BABA IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
3. SIKLUS II
d. Refleksi
Berdasarkan hasil observasi tersebut, peneliti dan guru melakukan analisis terhadap proses pembelajaran dan peningkatan keaktifan siswa.
Analisis ini dilakuak oleh peneliti dan guru kelas dengan cara berdiskusi, mengevaluasi proses pembelajaran yang telah dilaui, serta melihat kekurangan-kekurangan yang ada. Selain itu guru dan penelit juga berpedoman pada hasil observasi peningkatan keaktifan hasil belajar anak melalui pedoman obsevasi.
Adpun hasil analisis tersebut menunjukan bahwa: (1) adanya reaksi yang menunjukan kebosanan pada anak karena penggunaan media dengan judul yang sama, (2) adanya penurunan konsentrasi karena tidak adanya motivasi atau rewads dari guru atas keaktifan dan kreativitasnya, (3) sudah ada peningkatan keaktifan anak jika dibandingakan denagan keaktifan sebelum tindakan, akan tetapi hasil tersebut belum maksimal dan memuaskan, itu berarti bahwa guru dan peneliti perlu memperbaiki proses pembelajaran, (4) keaktifan anak didik dalam satu kelas masih belum merata, ada anak yang mempunyai keaktifan lebih akan tetapi ada juga yang masih rendah. Dari hasil analisis tersebut peneliti dan guru mersa bahwa hasil penelitian ini belum maksimal. Oleh sebab itu penliti dan guru membuat perencanaan untuk tindakan pada siklus II.
peningkatan kretivitasnya juga kuarang memuaskan. Untuk mengatasi kekurangan pada siklus I, maka peneliti dan guru merencanakan tindakan pada siklus II. Siklus II ini direncanakan dilakukan dalam dua pertemuan yaitu pertemuan pertama pada hari Sabtu tanggal 13 Mei 2017, dan pertemuan kedua pada hari Selasa tanggal 16 Mei 2017.
Setelah melakukan diskusi, akhirnya peneliti dan guru kelas menyepakati beberapa hal yang sebaiknya dilakukan dalam meningkatkan keaktifan anak didik dengan metode kisah dengan bercerita. Hal tersebut yaitu: (1) guru memaksimalkan tindakan yaitu lebih berinteraksi dengan siswa, memberi motovasi dan memberi penguatan dengan rewads seperti bagus sekali, (2) untuk mengatasi kebosanan anak, maka peneliti dan guru berencana untuk mengganti tema dengan “Perilaku Yang Mencerminkan Beriman Kepada Rasul-Rsul Allah”, (3) guru memberi tambahan alokasi waktu agar anak mempunyai banyak waktu untuk bereksplorasi.
Adapun tindakan yang direncanakan diterapkan pada siklus II sebagai berikut:
1)Guru mempersiapkan terlebih dahulu media yang akan digunakan.
2)Guru mengkondisikan atau menseting kelas menjadi lingkaran besar. Dimana guru sebagai pencerita dan peneliti sebagai observator.
3)Guru membuka pelajaran dengan salam, dan berdo‟a.
4)Guru mengkomunikasikan aturan yang harus dipatuhi selama kegiatan bercerita berlangsung.
5)Guru memulai bercerita dengan media buku aqidah akhlak.
Dalam kegiatan ini peneliti mengamati aktivitas anak selama
mengikuti kegiatan bercerita terutama rentang perhatian anak dalam mendengarkan cerita dan kemudian mencatatanya dalam pedoman obsevasi.
6)Guru mengulas isi cerita. Dalam kegiatan ini guru memberi kesempatan pada anak untuk bereksplorasi. Guru mencoba merangsang anak dengan pertanyaan seperti apa judul cerita yang ibu guru sampaikan? Siapa saja tokoh-tokoh yang ada dalam cerita dan karakter tokoh yang ada dalam cerita.
7)Kegiatan penenutup berupa mengulang kembali isi kisah cerita.
8)Guru menutup pembelajaran dengan salam dan berdo‟a.
