BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penelitian
1.1.6. Sejarah Perjalanan Bisnis Soetrisno Bachir
Kerabat setingkat paman
Abu Sufyan Pedagang besar Quraisy, salah satu seorang terkaya di Mekkah
Isteri Khadijah binti Khuwailid
Investor terkemuka Quraisy, banyak menjalin hubungan bisnis dengan para agen untuk
menjalankan bisnis regional; salah seorang agen dagang tersebut adalah Nabi Muhammad SAW.,
Sepupu Ali bin Abu Talib Pedagang Mekkah Karib kerabat dan
teman
Abu Bakar, Umar, Utsman, Abdurrahman bin Auf, Talhah, Zubair, Suhaib Ar-Rumi
Semuanya adalah pebisnis yang sangat sukses dan mandiri, banyak
menciptakan lapangan kerja untuk masyarakatnya.
Sumber:Muhammad Syafii Antonio (2011,7)
BIODATA SOETRISNO BACHIR
Nama: Soetrisno Bachir
Lahir: Pekalongan, Jawa Tengah, 10 April 1957 Agama: Islam
Istri: Anita Rosana Dewi (Menikah 1989) Anak:
1. Meisa Prasati 2. Layaliya Nadia Putri 3. Maisara Putri 4. Muhammad Izzam Orangtua:
Ayah Bachir Achmad (alm) dan Ibu Latifah Djahrie Pendidikan:
-Sekolah Dasar (SD), di Pekalongan (1969)
-Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), di Pekalongan (1972) -Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA), di Pekalongan (1975 -Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti (tidak selesai)
-Fakultas Ekonomi Universitas Pekalongan ((Unika) Pengalaman Kerja:
-Usaha Batik (1976-1980)
-Vice President Direktor Ika Muda Group (sejak 1981)
-Presiden Direktur Grup Sabira (Merupakan induk bagi 10 perusahaan bergerak di bidang keuangan, investasi, perdagangan, konstruksi, properti, ekspor impor, pelabuhan, dan agrobisnis)
Perusahaan Grup Ika Muda:
1. PT Ika Bina Muda (real estat & developer) 2. PT Ika Graha Muda (real estat & developer) 3. PT Ika Sarana Muda (real estat & developer) 4. PT Ika Muda Corpora (ekspor-impor)
5. PT Ika Citra Fishtama (coldstorage & processing) 6. PT Ika Muda Rotanindo (industri rotan)
7. PT Sawo Jajar (tambak udang) 8. PT Ika Muda Hatchery (hatchery)
9. PT Ika Muda Wisata (biro perjalanan) 10. PT Ika Perfecta Rimba (industri Chopstick) 11. PT Buah Harum (perkebunan)
12. PT Ika Chirza Putra (tambak udang) 13. PT Ika Muda Apraisindo (appraisal) 14. PT Top Mode Indonesia (media massa) Organisasi:
= Partai Amanat Nasional (pernah menjabat ketua)
= Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI)
Menurut penuturan Ali Akbar dalam bukunya tentang Soetrisno Bachir, SB merupakan sosok yang sangat dekat dengan anak- anaknya, hal ini digambarkannya ketika Ali Akbar sedang melakukan pengambilan gambar SB dan keluarga untuk bukunya, SB seperti tidak ada jarak, kecuali soal usia semata, dengan Izzan putranya ketika berdialog, mereka bisa berdialog tentang apa saja, dan sang ayah berusaha menyelaraskan obrolannya dengan nalar sang putra.
Ada yang menarik untuk diulas, yaitu ketika SB diisukan memiliki hubungan ’khusus’ dengan selebriti bernama Nia Paramitha yang menyebabkan perceraian antara Nia Paramitha dengan suaminya Gusti Randa. Nama SB dikaitkan dengan Nia karena kedekatan Nia dengan PAN dan SB selama proses kampanye pilkada di Kalimantan Timur.
