BAB IV PENUTUP
B. Saran
1. Untuk Pengrajin Genteng
Bagi pengrajin genteng yang ada di Desa Kalianyar diharapkan agar memperhatikan kepuasan terhadap genteng yang diproduksi sehingga minat pembeli semakin banyak, dengan ini dapat membantu pengrajin untuk
meningkatkan pendapatan mereka.
2. Untuk Masyarakat
Diharapkan memberikan suatu manfaat dan memberikan informasi bagi masyarakat yang berprofesi sebagai pengrajin genteng dalam meningkatkan pedapatan, sehingga masyarakat dapat memenuhi kebutuhannya dari pengrajin genteng khususnya di Desa Kalianyar Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur.
3. Untuk Penelitian yang Akan Datang
Peneliti menyadari, masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam penelitian ini. Oleh karena itu, peneliti berharap bagi peneliti berikutnya agar lebih mengembangkan lagi hasil penelitian ini, khususnya dapat menambah pengetahuan tentang pengembangan industri kecil (kerajinan genteng) dan sebagai acuan penelitian selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Adiwarman A. Karim, 2015, Ekonomi Mikro Islami, Jakarta: Rajawali Pers.
Abdul Hafiz, 2017, Tinjauan Ekonomi Islam Terhadap Prospek Pengembangan Usaha Kerupuk Dalam Meningkatkan Perekonomian Masyarakat Di Desa Gelogor Kecamatan Kediri Kabupaten Lombok Barat Skripsi, program sarjana Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Mataram.
Akhmad Fauzi, 2006, Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan: Teori dan Aplikasi, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Aisyah Nurul Fitriana, Pengembangan Industri Kreatif di Kota Batu, dalam http://administrasipublik.studentjournal.ub.ac.id diakses tanggal 25 November 2019 pukul 16.10.
Ayie Eva Yuliana, 2013, “Strategi Pengembangan Industri Kecil Kerajinan genteng di Kabupaten Kebumen” (Skripsi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Semarang.
Arther Manueke, Penyerapan Tenaga Kerja Usaha Mikro, Kecil dan Menengah
(UMKM) Agribisnis dan Non-Agribisnis, dalam
https://ejournal.unsrat.ac.id/ diakses pada tanggal 23 Oktober 2020 pikul 15:03
Cholid Narbuko dan Abu Achmadi, 2016, Metodelogi Penelitian, Jakarta: Bumi Aksara.
Ismail Solihin, 2006, Pengantar Bisnis: Pengenalan Praktis dan Studi Kasus, Jakarta: Kencana.
Kadarisman, 2013, Manajemen Pengembangan Sumber Daya Manusia Cet.2, Jakarta: Rajawali Pers.
Kasmir, 2006, Kewirausahaan, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Kuat Ismanto, 2009, Manajemen Syari’ah Implementasi TQM dalam Lembaga Keuangan Syariah, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Lexy J. Moleong, 2014, Metodelogi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Lincolin Arsyad, 2004, Ekonomi Pembangunan Edisi Ke-4 Cet.2, Yogyakarta:
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN.
Made Dharmawati, 2016, Kewirausahaan, Jakarta: Rajawali Pers.
Mahmud, 2016, Metodologi Penelitian Pendidikan, Bandung: Pustaka Setia.
M. Asrori, “Analisis Tingkat Pendapatan Usaha Martabak dalam Meningkatkan Kesejahteraan Ekonomi Keluarga Tinjauan Ekonomi Islam Studi Kasus Pada Pengusaha Martabak di Kelurahan Dasan Agung” (Skripsi, program sarjana Ekonomi Syari‟ah UIN Mataram Tahun 2017)
Muhammad Teguh, 2005, Metodelogi Penelitian Ekonomi (teori dan aplikasi), Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.
Mustafa Edwin Nasution, 2006, Pengenalan Eksklusif Ekonomi Islam, Jakarta:
Kencana.
Mutiara S. Panggabean, 2004, Manajemen Sumber Daya Manusia, Bogor: Ghalia Indonesia.
Nurul Huda, dkk, 2015, Ekonomi Pembangunan Islam, Jakarta: Kencana.
Nurul Mazroatin Nikmah, “Upaya Peningkatan pendapatan Usaha Industri Kerajinan Gerabah dalam Perspektif Ekonomi Islam (Studi Kasus di Desa Banyumulek Kecamatan Kediri Kabupaten Lombok Barat)” Skripsi, program sarjana Ekonomi Syariah Fakultas FEBI UIN Mataram Tahun 2018.
Nurul Zariah, 2009, Metode Penelitian Sosial dan Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara.
Pratama Raharja dan Mandala Manurung, 2010, Teori Ekonomi Mikro: Suatu Pengantar, Edisi Keempat, (Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Risky Andarways Kumalasari, Analisis Keuntungan Pedagang Nasi Kuning (Studi Kasus di Pasar Palaran Kec. Palaran Kota Samarinda), eJournal Administrasi Bisnis, Volume 4, No.4, Tahun 2016.
