asuransi) yang disalurkan melalui cara yang bertanggung jawab dan berkelanjutan1.
Selanjutnya jika merujuk pada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 76/POJK.07/2016, inklusi keuangan adalah ketersediaan akses pada berbagai lembaga, produk, dan layanan jasa keuangan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masyarakat dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat2. Sedangkan menurut Peraturan Presiden No. 82 Tahun 2016, Inklusi keuangan adalah akses terhadap berbagai layanan keuangan formal yang berkualitas secara tepat waktu, lancar, dan aman dengan biaya terjangkau sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat3. Berdasarkan ketiga pengertian tersebut, maka secara singkat inklusi keuangan merupakan akses yang setara dan terjangkau bagi seluruh pihak terhadap jasa dan produk keuangan formal sehingga bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraan.
Indonesia memiliki dua indeks yang menyusun Indeks Inklusi Keuangan, yaitu Indeks Kepemilikan Akun/Rekening dan Indeks Penggunaan Akun/Rekening. Rilis terbaru Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyebutkan bahwa pada 2020, Indeks Inklusi Keuangan di Indonesia terus meningkat baik dari sisi kepemilikan akun maupun dari sisi penggunaan akun. Indeks kepemilikan akun meningkat dari 31,3% pada tahun 2014 menjadi 61,7% pada tahun 2020. Sementara indeks penggunaan akun/rekening meningkat dari 59,74% pada 2013 menjadi 81,4% pada 20204. Tidak dipungkiri bahwa Pandemi Covid-19 memiliki peran signifikan dalam meningkatkan indeks tersebut.
Pemerintah memutuskan bahwa saluran distribusi bantuan langsung tunai menggunakan rekening perbankan dan yang tidak memilikinya wajib membuka rekening di bank yang ditunjuk Pemerintah. Angka Indeks Kepemilikan Akun menunjukkan terdapat 38,3% penduduk yang secara statistik belum memiliki rekening, namun apakah jumlah tersebut sama sekali tidak tersentuh produk dan jasa keuangan?
Penduduk yang tidak memiliki rekening dikategorikan sebagai subyek unbanked dan underbanked, namun penulis cukup yakin bahwa subyek dan entitas tersebut tetap menikmati jasa dan produk keuangan juga melakukan transaksi keuangan, meski dalam lingkup informal. Menurut Schneider dan Enste (2018), ekonomi bayangan (shadow economy) adalah kegiatan ekonomi bawah tanah, informal, atau ekonomi paralel. Ekonomi bayangan termasuk aktivitas ilegal, namun juga termasuk pendapatan yang tidak dilaporkan yang dihasilkan dari produksi barang dan jasa legal, baik melalui transaksi moneter maupun barter. Sehingga, ekonomi bayangan adalah segala aktivitas ekonomi yang secara umum dapat dikenakan pajak, namun tidak dilapokan ke petugas pajak5.
insurance) distributed in a responsible and sustainable manner.1 Furthermore, referring to the Financial Services Authority Regulation No. 76/POJK.07/2016, financial inclusion constitutes the availability of access to various financial institutions, products and services in accordance with the people’s needs and capabilities in order to improve their welfare.2 Meanwhile, according to Presidential Regulation No. 82 of 2016, Financial inclusion is access to a variety of quality formal financial services in a timely, smooth, and safe manner at affordable costs in accordance with the needs and abilities in order to improve the people’s welfare.3 In short, financial inclusion is equal and affordable access for all parties to formal financial services and products so that they are useful for improving welfare.
Indonesia has two indices that make up the Financial Inclusion Index, namely the Account Ownership Index and the Account Usage Index. The latest release of the Coordinating Ministry for Economic Affairs stated that, in 2020, the Financial Inclusion Index in Indonesia would continue to increase both in terms of account ownership and account use. The account ownership index increased from 31.3% in 2014 to 61.7% in 2020.
Meanwhile, the account usage index increased from 59.74%
in 2013 to 81.4% in 2020.4 Undeniably, the Covid-19 pandemic played a significant role in increasing the index.
The government decided that the direct cash assistance is distributed by using a bank account and those with no account are required to open an account at a Government- appointed bank. The Account Ownership Index figure shows that there are 38.3% of the population who statistically do not have an account; however, is this figure completely untouched by financial products and services?