Nah, bagaimana ceritanya Sutrisno sampai ikut-ikutan disodok isu panas tersebut? Majalah Gatra membuat ulasannya , politikus yang pengusaha besar ini memang biasa bergaul dengan siapa saja:
pengusaha, politisi, sampai artis selebriti. Ia juga biasa mengajak para pesohor tadi setiap berkunjung ke daerah-daerah dalam kegiatan partai, termasuk kampanye pilkada dan acara-acara sosial.
Memang kebiasaan mengusung artis ini lazim dilakukan politisi lain, juga para pejabat pemerintahan. Biasalah, buat memeriahkan
suasana dan menarik massa. Salah satu artis yang belakangan kerap manggung dalam banyak acara PAN, ya, Nia Paramitha.
Perempuan mungil ini masuk dalam jajaran artis PAN bersama nama lainnya, seperti Raslina Rasyidin dan Sylvana Herman. Mitha pun dikenal cukup dekat dengan orang-orang PAN. Ini diakui Dede Yusuf, artis yang anggota PAN. Namun, dikatakan Dede, kedekatan Mitha dengan orang-orang PAN sebatas itu saja. ''Ketua kami memang dekat dengan artis,'' kata Dede kepada pers.
Sikap Sutrisno yang ramah dan gaul memang gampang mendekatkannya dengan artis. Tak jarang ayah empat anak itu disebut makan malam berdua dengan artis tertentu, termasuk Mitha. Toh, kata Raslina Rasyidin, itu hal biasa saja dan tak ada apa-apanya. ''Saya juga sering makan malam berdua dengannya (Sutrisno),'' ujarnya.
Ada dua hal yang dilakukan oleh Soetrisno Bachir untuk menghilangkan isu ini, yang pertama adalah dengan membicarakan masalah ini dengan istrinya. Dan kedua, di tataran partai, bersama dengan Amin Rais dan AM Fatwa, Soetrisno Bachir mengklarifikasikan langsung dengan Nia Paramitha.
Dalam pertemuan yang juga dihadiri sejumlah pengurus teras PAN itu, Mitha membantah keras pernah berhubungan intim dengan bos Grup Ika Muda itu. ''Tidak benar,'' tutur Mitha, seperti dituturkan Hakam kepada Gatra. Sutrisno pun waktu itu melontarkan bantahan untuk kedua kalinya. Bantahan pertama disampaikan Sutrisno sewaktu dikonfirmasi Amien sebelumnya.
Sutrisno Bahir dan PAN (Bertekad Jadikan PAN Terdepan)
Pendiri Grup Sabira ini terpilih menjadi Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional (PAN) periode 2005-2010 menggantikan Amien Rais.
Dia terpilih melalaui voting yang alot dalam Kongres PAN ke-2 di
Semarang, 10 April 2005, bertepatan hari ulang tahun kelahirannya yang ke-48. Pria berjiwa ‘keumatan-kebangsaan’ ini bertekad menjadikan PAN terdepan, ikhlas dan amanah. Pengusaha ini terbilang masih hijau dalam dunia politik. Dia mengaku bukan ‘orang politik’ melainkan seorang profesional. Namun bila profesionalitas memang diperlukan untuk mengembangkan PAN menjadi partai berpengaruh, ia menyatakan siap menjalankan amanah itu dengan seluruh kemampuan dan keterbatasannya.
Sutrisno yang akrab disebut sebagai “SB” ini menjanjikan akan berusaha meraih 100 kursi DPR untuk Pemilu 2009, dan memenangi 10 persen pemilihan kepala daerah. “Pilihlah saya bukan karena dekat dengan Amien Rais, tapi karena saya ingin meneruskan perjuangannya,”
ujar Bachir, lalu disambut tepuk tangan ramai para pendukung.
