IDENTIFIKASI DATA
A. Seni Pertunjukan di Surakarta
Surakarta dan seni pertunjukan adalah nomina yang saling berkait, keduanya memiliki hubungan yang tidak dapat dipisahkan sejak berabad-abad silam. Surakarta dalah salah satu kota dengan iklim seni pertunjukan terbaik di Jawa bahkan Indonesia, membicarakan Surakarta pasti kurang lengkap tanpa membicarakan seni dan budaya nya yang kental dan terjadi dalam keseharian masyarakat Surakarta hingga kini. Seni pertunjukan kini dapat dikategorikan sebagai salah satu potensi sektor ekonomi kreatif di Indonesia begitupun juga di Surakarta, seni pertunjukan dibagi ke dalam tiga kategori besar yaitu tari, teater dan musik; dengan pemahaman bahwa ketiganya bergerak dalam ruang-ruang tradisional, komersial dan eksperimentasi artistik (yang secara variatif dan leluasa dikategorikan ke dalam istilah atau genre ‘modern’ dan ‘kontemporer’).
Gambar 4. Perkembangan beserta Klasifikasi Jenis Seni Pertunjukan di Indonesia Sumber: Angga Bakti Efendi, 2022
Tiga kategori besar ini tentu cenderung terbatas dan membatasi ruang lingkup seni dengan ruang yang kaya ekspresi, karena banyak ekspresi lokal yang tidak mengenal pemisahan klasifikasi demikian. Selain ketiga kategori utama (tari, teater dan musik), terdapat pula bentuk lintas disiplin seperti sastra lisan, wayang (baik wayang orang maupun wayang kulit), sirkus, opera, drama-musikal, pantomim, sulap dan musikalisasi puisi. (Minarti, dkk, 2015 hlm. 8)
1. Sejarah Seni Pertunjukan di Surakarta
Kota Surakarta merupakan salah satu kota yang memiliki sejarah seni pertunjukan dengan perencanaan terlengkap di Jawa. Perkembangan seni pertunjukan di Kota Surakarta diawali dengan pindahnya kerajaan Mataram dari Kartasura ke Desa Sala (yang kini menjadi wilayah keraton Surakarta Hadiningrat) yang dikenal sebagai Bedhol Keraton dengan iring-iringan karnaval yang diawali dengan Bedhoyo Serimpi diiringi oleh gamelan. Sejak saat itu Keraton menjadi pusat inti kebudayaan dan kesenian termasuk seni pertunjukan di Jawa, Raja Keraton Surakarta saat itu Pakubuwono II didampingi oleh Yosodipuro menjadikan sastra dan gending sebagai bagian yang sakral didalam perkembangan kebudayaan di Keraton. Seni Pertunjukan Keraton merupakan sajian esklusif kala itu, hanya kaum bangsawan dan tamu kerajaanlah yang dapat menikmatinya, sejarah mencatat kunjungan Duc de Penthieve tahun 1866 – Orleans dari Perancis ke Keraton Surakarta disambut dengan tari Bedhaya Bayaderes yang sekaligus membawa para penari dari Surakarta dapat menampilkan tariannya di Eiffel Tower, Paris setelahnya.
Barulah pada tahun 1895 untuk pertama kalinya Seni Pertunjukan Keraton dapat menjadi konsumsi masyarakat umum, ditandai Kerajaan Mataram kala itu mengalami krisis moneter. (Dr. Sutanto, DEA, dkk, 2018) Pada tahun 1910 adalah tahun dimana pertama kalinya Wayang Wong Sriwedari secara profesional dipertunjukkan untuk umum, hingga kini Wayang Wong Sriwedari masih melakukan aktivitas keseniannya di Gedung Wayang Orang Sriwedari, ditengah caruk maruk sengketa tanah di Sriwedari.
