• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V Industri Pakan Ternak Nasional Dan Jawa Timur

V.5 Sebaran Industri Makanan Hewan Jawa Timur

Berdasarkan informasi dari Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur, terdapat 22 perusahaan industri (besar dan menengah) makanan hewan sampai dengan tahun 2019. Perusahaan- perusahaan tersebut antara lain adalah:

1. PT.Charoen Pokphand Indonesia: Sidoarjo 2. PT. Wirifa Sakti: Mojokerto

3. PT. Cold Coin Indonesia: Surabaya 4. PT. Sierad Produce TBK: Sidoarjo 5. PT. Cargill Indonesia: Pasuruan

6. PT. Artacitra Terpadu Feedmill: Surabaya 7. PT. Japfa Comfeed Indonesia: Sidoarjo 8. PT. Cheil Samsung Indonesia: Pasuruan 9. PT. Wonokoyo Jaya Co.: Pasuruan 10. PT. Sarifeed Indojaya: Banyuwangi 11. PT. INKUD Feedmill: Probolinggo

12. CV. Superindo Jaya Makmur Feedmill: Surabaya

24,6 25,8 27,1 28,5 29,9

0,0 5,0 10,0 15,0 20,0 25,0 30,0 35,0

2020 2021 2022 2023 2024

Produksi (juta ton)

Tahun

13. PT. Panca Patriot Prima: Sidoarjo, Pasuruan (2 pabrik) 14. PT. Prima Patriot Bersatu: Sidoarjo

15. PT. Japfa Comfeed Indonesia,TBK. Feedmill: Surabaya 16. PT. Cheil Jedang Feed Jombang: Jombang

17. PT Malindo Feedmill: Gresik 18. PT. Reza Perkasa: Sidoarjo

19. PT. New Hope Jawa Timur: Sidoarjo

20. PT. East Hope Agriculture Surabaya: Mojokerto 21. CV. Mentari Nusantara: Tulungagung

22. PT. Sinar Indochem: Sidoarjo

Sumber: Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur, 2019 (http://disnak.jatimprov.go.id/web/) Adapun sebaran lokasi perusahaan-perusahaan industri makanan hewan tersebut dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Sumber: Hasil Analisis 2019

Gambar V-18 Sebaran Lokasi Industri Makanan Hewan Provinsi Jawa Timur

Berdasarkan sebaran lokasi tersebut maka dapat disimpulkan bahwa terdapat kecenderungan sebaran lokasi sebagai berikut:

Tabel V-10 Kecenderungan Sebaran Lokasi Industri Makanan Hewan Jawa Timur Kabupaten / Kota (jumlah

Industri) Kecenderungan Sebaran Lokasi Industri Makanan Hewan Jawa Timur

Gresik (1), Surabaya (4) Mendekati Simpul Transportasi Utama (Pelabuhan Laut)

Sidoarjo (8), Mojokerto (2) Kawasan Industri di sepanjang Jalan Tol (Surabaya-Mojokerto, Surabaya- Porong)

Jombang (1) Mendekati Bahan Baku Jagung, Pasar Peternakan Ayam Pedaging, Akses Jalan Tol Jombang-Mojokerto

Tulungagung (1) Mendekati Bahan Baku &Pasar (Peternakan Ayam Petelur) Pasuruan (4) Probolinggo

(1) Mendekati Bahan Baku (Jagung, Tebu) & Pasar (Peternakan Ayam Pedaging)

Banyuwangi (1) Mendekati Bahan Baku & Pasar (Budidaya Udang & Ikan) Sumber: Hasil Analisis 2019

Bila dirinci menurut nama perusahaan maka sebaran lokasi industri makanan hewan di Provinsi Jawa Timur dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Sumber: Hasil Analisis 2019

Gambar V-19 Sebaran Perusahaan Industri Makanan Hewan Provinsi Jawa Timur

Industri Pakan Ternak Nasional dan Jawa Timur

1. Pengelompokan: Industri Pakan Ternak termasuk dalam KBLI 2017 dalam Golongan/Kategori Manakan Hewan dengan Kode 108 terbagai dalam kelompok kode 5 digit menjadi: Industri Ransum Makanan Hewan (10801) dan Industri Konsentral Makanan Hewan (10802), ini sejalan dengan penggolongan di dalam Statistik Industri Manufaktur Indonesia (Untuk Industri Besar dan Sedang), sementara di dalam Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2010 untuk 185 sektor termasuk dalam golongan Industri Makanan Hewan Olahan dengan kode I-O: 072 yang didalamnya sudah meliputi Industri Ransum dan Konsentrat Makanan Hewan.

2. Keterkaitan Sektoral: Industri Makanan Hewan memiliki keterkaitan yang baik baik ke arah depan maupun ke belakang, sehingga mampu menggerakan pertumbuhan sektor-sektor lain, sehingga dapat didianggap sebagai salah satu sektor kunci.