Soetrisno Bachir dikenal sebagai pengusaha.Sepanjang tahun 1976 hingga 1980 ia aktif menggeluti usaha batik. Lalu, ia bersama kakaknya Kamaluddin Bachir sejak 1981 mulai mengibarkan bendera bisnis Grup Ika Muda, kini menaungi tak kurang 14 badan usaha perseroan terbatas. Grup itu bergerak di bidang budidaya udang, properti (realestat), ekspor-impor, rotan, peternakan dan mediamasa.
Sutrisno kemudian mengembangkan bisnis sendiri melalui Grup Sabira, induk bagi 10 perusahaan yang bergerak di bidang keuangan atau investasi, perdagangan, konstruksi, properti, ekspor impor, pelabuhan, dan agrobisnis.
Soetrisno memang lahir dan besar di tengah-tengah keluarga pedagang di Pekalongan, Jawa Tengah. Ia adalah pedagang sekaligus
aktivis organisasi. Anggota Majelis Ekonomi PP Muhammadiyah ini adalah aktivis organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Ia juga aktivis di sejumlah organisasi profesi bisnis, misalnya sebagai tokoh dan pengurus Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), Kadin, hingga Real Estate Indonesia (REI).
Simbiose citra sebagai pedagang dan aktivis selalu melekat dalam diri Sutrisno Bachir. Ia banyak menyumbangkan materi hasil berdagang ke berbagai organisasi sosial keagamaan. Ketika Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) lahir ia memberikan banyak dukungan. Demikian pula di lingkungan HMI, Muhammadiyah, serta PII dalam 25 tahun terakhir sangat mengenal Sutrisno sebagai penyumbang yang dermawan.
Setiap organisasi sosial keagamaan, kalau memerlukan dukungan finansial, dan lalu menemui ayah empat orang anak ini, sepanjang rencana kegiatannya bermanfaat jelas maka dijamin pasti tidak akan pulang dengan tangan hampa. Keringanan tangan menyumbang itulah yang ‘memperkenalkan’ Sutrisno Bachir dengan sosok Amien Rais. Apalagi, ia mendapat amanah dari ibunya Latifah Djahrie yang berpesan untuk bantu Pak Amien. “Ibu saya berpesan agar saya selalu membantu Pak Amien,” ujar Sutrisno.
Sejak tahun 1998 kendati bisnisnya sedang dihantam badai krisis ia tetap komit menuruti perintah ibunya. Ia sangat percaya, bila kita sering membantu yang lain Allah akan membalas berlipat-lipat.
“Saya sering membuktikan hal itu,” kata Sutrisno Bachir yang sangat
hormat kepada ibunya. Ia yakin kesuksesannya sebagai pengusaha tidak lepas dari restu ibu. Ia ingat persis hadits Nabi, bahwa ridho Allah adalah ridho orangtua. Ia juga mengamini hadits lain, yang telah menjadi semacam ungkapan klasik keagamaan, bahwa ‘surga berada di bawah telapak kaki ibu’. Sabda Rasul Muhammad SAW di atas bukanlah sekadar rangkaian kata-kata namun nyata terbukti dalam kehidupan Sutrisno sehari-hari.
‘Romantisme’ politik antara Amien Rais dan Sutrisno Bachir sudah berlangsung lama. Amien Rais menyebutkan Sutrisno selalu berada di sampingnya untuk memberikan dukungan. Sejak PAN lahir 1998 termasuk selama kampanye Pemilu 1999, walau bukan sebagai pengurus Sutrisno aktif memberikan bantuan financial. Panggilan hati Sutrisno terjun ke politik praktis dengan sasaran sebagai ketua umum PAN, selain karena ingat pesan Ibu juga karena nalurinya sebagai pengusaha tak ingin hanya bergerak pada tataran wacana semata. Dia yakin partai modern tidak bisa ditegakkan hanya dengan wacana.
Sukses partai pada masa depan tidak cukup ditopang popularitas pemimpinnya, maupun banyaknya pernyataan yang dikutip media.