Rokhmat Subagyo, 2017, Metode Penelitian Ekonomi Islam, Jakarta: Alim‟s Publishing.
Sadono Sukirno, 2016, Mikro Ekonomi Teori Pengantar Edisi Ke-3, Jakarta: PT.
Raja Grafindo Persada.
Sugyiono, 2017, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R&D, Bandung:
Alfabeta.
Syahril Syarif, 1991, Industri Kecil dan Kesemoatan Kerja, Padang: Pusat Penelitian Universitas Andalas.
LAMPIRAN-LAMPIRAN
LAMPIRAN I PHOTO KEGIATAN PEMBUATAN GENTENG PEJATEN
Tanah liat yang sudah digiling
Persiapa Debu/Tanah Biasa
Pengolahan tanah liat dibuat seperti bentuk balok sesuai dengan ukuran genteng
Proses produksi genteng dengan menggunakan mesin gilis/molen
Proses penjemuran genteng
Proses pengeringan
Proses pembakaran genteng
Hasil genteng yang sudah jadi dan siap didistribusikan
Mesin Hidrolik
Alat Transportasi
LAMPIRAN II PEDOMAN WAWANCARA A.Table Wawancara dengan Responden
No Responden Pertanyaan Jawaban
1. H. Sahdan Yasin
Tahun berapa memulai usaha kerajiana genteng?
Tahun 1976 Berapa usaha modal
awal?
kalau zaman dahulu modal awal memulai usaha punya uang sebesar Rp.400.000, karena uang zaman dahulu uang segitu banyak dan juga bahan baku mudah didapatkan hanya memanfaatkan tanah liat diladang dan debu sangat murah, beda dengan zaman sekarang.
Peminjaman modal dari mana?
Modal dari orang tua Apa perkerjaan bapak
sebelum menjadi pengrajin genteng?
Pekerjaan dari dulu adalah seorang pengrajin genteng karena usaha ini milik orang tua jadi melanjutkan usaha mulai tamat sekolah hingga saat ini.
Berasal dari mana bahan baku didapatkan?
kalau zaman dahulu bahan baku berasal dari Dusun Kalitemu karena masih banyak daerah yang di manfaatkan untuk mengambil tanah liat, dan pada waktu saat ini sudah banyak lahan yang ditempatkan dan dibuat rumah sehingga mendapatkan bahan baku berupa tanah liat merah didapatkan berasal dari Desa Tanak Beak Kec.Batukliang Kab. Lombok Tengah, debu/tanah biasa berasal dari Labuan Lombok dan Sambalia, minyak kacang di datangkan dari jawa biasanya dibeli dipengepul dan bahan bakar berupa solar dan serabut kelapa berasal dari Korleko.
Berapa jumlah
karyawan/tenaga kerja?
12 orang laki-laki dan 6 perempuan
Berapa biaya yang Tanah liat biaya per satu mobil
dikeluarkan saat proses pembuatan?
pick up seharga Rp. 160.000,00.
Debu/tanah digunakan dalam pencampuran tanah liat dengan biaya satu truk debu seharga Rp 650.000,00.
Debu Rp 200.00,00 per pick up.
Biasanya dalam pencetakan genteng dibutuhkan dua orang tiap-tiap mesin press hidrolik yang bisa menghasikan 1000 biji cetakan genteng sehari dengan biaya yang dikeluarkan Rp 130.000,00/1000 biji cetakan genteng.
Penjemuran Genteng biaya biaya
yang keluarkan Rp
70.000,00/1000 biji cetakan genteng.
pembakaran genteng dibutuhkan Solar ,Kulit kelapa dan kayu biaya Rp 800.000,00
biaya pembakaran genteng Rp 300.000,00 per 3000 biji cetakan genteng.
biaya penurunan genteng dari tungku pembakaran genteng dibuituhkan biaya Rp 60.000,00/
3000 biji cetakan genteng.
Pengecetan Genteng, bahan yang digunakan yaitu cat dan lem kayu rajawali membutuhkan biaya Rp 172.000,00 dengan ongkos pengecetan Rp 50.000,00/ 1000 biji cetakan genteng.
Distribusi Genteng, Pada tahap penyaluran genteng ke konsumen harga genteng yang ditawarkan ke konsumen adalah Rp 1.300.000,00 untuk genten tanpa di cat dan Rp 1.500.000,00 untuk genteng menggunakan cat.
2. Rusdi/Ibu Mutiasih
Tahun berapa memulai usaha kerajiana genteng?
Tahun 1997.
Berapa usaha modal Rp.5.000.000
awal?
Peminjaman modal dari mana?
Modal sendiri berapa penghasilan
perbulan?
Rp.9.000.000
Berapa jumlah
karyawan/tenaga kerja?
3 orang laki-laki dan 2 orang perempuan
Sekali produksi berapa
biaya yang
dikeluarkan/dihabiskan
?
