4.2. Analisis data subjek penelitian dan subjek wawancara
4.2.2. Respon kognitif pembaca dalam memproses pesan dalam komik satir yang
48
49 pengalamannya terhadap isu yang disampaikan komik yang mereka baca.
Gambar 12. dokumentasi wawancara via discord messenger tris-ghost untuk respon kognitif
Dari tris-ghost menceritakan dirinya pernah disituasi yang sama dengan komik yang dibacanya dengan sedikit opini pro terhadap komik pertama dan kontra dikomik keduanya.
“yang pertama iya, saya punya dosen yang mungkin bisa dibilang ya gitu, berusaha memberikan sesuatu pada universitas, memberikan pelajaran dan ilmu lebih untuk mahasiswanya dan sungguh menjiwai pekerjaannya sebagai dosen dan juga sebagai seorang profesor profesional di bidangnya. Cuman pihak universitas tidak pernah acknowledge dia, jawaban mereka terdengar merendahkan dirinya yang sebagai seorang profesor dan kayak tidak mengakui jabatan dan pekerjaan beliau.
Untuk komik kedua mungkin ya, tapi rada berkebalikan. Mungkin karena penyampaian komiknya rada aneh. Budaya jepang tapi ya itu tbh peserta yang ikut lebih kek festival wibu. Mungkin saya nitpicking. Kesannya komiknya jadi rada merendahkan dan mungkin jadi kek elitism perihal pesan macam "cintailah produk dalam negeri" Walau pas membaca pesan author sepertinya jelas apa arah ya g dia mau tembak. Cuman komiknya bikin pelurunya meleset jauh, masuknya jadi elitism perihal komik atau karya luar.
Yah apa boleh buat, Indonesia rada2 kurang bisa mengikuti kecepatan keluarnya komik luar sih. Bisnis kita bisa dibilang baru berusaha hidup pula. Atau mungkin karena saya sebagai seniman juga rada kesentil karena orang sekitar saya sering bilang suruh
50 buat gambar yang "indonesia" gitu haha.” [tris-ghost, hasil wawancara, 07 juli 2021]
Untuk analisis tris-ghost terhadap komik dengan sub judul
‘primitif’, tris-ghost mengungkapkan kalau isu yang diangkat komik tersebut pernah terjadi dilingkungan universitasnya, dengan menggunakan contoh dosennya yang tidak dianggap oleh pihak universitas. Sedangkan komiknya sendiri membahas isu tentang tidak dihargainya prestasi seseorang di indonesia yang mengakibatkan banyak orang hebat memutuskan pergi keluar negeri karena lebih dihargai diluar ketimbang dinegeri sendiri.
Berbeda dengan reaksinya terhadap komik kedua dengan sub judul ‘penjajah’, dimana tris-ghost mengungkapkan kalau dirinya kontra dengan cara komikus menyampaikan isu dalam komik tersebut.
Dimana yang seharusnya menyampaikan pesan bahwa orang tua tidak menyukai jika budaya luar terlalu masuk kedalam kehidupan generasi muda. Tapi komik tersebut malah memberikan kesan bahwa budaya luar tidak baik dan merendahkan budaya tersebut kemudian terjadi penyampaian pesan dengan pemaknaan berbeda dan membuat tris- ghost merasa kalau dirinya disentil sebagai respon afektif lalu dilanjutkan dengan respon kognitif sesuai dengan pengalamannya sebelumnya.
51 Gambar 13.dokumentasi wawancara via discord messenger irex untuk respon kognitif
Dalam wawancara bersama irex, dia tak menemukan relevansi isu yang dibahas oleh komik dengan sub judul ‘metromini lagi’
dan’cheat’ dengan keadaan dirinya sehari-hari karena lingkungannya tinggal bukanlah daerah perkotaan dan diuniversitasnya tidak pernah ada kejadian yang sama dengan komik tersebut.
“kalo yang metromini cuma kejadian di bis sih kalo disini
angkotnya malah jarang mengingat well...jalan disini aja udah kaya roller coaster,jadi dah nyadar sebagian besar kudu tiati
kalo cheat itu di kampus gw belom perna liat ada kejadian sih tapi di instansi pemerintahan lain kek buat ktp ato sim masih ada walau ga sering. jadi ya, kalo soal relate ga relate2 amat kalo buat gw tapi kalo buat orang jabodetabek mungkin bakal lebih relate.” [irex, hasil wawancara, 10 juli 2021, discord]
dengan pernyataan tersebut membuat minat beropini irex menjadi berkurang ditambah dari respon selanjutnya adalah dia tidak memiliki minat terhadap komik satir dan lebih skeptis terhadap komik yang diberikan seperti hasil wawancara dibawah ini.
Gambar 14.dokumentasi wawancara via discord messenger irex untuk respon kognitif
“ga terlalu relate
gademen ngurusin sesuatu yang bukan urusan gw/yang bukan ranah gw
males karena ada hal lain yang lebih penting/baik lagi buat gw lakuin daripada buang2 waktu ngutarain opini gw di komik2 gitu
52 dah mikir kalo opini disitu pun gaakan ngerubah apa2,malah biasanya cuma jadi ajang adu mulut berkepanjangan yang lagi2 buang-buang waktu
emang gademen komik begituan sih pada dasarnya” [irex, hasil wawancara, 10 juli 2021]
kemudian dari jawaban tersebut maka faktor relevansi pembaca sangat penting untuk membuat pembaca beropini, sisanya adalah minat pembaca dan timbal balik atas mengemukakan opini diruang publik yang bisa berujung konflik. Lalu kemudian irex diberikan sub judul baru yang masih memiliki sedikit relevansi terhadap latar belakangnya sebagai pembuat komik dan illustrator yaitu sub judul
‘harga desain’.
