65
tempat mereka. Maka menghadap ke arah Ka’bah dirasa sudah memedai, dilandasi dengan niat menghadap ‘ain Ka’bah.
Allah menyuruh agar menghadap kiblat ketika shalat di mana saja berada: هرـ ــطش مـ ــكـهوـجو اوـ ــلوـف مـ ــتــنك اــم ثـ ــيـحو (Dan dimana saja kamu berada, maka palingkanlah wajajahmu ke arahnya)
.
Khitab ayat ini ditujukan kepada orang yang melihat Ka’bah dan yang tidak melihat Ka’bah. Yang dimaksud dengan mengahadap kiblat bagi orang yang di hadapan Ka’bah adalah menghadap ‘ain Ka’bah itu sendiri, dan bagi orang yang jauh dari Ka’bah menghadap ke arah Ka’bah menurut dugaannya (zhan), karena dimaklumi bahwa ia tidak dibebani menghadap
‘ain Ka’bah sebab tidak mungkin menghadap ‘ain Ka’bah. Ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala: اهعـــسو لاا اـــسفن الله فـــلكي لا (Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Q. S. 2: 286). Maka orang yang tidak dapat menghadap ‘ain Ka’bah, maka tidak dibebani untuk itu. (al-Jashshash, I, 1993: 128).
Allah Ta’ala memerintahkan agar menhadap ke arah Ka’bah dari setiap penjuru bumi, baik di timur maunpun di barat, utara maupun selatan. Dia tidak mengecualikan sedikit pun, kecuali: Pertama, shalat sunnat dalam keadaan musafir. Shalat sunnat itu boleh dikerjakan dengan menghadap ke arah mana saja kendaraannya menghadap, sedang hatinya harus meniatkan menghadap ke Ka’bah. Kedua, shalat dalam kondisi perang berkecamuk, seorang boleh mengerjakan shalat dalam keadaan bagaimana pun. Ketiga, shalat yang dilakukan oleh orang yang tidak mengetahui arah kiblat. Ia boleh berijtihad untuk menentukannya, meskipun arah kiblatnya keliru. Karena seseorang tidak dibebani melainkan sesuai dengan kemampuannya. (Ibnu Katsir, I, 1983: 339).
Salah satu hal yang menjadi perbincangan juga di kalangan ulama ialah tentang arah pandangan mata dalam shalat. Dalam konteks ini terdapat pula perbedaan pendapat di kalangan mereka. Ibnu Katsir (I, 1983: 340) menjelaskan, Berdasarkan ayat di atas (Palingkanlah wajahmu ke Masjid al-Haram) maka Malikiyah berpendapat bahwa orang shalat memandang lurus ke depan, bukan ke tempat sujud sebagaimana yang difatwakan al-Syafi’i, Ahmad, dan Abu Hanifah. Menurut Malikiyah, Berdasarkan ayat tersebut, sekiranya orang shalat memandang ke tempat sujudnya tentu ia melaksanakan taklif demikian dengan cara menunduk. Ini menafikan kesempurnaan berdiri. Sebahagian ulama berpendapat, Orang yang shalat ketika berdiri melihat ke dadanya. Syuraik al-Qadhi mengatakan, Orang shalat ketika berdiri melihat ke tempat sujudnya, sebagaimana dikatakan jumhur ulama. Karena melihat ke tempat sujud itu lebih memfokuskan ketundukan dan menguatkan khusu’. Ini terdapat dalam hadits. Sedangkan ketika rukuk orang shalat melihat kakinya, ketika sujud ke tempat hidungnya, dan ketika duduk ke lututnya. Lihat: al-Sayis (I, 2001: 99).
66
Pada ayat 142, sebagaimana sudah disebutkan sebelumnya bahwa orang-orang non-muslim, kaum Yahudi dan Nasrani, mempertanyakan apakah gerangan yang menyebabkan umat muslim berpaling arah kiblat dari berkiblati ke Masjid al-Aqsha secara spontanitas berubah menghadap ke Ka’bah. Respon mereka digembargemborkan dengan tujuan untuk menciptakan keraragu-ragun di kalangan umat Islam.
Sebenarnya kaum Yahudi dan Nasrani mengetahui bahwa peralihan kiblat umat Islam dari Bait al-Maqdis ke Ka’bah terdapat dalam kitab-kitab mreka. Hal ini merupakan perintah Allah, sesuai firman-Nya:
و لا نا ـذ ي ـ توا ن ـ لا او ـ ك ــ ات ب نوـلـمـعـي امـع لـف اـغـب الله اـمو , مـهـبر نـم قـحلا هـن ْا نوـمـلـعـيـل اـمو ,
اـغـب الله ع لـف نوـلـمـعـي اـمـ .
Sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi al-Kitab (Taurat dan Injil) mengetahui bahwa berpaling ke Masjid al-Haram itu adalah benar dari Tuhan mereka, dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan, (Q. S. 2:
144 ).
Maksudnya, orang-orang Yahudi yang menolak peralihan kiblat ke Ka’bah dan beralih dari Bait al-Maqdis, mengetahui bahwa Allah akan menghadapkanmu kepadanya. Pengetahuan mereka berdasarkan kitab- kitab dari nabi-nabi mereka tentang sifat karakter Rasulullah SAW dan umatnya, serta kekhususan dan kemuliaan yang diberikan Allah Ta’ala kepadanya, yaitu syariat yang sempurna dan agung. Tapi ahli kitab berusaha untuk saling menyembunyikan hal itu di antara mereka disebabkan kedengkian, kekufuran, dan keangkuhan. Oleh karena itu, Allah mengancam mereka melalui firman-Nya: نوـــلمعي اـــمم يـــ اب الله اـــم و (Alllah tidak lalai dari apa ang mereka kerjakan). (Lihat: Ibnu Katsir I, 1983: 341).
