• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sistem Bagi Hasil Tangkapan Perikanan Laut

Dalam dokumen konflik nelayan (Halaman 174-182)

C. Kebijakan Pengelolaan Sumber daya Perikanan Laut

4. Sistem Bagi Hasil Tangkapan Perikanan Laut

Sistem bagi hasil yang mengacu pada besaran investasi yang ditanam pada pemanfaatan sumberdaya perikanan laut sebenarnya belum banyak dikenal dalam masyarakat nelayan yang masih menganut sistem kepemilikan komunal. Sistem bagi hasil tangkapan yang mempertimbangkan aset produksi dengan orang yang bekerja dalam proses produksi mulai dikenal setelah sistem mata pencaharian berkembang dan mengakui adanya hak milik perorangan, serta mempertimbangkan investasi perorangan dalam usaha penangkapan ikan (Wahyono, 2003). Namun dalam masyarakat nelayan yang masih menggunakan peralatan sederhana, kontribusi anggota kelompok penangkapan masih dimungkinkan terjadi.

Menurut Saefuddin (1983) bahwa sistem bagi hasil (tata niaga hasil) perikanan memiliki sejumlah karakteristik di antaranya:

(a) Sebagian besar dari hasil perikanan yang dipasarkan diserap oleh konsumen akhir secara relatif stabil sepanjang tahun, sedangkan penawarannya sangat tergantung pada produksi yang sangat dipengaruhi cuaca.

(b) Umumnya pedagang pengumpul (pengepul ikan) memberi kredit (advanced payment) pada produsen (nelayan) sebagai ikatan atau jaminan untuk dapat memperoleh bagian terbesar dari hasil perikanan dalam waktu tertentu.

(c) Saluran tata niaga hasil perikanan pada umumnya terdiri dari:

produsen (nelayan), pedagang perantara sebagai pengumpul (pengepul), grosir, pedagang eceran dan konsumen (industri pengolah/pabrik, konsumen akhir).

(d) Pergerakan hasil perikanan berupa ikan dari produsen sampai konsumen pada umumnya meliputi proses: pengumpulan, penimbangan, dan penyebaran, di mana proses pengumpulan merupakan proses terpenting.

(e) Kedudukan terpenting dalam tata niaga hasil perikanan terletak pada pedagang pengumpul (pengepul) dalam fungsinya sebagai pengumpul hasil karena daerah produksi yang terpencar-pencar, skala produksi kecil-kecil dan tergantung pada musim, hal ini terlihat pada perikanan laut (1983:2-3)

Menurut Mulyadi (2005) bahwa kecenderungan setiap investor dalam usaha perikanan tangkap melakukan monopoli keuntungan melalui penguasaan mesin kapal, perahu serta alat tangkap yang pada akhirnya akan mempengaruhi sistem pembagian hasil tangkapan dan hal ini merupakan potensi terjadinya konflik antara pemilik sarana alat tangkap dan buruh nelayan.

Lebih lanjut dikemukakan bahwa model relasi antara pemilik modal dengan buruh nelayan yang saling menguntungkan kedua pihak merupakan fenomena sosial yang kerap ditemukan dan terikat dalam kepentingan ekonomi (pemilik modal dan nelayan). Keterikatan kedua pihak selama ini, bergerak dalam bentuk “saling bergantungan antara kedua

pihak” meskipun realitasnya di berbagai komunitas nelayan menunjukkan bahwa pihak buruh nelayan berada pada posisi kurang menguntungkan diakibatkan pendapatan nelayan buruh sangat kecil (Mulyadi, 2005:75).

Sistem bagi hasil merupakan alternatif yang umumnya dikembangkan masyarakat nelayan guna mengurangi risiko. Perubahan alat tangkap ikan membawa perubahan pada hubungan produksi seperti ditemukan Juwono (1998) di Kirdowono. Dalam mana salah satu aspek perubahan hubungan produksi itu yakni dalam hal sistem bagi hasil. Salah satu ciri umum hubungan produksi pada usaha perikanan laut/tangkap yaitu adanya sistem bagi hasil. Sebagai konsekuensi dari tingginya risiko usaha penangkapan. Sistem bagi hasil beragam dengan perbedaan didasarkan pada perbedaan karakteristik alat produksi dan karakteristik sosial (Juwono, 1998) di Kirdowono, (Kusnadi, 2000) di Situbondo dan Satria (2001) di Pekalongan.