Gambar 15. dokumentasi wawancara via discord messenger irex untuk respon kognitif
Dengan jawaban seperti itu maka ada indikasi semakin dekat sebuah isu yang dibahas sebuah komik satir terhadap pembaca semakin mudah mendapatkan timbal balik dari komunikasi lewat media massa.
53 Gambar 16. dokumentasi wawancara via discord messenger angga untuk respon
kognitif
“Relate, sih...well, cukup relate wkwkwk tapi, gak terlalu menohok paham, sih aku konteks ini. Soalnya aku selain ngikutin komik, ya ngikutin musik dan emang nyadar diriku selalu komen "ah, musik jaman sekarang....BLA BLA BLA..."
Kalau aku seandainya terjun ke industri musik, bisa aja komik ini terasa sangat menohok karena lebih relatabls wkwkwk” [angga, hasil wawancara, 07 juli 2021]
Sama seperti irex untuk relevansi isu yang diangkat sebuah komik harus benar-benar dekat dengan pembacanya. Dengan membaca komik yang sub judulnya ‘mainstrem’ dia berpendapat bahwa isu yang diangkat cukup relevan terhadap dirinya tapi tidak cukup untuk membuatnya tergerak melakukan sesuatu. Dan dia menjelaskan jika dirinya terjun di industri isu tersebut akan lebih relevan terhadap dirinya.
b. Wawancara dari kubu pembaca yang belum pernah membuat komik disebuah platform komik dalam respon kognitif.
Dari tree memberi komentar kalau apa yang dia baca mengenai komik dengan sub judul ‘primitif’ bahwa isu yang disampaikan cukup relate berdasarkan apa yang dia lihat disekitarnya.
54 Gambar 17. dokumentasi wawancara via discord messenger tree untuk respon
kognitif
“Hmm, menurutku ya, ini cukup relate. Banyak aku liat aku denger orang-orang sukses orang Indonesia sini pada ke luar neger semua.
Dan saat ditanya diwawancara kenapa, jawabannya rata-rata banyak yang sama. Nggak merasa dihargai di tanah air sendiri.”[tree, hasil wawancara, 09 juli 2021, discord]
Meski dia tak mengalami hal yang disampaikan komik tersebut pada dirinya, dia menggunakan pengamatan lingkungan untuk berpikir bahwa isu tersebut benar adanya. Dengan hal tersebut lingkungan dan komunikasi dari orang lain yang mempunyai pengalaman yang sama dengan komik tersebut menjadi penunjang pemahaman tree dalam menganalisis komik dan relevansinya.
Sedangkan aice atau kurara pertanyaan difokuskan pada bagaimana jika isu tersebut dicocokkan dengan profesinya sebagai illustrator dan dia menjawab bahwa isunya sama dengan apa yang terjadi dilingkungan profesinya.
Gambar 18. dokumentasi wawancara via discord messenge kurara untuk respon kognitif
“sama si, illustrator yang gambarnya 'cakep' tapi masang komis murah banget biasanya ada aja flawnya ntah ternyata dia gabisa ngerjain anatomi something, atau komisnya lama, atau gamau
55 kena revisi samsek...” [kurara, hasil wawancara, 07 juli 2021, discord]
Kurara menjelaskan lagi pendapatnya bagaimana isu yang diangkat komik tersebut bisa sama dengan apa yang terjadi dikesehariannya.
Perbandingan antara bagaimana profesi ilustrator dan designer juga memiliki masalah yang serupa dan kendala masing-masing sama seperti yang dijelaskan dalam komik yang diberikan padanya.
Gambar 19. dokumentasi wawancara via discord messenger kurara untuk respon kognitif
Namun dalam lingkungan illustrasi kurara sendiri belum ada kejadian yang sama dengan kasus yang diutarakan komik ‘harga desain’ untuk sekarang ini meski perbandingannya sama.
Gambar 20. dokumentasi wawancara via facebook messenger bakpia untuk respon kognitif
“Engga si, yang pertama.Yang kedua aku agak paham karena pernah mendengar atau melihat kejadian yang sama” [bakpia, hasil wawancara, 14 juli 2021, facebook]
56 Sedangkan dari bakpia mengatakan bahwa kasus yang dimuat dalam komik pernah dia dengar atau melihatnya dilingkungan dia untuk judul ‘melamar kerja’ tapi tidak untuk judul ‘jorok’. Karena pernah terjadi dilingkungannya membuat pemahaman dan respon afektif yaitu tertawa ironis.
Komik memiliki daya tarik visual dan sebagai media komunikasi secara visual maka sebuah cerita lebih mudah disampaikan kepada pembaca karena pembaca mampu membayangkan situasi yang ada dikomik tersebut dalam keseharian mereka. Ini adalah respon kognitif yang memproses informasi yang masuk setelah membaca komik setelahnya mengecek realitas apakah isu dalam komik tersebut sama dengan kehidupan mereka dan ketika suatu komik berhasil memenuhi syarat untuk memicu pembaca berpikir maka opini akan terbentuk dan pesan tersampaikan dengan baik kepada pembacanya.
4.2.3. Respon psikomotorik pembaca komik satir saat mereka