuensi halusinasinya 6. Mejelaskan

waktu

halusinasinya 7. Menjelaskan

cara mengontrol halusinasi dengan cara menghardik

SP 1 pasien :

1. Pasien mampu berinteraksi dengan baik 2. Pasien mampu

mengetahui halusinasinya 3. Pasien mampu

menjelaskan jenis

halusinasinya 4. Pasien mampu

merespon halusinasinya 5. Pasien mampu

mengatakan berapa kali mendengarkan suara-suara 6. Pasien mampu

menjelaskan waktu mendengar suara-suara.

SP 1 pasien : 1. Membina

hubungan saling percaya 2. Menanyakan

isi

halusinasinya 3. Menanyakan

jenis

halusinasinya 4. Menanyakan

respon

halusinasinya 5. Menanyakan

frekuensi halusinasinya 6. Menanyakan

waktu

halusinasinya

1. Dengan membina hubungan saling percaya diharapkan klien dapat mengungkapka n masalahnya 2. Pasien mampu

mengidentifika sihalusinasinya dengan

mengetahui jenis, isi, respon,

frekuensi, serta waktu

terjadinya halusinasi.

Rabu 31/7/19

SP 1 Pasien :

1. Bina Hubungan Saling Percaya 2. Dapat

mengontrol halusinasi dengan cara menghardik

SP 1 Pasien :

1. Pasien mampu berinteraksi dengan baik 2. Pasien mampu

mengontrol halusinasi dengan cara menghardik

SP 1 Pasien : 1. Membina

hubungan saling percaya 2. Melatih cara

kontrol halusinasi

1. Dengan membina hubungan saling percaya diharapkan klien dapat mengungkapka nmasalahnya 2. Pasien mampu

mengontrol halusinasi dengan cara menghardik.

Kamis 01/8/19

SP 2Pasien :

1. Bina Hubungan Saling Percaya 2. Dapat

mengontrol halusinasi dengan cara bercakap-cakap dengan orang lain

SP 2 Pasien :

1. Pasien mampu berinteraksi dengan baik 2. Pasien mampu

mengontrol halusinasi dengan cara bercakap- cakap dengan orang lain

SP 2 Pasien : 1. Membina

hubungan saling percaya 2. Memberikan

cara untuk mengontrol halusinasi dengan cara bercakap- cakap dengan orang lain

1. Dengan membina hubungan saling percaya diharapkan klien dapat mengungkapka n masalahnya 2. Ketika pasien

bercakap- cakap dengan orang lain terjadi

distraksi, fokus perhatian pasien akan

beralih dari halusinasi kepercakapan yang dilakukan dengan orang lain.

Jum’at 02/8/19

SP 3 Pasien :

1. Bina Hubungan Saling Percaya 2. Melatih pasien

cara kontrol halusinasi dengan kegiatan / aktivitas terjadwal (yang bisa dilakukan pasien)

SP 3 Pasien :

1. Pasien mampu berinteraksi dengan baik 2. Pasien mampu

mengontrol halusinasi dengan kegiatan / aktivitas terjadwal (yang bisa dilakukan pasien)

SP 3 Pasien : 1. Membina

hubungan saling percaya 2. Memberikan

cara untuk mengontrol halusinasi dengan cara melakukan kegiatan / aktivitas terjadwal (yang bisa dilakukan pasien)

1. Dengan membina hubungan saling percaya diharapkan klien dapat mengungkapka n masalahnya 2. Dengan

beraktivitas secara terjadwal, pasien tidak akan

mengalami banyak waktu luang sendiri yang sering kali

mencetuskan halusinasi.