Partai modern memerlukan kerja nyata yang sistematis, yang mampu memahami secara detail kebutuhan masyarakat. Karena itu PAN harus mampu menempatkan kader-kader terbaiknya dalam jumlah memadai, baik dalam legislatif maupun eksekutif. Dan, hal itu tidak bisa dibangun hanya dengan popularitas tapi harus dengan kerja keras. Ia memasuki gelanggang politik bukan sebagai orang politik atau politisi, namun murni profesional yang kemudian berpolitik. Ia melihat profesionalitas
memang diperlukan untuk mengembangkan PAN menjadi partai berpengaruh, dan ia sudah siap untuk menjalankan amanah itu dengan seluruh kemampuan dan keterbatasannya. Sutrisno lalu menerjemahkan keinginannya membesarkan dan memodernkan PAN pada empat pokok garis perjuangan. Yakni, partai dan pemenangan pemilu, pengaderan yang andal, partai yang dicintai rakyat, serta membangun organisasi PAN yang modern. Garis perjuangan itu dia operasionalkan lagi ke dalam sejumlah program. Program-program itu, penataan sistem kerja partai, pengembangan sistem informasi kepartaian, pelatihan-pelatihan kader dan pengurus, pengembangan kapasitas DPP, DPC, DPD sebagai ujung tombak partai, serta membangun dan mengukuhkan citra sebagai (satu-satunya) partai modern di Indonesia.
Kuatnya visi Sutrisno Bachir membangun PAN menjadi partai modern membuatnya tetap menolak anggapan seolah-olah kader partai haruslah dari kalangan pebisnis. Ia hanya berprinsip, bila partai ingin bisa membiayai sendiri maka PAN harus mau membesarkan pengusaha. Bila ada sepuluh persen saja dari pengurus partai pengusaha, maka jumlah itu sudah cukup untuk membiayai suatu partai. Dengan konsep yang dimiliki, Sutrisno Bachir sudah siap melaksanakan target untuk meraih 100 kursi DPR pada Pemilu 2009, dan memenangkan 10 persen Pilkada.
Mengukur sukses, apakah ukuran kemajuan sebuah lembaga, perusahaan, atau negara semata tercermin dari kesehatan necara, laba rugi, dan cash flow-nya saja? Bila memang demikian,
tidak heran para pejabat atau pimpinan perusahaan sering kurang peduli dengan realitas di lapangan, karena catatan finansial positif.
Ada perusahaan yang dinilai sukses karena budayanya, sikap manusianya, servisnya, padahal perusahaan belum tentu untung.
Hanya saja, pemimpinnya sangat optimis bahwa keuntungan akan ia raih di masa depan. Negara yang belum terlalu sukses seperti Vietnam, saat ini memfokuskan perbaikan pendidikan dan infrastruktur, sementara hitungan kemajuan ekonominya di mata dunia masih belum diperhitungkan.
Kita tentu tidak boleh terjebak dalam ukuran populer yang lebih digunakan di masa lampau, saat “knowledge economy” belum berkembang. Kita perlu secara strategis menghitung tabungan knowledge yang kita punyai sebagai modal untuk maju di seputar 300 juta rakyat Indonesia. Kita tidak boleh lupa bahwa Human Development Index (HDI) Indonesia masih berada di peringkat 124 dari 187 negara, yang berarti kualitas hidup dan kesejahteraan masih jauh dari memuaskan.