Secara umum prosedur pembelajaran pada siklus II seperti tersebut diatas sama proses pembelajaran pada siklus I, setiap pertemuan pada siklus II ini juga diberi sedikit variasi agar anak tidak mengalami kebosanan dan Susana lebih menyenangkan. Adapun variasi setiap pertemuan yaitu kegiatan dilaukan didalam kelas, mengganti tema cerita, memberi motivasi pada anak agar dapat mengembngkan kreativitasnya, konsentrasi atau rentang perhatian anak terhadap cerita menjadi lebih lama, merangsang anak dengan pertanyaan-pertanyaan seputar cerita sehingga anak biasa menemukan kosa kata baru yang didapat dari jawaban- jawabannya, dan berkembang imajinasinya sehingga dapat menghasilkan cerita yang alami serta kepercayaan diri anak makin kuat.
b. Pelaksanaan tindakan
Berdasarkan perencanaan yang telah dibuat, maka peneliti dan guru kelas melakukan tindakan siklus II. Pelaksanaan tindakan pada siklus II dimulai pada hari Sabtu tanggal 13 Mei 2017 di dalam kelas. Pembelajaran berlangsung selama 45 menit.
Pada pertemuan pertama peneliti dan guru masuk ke dalam kelas.
Guru membuka pembelajaran dengan salam dan ber‟oa. Adapun gambaran dialog antara guru dengan anak dalah sebagai berikut:
Guru : Assalamu‟alaikum wr. Wb.
Anak-anak : Wa‟alaikumsalam wr.wb.
Guru : Hari ini bu guru akan bercerita tentang “Perilaku Yang Mencerminkan Beriman Kepada rasul-rasul Allh”, tapi sebelum saya mulai bercerita kalian tidak ada yang boleh ribut atau berbicara pada temanya, mengerti?
Anak-anak : Mengerti bu.
Peneliti : baik, kita mulai ceritanya.
Setelah memberikan penjelasan di dalam kelas, guru kelas mengkondisikan tempat duduk anak membentuk lingkaran besar dimana guru sebagai pusat lingkaran. Hal ini bertujuan untuk menciptakan suasana belajar yang aman dan nyaman serta terjalin komunikasi multiarah.
Sebagai pembuka guru membuka kegiatan dengan salam dan berdo‟a. Sebelum bercerita guru menyebutkan judul dan tokoh-tokoh yang ada dalam cerita. Selanjutnya guru memulai bercerita. Isi cerita sebagai berikut:
“Suatu hari Amiril Mukminin Umar bin Khaththab r.a. dikirimi harta yang banyak. Beliau memanggil salah seorang pembatu yang berada di dekatnya. “Ambillah harta ini dan pergilah ke rumah Abu Ubaidah bin Jarrah, lalu berikan uang tersebut. Setelah itu berhentilah sesaat di rumahnya untuk melihat apa yang ia lakukan dengan harta tersebut,” begitu perintah Umar kepadanya.
Rupanya Umar ingin melihat bagaimana Abu Ubaidah menggunakan hartanya. Ketika pembantu Umar sampai di rumah Abu Ubadah, ia berkata, “Amirul Mukminin mengirimkan harta ini untuk Anda, dan beliau juga berpesan kepada Anda, „Silakan pergunakan harta ini untuk memenuhi kebutuhan hidup apa saja yang Anda kehendaki”.
Abu Ubaidah berkata, “Semoga Allah mengaruniainya keselamatan dan kasih sayang. Semoga Allah membalasnya dengan pahala yang berlipat”. Kemudian ia berdiri dan memanggil hamba sahaya wanitanya. “Kemarilah. Bantu aku membagi-bagikan harta ini!”.
Lalu mereka mulai membagi-bagikan harta pemberian Umar itu kepada para fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan dari kaum muslimin, Sampai seluruh harta ini habis diinfakkan.
Pembantu Umar pun kembali pulang. Umar pun memberinya uang sebesar empat ratus dirham seraya berkata, “Berikan harta ini kepada Muadz bin Jabal!” Umar ingin melihat apa yang dilakukan Muadz dengan harta itu. Maka, berangkatlah si pembantu menuju rumah Muadz bin Jabal dan berhenti sesaat di rumahnya untuk melihat apa yang dilakukan Muadz terhadap harta tersebut.
