BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1.3 Self Eficacy Suami
2.1.3 Self Eficacy Suami
26
ketakutan, kecemasan, tidak percaya diri, cepat menyerah berarti seseorang tersebut memiliki self efficacy yang kurang baik. Dan jika memiliki self efficacy yang baik seseorang mampu dan yakin serta percaya diri dalam melakukan segala tindakan apapun situasinya. Sebaliknya ancaman bisa menjadi motivasi dalam melewati rintangan dan tantangan yang dihadapinya serta self efficacy yang tinggi bisa mengurangi ketakutan, meningkatkan kemauan dan kemampuan dalam memecahkan masalah dan lebih yakin akan kemampuan diri sendiri (Schultz, 2014). Menurut Cervone dan Pervin (2012) mngatakan bahwa yang mempunyai self efficacy yang baik cenderung menyukai masalah yang sulit, kerja keras menyelesaikannya, tetap tenang dan tidak takut ketika menghadapi masalah. Sedangkan self efficacy yang kurang baik lebih cemas dan takut, gagal dalam berpikir secara tenang.
Dari beberapa pendapat diatas dapat dirangkum bahwa self efficacy adalah keyakinan diri seseorang bahwa ia mampu untuk mengatasi masalah atau tugas tertentu dan mampu mengatasi hambatan ataupun tantangan.
b. Aspek-aspek keyakinan diri (self efficacy)
Bandura dikutip oleh Wijaya (2016) mengatakan bahwa self efficacy dibedakan menjadi tiga, yaitu:
1. Level (Magnitude)
Level atau magnitude merupakan suatu self efficacy yangterkait tingkat kesulitan dalam menyelesaikan tugas dan pekerjaan yang telah diyakini akan diselesaikannya.
2. Kekuatan (Strength)
Kekuatan merupakan kekuatan atau kelemahan keyakinan individu akan kemampuan dirinya untuk bertahan dan berusaha dalam mengerjakan sesuatu atau dalam menghadapi suatu masalah.
3. Keadaan umum (Generality)
Dimensi ini berkaitan dengan luas bidang tingkah laku keyakinan individu dapat merasa yakin atau tidak akan kemampuan diri sendirinya.
c. Sumber-sumber self efficacy
Menurut Alwisol (2013), sumber-sumber self efficacy atau keyakinan kebiasaan diri itu bisa didapatkan, diubah, ditingkatkanatau diturunkan melalui salah satu atau kombinasi empat sumber, yakni pengalaman menguasai sesuatu prestasi (performance accomplishment), pengalaman vikarius (vicarius experience), persuasi sosial (social persuation) dan pembangkitan emosi (emotional physiological states).
1. Pengalaman performansi
Prestasi yang pernah dicapai pada masa yang telah lalu. Sebagai sumber performasi masa lalu menjadi pengubah self efficacy yang paling kuat pengaruhnya. Prestasi masa lalu performasi yang bagus meningkatkan ekspetasi self efficacy yang berbeda-beda, tergantung proses pencapaiannya :
a) Semakin sulit tugasnya,keberhasilan akan membuat self efficacy semakin tinggi.
28
b) Kerja sendiri, lebih meningkatkan self efficacy dibanding kerja kelompok, dibantu orang.
c) Kegagalan menurunkan self efficacy, kalau orang sudah merasa berusaha sebaik mungkin.
d) Kegagalan dalam suasana emosional atau stres, dampaknya tidak seburuk kalau kondisinya optimal.
e) Kegagalan sesudah orang memiliki keyakinan self efficacy yang kuat,dampaknya tidak seburuk kalau kegagalan itu terjadi pada orang yang keyakinan self efficacy belum kuat.
f) Orang yang biasa berhasil,sesekali gagal tidak mempengaruhi self efficacy
2. Pengalaman vikarius
Diperoleh dari lingkungan sekitar. Self efficacy akan meningkat saat melihat orang lain berhasil, sebaliknya self efficacy akan menurun jika melihat orang yang kemampuannya sama dengan dirinya gagal.
Kalau figur yang diamati berbeda dengan dirinya, vikarius tidak berpengaruh besar. Sebaliknya saat mengamati figur yang setara kemampuannya bisa jadi orang yang tidak mau mengerjakan apa yang pernah gagal dikerjakan figur yang diamatinya itu dalam jangka waktu yang lama.