Pada tingkat perusahaan, apakah kita masih menghargai buruh sebatas pada tenaga fisiknya saja? Seberapa jauh kita telah menghubungkan kekuatan lain selain uang yang bisa menciptakan nilai tambah pada sasaran kita? Meski menghitung aset intangible tidak semudah menghitung laporan rugi-laba, namun tidak berarti kita tidak usah memperhitungkannya. Aset seperti reputasi maupun “knowhow”
yang ada dalam diri individu memang tidak bisa kita akui sebagai harta lembaga maupun perusahaan. Aset ini bagaikan angin, bisa hilang,
musnah, bahkan bisa menipu seolah-olah ada tapi tidak ada. Individu yang telah kita biayai dan didik hingga pandai tetap punya pilihan bebas ke mana ia akan meletakkan komitmen dan kompetensinya, bahkan meski telah menandatangani kontrak sekalipun. Meski begitu, tetap saja kita tidak punya alasan untuk tidak berinvestasi pada pengembangan aset intangible ini karena ia sangat erat kaitannya dengan aset yang teraga. Bukankan image dan reputasi ini yang menyebabkan pelanggan kembali? Bila pelanggan tidak happy, bukankah ini akan sangat berpengaruh terhadap bisnis kita di masa depan? Bila kompetensi karyawan tidak dikembangkan, bagaimana kita akan mendapatkan proyek bergengsi ataupun berkompetisi dengan organisasi lain? Bagi para pimpinan dan eksekutif di bidang HRD, ini jelas berarti betapa pengembangan manusia harus dilakukan secara serius dan perlu dilakukan bersamaan dengan penguatan engagement. Kekuatan asset intangible Upah karyawan memang ada di dalam neraca perusahaan dan tercatat sebagai biaya.
Sebaliknya, jumlah kepandaian, spirit, dan kemampuan karyawan dalam berhubungan dengan orang lain tidak pernah tercatat sebagai aset. Padahal, Southwest Airlines, jelas bangkit dari kebangkrutan bukan karena harta yang teraga, tetapi justru karena spirit dan keinginan karyawannya untuk memperbaiki pelayanan.
Namun, sungguh ketinggalan jaman bila kita masih memandang manusia sebagai biaya dan bukan aset yang perlu dijaga dan ditumbuhkan. Pengembangan budaya positif, talent development, inisiatif untuk menciptakan tempat kerja yang nyaman dan positif
bukanlah pekerjaan sambilan, sebaliknya ini butuh komitmen, bahkan investasi yang tidak sedikit. Kita perlu sadar bahwa kita tidak lagi sekadar melakukan efisiensi tetapi justru mengupayakan bagaimana manusia bisa membuat bisnis lebih efektif. Setiap orang perlu menjadi pembaca data yang andal sehingga setiap orang mengeluarkan output yang canggih, cerdas, dan membuat "business impact".
Perusahaan, bahkan Negara perlu berupaya untuk mengelola informasi dan antar karyawan atau warga, sehingga terjadi saling mengerti yang mendalam mengenai mindset masing-masing.
Para manager dan karyawan perlu melek data untuk menunjang keputusan yang tepat dan cepat. Kecepatan gerak, yang tadinya dianggap sebagai suatu ciri budaya sesungguhnya bisa dijadikan aset, karena kecepatan bisa membuat pelanggan terpesona. Di samping ukuran tangible yang terekam dalam catatan finansial, seberapa jauh kita memperhitungkan betapa berharganya opini pelanggan terhadap lembaga kita? Seberapa serius kita memperhitungkan opini para turis terhadap masyarakat kita? Di samping catatan pendapatan perusahaan, seberapa jauh kita memastikan kepuasan pelanggan terhadap produk, proses, dan servis kita? Sadarkah bahwa aset intangible seperti reputasi, image, spirit, sense of belonging, dan knowhow adalah penentu kekuatan kita di masa depan.
Pola pikir positif yang sudah ada dalam mindset membuahkan perilaku yang baik, merupakan hasil didikan membudayakan suka memberi, berzakat, berinfaq, bershodhaqoh perbuatan suka memberi adalah hal yang baik untuk dilakukan setiap
orang yang beriman. Istilah Shadaqah, Zakat dan Infaq menunjuk kepada satu pengertian yaitu sesuatu yang dikeluarkan. Zakat, Infaq dan Shadaqah memiliki persamaan dalam peranannya memberikan kontribusi yang signifikan dalam pengentasan kemiskinan. Adapun perbedaannya yaitu zakat hukumnya wajib sedangkan infaq dan Shadaqah hukumnya sunnah. Atau Zakat yang dimaksudkan adalah sesuatu yang wajib dikeluarkan, sementara Infaq dan Shadaqah adalah istilah yang digunakan untuk sesuatu yang tidak wajib dikeluarkan. Jadi pengeluaran yang sifatnya sukarela itu yang disebut Infaq dan Shadaqah. Zakat ditentukan nisabnya sedangkan Infaq dan Shadaqah tidak memiliki batas, Zakat ditentukan siapa saja yang berhak menerimanya sedangkan Infaq boleh diberikan kepada siapa saja. Perbedaannya juga dapat dicermati antara lain yaitu :