Muadz memanggil hamba sahayanya. “Kemarilah, bantu aku membagi-bagikan harta ini!” Lalu Muadz pun membagi-bagikan hartanya kepada fakir miskin dan mereka yang membutuhkan dari kalangan kaum muslimin hingga harta itu habis sama sekali di bagi- bagikan. Ketika itu istri Muadz melihat dari dalam rumah, lalu berkata, “Demi Allah, aku juga miskin.” Muadz berkata, “Ambillah dua dirham saja.”
Pembantu Umar pun pulang. Untuk ketiga kalinya Umar memberi empat ribu dirham, lalu berkata, “Pergilah ke tempat Saad bin Abi Waqqash!” Ternyata Saad pun melakukan apa yang dilakukan oleh dua sahabat sebelumnya. Pulanglah sang pembantu kepada Umar.
Kemudian Umar menangis dan berkata, “Alhamdulillah, segala puji syukur bagi Allah.”
Setelah guru selesai bercerita, guru mengulas isi cerita seperti nama tokoh, sifat-sifat tokoh sambil mengamati reaksi anak dalam menanggapi isi cerita. Pada pertemuan pertama kegiatan bercerita dilakukan didalam kelas. Pada pertemuan pertama guru bercerita dengan tema “Perilaku Yang Mencerminkan Beriman Kepada Rasul-Rasul Allh”. Antusias anak terhadap cerita sangat baik. Anak-anak sangat aktif merespon pertanyaan dari guru. Pada pertemuan kedua kegiatan dilakukan didalam kelas. Pada pertemuan kedua guru menggunakan media buku aqidah akhlak dengan tema “Perilaku Yang Mencerminkan Beriman Kepada Rasul-Rasul Allh”.
Antusias anak terhadap isi cerita masih sangat baik, anak makin lebih antusias untuk tampil didepan kelas sambil bercerita sesuai dengan gaya yang mereka miliki. Antusias anak makin bertamabah ketika peneliti menggunakan rewads bagus sekali, anak makin terlibat aktif dalam proses
pembelajaran. Konsetrasi anak terhadap cerita makin bertambah, imajinasi anak makin berkembang.
c. Observasi
Hasil observasi yang dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui keadaan anak didik selama proses belajar dan hasil belajar siswa kelas VIII A MTs. Qur‟aniyah Batu-Kuta. Berdasarkan hasil observasi diketahui bahwa tingkat perhatian pada siklus II ini mengalami peningkatan dan sudah dalam kategori baik sekali. Hal ini diikuti dengan peningkatan hasil belajar yang sudah memuaskan dengan nilai rata-rata kelas sebesar 78,64, berarti hasil belajar siswa sudah tergolong baik dengan nilai rata-rata di atas 75.
Hasil Observasi dan Keaktifan Siswa Siklus II
No. Nama Siswa
Kemunculan Respon Perharian Siswa
Siklus II
1 Ahmad Hendriawan √
2 Amalia Parwati √
3 Asriadi -
4 Ema Febriya Zulfiani √
5 Faesal Ya'kub √
6 Hediana Shilvia Udayani -
7 Isna Syahadati √
8 Laras Indah Amalia √
9 Lina Aulia Najiha √
10 M Alin Jahiz √
11 M Rizki Ramdhani √
12 M Zarkoni √
13 Meliana Puri Indriana S √
14 Muliadi √
15 Nazifa Rohma Hudiani √
16 Nikmatus Sa'adah √
17 Nurul Haeni √
18 Putri Utami √
19 Rian Hidayat √
20 Rodi Al – Farisi -
21 Warni Supianti √
22 Zam Zani √
Jumlah 19
No. Aspek yang diamati Keaktifan siswa Siklus II
F %
1. Keaktifan bertanya 18 81.12 2. Mengemukakan pendapat 16 72.73 3. Menajwab pertanyaan 17 77.72
Rata-rata 77.72
Hasil Belajar Siswa Siklus II
No. Nama Siswa Nilai Siswa Siklus II
1 Ahmad Hendriawan 75
2 Amalia Parwati 90
3 Asriadi 70
4 Ema Febriya Zulfiani 75
5 Faesal Ya'kub 85