3. Persuasi sosial
Self efficacy diperoleh, dikuatkan atau dilemahkan lewat persuasi sosial. Dampaknya terbatas, namun saat kondisi yang baik persuasi
diriorang lain dapat berpengaruh pada self efficacy. Keadaan seperti ini adalah rasa percaya kepada pemberi persuasi, dan sifat realistis dari apa yang dipersuasikan.
4. Keadaan emosi
Kondisi emosi yang mengikuti kegiatan berpengaruh pada self efficacy dibidang kegiatan itu. Emosi yang kuat, stres, dapat mempengaruhi self efficacy. Tetapi dapat terjadi, peningkatan emosi yang tidak berlebih dapat meningkatkan self efficacy.
d. Fungsi self efficacy
Menurut Bandura (1986) dikutip oleh Kamtono (2015) terdapat tiga fungsi self efficacy :
1. Sebagai pilihan tingkah laku
Fungsi self efficacy untuk menentukan pemilihan tingkah laku.
Orang cenderung memilih sesuatu yang akan dikerjakan sesuai dengan kemampuannya. Jika seseorang mempunya self efficacy yang baik ia akan memilih satu tugas dibandingkan tugas yang lainnya. Ini merupakan bahwa self efficacy juga mendorong timbulnya tingkah laku.
2. Sebagai penentu besarnya usaha dan daya tahan dalam mengatasi hambatan
Berapa lama seseorang dalam mengatasi halangan yang dihadapi sangat ditentukan pada self efficacy. Individu yang mempunyai self efficacy yang baik akan menurunkan ketakutan dan kecemasan yang
30
dialaminya, sehingga mempengaruhi daya tahan individu. Usaha keras seseorang daripada orang yang lain merupakan self efficacy yang baik.
3. Mempengaruhi pola berpikir dan reaksi emosional
Self efficacy berpengaruh pada pola berpikir dan reaksi emosional seseorang, baik dalam kondisi saat ini ataupun kondisi yang akan datang. Seseorang yang mempunyai self efficacy yang kurang beranggapan dirinya kurang mampu menangani situasi yang dihadapi.
e. Faktor yang mempengaruhi self efficacy
Menurut Pudjiastuti (2012) ada bebrapa faktor yang dapat mempengaruhi self efficacy, antara lain :
1. Faktor orientasi kendali diri
Seseorang mencapai orientasi mengendalikan diri dari dalam akan mengarahkan dan mengembangkan cara-cara yang baik dalam mencapai tujuan, perasaan dalam diri bahwa ia yakin akan kemampuan yang dimiliki dalam menyelesaikan permasalahan. Hal ini berhubungan dengan pengembangan self efficacy secara individu, dapat dikatakan bahwa orientasi pengendalian diri bersifat ke dalam juga diperhatikan untuk mengembangkan self efficacy yang baik.
2. Faktor situasional
Faktor situasional self efficacy tergantung pada konteks dan situasi.
Dari situasi membutuhkan kemampuan yang lebih dan mendapat resiko lebih tinggi pada situasi lain,sehingga self efficacy beragam.
3. Status serta peran seseorang dalam lingkungan
Peran seseorang dalam lingkungannya sendiri berpengaruh pada self efficacy. Seseorang yang mempunyai status lebih besar dalam lingkungannya atau kelompoknya semakin memiliki derajat lebih besar pula. Sehingga mempunyai self efficacy lebih baik. Sedangkan status individu yang lebih rendah juga mempunyai self efficacy yang rendah.
4. Faktor insentif eksternal atau reward
Penerimaan reward atau insentif dari luar berpengaruh pada self efficacy. Semakin besar insentif atau reward yang diterima maka akan semakin tinggi derajat self efficacy. Salah satu yang meningkatkan self efficacy adalah insentif atau reward seseorang dalam menyelesaikan berbagai permasalahan dan melaksanakan tugas dengan baik.
f. Pengukuran self efficacy
Pembagian kategori self efficacy dibagi menjadi tiga yaitu baik, sedang, dan kurang. Menurut Riwidikdo (2012), self efficacy dapat dibagi dengan kriteria :
1. Baik : > 21 2. Kurang <21
32