Sabtu 03/8/19

SP 4 Pasien :

1. Bina Hubungan

SP 4 Pasien :

1. Pasien mampu

SP 4 Pasien : 1. Membina

1. Dengan membina

Saling Percaya 2. Menjelaskan

cara kontrol halusinasi dengan cara teratur minum obat

berinteraksi dengan baik 2. Pasien mampu

mengontrol halusinasi dengan teratur minum obat

hubungan saling percaya 2. Menganjurka

n pasien untuk minum obat

hubungans aling percaya diharapkan klien dapat mengungkapka n masalahnya 2. Dengan teratur

minum obat dapat mengurangi halusinasi dan mengendalikan suara-suara

3.5 Implemenetasi dan Evaluasi Nama : Tn. S

NIRM : 05-xx-xx Ruangan : Gelatik

Tabel 3.5 Implementasi dan Evaluasi Asuhan Keperawatan Jiwa Gngguan Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran pada Tn. S

Hari / Tgl Diagnosa Keperawatan

Implementasi Evaluasi Ttd

Selasa 30/07/19

Halusinasi Pendengaran

SP 1 pasien :

1. Bina Hubungan Saling Percaya 2. Mengidentifikasi isi

halusinasi

3. Mengidentifikasi jenis halusinasi 4. Menjelaskan respon

halusinasi

5. Mengidentifikasi frekuensi halusinasi 6. Mengidentifikasi

waktu halusinasi 7. Melatih pasien

kontrol halusinasi dengan cara menghardik

S:

Px menyebutkan namanya Tn. S berusia 37 tahun asal dari

Surabaya. Px juga dapat menyebutkan nama perawat Px sering

mendengar suara- suara pada saat siang hari O:

- Px mampu menyebutkan namanya - Px dapat memahami halusinasinya A:

ika

SP 1 teratasi 1-6.

Point 7 belum teratasi P:

Mengevaluasi kegiatan yang dilakukan pasien.

Lanjut SP 1 point 7

Rabu 31/07/19

Halusinasi Pendengaran

SP 1 Pasien :

1. Bina Hubungan Saling Percaya 2. Melatih pasien

kontrol halusinasi dengan cara menghardik

S:

Px sering

mendengar suara- suara saat siang hari. Saat suara itu muncul px langsung

menutup telinga dengan kedua tangannya dan menganggap suara itu tidak ada

O:

Px dapat mengontrol halusinasinya dengan cara menghardik A:

SP 1 point 7 teratasi

ika

P:

Mengevaluasi kegiatan yang dilakukan pasien.

Lanjut SP 2

Kamis 01/08/19

Halusinasi Pendengaran

SP 2 Pasien :

1. Bina Hubungan Saling Percaya 2. Memvalidasi

masalah dan latihan sebelumnya

3. Mengajarkan pasien cara mengontrol halusinasi dengan bercakap-cakap dengan orang lain

S:

Pasien

mengatakan jika mendengar suara langsung mencari teman untuk di ajak berbicara O:

Px dapat mengontrol halusinasi dengan bercakap-cakap dengan teman terdekatnya A:

Px mampu bercakap-cakap dengan teman terdekatnya P:

Mengevaluasi kegiatan pasien SP 2 teratasi.

Lanjut SP 3

ika

Jum’at 02/08/19

Halusinasi Pendengaran

SP 3 Pasien : S:

Px mengatakan

ika

1. Bina Hubungan Saling Percaya 2. Memvalidasi

masalah dan latihan sebelumnya

3. Mengajarkan pasien cara kontrol

halusinasi dengan aktivitas / kegiatan terjadwal yang biasa dilakukan sehari- hari

saat suara muncul px langsung menutup telinga dengan kedua tangannya dan mengatakan

“kamu tidak nyata dan kamu tidak ada”

O:

-Px mampu menerapkan cara ketiga saat suara muncul dengan kegiatan mendengarkan musik dan berbincang dengan teman terdekatnya A:

Px dapat mengontrol halusinasi dengan kegiatan

mendengarkan musik dan berbincang dengan teman terdekatnya P:

SP 3 teratasi.

Lanjut SP 4 Sabtu

03/08/19

Halusinasi Pendengaran

SP 4 Pasien :

1. Memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya

2. Menjelaskan cara kontrol halusinasi dengan teratur minum obat

S:

Px mengatakan suara yang didengar sudah mulai berkurang O:

Px mampu menerapkan cara kontrol halusinasi dengan teratur minum obat A:

Px dapat teratur minum obat P:

SP 4 dilanjutkan.

