• Tidak ada hasil yang ditemukan

Shalat Jumat

Dalam dokumen TAFSIR AHKAM IBADAH (Halaman 99-103)

99

Dengan memperhatikan keterangan-keterangan di atas, dapat ditarik benang merahmya bahwa hadits yang paling kuat dan dapat dijadikan hujjah berkenaan dengan shalat wustha ialah hadits-haditts yang menerangkan bahwa shalat wustha ialah shalat ‘Ashar. Karena hadits-hadits tersebut marfu’ sampai ke Nabi SAW, sedangkan hadits hadits lainnya mauquf sampai sahabat. Tetapi yang sangat prinsip pesan yang terkandung dalam ayat di atas ialah bahwa orang-orang beriman wajib memelihara pelaksanaan semua shalat fardhu. Pesan Allah agar orang-orang beriman memelihara shalat wustha mengandung hikmah bahwa ada salah satu shalat fardhu itu memiliki nilai luar biasa, lebih utama dilihat dari tingkat sulit mengerjakannya . Menurut satu golongan, shalat wushtha tidak dijelaskan oleh Allah kepada kita. Maka ia adalah salah satu dari shalat yang lima. Seperti malam qadar dan malam yang sepuluh yang sangat bernilai tinggi, tapi tidak dijelaskan malam yang ke berapa.

Barangkali Allah bermaksud menyembunyikan yang demikian agarorang-orang beriman memelihara semua shalat. (Ibnu ‘Athiyah, I, 1993: 322).

100

Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah,

"Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan", dan Allah Sebaik-baik pemberi rezki.

Umat Islam sepakat bahwa yang dimaksud dengan shalat yang dilaksanakan bersama seorang imam dalam ayat ini adalah shalat Jumat.

Shalat Jumat pertama kali dilaksnakan Rasulullah SAW adalah di Quba ketika beliau hijrah ke Madinah. Belaiu melaksanakan shalat Jumat di rumah Bani Salim bin

‘Auf. Orang yang pertama kali mengadakan shalat Jumat di Madinah sebelum hijrah adalah As’ad bin Zurarah di sebuah kampung berjarak satu mil dari Madinah.

Ibnu Hajar menjelaskan shalat Jumat disyariatkan di Makkah, namun waktu itu belum dilaksanakan karena jumlah jamaah belum terpenuhi atau karena syiar shalat Jumat adalah dilaksanakan secara terbuka dan terang-terangan, sementara waktu itu di Makkah Rasulullah masih sembunyi-sembunyi melaksanakan shalat, (al-Alusi, 28/110).

Hukum melaksanakan shalat Jumat adalah fardhu ‘ain, tidak ada perbedaan pendapat mengenai hal ini, karena berdasarkan perintah Al-Quran daan Sunnah Rasulullah. Shalat Jumat dilaksnakan pada waktu Zhuhur atau sebagai pengganti shalat Zhuhur. Syarat wajibnya ada tujuh: berakal, laki-lak, merdeka, baligh, memiliki kemampuan, bisa berdiri, dan berada di negeri. Syarat menyelengarakannya: Islam (orang kafir tidak sah), khuthbah, imam yang professional untuk memimpin shalat, bukan amir (penguasa), bilangan jamaah tidak ada batas tertentu, dan disyaratkan juga mandi terlebih dahulu. (Ibnu al-‘Arabi, IV, 1988: 246).

Kewajiban itu terhitung sejak dikumandangkan suara adzan, sebagaimna disebutkan dalam firman Allah SWT, ةـعمـجلا موي نم ة لاصلل ىدوـن اذا اوـنـمْا نـي ذـلا اهـيْااـي

ىلا اوعساف ذ

ك ـ لا اورذو الله ر ـب

ـي ـ ع

(Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Alah dan tinggalkanlah jual beli) . Maksudnya: apabila imam telah naik mimbar dan muadzdzin telah adzan di hari Jumat, maka kaum muslimin wajib bersegera memenuhi panggilan muadzdzin itu dan meninggalakan semua pekerjaannya, (Depag, 1971: 933).

Yang dimaksuid dengan ءادـنـلا (seruan) di sini adalah adzan, yaitu bila imam sudah duduk di atas mimbar pada hari Jumat. Karena pada masa Rasulullah SAW tidak ada seruan selain seruan adzan. (al-Syaukani, V, 1964: 227)

Nabi SAW mengecam orang-orang yang meninggalkannya. Suatu hadits yang diriwayatkan Ibnu Mas’ud RA bahwa Rasulullah SAW berkata kepada orang-orang yang meninggalkan shalat Jumat ,

ه دـقـل اـب ىلـصـي لاـجر رـما نْا تـمـمـ اـنـل

ع لرـحْا مـث ـ

ـتـي ل اـجر ىل ةـعـمـجـلا نـع نوـفـلـخ

.ملـسـمو دـمـحا هاور .مـهـتوـيـب Sungguh Aku berniat hendak menyuruh seseorang untuk menjadi imam bagi orang-oang yang berjamaah, lalu Aku pergi membakar rumah orang-orang

101

yang meninggalkan shalat Jumat itu. H.R Ahmd dan Muslim. (Sabiq, I, 1983: 255).