Rp. 5.000.000
3. Dani Damara (H.
Awaludin)
Tahun berapa memulai usaha kerajiana genteng?
Orang tua mulai menggeluti usaha ini sejak tahun 1995 dan mulai tahun 2018 sampai sekarang saya yang mengelola karena melihat kondisi orang tua yang sudah pensiun jadi pengrajin
Apakah ada
perencanaan awal dalam usaha?
Mengumpulkan semangat, tekad dan strategi dalam mengelola kerajinan genteng agar tidak rugi Berapa usaha modal
awal?
Rp.20.000.000
Berapa jumlah
karyawan/tenaga kerja?
8 orang laki-laki dan 2 orang perempuan
Berapa penghasilan perbulan?
Rp.20.000.000 Berasal dari mana
bahan baku didapatkan?
Bahan baku berupa tanah liat merah didapatkan berasal dari
Desa Tanak Beak
Kec.Batukliang Kab. Lombok Tengah, debu/tanah biasa berasal dari Labuan Lombok dan Sambalia, minyak kacang di datangkan dari jawa biasanya dibeli dipengepul dan bahan bakar berupa solar dan serabut kelapa berasal dari Korleko Berapa nilai produksi
yang didapatkan dari hasil penjualan genteng?
Sekitar Rp.30.000.000,00 sekali produksi
Sekali produksi berapa biaya yang dikeluarkan
Rp. 15.000.000,00.
/ dihabiskan?
4. Hurianah Tahun berapa memulai usaha kerajiana genteng?
Tahun 1996 Berapa usaha modal
awal?
Sekitar Rp.5.000.000
Berapa jumlah
karyawan/tenaga kerja?
4 laki-laki dan 2 perempuan pada satu gudang
Bagaimana cara mendistribusikan
genteng hingga sampai ke tangan konsumen?
Sebelum genteng didistribusikan ke konsumen dilakukan pengecetan pada genteng agar kualitas genteng yang diterima konsumen bagus dan tidak mengecewakan.
Berapa jumlah
karyawan/tenaga kerja?
3 orang laki-laki dan 2 orang perempuan
Sekali produksi berapa
biaya yang
dikeluarkan/dihabiskan
?
Rp. 5.000.000
Berapa penghasilan perbulan?
Rp.9.000.000 5. Lalu Marjun
Tahun berapa memulai usaha kerajiana genteng?
Tahun 2004
Berapa usaha modal awal?
Rp.7.000.000
Berapa jumlah
karyawan / tenaga kerja?
6 orang
Berapa penghasilan perbulan?
Rp.9.000.000 Sekali produksi berapa
biaya yang
dikeluarkan/dihabiskan
?
Rp. 5.000.000
6. Lalu Mahsun
Tahun berapa memulai usaha kerajiana genteng?
Tahun 1997
Berapa usaha modal awal?
Rp.5.000.000
Berapa penghasilan perbulan?
Rp.9.000.000
Berapa jumlah
karyawan / tenaga kerja?
5 orang laki-laki dan 2 orang perempuan
Sekali produksi berapa biaya yang dikeluarkan / dihabiskan?
Rp. 13.000.000 7. Saldi Tahun berapa memulai
usaha kerajiana genteng?
Tahun 1993 Berapa usaha modal
awal?
Rp.7.000.000 berapa penghasilan
perbulan?
Rp.12.000.000
Berapa jumlah
karyawan / tenaga kerja?
5 orang laki-laki dan 2 orang perempuan
Sekali produksi berapa biaya yang dikeluarkan / dihabiskan?
Rp. 7.000.000 8 Lalu Zull Tahun berapa memulai
usaha kerajiana genteng?
Tahun 2000 Berapa usaha modal
awal?
Rp.5.000.000 berapa penghasilan
perbulan?
Rp.9.000.000
Berapa jumlah
karyawan / tenaga kerja?
3 orang laki-laki dan 2 orang perempuan
Sekali produksi berapa biaya yang dikeluarkan / dihabiskan?
Rp. 5.000.000 9. Lalu
Sabarudin
Tahun berapa memulai usaha kerajiana genteng?
Tahun 2004 Berapa usaha modal
awal?
Rp.11.000.000 berapa penghasilan
perbulan?
Rp.18.000.000
Berapa jumlah
karyawan / tenaga
5 orang laki-laki dan 3 orang perempuan
kerja?
Sekali produksi berapa biaya yang dikeluarkan / dihabiskan?
Rp.9.000.000 10. L. M. Saleh
Idris/ Minah
Tahun berapa memulai usaha kerajiana genteng?
1998 Berapa usaha modal
awal?
Rp.11.000.000 berapa penghasilan
perbulan?
Rp.18.000.000
Berapa jumlah
karyawan / tenaga kerja?
5 orang laki-laki dan 2 orang perempuan
Sekali produksi berapa biaya yang dikeluarkan / dihabiskan?
Rp. 9.000.000
LAMPIRAN III BERITA ACARA DAN BUKTI-BUKTI KONSULTASI