Px rencana KRS ika

57

PEMBAHASAN

Dalam pembahasan ini penulis akan menguraikan tentang kesenjangan yang terjadi tinjauan pustaka dan tinjauan kasus dalam asuhan keperawatan jiwa masalah utama Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran dengan Diagnosa Medis Skizofrenia di ruang Gelatik RS Jiwa Menur Surabaya yang meliputi pengkajian, diagnosa, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.

4.1 Pengkajian

Pada pengkajian didapatkan data Tn.S masuk rumah sakit pada tanggal 20 Juli 2019 alasan masuk pasien karena pasien berbicara sendiri, tertawa sendiri, senyum-senyum sendiri, dan suka keluyuran di kampung. Pasien mengeluh sering mendengar suara-suara yang menyuruh pasien untuk marah-marah. Jenis suara laki-laki, pasien mendengar suara saat pasien sendirian,

Menurut data yang didapat, pasien baru pertama kali masuk RS Jiwa Menur Surabaya pada tanggal 20 Juli 2019 dengan Diagnosa Medis Skizofrenia.

Dalam tinjauan kasus disebutkan jika pasien dengan menarik diri mengakibatkan Halusinasi Pendengaran. Dimana Halusinasi timbul karena pasien jika mempunyai masalah hanya diam dan dipendam sendiri, kemudian pasien sering menyendiri dan melamun, disitulah dapat menyebabkan pasien Halusinasi Pendengaran.

Pada tanda dan gejala dalam tinjauan pustaka masalah yang dituliskan menurut Direja (2011) perilaku pasien yang terkait dengan halusinasi adalah sebagai berikut :

1) Halusinasi Pendengaran : Berbicara sendiri atau tertawa sendiri, marah-marah tanpa sebab, menutup telinga, mendengar suara atau kegaduhan, mendengarkan suara yang bercakap-cakap, mendengar suara yang menyuruh melakukan sesuatu yang berbahaya.

2) Halusinasi Penglihatan : Melihat bangunan, melihat hantu, menunjuk- nunjuk kearah tertentu, ketakutan terhadap sesuatu yang berbahaya.

3) Halusinasi Penghidungan : Membaui bau-bau seperti darah, urine, feses (kadang-kadang bau itu menyenangkan), menghidung seperti sedang membaui tertentu, menutup hidung.

4) Halusinasi Pengecap : Merasakan rasa seperti darah, urine yang sering ingin meludah, muntah.

5) Halusinasi Perabaan : Mengatakan adanya serangan dipermukaan kulit, merasa tersengat listrik, menggaruk-garuk permukaan kulit.

Dari beberapa kesenjangan tinjauan pustaka maka dapat disimpulkan bahwa ada beberapa perilaku pasien yang muncul pada tinjauan kasus, hal ini sesuai dengan teori menurut Direja (2011) bahwa tanda dan gejala pasien halusinasi adalah senyum sendiri, tertawa sendiri, suka keluyuran.

4.2 Diagnosa Keperawatan

Berdasarkan hasil pengkajian pada tinjauan kasus, didapatkan data fokus pasien sering mendengaran bisikan-bisikan suara seorang laki-laki yang menyuruh pasien untuk memarahi seseorang. Bisikan itu muncul pada saat siang hari dan pasien sedang sendirian. Pada saat suara bisiskan itu muncul pasien hanya diam

sambil menutup mata. Sehingga muncul diagnosa keperawatan Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran.

Faktanya pasien sering mendengar bisikan suara laki-laki yang menyuruhnya untuk marah-marah. Suara itu muncul pada siang hari saat pasien sedang sendirian.

Hal ini sesuai dengan teori menurut NANDA (2012) bahwa batasan karakteristik keperawatan pasien dengan Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi adalah perubahan dalam respon yang biasa dalam stimulus dan halusinasi.

Berdasarkan data pengkajian pada tinjauan kasus, didapatkan data fokus pasien ekspresi muka gelisah, takut suara itu muncul lagi. Distress masa lalu karena kakak kandungnya yang pertama suka marah-marah dan ibunya sering dipukuli oleh ayahnya, sehingga muncul diagnosa keperawatan Resiko Perilaku Kekerasan.