1. Zakat, sifatnya wajib dan adanya ketentuannya/batasan jumlah harta yang harus zakat dan siapa yang boleh menerima.
2. Infaq, sumbangan sukarela atau seikhlasnya (materi).
3. Shadaqah, lebih luas dari infaq, karena yang disedekahkan tidak terbatas pada materi saja.
Mengenal Makna Hibah, ketika Anda memberikan sebagian harta kepada orang lain, pasti ada tujuan tertentu yang hendak Anda capai. Bila tujuan utama dari pemberian Anda adalah rasa iba dan keinginan menolong orang lain, maka pemberian ini diistilahkan dalam syariat Islam dengan hibah. Rasa iba yang menguasai perasaan Anda ketika mengetahui atau melihat kondisi penerima pemberian lebih dominan dibanding kesadaran untuk memohon pahala dari Allah. Sebagai contoh, mari kita simak
ucapan sahabat Abu Bakar ketika membatalkan hibahnya kepada putri beliau tercinta Aisyah radhiyallahu ‘anha: “Wahai putriku, tidak ada orang yang lebih aku cintai agar menjadi kaya dibanding engkau dan sebaliknya tidak ada orang yang paling menjadikan aku berduka bila ia ditimpa kemiskinan dibanding engkau. Sedangkan dahulu aku pernah memberimu hasil panen sebanyak 20 wasaq (sekitar 3.180 Kg). Bila pemberian ini telah engkau ambil, maka yang sudah tidak mengapa, namun bila belum maka pemberianku itu sekarang aku tarik kembali menjadi bagian dari harta warisan peninggalanku.” (HR. Imam Malik)
1.2. Fokus Penelitian
Gambaran diri seorang entrepreneur sebagai seorang manusia pada umumnya, yang bersifat individual dan sebagai seorang yang memerankan fungsi-fungsi sosial. Sebagai makhluk sosial, seorang entrepreneur berhubungan dan berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Dalam hubungannya dengan lingkungan, seorang entrepreneur melakukannya dengan sadar dan atas kemauan dan sesuai dengan motif dan keinginannya.
Tindakan seperti ini menurut perspektif Weber disebut tindakan sosial.
Berdasarkan penjelasan di atas tersebut dapat terungkap dengan menjawab pertanyaan penelitian sebagai berikut:
1. Telaah bagaimana pandangan entrepreneur tentang diri dan lingkungannya (lingkungan internal dan eksternal)?
2. Telaah bagaimana orientasi social (pilihan karier dan motif) setelah menjadi entrepreneur?
3. Telaah bagaimana seorang entrepreneur melakukan pengelolaan hubungan sesama pengusaha?
Untuk lebih memperjelas wilayah penelitian (fokus penelitian) yang akan dilakukan, berikut ini akan digambarkan secara skematis wilayah kajian yang menjadi fokus penelitian :
Gambar 1.1
Wilayah Penelitian dan Fokus Penelitian
Sebelum Menjadi Entrepreneur
Memasuki Dunia Entrepreneur
Redefinisi Diri
Wilayah Penelitian Dan Fokus Kajian
Kontruksi Diri Dan Perilaku Entrepreneur
Konsep Diri (Pandangan Tentang Diri & Lingkungannya)
Orientasi Sosial (Pilihan Karier dan
Motif)
Manajemen Diri (Hubungan sesama
Pengusaha )