Those residents with no account are categorized as unbanked and underbanked subjects, but the author is quite sure that those subjects and entities enjoy financial services and products and also make financial transactions, despite the informal scope. According to Schneider and Enste (2018), a shadow economy is an underground, informal, or parallel economy. It includes illegal activities, but also covers unreported income generated from the production of legal goods and services, either through monetary or barter transactions. Thus, the shadow economy is all economic activities that are generally taxable, but are not reported to the tax authorities.5
1 Https://www.worldbank.org/en/topic/financialinclusion/overview; diakses pada 7 Agustus 2021.
2 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 76/POJK.07/2016 tentang Peningkatan Literasi dan Inklusi Keuangan di Sektor Jasa Keuangan bagi Konsumen dan/
atau Masyarakat, Pasal 1 angka 7.
3 Peraturan Presiden No. 82 Tahun 2016 tentang Strategi Nasional Keuangan Inklusif, Lampiran huruf B.
4 Siaran Pers Kementerian Koordinator Bidang Perokonomian Nomor HM.4.6/33/SET.M.EKON.3/02/2021 Tanggal 8 Maret 2021; Inklusi Keuangan Tetap Positif dan Terus Diakselerasi di Masa Pandemi COVID-19.
5 https://www.imf.org/external/pubs/ft/issues/issues30/; Hiding in the Shadows, The Growth of the Underground Economy; International Monetary Fund; diakses pada 8 Agustus 2021
1 https://www.worldbank.org/en/topic/financialinclusion/overview; accessed on 7 August 2021.
2 Financial Services Authority Regulation No. 76/POJK.07/2016 concerning Improving Financial Literacy and Inclusion in the Financial Services Sector for Consumers and/or the People, Article 1 point 7.
3 Presidential Regulation No. 82 of 2016 concerning National Strategy for Financial Inclusion, Appendix point B.
4 Press Release of the Coordinating Ministry for Economic Affairs Number HM.4.6/33/SET.M.EKON.3/02/2021 dated 8 March 2021; Financial Inclusion Remains Positive and Continues to be Accelerated during the COVID-19 Pandemic.
5 https://www.imf.org/external/pubs/ft/issues/issues30/; Hiding in the Shadows, The Growth of the Underground Economy; International Monetary Fund; accessed on 8 August 2021.
Medina dan Schneider (2018), menyebutkan bahwa Indonesia memiliki angka ekonomi bayangan sekitar 24,1% - 26,6% dari total GDP6. Apabila angka tersebut masuk ke dalam aktivitas ekonomi formal, maka akan berkontribusi terhadap kinerja keuangan nasional dan dapat menjadi dasar pengenaan pajak yang lebih adil. Menurut Muliawati (2020), ekonomi bayangan merupakan salah satu kegiatan ekonomi yang sulit untuk dikenakan pajak7. Karena sifat ekonomi bayangan beroperasi pada ekosistem informal, sehingga banyak terjadi penghindaran pajak (Medina dan Schneider, 2018) dan kontribusi lainnya ke negara, seperti pembayaran kewajian iuran jaminan sosial dan perlindungan pekerja.
Jika ditarik lebih jauh, potensi tambahan pemasukan ke kas pemerintah yang berasal dari ekonomi bayangan dapat meningkatkan pelayanan publik seperti bidang pendidikan dan kesehatan.
Inklusi keuangan memiliki kecenderungan untuk mengurangi ukuran ekonomi bayangan, dengan mengeluarkan individu dari ekonomi sektor informal ke sektor formal (Ababio, dkk., 2020). Keuangan inklusif merupakan situasi dimana individu dan entitas bisnis memiliki akses ke produk dan jasa keuangan yang berguna dan terjangkau untuk kebutuhannya. Sehingga jika lebih banyak penduduk masuk dalam sistem keuangan inklusif dan menjadi penyebab meningkatnya pendapatan dan akan kembali ke pemerintah dalam bentuk pajak (Oz- Yalaman, 2019). Hal tersebut dipertegas oleh penelitian yang dilakukan oleh Ajide pada 2021, bahwa inklusi keuangan secara langsung dan signifikan dapat mengurangi nilai ekonomi bayangan di 13 Negara di Benua Afrika8. Negara-negara yang menjadi sampel penelitian adalah negara berkembang yang notabene memiliki kesamaan seperti Indonesia9.
Hasil penelitian di atas dan angka Indeks Inklusi Keuangan tahun 2020 menunjukkan bahwa secara umum Indonesia sudah berada pada arah yang tepat dalam mengurangi ukuran ekonomi bayangan. Pekerjaan rumah bagi pemerintah adalah dengan meningkatkan Indeks Inklusi Keuangan ke angka 90% pada 2024.