Faktanya pasien tampak cemas, murung dan gelisah apabila suara itu muncul lagi. Hal ini sesuai dengan teori menurut Damaiyanti (2012) bahwa akibat pasien yang mengalami halusinasi dapat kehilangan kontrol dirinya sehingga bisa membahayakan diri sendiri, orang lain, maupun merusak lingkungan. Hal ini terjadi jika halusinasi sudah sampai pada tahap ke IV diamana pasien mengalami panik dan perilakunya telah dikendalikan oleh halusinasinya. Pasien benar-benar kehilangan kemampuan realitas terhadap lingkungan. Dalam situasi ini pasien dapat melakukan bunuh diri, membunuh orang lain, bahkan merusak lingkungan.

Dari beberapa kesenjangan tinjauan pustaka maka dapat disimpulkan bahwa diagnosa keperawatan muncul pada tinjauan kasus, hal ini sesuai dengan

teori menurut NANDA (2012) adalah Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran.

4.3 Rencana Keperawatan

Rencana keperawatan yang dilakukan pada Tn.S adalah melakukan BHSP agar pasien saling terbuka kepada perawat. Faktanya pasien mau berjabat tangan, menyebutkan nama, dan menjawab salam perawat kepada pasien. Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran setelah berinteraksi diharapkan pasien dapat menunjukkan tanda-tanda percaya pada perawat, ekspresi wajah bersahabat, menunjukkan rasa saling senang, ada kontak mata, mau berjabat tangan, mau menyebutkan nama, menjawab salam, mau mengungkapkan masalah yang dihadapi, hal ini sesuai teori menurut Keliat (2006).

Rencana keperawatan yang dilakukan pada Tn.S adalah SP 1 mengidentifikasi isi, jenis, waktu, frekuensi, dan respon pasien terhadap halusinasi. Faktanya setelah berinteraksi pasien dapat menyebutkan isi, jenis, waktu, frekuensi, dan respon pasien saat halusinasi muncul dengan cara menghardik menganggap suara itu tidak nyata, dan menutup telinga dengan kedua tangannya. Setelah berinteraksi pasien menyebutkan tindakan yang bisa dilakukannya untuk mengontrol halusinasinya dengan cara menghardik, hal ini sesuai dengan teori Keliat (2006).

Rencana keperawatan yang dilakukan pada Tn.S adalah SP 2 mengontrol halusinasi dengan cara bercakap-cakap dengan orang lain. Faktanya setelah berinteraksi pasien dapat mendemonstrasikan bercakap-cakap dengan orang lain,

mencari teman untuk diajak berbicara. Hal ini sesuai dengan teori menurut Keliat (2006).

Rencana keperawatan yang dilakukan pada Tn.S adalah SP 3 mengontrol halusinasi dengan melakukan aktivitas/ kegiatan terjadwal yang biasa dilakukan sehari-hari. Faktanya setelah berinteraksi pasien dapat menerapkan cara mengontrol halusinasi dengan melakukan kegiatan mendengarkan musik bersama dengan teman-temannya. Hal ini sesuai dengan teori menurut Keliat (2006).

Rencana keperawatan yang dilakukan pada Tn.S adalah SP 4 mengontrol halusinasi dengan cara teratur minum obat. Faktanya pasien mampu menerapkan cara kontrol halusinasi dengan teratur minum obat. Setelah berinteraksi diharapkan pasien menyebutkan manfaat minum obat, kerugian minum obat, nama, warna, dosis, dan efek samping, hal ini sesuai dengan teori menurut Keliat (2006).

Dari beberapa kesenjangan tinjauan pustaka maka penulis menyimpulkan bahwa rencana keperawatan pasien muncul pada tinjauan kasus, hal ini sesuai dengan teori menurut Keliat (2006).

4.4 Tindakan Keperawatan

Tindakan keperawatan disesuaikan dengan rencana tindakan keperawatan pada situasi nyata implementasi sering kali jauh lebih berbeda dengan rencana tertulis dalam melaksanakan tindakan keperawatan, yang biasa dilakukan perawat setelah menggunakan rencana tidak tertulis yaitu apa yang dipikirkan, dirasakan,

itu yang dilaksanakan. Sebelum melaksanakan tindakan yang sudah direncanakan, perawat perlu memvalidasi dengan singkat apakah rencana tindakan masih dibutuhkan dan sesuai dengan keadaan pasien saat ini.