Menurut Acheson (1981) dalam Mulyadi (2005:76) bahwa pada kenyataannya sistem bagi hasil lebih dapat meningkatkan motivasi nelayan buruh (awak kapal) dalam menangkap ikan di laut, di samping itu juga dapat mengurangi risiko bagi pemilik kapal serta menjaminnya, serta tidak memberinya upah yang memadai bilamana hasil tangkapan sedang buruk. Kondisi ini berlangsung disebabkan penghasilan nelayan buruh yang tidak dapat ditentukan kepastiannya, tergantung dari jumlah hasil tangkapan dan hasil penjualan yang dilakukannya.

Beberapa hasil penelitian (Wagito, 1994; Masyhuri, 1996 dan 1998) menunjukkan bahwa distribusi pendapatan dari pola bagi hasil tangkapan sangatlah timpang yang diterima antara pemilik dan nelayan buruh. Pada umumnya hasil bersih yang diperoleh nelayan buruh dan pemilik kapal adalah separuh-separuh. Namun, bagian yang diterima nelayan buruh harus dibagi lagi dengan sejumlah awak yang terlibat dalam aktivitas kegiatan di kapal. Semakin banyak jumlah awak kapal, semakin kecil bagian yang diperoleh setiap awaknya.

Sistem bagi hasil adalah sistem yang mengatur pembagian hasil tangkapan antara orenga dan pandhiga berdasarkan norma-norma yang berlaku (Kusnadi, 2000:105). Dengan persepsi bahwa perahu sebagai

unit produksi, sistem bagi hasil yang berlaku beragam karena tingkat kebutuhan akan jumlah pandhiga yang diperlukan, spesialisasi pekerjaan, dan biaya operasi atau pemeliharaannya.

Dibandingkan jenis-jenis perahu yang lain, sistem bagi hasil pada perahu sleret relatif lebih kompleks. Pada umumnya, sistem bagi hasil perahu sleret adalah sistem bagi tiga (telon) dengan perincian: satu bagian untuk orenga dan dua bagian untuk pandhiga. Pada sistem bagi hasil telon, kerusakan dan kebutuhan peralatan perahu, payang dan kebutuhan bahan bakar besar atau kecil menjadi tanggungan orenga. Kebutuhan bahan bakar besar berkaitan dengan pembelian solar, sedangkan bahan bakar kecil berkaitan dengan pembelian minyak gas dan peralatan lampu strongking. Jika ada kerusakan mesin, pihak orenga dan pandhiga lah yang menanggungnya. Biaya perbaikan mesin ini diambil dari ngala’ tengah atau ngala’ kadhe’ (mengambil terlebih dahulu) hasil tangkapan sebelum dibagi antara orenga dan pandhiga. Kuantitas beban tanggung jawab pandhiga terhadap kerusakan dan pemeliharaan perahu meningkat dibandingkan pada masa perahu glatheh. Bahkan ada sebagian kecil pemilik perahu sleret yang memberikan beban sebagian biaya operasi kepada pihak pandhiga. Semua ini bisa terjadi karena beban biaya pemeliharaan dan operasi semakin tinggi sejalan dengan peningkatan kecanggihan peralatan tangkap.

Sebaliknya, dalam sistem maron, pemeliharaan dan kerusakan perahu, payang, mesin dan kebutuhan bahan bakar sepenuhnya menjadi tanggungan orenga. Pandhiga tidak dibebani tanggung jawab apapun kecuali mengoperasikan perahu yang sudah dalam keadaan siap pakai.

Sistem bagi hasil demikian dilakukan oleh orenga yang mampu. Menurut nelayan, jika hasil tangkapannya banyak maka sistem bagi hasil maron lebih menguntungkan orenga. Sebaliknya, jika hasil tangkapan sedikit atau tidak mendapatkan hasil dan mesin sering rusak, orenga akan menanggung beban kerugian yang relatif besar.