6 Hediana Shilvia Udayani 70
7 Isna Syahadati 70
8 Laras Indah Amalia 90
9 Lina Aulia Najiha 80
10 M Alin Jahiz 75
11 M Rizki Ramdhani 75
12 M Zarkoni 85
13 Meliana Puri Indriana S 90
14 Muliadi 85
15 Nazifa Rohma Hudiani 75
16 Nikmatus Sa'adah 80
17 Nurul Haeni 85
18 Putri Utami 75
19 Rian Hidayat 80
20 Rodi Al – Farisi 65
21 Warni Supianti 80
22 Zam Zani 75
Jumlah 1730
Rata-rata 78.64
Tertinggi 90
Terendah 64
d. Refleksi
Proses pelaksanaan tindakan pada siklus II sudah baik. Kelemahan yang ada pada siklus I dapat teratasi dengan baik. Hal ini menunjukan keaktifan dan kreativitas anak didik dalam mata pelajran aqidah akhlak mengalami peningkatan. Peningkatan keaktifan ini terlihat dari tercapainya indikator yang ditetapkan, seperti peningkatan keaktifan anak didik yang mencapai 77,27%, antusiasme anak yang meningkat serta perhatian dan konsentrasi anak dalam pembelajaranpun membaik. Peneliti dengan dibantu kolaborator telah berhasil meningkatkan keaktifan anak serta perhatian dan konsentrasi anak dalam proses pembelajaran. Adapun masih ditemukannya dua atau tiga anak yang kurangmemperhatikan peneliti tidak menjadi masalah dalam proses pembelajaran, karena kita tahu bahwa karakteristik, kemampuan, dan daya tangkap anak didik itu beraneka ragam. Perhatian anak didik pada kelas VIII A MTs. Qur‟aniyah Batu-Kuta telah mengalami peningkatan sebesar 86,36% atau 19 anak dari 22 anak, sedangkan keaktifan anak didik dalam proses pembelajaran mengalami peningkatan sebesar 77,27 %, sedangkan dilihat dari hasil belajar anak didik MTs. Qur‟aniyah Batu-kuta juga telah mengalami peningkatan.
Hasilnya menunjukkan bahwa hasil belajar prasiklus nilai rata-rata kelas sebesar 64,14, kemudian setelah penerapan metode kisah pada proses pembelajaran aqidah akhlak pada siklus I nilai rata-rata kelas menjadi 68,41, dan pada siklus II nilai rata-rata meningkat menjadi 78,64. Jadi dapat dikatakan bahwa hasil tindakan kelas dengan Penerapan Metode Kisah Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Pada Mata Pelajaran Aqidah Akhlak Siswa Kelas VIII A Di MTs. Qur‟aniyah Batu-Kuta Kec. Narmada Kab. Lombok Barat Tahun Pelajaran 2016/2017 sudah berhasil.
B. Pembahsan
Sebelum pembahasan hasil penelitian, adapun hasil penelitian secara keseluruhan dapat dilihat dalam table berikut
Table 1 Perhatian
Tahap Jumlah Persentase Persentase
perubahan Prasiklus
Siklus I Siklus II
9 15 19
40,91%
68,14%
86,36%
66,66%
111,10%
Jumlah perhatian
siswa 22 65,15%
Perhatian siswa pada proses pembelajaran aqidah akhlak dengan penerapan metode kisah di MTs. Qur‟aniyah Batu-kuta, pada tahap prasiklus atau keadaan awal perhatian siswa dalam proses belajar sebelum penerapan metode kisah, jumlah perhatian siswa sebanyak 19 siswa, sedangkan pada siklua I dimana proses pembelajaran aqidah akhlak dengan penerapan metode kisah, jumlah perhatian siswa pada proses pembelajaran menjadi 15 siswa. Proses pembelajaran aqidah akhlak dengan penerapan metode kisah. Pada siklus II, perhatian siswa terhadap pembelajaran menjadi 19 siswa. Hasil tersebut menunjukan bahwa penerapan metode kisah dalam pembelajaran aqidah akhlak dapat meningkatkan perhatian siswa.