Pada tanggal 30 Juli 2019 dilakukan SP 1 yang isinya mencakup : perawat membina hubungan saling percaya dengan pasien, mengidentifikasi jenis, isi, waktu, respon, dan mengajarkan cara menghardik halusinasi dalam jadwal kegiatan harian. Dalam pertemuan pertama pasien mau menyebutkan nama, usia, dan asalnya, pasien juga menyebutkan suara yang didengarnya yaitu suara yang menyuruh pasien untuk memarahi orang lain, suara itu muncul pada siang hari, ketika sendirian, saat mendengar suara itu pasien hanya terdiam. Pada pelaksanaan SP 1 pasien tidak ada hambatan yang terjadi saat hasil wawancara respon pasien secara verbal dari mulai perkenalan pasien mengatakan “pagi mbak, nama saya Tn. S “.

Pada tanggal 31 Juli 2019 dilakukan SP 1 cara menghardik halusinasi.

Dalam pertemuan kedua pasien kooperatif, dan pasien masih ingat dengan nama perawat. Pasien dapat mengontrol halusinasi dengan cara menghardik, pasien mengatakan “pergi ! kamu tidak ada dan kamu tidak nyata!”. Selanjutnya perawat menganjurkan pasien untuk memasukkan cara menghardik kedalam jadwal kegiatan harian.

Pada tanggal 1 Agustus 2019 dilakukan SP 2 yang isinya mencakup : pasien mengontrol halusinasi dengan cara bercakap-cakap dengan orang lain.

Dalam pelaksanaan pasien mampu mengontrol halusinasi dengan cara bercakap- cakap dengan teman terdekat saat halusinasi itu muncul. Asumsi penulis, pasien

mampu mempraktekkan dari mualai cara menghardik sampai dengan bercakap- cakap dengan teman terdekatnya.

Pada tanggal 2 Agustus 2019 dilakukan SP 3 yang isisnya mencakup : mengevaluasi latihan bercakap-cakap dengan temannya, melatih pasien mengendalikan halusinasi dengan melakukan kegiatan yang bisa dilakukan setiap hari. “Saat suara itu muncul saya langsung pergi ke tempat biasanya digunakan berkumpul untuk mendengarkan musik bersama teman”. Secara obyektif pasien tampak antusias menceritakan kegiatan dan pasien tampak tenang. Dan asumsi penulis, pasien mampu mempraktekkan cara memasukkan kegiatan yang terjadwal sesuai yang perawat ajarkan.

Pada tanggal 3 Agustus 2019 dilakukan SP 4 yang isinya : mengevaluasi kegiatan harian pasien dan memberikan pengetahuan tentang penggunaan obat secara teratur. Pasien dapat menggunakan obat secara teratur dan mengetahui jumlah, warna obat yang diberikan oleh perawat.

Sesuai dengan teori, pada saat akan melaksanakan tindakan perawatan membuat kontrak / janji terlebih dahulu dengan pasien yang isinya menjelaskan apa yang akan dikerjakan dan peran serta yang diharapkan pasien. Kemudian dokumentasi semua tindakan yang telah dilaksanakan beserta respon pasien, namun direncana tindakan menggunakan tujuan umum dan tujuan khusus, diimplementasi menggunakan strategi pelaksanaan sesuai dengan kriteria keperawatan.

4.5 Evaluasi Keperawatan

Pada tinjauan kasus evaluasi dapat dilakukan karena diketahui keadaan pasien dan masalahnya secara langsung.

Pada waktu dilaksanakan evaluasi SP 1 pasien dapat mengerti jenis, isi, waktu, frekuensi, situasi yang dapat menimbulkan halusinasi pasien, respon pasien terhadap halusinasi, pasien mampu menghardik halusinasi dan memasukkan dalam jadwal kegiatan harian. Pasien kooperatif dan mampu berlatih apa yang telah diajarkan oleh perawat.

Pada SP 2 pasien dapat mengevaluasi jadwal kegiatan harian, dan pasien dapat mengontrol halusinasi dengan cara bercakap-cakap dengan teman terdekatnya saat halusinasi itu muncul. Dan pasien dapat memasukkan dalam jadwal kegiatan harian.