Tetapi mereka mempropokasi manusia dengan mengemukakan keragu- raguan. Diriwayatkan bahwa ‘Umar bin al-Khaththab bertanya kepada Abdullah bin Salam, “Apakah anda mengenal Muhammad sebagaimana anda mengenal anakmu?” Dia menjawab, “Ya, bahkan lebih dari itu. Al- Amin Orang dari langit (Jibril) turun kepada al-Amin di bumi (Muhammad) dengan karakteristiknya, maka aku pun mengenalnya. Aku tidak ragu bahwa Muhammad adalah seorang nabi. Sedangkan anakku tidak aku ketahui, apakah berasal dari ibu yang khianat.” Kemudian ‘Umar mencium kepalanya, (al-Shabuni, I, 1980: 102).
Kendatipun mereka menyadari bahwa peralihan kiblat ini adalah urusan Allah, namun mereka mengengkarinya dan tidak akan mengikuti perintah Allah ini. Dalam konteks ini Allah Ta’ala berfirman,
لو ْىـ تْا ن ـ ي ـ لا ت ـذ ي تْا ن ـ كلا او ـ كب بات ـ يا ل ـ ت ام ة ـ عب ـ ق او ـب ـ تل ـ نا امو ,ك ـ
ب ت ـ ق عبات ـب ـ امو ,مهتل
عب ـ ب مهض ـ ات ق عب ـب ـ لو ,ضعب ةل ـ
نْى تا ـ تـعب ها ـ ءاج ام ضعب نم مهءاو
ك نمل اذا كنا ملعلا نم
لا ـ اظ ل .نيم
Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi al-Kitab semua ayat (keterangan), mereka tidak akan mengikutimu, dan kamu pun tidak akan mengikuti kiblat mereka. Dan sebagian mereka pun tidak akan mengikuti kiblat yang lain. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginnan mereka setelah datang ilmu
67
kepadamu, sesungguhnya kamu jika begitu termasuk orang-orang yang zalim. (Q.S. 2: 145).
Dalam ayat ini digambarkan betapa keengkaran orang-orang
Yahudi dan Nasrani bahwa argumen apa pun yang diberikan kepada mereka berkenaan dengan perintah kebenaran peralihan kiblat ini datang dari Allah Ta’ala, namun mereka akan tetap mengengkarinya. Karena hati dan pendengaran mereka telah tertutup untuk menerima kebenaran. (Q.S.
2: 7) dan berpenyakit (Q.S. 2: 10). Penyakit dalam arti dengki, iri hati, dan dendam terhadap Nabi SAW, agama Islam, dan umat Islam. Apa saja yang datang dari Islam tidak akan mereka terima, apalagi mengikutinya. Hal itu sudah menjadi karakter dan sikap buruk mereka.
Oleh karena itu, tidak boleh toleransi dalam masalah akidah dan keyakinan. Kalau sudah ada perintah peralihan kiblat, tidak boleh lagi kembali menghadap ke kiblat semula, kendatipun ahli kitab itu menghendakinya. Bahkan mereka negosiasi, kalau Nabi SAW mau kembali menghadap ke kiblat semula, Bait al-Maqdis, mereka akan masuk Islam. Ini hanya tipu muslihat belaka untuk mengaburkan perintah Allah. Mereka tidak akan masuk Islam. Allah memperingatkan, jika Nabi SAW mengikuti ajakan mereka maka dikelompokkan sebagai orang yang zalim. Jadi harus konsisten dalam mengikuti perintah Allah dalam soal penentuan arah kiblat.
I. Setiap Umat Memiliki Kiblat
Allah Ta’ala berfirman: ــلا .... اَه ْـ ــي ـل َوُم َو ْــه ٌةـ َــهـ ْجِو ٍل ُـ ــكـ ِلَو (Bagi tiap-tiap
“umat” ada kiblatnya (sendiri) yang dia menghadap kepadanya …Q.S 2:
148)
Sebenarnya kata “umat” dalam terjemahan ayat ini tidak ada dalam lafazh ayat. Terjemahannya muncul dari pemahaman lafazh ayat sesuai kaidah bahasa. Al-Syaukani (I, 1964: 156) menjelaskan, Firman Allah يـــكلو dengan hadzaf (tidak disebutkan) mudhaf ilaih-nya. Petunjuknya ada tanwiin padanya. Artinya” ةهـ ـــجو نـــيد لـــهأ لـ ـــكلـ (Bagi tiap-tiap pemeluk agama ada kiblatnya). Kata ةهـ ــجولا artinya jihat dan wajah. Maksudnya kiblat. Artinya hahwa mereka tidak akan mengikuti kiblat engkau, dan engkau tidak mengikuti kiblat mereka. Ada kiblat yang benar dan ada kiblat yang salah.
Sejalan dengan apa yang dijelaskan di atas, (Ibnu Katsir, I, 1983:
342) mengutip al-Awfa meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, katanya, ةــهجو لــكلو لوم وـــــه
ـ ـــــي ـ
اه maksudnya masing-masing pemeluk agama memiliki kiblat sendiiri. Dia mengatakan bahwa setiap kabilah memiliki kiblat yang mereka senangi. Dan kiblat milik Allah adalah ke arah umat Islam menghadap.
Ibnu Katsir mengutip dari Abu al-‘Aliyah, Orang-orang Yahudi mempunyai kiblat sendiri dan orang-orang Nasrani pun mempunyai kiblat sendiri. Dan Allah Ta’ala telah memberi petunjuk kepada kalian wahai umat Islam untuk menghadap ke kiblat yang hakiki.
68