BAB 3 Inflasi
E. Sebab-Sebab Timbulnya Inflasi
1. Cost Push Inflation (Inflasi Tekanan Biaya)
Naiknya harga-harga secara langsung bisa terjadi karena naiknya harga faktor produksi atau kenaikan biaya produksi. Saat harga bahan bakar minyak naik, maka ongkos transportasi yang digunakan mengirimkan barang baik dari sumber bahan mentah, bahan setengah jadi ke perusahaan menjadi meningkat. Di samping itu dengan naiknya bahan bakar minyak, sering diikuti oleh tuntutan pegawai atau buruh meminta kenaikan upah.
Kedua hal di atas tentu saja membebani ongkos produksi perusahaan. Perusahaan kesulitan menekan biaya produksinya, maka jika sudah tidak ditemukan lagi cara menekan biaya, sulit bagi perusahaan untuk menghindar memilih cara jika tidak dengan menaikkan harga produk akhir. Perusahaan dengan terpaksa
89
memilih kebijakan menaikkan harga. Jika banyak perusahaan tertimpa kenaikan harga faktor produksi dan atau peningkatan upah pekerja maka berakibat harga-harga barang secara umum terpengaruh menjadi naik.
2. Demand Pull Inflation (Inflasi Tarikan Permintaan)
Kadang-kadang terjadi permintaan barang lebih cepat dan terjadi secara besar-besaran dibanding dengan ketersediaan barang. Kejadian ini sering muncul terutama saat-saat hari tertentu pada hari yang dianggap suci atau hari yang harus dirayakan dalam menghargai suatu budaya tertentu.
Di Indonesia ada hari yang sering dirayakan yaitu hari besar agama Islam dan hari saat tahun baru. Saat hari raya Islam, oleh masyarakat Indonesia dirayakan secara besar-besaran dan juga dimanfaatkan sebagai hari saling silaturahmi. Saat itulah dirayakan dengan cara memberi sajian baik berupa makanan maupun kue-kue dalam rangka menghormati dan menghargai tamu atau keluarga. Karena jumlah yang merayakan masyarakat banyak, maka diperlukan bahan pembuat kue, minuman maupun makanan mulai dari daging, beras, sayuran hingga berbagai bumbu pelengkapnya.
Walaupun permintaan saat hari raya sudah sering diantisipasi oleh pemerintah dengan menyediakan stok bahan makan yang cukup, tetapi terutama bahan seperti daging ayam, daging sapi dan berbagai bahan lainnya masih saja sering mengalami kekurangan.
Kelebihan permintaan atas barang dibanding dengan
90
kemampuan menyediakannya ini menimbulkan kenaikan harga-harga atau inflasi saat-saat hari tersebut.
3. Impored Inflation (Inflasi Karena Barang Impor)
Banyak barang yang diproduksi sebagian bahannya harus diimpor, seperti kapas untuk pembuatan kain, tahu tempe dan susu yang bahannya dari kedelai, di mana kedelai 70 persen bahannya diimpor dari Amerika.
Bahan makanan ikan, ternak bahannya yang berupa tepung ikan juga masih banyak yang harus impor.
Bahan obat, bahan makanan seperti bawang tiap tahun harus impor yang jumlahnya tidak sedikit. Dibidang otomotif, jelas Indonesia masih impor mesin, alat-alat perusahaan, maupun peralatan untuk berbagai usaha seperti diesel, mesin untuk pengolah kayu hingga alat pembuat produk makanan seperti kopi, kue dan minuman sebagian besar masih diimpor. Tentu Indonesia tidak bisa mempengaruhi kebijakan harga, biaya maupun situasi yang ada diluar negeri yang merupakan asal barang yang impor. Kejadian atau peristiwa ekonomi yang menimpa diluar negeri yang mempengaruhi harga barang, jika harga barang itu menjadi naik, importir Indonesia juga tidak bisa mengelak harus membayarnya walaupun harganya lebih tinggi.
Ketika di Amerika terjadi perubahan cuaca ekstrem yang berakibat gagalnya panen kedelai, maka importir kedelai di Indonesia hanya dapat impor kedelai secara terbatas dan harganya lebih mahal. Akibatnya pembuat tahu,
91
tempe kesulitan mendapat kedelai sehingga terpaksa bersedia membeli dengan membayar harga lebih tinggi asal bisa mendapatkan kedelai. Karena tahu dan tempe merupakan produk makanan yang disajikan oleh hampir semua rumah tangga di Indonesia, maka kenaikan harganya pada akhirnya bisa merembet pada harga-harga produk lainnya.
Ketika ada strategi dagang yang diterapkan oleh importir bawang, maka di Indonesia kekurangan bawang impor dari Cina, yang berakibat harga bawang naik. Beberapa kasus di atas hanya kasus kecil naiknya barang-barang yang diimpor. Tentu dengan naiknya barang impor yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan barang di Indonesia, pengusaha tidak bisa menghindar dengan terpaksa harus menaikkan harga. Kejadian naiknya harga barang impor kemudian berdampak pada naiknya barang dalam negeri, ini disebut dengan inflasi karena diimpor.
4. Supply of Money
Jumlah uang yang beredar juga mempengaruhi kenaikan harga-harga secara umum. Tetapi kekurangan jumlah uang yang beredar juga akan menghambat laju pertumbuhan ekonomi. Karena berbagai kegiatan ekonomi yang membutuhkan pembiayaan jika tidak segera atau bahkan tidak dipenuhi, maka pelaku-pelaku ekonomi terhambat melakukan transaksi, terhambat melakukan pembayaran dan juga terhambat dalam melakukan perluasan usaha. Sejalan dengan kepentingan aktivitas usaha tersebut, perlu adanya
92
jaminan jumlah uang yang beredar yang cukup memadai, dengan cara terus menjaga peredaran uang agar tidak terlalu berlebihan dan juga jangan sampai terjadi kekurangan uang yang beredar. Ilustrasi yang mudah dipahami tentang pengaruh jumlah uang yang beredar terhadap harga dirumuskan oleh Irfind Fisher sebagai berikut :
M V = P T
M = money supply atau jumlah uang yang beredar V = volecity atau perputaran uang
P = price atau harga
T = trade atau perdagangan
Sebagai contoh penggunaan rumus tersebut, misalnya jumlah uang yang beredar atau M = 200.000. Perputaran uang 4 kali dan nilai perdagangan 100. Dari contoh edukatif tersebut, dapat dihitung harga yang terbentuk sebagai berikut :
M V = P T 200.000 . 4 = P . 100 100P = 800.000
P = 800.000/100 = 8.000.
Dari contoh soal tersebut, maka harga terbentuk sebesar 8000.
Sekarang jika uang yang beredar bertambah menjadi 220.000,- maka hal ini akan mempengaruhi peningkatan harga. Dari contoh tersebut dapat dibuktikan sebagai berikut :
93 M V = P T 220.000. 4 = P. 100 100 P = 880.000 P = 8.800
Naiknya jumlah uang yang beredar 20.000, berakibat naiknya harga dari 8.000, menjadi 8.800 yang berarti ada kenaikan 800.