Pada SP 3 pasien dapat mengevaluasi jadwal kegiatan harian, dan pasien dapat mengendalikan halusinasi dengan cara melakukan kegiatan yang bisa dilakukan sehari-hari yaitu dengan mendengarkan musik bersama-sama. Pasien dapat memasukkan dalam jadwal kegiatan harian. Dan pasien juga kooperatif, mampu berlatih apa yang telah diajarkan oleh perawat.

Untuk SP 4 pasien dapat mengevaluasi jadwal kegiatan harian dan dapat melaksanakan minum obat secara teratur, mengetahui warna obat dan jumlah obat. Pasien kooperatif dan mampu melaksanakan apa yang dianjurkan oleh perawat.

Pada tinjauan teori evaluasi adalah proses berkelanjutan untuk menilai efek dari tindakan keperawatan pada pasien. Evaluasi dilakukan terus-menerus pada respon pasien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan.

Evaluasi dapat dilakukan menggunakan pendekatan SOAP. Pada tinjauan kasus, evaluasi dapat dilakukan karena diketahui keadaan pasien dan masalahnya secara langsung, dilakukan setiap hari selama pasien dirawat di Ruang Gelatik.

66 PENUTUP

Setelah penulis melakukan pengamatan dan melaksanakan Asuhan Keperawatan Jiwa masalah utama Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran pada Tn. S dengan Diagnosa Medis Skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya, maka penulis dapat menarik kesimpulan dan sekaliguas saran yang dapat bermanfaat dalam meningkatkan mutu Asuhan Keperawatan pasien dengan Diagnosa Medis Skizofrenia dengan masalah utama Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran.

5.1 Kesimpulan

Dari hasil penjabaran Asuhan Keperawatan Jiwa masalah utama Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran pada Tn. S di Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya, maka penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut :

5.1.1 Pada pengkajian pasien didapatkan adanya perilaku menarik diri dan pasien mengalami Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran.

Didapatkan data fokus pasien sering mendengar suara bisikan.

5.1.2 Masalah keperawatan yang muncul adalah Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran.

5.1.3 Perencanaan yang dilakukan yaitu dengan melakukan SPTK (Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan) dari SP 1 Pasien sampai dengan SP 4 Pasien.

5.1.4 Dengan melakukan tindakan perencanaan dengan SPTK (Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan) dari SP 1 sampai dengan SP 4 Pasien yaitu :

5.1.4.1 SP 1 Pasien : pasien dapat mengidentifikasi jenis, isi, waktu, frekuensi, dan situasi yang dapat menimbulkan halusinasi. Dan menganjurkan pasien untuk memasukkan cara menghardik halusinasi kedalam jadwal kegiatan harian.

5.1.4.2 SP 2 Pasien : pasien dapat mengontrol halusinasi dengan cara bercakap-cakap dengan teman terdekatnya jika halusinasi muncul.

5.1.4.3 SP 3 Pasien : pasien dapat mengontrol halusinasi dengan cara melakukan kegiatan yang biasa dilakukan oleh pasien. Seperti mendengarkan musik bersama teman-temannya.

5.1.4.4 SP 4 Pasien : pasien dapat mengendalikan halusinasi dengan cara teratur minum obat dan memasukkan kedalam jadwal kegiatan harian.

5.1.5 Pada evaluasi SP 1 pasien dapat mengerti jenis, isi, waktu, frekuensi, situasi yang dapat menimbulkan halusinasi pasien, respon pasien terhadap halusinasi, pasien mampu menghardik halusinasi dan memasukkan dalam jadwal kegiatan harian. Pada SP 2 pasien dapat mengevaluasi jadwal kegiatan harian, dan pasien dapat mengontrol halusinasi dengan cara bercakap-cakap dengan teman terdekatnya saat halusinasi itu muncul. Pada SP 3 pasien dapat mengevaluasi jadwal kegiatan harian, yaitu dengan mendengarkan musik bersama. SP 4 pasien dapat mengevaluasi jadwal kegiatan harian dan dapat melaksanakan minum obat secara teratur.