Table 2 Keaktifan
Tahap Persentase Persentase perubahan
I II III
45,45%
60,61%
77,27%
33,33%
70,00%
Rata-rata 61,11%
Keaktifan siswa pada proses pembelajaran aqidah akhlak dengan penerapan metode kisah di MTs. Qur‟aniyah Batu-Kuta, pada tahap prasiklus atau keadaan keaktifan siswa dalam proses belajar sebelum penerapan pembelajaran dengan metode kisah, persentase keaktifan siswa dalam proses pembelajaran sebesar 45,45%, sedangkan pada siklus I dimana proses pembelajaran aqidah akhlak dengan penerapan metode kisah, persentase keaktifan siswa dalam proses pembelajaran menjadi 60,61% atau mengalami peningkatan sebesar 33,33% setelah penerapan metode kisah dalam pembelajaran aqidah akhlak. Proses pembelajaran aqidah akhlak dengan penerapan metode kisah pada siklus II, keaktifan siswa terhadap materi pembelajaran menjadi77,27%. Hasil tersebut menunjukan bahwa penerapan metode kisah dalam proses pembelajaran aqidah akhlak dapat meningkatkan keaktifan siswa sebesar 70,00%.
Table 3 Hasil brlajar
Tahap Jumlah Rata-rata Persentase
perubahan Prasiklus
Siklus I Siklus II
1411 1505 1730
64,14 68,41 78,64
6,66%
22,61%
Rata-rata 1548,67 70,39
Hasil belajar siswa kelas VIII A MTs. Qur‟aniyah Batu-kuta, hasil observasi pada tahap prasiklus atau sebelum penerapan metode kisah pada proses pembelajaran aqidah akhlak nilai rata-rata kelas 64,14 dan termasuk dalam kategori kurang. Pada siklus I, setelah penerapan metode kisah pada proses pembelajaran aqidah akhlak nilai rata-rata kelas mengalami peningkatan sebesar 68,41 dan termasuk dalam kategori baik, namun hasilnya masih dibawah nilai KKM-nya yaitu 70. Pada siklus II, masih dengan penerapan metode kisah pada proses pembelajaran aqidah akhlak nilai rata-rata kelas mengalami peningkatan sebesar 78,64. Jadi dapat disimpulkan bahwa penerapan metode kisah pada proses pembelajaran aqidah akhlak dapat meningkatkan hasil belajar siswa
BAB V PENUTUP A. Simpulan
Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut:
Perhatian siswa kelas VIII A MTs. Qur‟aniyah Batu-Kuta kec. Narmada tahun pelajran 2016/2017 saat proses pembelajaran aqidah akhlak pada tahap prasiklus sebanyak 9 siswa dengan tingkat keaktifan 45,45 %, sedangkan pada siklus I setelah penerapan metode kisah pada proses pembelajaran PAI materi akhlak terpuji perhatian anak didik menjadi sebanyak 15 siswa dengan tingkat keaktifan 60,61 %, dan pada siklus II yang dilakukan dengan tetap menerapkan metode kisah pada proses pembelajaran PAI materi akhlak terpuji perhatian anak didik menjadi 19 siswa dengan tingkat keaktifan 77,27 %.
Setelah digunakan metode kisah dalam proses pembelajaran aqidah akhlak, terjadi peningkatan hasil belajar siswa kelas VIII A MTs. Qur‟aniyah Batu-Kuta kec. Narmada tahun pelajaran 2016/2017. Pada tahap prasiklus nilai rata-rata kelas sebesar 64,14, sedangkan pada siklus I setelah penerapan metode kisah pada proses pembelajaran aqidah akhlak hasil belajar siswa nilai rata-rata kelasnya menjadi 68,41, dan pada siklus II yang tetap menggunakan penerapan metode kisah pada proses pembelajaran aqidah akhlak hasil belajar anak didik menjadi 78,64.
59
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian diajukan sejumlah saran sebagai berikut:
1. Kepala Sekolah
a. Sebaiknya kepala sekolah menjadi motor penggerak dalam perbaikan terhadap proses pembelajaran. Kepala sekolah sebaiknya menjaga hubungan baik antara kepala sekolah dan guru melalui kerja kolaborasi.
b. Pihak sekolah sebaiknya dapat menciptakan kondisi belajar yang memadai dengan memperhatikan fasilitas dan sarana prasarana sekolah yang menunjukang dalam pembelajaran khususnya pembelajaran dengan metode kisah, seperti penyediaan media, buku kisah/cerita dan alat-alat pembelajaran yang lain.