Gambar 5. Gedung Wayang Orang Sriwedari Sumber: www.brisik.id, 2019
Kini, dua kerajaan Mataram yaitu Keraton Surakarta Hadiningrat dan Pura Mangkunegaran memiliki kekayaan warisan kesenian rakyat yang turun-temurun masih dijaga kelestariannya bahkan dikembangkan untuk menjadi kesenian baru yang dinamis dan relevan dengan kondisi saat ini. Dua Keraton tersebut diatas masih memiliki sekelompok koreografer, penari, komposer, musisi dan penyair; sehingga
siapa pun dapat belajar tentang kesenian dan budaya Jawa melalui Keraton. Tarian, musik, dan seni pertunjukan lainnya menggambarkan atau mengandung norma- norma sosial yang harus dipatuhi oleh semua yang ingin ngangsu kaweruh / menimba ilmu disana. Budaya keraton di Surakarta juga menjadi cikal bakal akademi yang berfokus terhadap pelestarian dan pengembangan seni pertunjukan, adalah Konservatori Karawitan atau dikenal sebagai KOKAR (1950). KOKAR di Surakarta berevolusi menjadi beragam akademi seni Akademi Seni Karawitan Indonesia/ASKI yang kini menjadi ISI Surakarta pada 15 Juli 1964 dan Akademi Seni Mangkunegaran/ASGA pada 21 April 2006, Dengan petimbangan kebudayaan Jawa hingga saat ini masih menjadi kiblat perkembangan seni dan budaya tradisi di Indonesia, maka institusi Pendidikan seni sudah sepantasnya didirikan di tengah- tengah lingkungan seni dan kebudayaan yang mendukungnya, yang secara wajar dapat memberikan umpan balik. Karena pertumbuhan dan laju pengembangan seni itu sendiri hanya dapat terwujud dengan adanya inovator/tenaga kreatif seperti pendidik, seniman, kritikus, dan penghayat seni yang memiliki kemampuan serta sikap terbuka (www.isi-ska.ac.id : diakses 10 Mei 2022).
Di luar lingkup Keraton, seni pertunjukan di Surakarta kini semakin bertumbuh dan mertransformasi salah satunya menjadi sebuah hiburan rakyat yang erat kaitannya dengan berbagai macam upacara ritual dalam berbagai fase kehidupan dari mulai kelahiran hingga kematian, yang hingga kini masih dilestarikan oleh sebagian masyarakat dan tetap harmonis bertumbuh beriringan dengan perkembangan seni pertunjukan modern/kontemporer yang sangat dinamis. Hadirnya penari, musisi,
aktor dan berbagai seniman pertunjukan hari ini tak bisa lepas kaitannya dengan seni pertunjukan di masa lalu, banyak seniman melakukan pengembangan dari karya yang telah ada sebelumnya untuk menjadi dasar ide pembuatan karya barunya, dengan sentuhan inovasi dan kreatifitas yang baru, seniman kontemporer dari Surakarta akan lebih mudah menemukan suasana yang mendukung dalam berkarya karena julukan Surakarta sebagai ruh nya Jawa / The Spirit of Java dirasakan oleh beberapa seniman termasuk Razan Wirjosanjojo (2022) dalam wawancaranya, sebagai seorang seniman pertunjukan asal Jakarta namun beraktifitas kesenian di Surakarta, ia menyatakan bahwa disini (kota Surakarta), ia dapat merasakan atmosfer yang mendukung proses berkaryanya karena dapat menemukan seni di kehidupan sehari-hari, yang selain dapat menjadi sumber ide, juga dapat menstimulasi jiwa untuk menghasilkan karya.
2. Seniman Seni Pertunjukan di Surakarta
Seni pertunjukan di Surakarta melahirkan banyak nama besar yang telah membawa nama Surakarta dan Indonesia saat tampil membawakan karyanya di acara-acara bertaraf Internasional dari masa ke masa, dari kancah seni musik sebut saja Gesang Martohartono (Alm.), Waldjinah, Endah Laras, Woro Mustiko, Didi Kempot (Alm.), Rahayu Supanggah (Alm.), Gondrong Gunarto sampai Woro Mustiko. Dari kancah seni tari banyak penari Bedhaya yang sampai saat ini masih melestarikan dan mengembangkan tarian seperti Rusini, Eko Pece, Sardono W.
Kusumo, Melati Suryodharmo, di ranah Teater ada WS. Rendra, Wiji Thukul hingga Sosiawan Leak.
Gambar 6. Seniman Seni Pertunjukan di Surakarta dari masa ke masa Sumber: Angga Bakti Efendi, 2022
Mereka adalah saksi perkembangan dunia seni pertunjukan di Surakarta dari masa ke masa, yang hingga kini sebagian dari mereka masih aktif dan produktif dalam berproses mengemukakan gagasan dan karyanya. Namun banyak masyarakat Surakarta hanya tahu beberapa karya dari mereka daripada personal senimannya.