5.2 Saran

5.2.1 Bagi Institusi Kesehatan

Sebagai pemberi asuhan keperawatan, sebaiknya perawat selalu melakukan pendekatan terus menerus dan bertahap kepada pasien dengan halusinasi pendengaran untuk mengontrol halusinasi yang muncul. Pasien dengan halusinasi biasanya sering menyendiri atau melamun, kebiasaan tersebut merupakan faktor pencetus munculnya kembali halusinasi, dalam hal ini sebaiknya perawat sering melakukan interaksi dengan pasien untuk mengurangi halusinasi yang muncul.

5.2.2 Bagi Keluarga

Diharapkan keluarga dapat menerima dan lebih memperhatikan kegiatan pasien agar tidak memicu pasien untuk menyendiri atau melamun, memperhatikan kebutuhan pasien dan selalu memotivasi pasien agar melakukan kegiatan yang mengontrol halusinasi sesering mungkin.

5.2.3 Bagi peneliti

Selanjutnya diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai media informasi tentang kesehatan jiwa dan sebagai bahan masukan untuk penelitian selanjutnya. Terutama untuk lebih memperdalam identifikasi mengenai pentingnya kontrol halusinasi agar tidak muncul kembali.

DAFTAR PUSTAKA

Afnuazi, Ns Ridhyalla, (S.Kep). 2015. Komunikasi Terapeutik dalam Keperawatan Jiwa.

Yogyakarta. Gosyen Publishing.

Akemat, (S.Kp, M.Kes). 2007. Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa. Jakarta.

Buku Kedokteran ECG.

Damaiyanti, M. (2008). Komunikasi Terapeutik dalam Praktik Keperawatan. Cetakan I.

Bandung: PT. Refika Aditama.

Damaiyanti, Mukhripah, (S.Kep., Ns.). 2012. Asuhan Keperawatan Jiwa. Bandung. PT.

Refika Aditama.

Direja, A. H. S., (2011). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: Nuha Medika.

Ibrahim, Ayub, Sani, (Prof, Dr, H, Sp, Kj, (K)). 2011. Skizofrenia Spliting Personality.

Keliat, B. A., & Akemat. (2009). Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa. Jakarta:

EGC.

Muhith, A. (2015). Pendidikan Keperawatan Jiwa ( Teori dan Aplikasi). Yogyakarta:

Andi.

Prabowo, Eko. 2014. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Yogyakarta. Nuha Medika.

Purwanto, T. (2015). Bukiu Ajar Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Stuart, G.W. (2006). Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC.

Videbeck, S.L. (2008). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC.

Yosep, I. (2009). Keperawatan Jiwa (Edisi Revisi). Bandung: PT. Refika Aditama.

Yosep, I., & Sutini, T. (2014). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Bandung: PT. Refika Aditama.

Yosep, I. (2011). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Bandung: PT. Refika Aditama.

Pada pasien Halusinasi Pendengaran

Nama Pasien : Tn. S

Hari/ tanggal : Selasa /30 Juli 2019 Pertemuan : Ke-1

Masalah Keperawatan : Halusinasi Pendengaran

1. Fase Orientasi

a. Salam Terapeutik : “Selamat pagi Pak, perkenalkan nama saya Ika dari STIKES ABI Surabaya. Bapak namanya siapa ? biasa dipanggil siapa ?”

b. Evaluasi / validasi : “Bagaimana perasaan bapak hari ini ? apakah boleh saya berbicara sebentar dengan bapak ?”

c. Kontrak

Topik : “Baiklah pak, bagaimana kalau kita perkenalan dan membahas masalah bapak ?”

Waktu : “Berapa lama bapak punya waktu untuk bercakap- cakap dengan Saya ? Bagaimana kalau 30 menit ?”

Tempat : “Kita ngobrolnya dimana pak ? Bagaimana kalau di tempat makan saja ?”

2. Fase Kerja (langkah-langkah tindakan keperawatan)

“Apakah bapak mendengar suara tanpa ada wujudnya ?apa yang dikatakan suara itu ?apakah suara itu sering muncul ? pada saat apa suara itu terdengar ? apa yang bapak lakukan saat suara itu muncul ?”

3. Fase Terminasi

Dokumen terkait