2. Guru Kelas
a. Sebaiknya guru kelas mengoptimalkan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan media buku kisah/cerita yang menarik, menyenangkan dan bervariasi agar dapat membuat siswa berminat dan antusias terhadap proses pembelajaran.
b. Sebaiknya guru kelas dalam memberikan materi kepada siswa sesuai dengan konteks kehidupan anak, kisah/cerita yang menarik bila perlu disertai gambar yang menarik, dengan kata-kata yang sederhana, penyampaian yang jelas sehingga akan merangsang anak untuk ikut hanyut dalam kisah cerita.
3. Peneliti berikutnya
Peneliti berikutnya dapat melakukan penelitian yang serupa dengan penelitian ini, tetapi dalam materi dan pendekatan yang berbeda.
DAFTAR PUSTAKA
Aziz Abdul, Abdul, Mendidik Dengan Cerita, Bandung: Remaja Rosda Karya, 2001, Cet. Ke-1.
Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan, (Jakarta:
Ciputat Press,2002), Cet. Ke-1.
Achmad Hidayat, dan Arief Imron, Paduan Mengajar KBK di Taman Kanak-kanak, (Jakarta: Insida Lantabora, 2004), Cet ke-1.
Ahmad Tfsir, Mrtodologi Pengajaran Agam Islam, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2003, Cet. Ke-7.
Asnelli Ilyas, Mendambakan Anak Soleh, Bandung: Al-Bayan, 1997, Cet.
Ke-2. Mansur,Pendidikan Anak Usia Dini dalam Islam, Pustaka Pelajar: Jogjakarta, 2005.
Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2000, Cet. III. , Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2001, Cet. ke-4.
Ali M., Guru Dalam Proses Belajar Mengajar, Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2002.
Bahroin S., Mendidik Anak Soleh Melalui Metode Pendekatan Seni Bermain, Cerita dan Menyanyi, Jakarta: t.pm. 1995, Cet. Ke-1.
Departemen Pendidikan Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah, Penelitian Tindakan Kelas, Direktorat Tenaga Kependidikan, 2003.
Departemen Agama RI, Al-Qur’an Dan Terjemahannya, Bandung: CV.
Penerbit J ART, 2005.
Drs. Hasan Basri, M.Ag., Drs. Beni Ahmad Saebani, M. Si., Ilmu Pendidikan Islam (Jilid II), Bandung: CV Pustaka Setia, 2010, Cet.
Ke-1.
Eddy Supriadi, Srategi Belajar Mengajar, Jakarta: LPGTK Tadika Puri, 2003.
H. M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam,Jakarta: Bumi Askara, 1999, Cet ke-1.
Hapinudin dan Winda Gunarti, Pedoman Perencanaan dan Evaluasi Pengajaran diTaman Kanak-kanak,Jakarta: PGTK Darul Qolam, 1996.
J. Abdullah, Memilih Dongeng Islami Pada Anak, Jakarta : Amanah, 1997.
Masan Alfat.,dkk., Aqidah Akhlak, Semarang: Toha Putra, 1994.
Mahmud Yunus, Metodik Khusus Pendidikan Agama, Jarkrta: Hida Karya
Agung,1983, Cet. Ke-11.
Mohammad Athiyah Al-abrasyi, Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1984.
Moh. Rifai, Aqidah Akhlak, Semarang: CW Wicaksana, 1994.
Muhaimin, dkk., Kawasan Dan Wawasan Studi Islam, Jakarta: Prenada Media, 2005.
Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, Jakarta : Bumi Aksara, 2001.
Muhammad Fathurrohman dan Silistyorini, Belajar Dan Pembelajaran, Yogyakarta: Teras, 2012.
Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012.
Ramayulis, Metodologi Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2010, Cet.
Ke-6.
Sadirman, Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007.
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta: Rineka Cipta, 2006, Cet, 13.
S. Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta, 2004, Cet. 4. Moeslichatoen R, Metode Pengajaran di Taman Kanak-kanak, Jakarta: PT. Asdi Mahasatya, 2004, Cet. Ke-2
Soekanto, Seni Bercerita Islami, Jakarta: Bumi Mitra Press, 2001, Cet. Ke- 2. Sugihastuti, Serba-serbi Cerita Anak-anak, Jakarta : Pustaka Pelajar,1996, Cet.ke-1.