Eden Pratama, founder Surakarstage (2022) dalam wawancaranya mengatakan bahwa sebelumnya ia banyak tidak mengenal siapa saja sosok seniman pertunjukan di Surakarta, walau sering menonton acara, namun belum dapat dipastikan kita mengenal siapa seniman yang tampil membawakan karyanya tersebut, maka dari itu pewacanaan tentang cerita sosok-sosok dibalik karya hebat tersebut yang akan menjadi titik berat dalam perancangan Strategi Media Sosial Surakarstage sebagai Media Promosi Seni Pertunjukan di Surakarta.
3. Acara Seni Pertunjukan di Surakarta
Kota Surakarta merupakan salah satu kota budaya di Indonesia yang banyak menyelenggarakan berbagai acara/event seni pertunjukan. Pada tahap ini, tidak diragukan lagi persoalan kreatifitas, karena pada realitasnya, seni pertunjukan di Surakarta tidak lagi statis, melainkan terus bergerak dinamis, sangat beragam, dan bersaing.Soal kualitas dapat dilihat pada berbagai event berkelas nasional- internasional. Artinya, bahwa Surakarta telah melampaui porsi sebagai kota kreatif yang mampu menarasikan dirinya melalui seni pertunjukan. (Dr. Sutanto, DEA, dkk, 2018) Solo International Performing Arts, Solo 24 Jam Menari, Undisclosed Teritory, Bukan Musik Biasa, Sala Hatedu, Solo Keroncong Festival, Solo City Jazz, Rock in Solo adalah sederet event-event seni pertunjukan bertaraf internasional yang rutin digelar di Surakarta, diinisiasi oleh kreator lokal bekerja sama dengan seniman, dan pemerintah daerah menjadikan acara seni pertunjukan di Surakarta menjadi muara bagi masyarakat untuk menikmati sajian karya dari seniman.
Gambar 7. Rock in Solo, event pertunjukan musik rock terbesar di jawa tengah Sumber: dok. Surakarstage, 2021
Menurut Firman Prasetyo (2022) dalam wawancaranya, sudah seharusnya Surakarta mempertajam lagi taringnya dalam hal pewacanaan dan pemediaan tentang Seni Pertunjukan, sejauh ini tidak ada media alternatif yang bisa berbicara secara lantang mengenai apa yang terjadi di Surakarta terlebih jika membicarakan masalah Seni Pertunjukan sebagai topik utama, mengingat budaya menampilkan dan menonton karya seni pertunjukan telah ada sejak nenek moyang kita tentunya dalam.
4. Venue Seni Pertunjukan di Surakarta
Realitas keramaian sebuah pergelaran seni pertunjukan di Surakarta dengan segala rupa dan bentuknya, ternyata mampu menarik perhatian khalayak luas. Ketika satu titik lokasi/venue yang dijadikan tempat pergelaran, maka variabel tersebut memacu variabel lainnya untuk ikut menjadi bagian dari keramaian itu. Sebagai contoh dalam sebuah seni pertunjukan tari. Keberadaan seni tari menjadi bagian utama dari pergelaran tersebut. Dampak langsung (direct economic benefit) dari sebuah pergelaran tersebut memberi keuntungan secara langsung kepada penjual makanan, penjual aksesoris dan pernak-pernik, pengusaha peralatan pendukung pertunjukan seperti soundsystem, lighting, dan sebagainya, karena ikut merasakan dampak materi dari pagelaran seni pertunjukan. Sementara dampak tidak langsung (indirect economic benefit) adalah semakin melambungnya nama Surakarta sebagai kota yang produktif dengan aktivitas dan wisata seni-budaya khususnya pertunjukan. Surakarta memiliki lebih dari 50 pusat konvensi kesenian yang sebagian besar dapat digunakan sebagai tempat pagelaran seni pertunjukan, Gedung Wayang Orang Sriwedari,
Taman Balekambang, Teater Besar ISI Surakarta, Taman Budaya Jawa Tengah, Balaikota, Pagelaran Keraton Surakarta, Pendopo Prangwedanan Mangkunegaran, De Tjolomadoe, Tirtonadi Convention Hall, Hall Omah Sinten dan masih banyak lagi, namun dukungan teknis di gedung-gedung pertunjukan di Surakarta, terutama milik pemerintah atau milik sekolah atau universitas (bersifat nonkomersial), masihlah lemah. Dukungan teknis yang seharusnya menjadi standar fasilitas sebuah venue seperti teknisi tata lampu dan suara atau bahkan staf tetap hingga aspek non teknis seperti pemasaran di media sosial (Minarti, dkk, 2015 hlm. 54).