Dari Abu Ja’du al-Dhamiriy bahwa Rasulullah SAW bersabda,

انواـهـت عـمـج ث لاـث كرـت نـم ثـي دـح نم ةـج اـم نبا و دـمـحْلا و ةـسـمـخـلا هاور .هـبـلـق ىلع الله عـبـط

.نـيرـس نـأ هـححـصو هوـحـن رـباـج Barangsiapa meninggalkan tiga kali Jumat kaena menganggap enteng, maka Allah akan menutup mata hatinya. H.R al-Khamsah. Juga diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah dari hadits Jabir seperti hadirs ini. Ibnu Sirin memandang shahih hadits ini, (Sabiq, I, 1983: 255).

Shalat Jumat didahului dengan dikumandangkan suara adzan. Bila muadzdzin sudah adzan berarti ibadah Jumat sudah mulai. Bila adzan sudah dikumandangkan sudah jatuh wajibnya, sesuai dengan ayat di atas Bila sudah diseuru untuk melaksanakan shalat pada hari Jumat, maka besegeralah mengingat Allah.

Pada masa Rasulullah SAW seruan adzan pada hari Jumat adalah di pinggir masjid, yaitu di dinding masjid. Tapi menurut keterangan Saib bin Yazid, sahabat yunior yang meriwayatkan hadits sedikit sekali dan ia naik haji pada haji wada’ pada usia sembilan tahun, katanya, Dulu Nabi SAW punya seorang muadzdzin yang mengumandangkan adzan di pintu Masjid al-Nabawi. Dalam Mushhaf Abi Daud dijelaskan bahwa muadzdzin adzan di hadapan Nabi SAW yang sudah naik mimbar.

Mimbar Nabi itu pernah digunakan oleh Bani Umaiyah, sekarang terdapat di kota Kordova. Kemudian ‘Utsman RA menambah adzan di atas zaura’ (beranda rumah yang paling tinggi yang terletak dekat masjid Nabawi) agar terdengar oleh semua orang. Sehingga jadilah adzan pada hari Jumat dua kali, (Ibnu ‘Athiyah, Juz XIV:

1991: 446).

Apabila sudah terdengar suara adzan maka bersegeralah untuk mengngingat Allah (shalat), dan tinggalkan jual beli. Walaupun di sini hanya disebut aktivitas jual beli, namun sebenarnya termasuk semua aktivitas keduniaan. Al-Syaukani (V, 19664:

228) menjelaskan, (Tinggalkanlah jual beli) artinya tinggalkanlah muamalah dan dikaitkan dengannya semua muamalah. Menurut Hasan, bila muadzdzin sudah adzan pada hari Jumat tidak halal jual beli.

Dalam ayat ini ditegaskan, bila sudah dikumandangkan adzan pada hari Jumat, disuruh bersegera untuk mengingat Allah (shalat Jumat). Yang disuruh bersegera itu adalah orang-orang mukmin yang sehat, baligh, merdeka, laki-laki. Tidak ada kewajiban Jumat bagi musafir, tapi bila meraka menghadirinya adalah lebih baik.

(Ibnu ‘Athiyah, Juz XIV, 1991: 446). Yang dimaksud dengan adzan pada hari Jumat dalam ayat ini adalah adzan kedua setelah khatib duduk di atas mimbar.

Adapun adzan pertama adalah adzan yang ditambahkan oleh Khalifah Ustman bin ‘Affan RA dengan disaksikan oleh para sahabat ketika kota Medinah semakin luas.

Waktu itu adzan pertama tersebut dikumandangkan dari atas zauraq. Apabila adzan shalat Jumat sudah dikumandangkan bergegaslah kalian untuk mengingat Allah SWT, Yaitu mendengarkan khutbah dan melaksanakan shalat Jumat di masjid-masjid jami’,

102

setelah sebelumnya mempersiapkan diri untuk itu, seperti mandi, berwudhu’, memakai farfum, memakai pakaian yang baru atau yang bersih dan berwarna putih, dan sebagainya.