Sugiyono, Metodologi Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R & D, Bandung: Alfabeta, 2007.
Supardi, Cerdas Menyusun Skripsi, Yogyakarta: Kurnia Kalam Setia, 2011.
Sudjana, Metode Penelitian, Bandung: Tarsita, 2003.
Syarif Hade Masyah, dkk, Mendidik Anak Lewat Cerita Dilengkapi 30 Kisah, Jakarta: Mustaqiim, 2003.
Tadjab, dkk., dimensi-dimensi studi islam, Surabaya: karya abditama, 1994.
Zakiyah Daradjat, Kesehata Mental, Jakarta: PT. Took Gunung Agung, 2001, Cet. Ke-23. , Ilmu Jiwa Agama, Jakarat: Bulan Bintang, 1996, Cet. Ke-16.
LAMPIRAN-LAMPIRAN
DAFTAR NAMA SISWA KELAS VIII A MTS QUR’ANIYAH BATU-KUTA NARMADA
No. Nama Siswa L/P
1 Ahmad Hendriawan L
2 Amalia Parwati P
3 Asriadi L
4 Ema Febriya Zulfiani P
5 Faesal Ya'kub L
6 Hediana Shilvia Udayani P
7 Isna Syahadati P
8 Laras Indah Amalia P
9 Lina Aulia Najiha P
10 M. Alin Jahiz L
11 M. Rizki Ramdhani L
12 M. Zarkoni L
13 Meliana Puri Indriana S P
14 Muliadi L
15 Nazifa Rohma Hudiani P
16 Nikmatus Sa'adah P
17 Nurul Haeni P
18 Putri Utami P
19 Rian Hidayat L
20 Rodi Al – Farisi L
21 Warni Supianti P
22 Zam Zani L
WAWANCARA Narasumber
Nama : Hairil Anam Wahid, S.Pd.I Jabatan : Kepala Sekolah
Waktu wawancara : Hasil wawancara
Peneliti : Assalamu‟alaikum, bapak?
Kepala Sekolah : Wa‟alaikum salam, dek
Peneliti : Maaf pak, boleh saya ngobrol sebentar?
Kepala Sekolah : Iya dek silahkan, ada apa?
Peneliti : Begini pak, kan selama ini kita jarang menggunakan metode kisah/bercerita dalam proses pembelajaran kita.
Kepala Sekolah : Iya benar.
Peneliti : Dalam kesempatan ini saya bermaksud ingin menggunakan metode kisah dalam proses pembelajaran kita. Pada hal melalui kisah cerita anak bisa mengembangkan imajinasinya serta mengembangkan kreativitasnya.
Kepala Sekolah : Terus nanti model pembelajarannya bagaimana? Kan selama ini kita tahu, kita dituntut untuk memberikan yang terbaik untuk memberikan yang terbaik untuk anak didik kita. Bila kita nanti menambahi proses pembelajaran denganmenggunakan metode kisah apa tidak mengganggu proses pembelajaran yang selama ini kita gunakan dan membuat anak malah tambah cerewet saja?
Peneliti : Tidak pak, justru kecerewatan anak itulah awalnya anak berpikir dan mengaitkan ide yang nantinya bisa dipergunakan untuk membaca, karena dengan mendengarkan kisah cerita anak elajar membaca dari simbol-simbol seperti gambar jadi kita tetap tidak meninggalkan model pembelajaran yang selama ini kita lakukan malah model pembelajaran kita lebih bervariasi dan Semangat belajar anak menjadi meningkatkan saya memilih Buku bergambar selama ini anak hanya belajar membaca dan berhitung saya bermaksud memberi suasana baru dalam proses
pembelajaran supaya anak tidak bosan serta anak tetap semangat mengikuti proses kegiatan pembelajaran.
Kepala Sekolah :Kalau begitu saya setuju.
Peneliti : Akan tetapi nanti saya nanti minta bantuan guru kelas selama proses pelaksanaan pembelajaran melalui kisah cerita
Kepala Sekolah : iya gak apa-apa dek.