3. Nilai Input:

a. Nilai Input Industri makanan Hewan 65% lebih berasal dari Jagung, Tepung lainnya (selain tepung gandum dan tepung meslin), dan padi. Untuk pemanfaatan oputput produksi sekitar 62% disalurkan ke sektor ungguas dan hasil-hasilnya, 18% sektor peternakan lainnya keculai susu dan 14% ke sektor budidaya perikanan dan udang.

b. Dalam industri perunggasan makanan ternak atau pakan adalah komponen utama yakni 70% dari ongkos produksi.

c. Bahan baku utama industri pakan ternak umunya adalah jagung (50%), bungkil kacang kedelai (20%), dedak (12%), serta beberapa bahan lainnya. Dalam kondisi penyediaan jagung mengalami hampabatan maka komposisi bahan baku akan berubah dengan menambahkan Gandum, Gaplek, dan bekatul sebagai substitusi kekurangan tersebut.

d. Dalam kurun waktu 2011-2015 menunjukkan nilai pemakaian bahan baku bertumbuh seiring peningkatan nilai output industri makanan hewan.

Komposisi bahan impor dalam kurun waktu tersebut mencapai 37-46%, hal ini disebabkan penyediaan bahan baku lokal berupa jagung yang belum stabil

dehingga diperlukan impor.

e. Proporsi nilai bahan baku impor Industri Ransum cenderung fluktuatif antara 35-47%, sedangkan industri konsentrat cukup stabil dengan rata-rata 48,84%

4. Nilai Output

a. Nilai tambah untuk industri makanan hewan (olahan) dalam Tabel input-output Indonesia tahun 2010 adalah: kompensasi tenaga kerja (27,10), Surplus Usaha Bruto (72,20%) dan Pajak dikurangi subsidi (0,7%).

b. Dalam kurun waktu 2011-2015 output industri makanan hewan nasional cenderung berfluktuasi. Namun apabila dilihat proporsinya terdapat peningkatan nilai tambah dari 23,75% menjadi 30,87%, dimana Industri Ransum tumbuh dari 25,75% menjadi 31,71% dan Industri konsentral 13,09%

menjadi 23,56%.

c. Nilai output industri makanan hewan secara umum terus meningkat dalam kurun waktu 2011-2015 namun industri konsentral makanan hewan mengalami penuruan rata-rata 0.74% pertahunnya, sementar industri ransum makanan hewan meningkat rata-rata 10,08% per tahun.

5. Proyeksi

a. Industri makanan hewan cukup tersebar di seluruh wilayah Indonesia dengan kecenderungan mendekati sumber bahan bahan baku utama berupa jagung serta mendekati pasar yaitu sentra peternakan unggas terutama ayam ras pedaging dan petelur.

b. Provinsi Jawa Timur merupakan provinsi dengan kapasitas Industri Makanan hewan terbesar di Indonesia yaitu sebesar 7,43 juta ton per tahun (28,32%) c. Tren pertumbuhan rata-rata produksi industri makanan hewan nasional adalah

sekitar 5% per tahun.

d. Berdasarkan proyeksi direktorat industri makanan, hasil laut dan perikanan, Kemenperin diperoleh gambaran proyeksi jumlah produksi makanan hewan nasional 2020-2024 yang berkisar antara 24,6 juta ton (2020) hingga mencapai 29,9 juta ton (2024)

e. Untuk provinsi Jawa Timur dengan asumsi tren pertumbuhan sebesar 5% dan share Jawa Timur sebesar 28%, maka diproyeksikan produksi industri makanan hewan Jawa Timur berkisar antara 6,95 juta ton (2020) hingga 8,45 juta ton (2024).

6. Sebaran Industri pakan di Jawa Timur

a. Sampai dengan tahun 2019 terdapat 22 perusahana industri besar dan menengah industri makanan hewan.

b. Sebaran lokasi industri makanan hewan tersebut meliputi: Surabaya, Mojokerto, Sidoarjo, Probolinggo, Jombang, Gresik, Tulungagung, Pasuruan, dan Banyuwangi dengan berbagai kecenderungan:

i. Mendekati simput transportasi utama (pelabuhan laut): Gresik (1), Surabaya (4)

ii. Kawasan industri disepanjang jalur tol (surabaya-mojokerto, surabaya- porong): Sidoarjo (8), Mojokerto (2)

iii. Mendekati bahan baku jagung, pasar peternakan ayam pedaging, akses jalan tol Jombang-Mojokerto: jombang (1)

iv. Mendekati Bahan Baku (Jagung, Tebu) dan Pasar (peternakan ayam pedaging: Pasuruan (4), Probolinggo (1)

v. Mendekati Bahan Baku dan Pasar (Budidaya Udang dan Ikan):

Banyuwangi (1)

Dokumen terkait