Ada baiknya dikemukakan di sini penafsiran al-Jashshash, pengikut madzhab Hanafi, mengenai adzan pertama pada hari Jumat sebagai kompararsi. Menurutnya diriwayatkan dari sekelompok ulama salaf mengengkari adzan pertama sebelum imam naik mimbar. Waki’ meriwayatkan, katanya, Adzan pertama adalah bid’ah dhalalah, sekalipun orang memamndangnya baik. Manshur meriwayatkan dari Hasan, Adzan yang dikumandangkan pada hari Jumat sebelum imam naik mimbar adalah dibuat- buat. ‘Abd al-Razzaq dari Ibnu Juraij dari ‘Itha’, katanya, Bahwa adzan pada hari Jumat pada masa dahulu hanya satu kali, kemudian iqamat. Adapun adzan pertama yang dikumandangkan sekarang sebelum imam naik mimbar dan duduk di atas mimbar adalah bathil. Sahabat-sahabat kita menyebutkan adzan hanya satu kali yaitu ketika imam sudah duduk di atas mimbar, dan iqamat bila ia sudah turun dari mimbar.

Inilah yang diterapkan pada masa Rasulullah, Abu Bakar, dan ‘Umar. (al-Jashshash, III, 1993: 664).

Menanggapi al-Jashshash ini dapat dikatakan bahwa apa yang dikemukakan adalah berupa pendapat, yaitu pendapat dari kalangan ulama-ulama salaf. Pada hal pelaksanaan adzan dua kali sudah diamalkan sejak zaman sahabat atas kebijaksanaan khalifah ‘Utsman bin ‘Affan. Semua sahabat pada waktu itu menerimanya, tidak ada yang menyalahi. Dengan demikian sudah terjadi ijma’ pada waktu itu, yaitu ijma’

sukuti.

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama berkenaan dengan jarak yang wajib bersegera ke masjid bila sudah dikumandangkan seruan adzan. Menurut Imam Malik, Jaraknya tiga mil. Qadhi Abu Hamid mengatakan, Tiga mil dari rumah bagi orang yang berjalan kaki ke tempat orang adzan. Sedangkan menurut satu golongan, Jaraknya tiga mil dari rumah orang berjalan ke pusat kota, tempat orang mengumandangkan adzan. Menurut ahli ra’yi, Seluruh penduduk kota wajib bersegera ke masjid, baik bagi orang yang mendengar seruan adzan maupun yang tidak mendengar seruan adzan, sekali pun tempat tingalnya lebih dari tiga mil. Menurut Imam Abu Hanifah, Tidak wajib bersegera datang ke masjid pada hari Jumat bagi orang yang tinggal di luar kota, seperti kampung Zararah di luar kota Kufah. Di antara keduanya mengalir suatu sungai. Mereka tidak boleh mendirikan shalat Jumat sendiri, karena persyaratan mendirikannya harus lengkap, harus ada sulthannya, dan pasarnya.

Menurut sebagian ahli ilmu, wajibnya bersegera pergi Jumat jarak lima mil.

Sedangkan menurut al-Zuhri, enam mil, dan ia juga pernah mengatakan empat mil.

Menurut Ibnu ‘Umar, Ibnu Musayyab, dan Ahmad bin Hanbal, Hanya bagi orang yang mendengar suara adzan wajib bersegera datang ke masjid pada hari Jumat, (Ibnu

‘Athiyah, Juz V, 1993; 308-309).

Dari keterangan tersebut dapat diketahui bahwa jarak diharuskan bersegera melaksanakan shalat Jumat menurut pendapat para ulama bervariasi sekali. Semua pendapat ini muncul ketika orang pada umumnya masih mengandalkan jalan kaki untuk berpergian. Tapi sekarang ini, kendaran untuk berpergian sudah modern. Dalam

103

konteks ini tentu ukuran jarak wajib bersegera pergi melaksanakan shalat Jumat sudah lebih jauh dibandingkan pendapat-pendapat para ulama di atas.

Selanjutnya Ibnu ‘Athiyah juga membicarakan tentang yang dimaksud dengan bersegera dalam ayat ini. Menurutunya, bukanlah berjalan cepat seperti berlari pada pelaksanaan sa’i antara bukit Shafa dan Marwa. Tapi bersegera dengan pengertian yang terdapat dalam ayat ىعس ام لاا ناـسنلال ـيـل ناو (Dan bahwa seseorang tidak memperoleh selain apa yang diusahakannya. Q.S. 53: 39). Dengan demikian, maka berdiri, berwudhuk, memakai pakaian, berjalan cepat, semuanya termasuk dalam rangka dzikrullah.

Dalam dokumen TAFSIR AHKAM IBADAH (Halaman 99-103)