Jumlah pengguna internet di Indonesia yang sudah mencapai 196,7 juta pengguna pada November 202010 dan tumbuhnya beberapa bank digital belakangan ini, menjadi modal yang cukup meyakinkan untuk mencapai target yang diinginkan. Cita-cita cashless societyss society pun akan tercapai dengan sendirinya dan menjadi lebih sedikit alasan untuk menolak legislasi pembatasan penggunaan uang tunai. Semua capaian di atas akan menjadi angin segar bagi PPATK dalam tugasnya menelusuri aliran transaksi keuangan, apabila seluruh transaksi keuangan tercatat dalam lembaga keuangan formal, maka tidak ada celah bagi pelaku kejahatan keuangan yang ingin memanfaatkan kondisi tidak ideal yang selama ini ada di Indonesia.
According to Medina and Schneider (2018), Indonesia has a shadow economy of around 24.1% - 26.6% of total GDP.6 If included in formal economic activities, this figure will contribute to national financial performance and can be the basis for a more equitable taxation. According to Muliawati (2020), the shadow economy is among the difficult-to-tax economic activities.7 Due to the shadow economy’s nature of operating in an informal ecosystem, there is a lot of tax evasion (Medina and Schneider, 2018) and other contributions to the state, such as payment of compulsory social security contributions and worker protection. In the foresight, the potential for additional income to the government treasury deriving from the shadow economy is capable of improving public services, such as education and health.
Financial inclusion tends to reduce the size of the shadow economy by removing individuals from the informal economic sector to the formal one (Ababio et al., 2020). Financial inclusion is a situation where individuals and business entities have access to financial products and services that are useful and affordable for their needs. Thus, the more people enter the inclusive financial system and become the cause of increased income, the more will be the return to the government in the form of taxes (Oz-Yalaman, 2019). This is confirmed by a study by Ajide (2021) that financial inclusion can directly and significantly reduce the value of the shadow economy in 13 countries on the African continent.8 The countries sampled are those developing countries which incidentally have similarities with Indonesia.9
The results of the above studies and the figures for the 2020 Financial Inclusion Index show that in general Indonesia is on the right track to reducing the size of the shadow economy. The government’s homework is to increase the Financial Inclusion Index to 90% by 2024.
The number of the Internet users in Indonesia was 196.7 million in November 202010 and the recent growth of several digital banks represents a quite convincing capital to achieve the desired target. The ideal of a cashless society would also be achieved by itself and there will be fewer reasons to reject legislation restricting the use of cash. All of the above achievements will be a breath of fresh air for the PPATK in its task of tracing the flow of financial transactions. When all financial transactions are recorded in formal financial institutions, there would be no opportunity for financial criminals to take advantage of the currently non-ideal conditions in Indonesia.
6 Shadow Economy Around the World: What Did We Learn Over the Past 20 Years?;
Leandro Medina dan Friedrich Schneider; IMF Working Paper: 2018.
7 https://www.pajak.go.id/id/artikel/shadow-economy; Shadow Economy;
Direktorat Jenderal Pajak; Diakses pada 8 Agustus 2021
8 Shadow economy in Africa: how relevant is financial inclusion?; Folorunsho M. Ajide; Journal of Financial Regulation and Compliance, Volume 29 Issue 3:
2021.
9 https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200224101848-532-477420/
dicoret-dari-negara-berkembang-indonesia-belum-negara-maju; Dicoret dari Negara Berkembang, Indonesia Belum Negara Maju; CNN Indonesia; diakses pada 8 Agustus 2021.
10 https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2020/11/11/jumlah-pengguna- internet-di-indonesia-capai-1967-juta; diakses pada 26 Agustus 2021.
6 Shadow Economy Around the World: What Did We Learn Over the Past 20 Years? ; Leandro Medina and Friedrich Schneider; IMF Working Paper: 2018.
7 https://www.pajak.go.id/id/article/shadow-economy; Shadow Economy;
Directorate General of Taxation; Accessed on 8 August 2021.
8 Shadow economy in Africa: how relevant is financial inclusion?; Folorunsho M. Ajide; Journal of Financial Regulation and Compliance, Volume 29 Issue 3:
2021.
9 https://www.cnnindonesia.com/economy/20200224101848-532-477420/
dicoret-dari-negara-berkembang-indonesia-belum-negara-maju; Dicoret dari Negara Berkembang, Indonesia Belum Negara Maju; CNN Indonesia;
accessed on 8 August 2021.
10 https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2020/11/11/sum-user-internet- di-indonesia-reach-1967-juta; accessed on 26 August 2021.
SATHYA