Dalam sistem bagi hasil menunjukkan bahwa juragan darat (pemilik kapal) rata-rata menerima sekitar 65% dari jumlah keseluruhan hasil tangkapan. Namun sebaliknya nelayan buruh bagiannya masih harus

dibagi berdasarkan porsi keterlibatannya secara khusus sebagai awak.

Semakin banyak jumlah awak, maka semakin kecil pula perolehan yang akan diterima setiap awak.

Menurut Mubyarto,dkk., (1984) bahwa dalam pengoperasian kapal ikan yang menggunakan alat tangkap mini purse seine atau dikenal dengan sebutan mini korsen dengan awak kapal yang cukup banyak antara 20 sampai 24 orang, maka terdapat pembagian hasil tangkapan yang berbeda pula. Adapun pembagian hasil setelah dikurangi perbekalan dan cadangan kerusakan yakni seluruh hasil penjualan dibagi menjadi dua. Satu bagian untuk juragan dan satu bagian lagi untuk nelayan dengan perincian : Juru mudi/nahkoda 2 bagian, kempitan/wakil juru mudi 1,5 bagian, juru gidang 1,5 bagian, juru arus 1,5 bagian, juru batu 1,5 bagian dan juru kolor 1,5 bagian (1984:70-72).

Untuk pengoperasian Jaring Payang yang dilayani 15 sampai 20 orang.

Jaring ini untuk jenis ikan layang dan lemuru. Hasil tangkapan setelah dijual masih harus dipotong dahulu untuk biaya operasi, sisanya dibagi menurut bagiannya: Juragan 12 bagian, juru mudi 3 bagian, kempitan 2 bagian, juru arus 1,5 bagian, juru gidang 1,5 bagian, juru batu 1,5 bagian, juru payang 1,5 bagian jurag (buruh) biasanya masing-masing 1 bagian.

Sedangkan untuk penggunaan alat tangkap Dogol (jaring besar yang terbuat dari serat goni, diutamakan untuk menangkap ikan teri/teri putih atau kendui dalam istilah Madura) dilayani oleh 15 sampai 20 orang dan digunakan dengan kapal ikan. Umumnya sistem pembagian hasil setelah dijual kemudian dipotong dengan bekal/sangu atau biaya operasi maka sisanya dibagi untuk bagian: juragan 10 bagian, juru mudi 2,5 bagian, kempitan 2 bagian, juru arus 1,5 bagian, juru gidang 1,5 bagian, juru batu 1,5 bagian, juru payang 1,5 bagian, jurag biasa masing-masing 1 bagian.

Pada prinsipnya, ikan dan uang hasil penjualan ikan dibagi habis sesuai tugas dan tanggungjawab pemodal (juragan) dan pekerja (nelayan/

awak kapal). Pemodal memperoleh bagian yang lebih besar atas risiko kehilangan modalnya; nelayan memperoleh bagian lebih kecil atas risiko kehilangan nyawanya. Dalam hubungan kerja, juragan secara formal berhubungan dan menjalankan kontrak kerja dengan juru mudi. Juru mudi

memimpin awak kapal. Ia dibantu oleh sejumlah ABK yang dipilihnya sendiri. ABK berhubungan, menjalankan kerja dan bertanggung jawab kepada juru mudi. Juragan tidak ikut campur (Siswanto,2008:15).

Pembagian uang hasil penjualan ikan dilaksanakan berkala, umumnya sebulan. Setelah dipotong biaya operasional, yaitu : solar, oli, kerusakan mesin dan lain-lain, hasil bersih dibagi 3 dengan bagian masing-masing sebagai berikut: (1) Juragan sebagai pemodal memperoleh 2/3 bagian.

Juragan harus mengeluarkan 10% bagiannya untukjuru mudi sebagai

“persenan”. (2) Nelayan (juru mudi plus ABK) memperoleh 1/3 bagian.

Dalam posisi dan hubungan kerja itu, kedua pihak, (pihak pertama:

juragan, pihak kedua: nelayan) melakukan perjanjian bagi hasil. Pola bagi hasilnya adalah 2: 1 (juragan: nelayan). Juru mudi berbagi dengan para ABK, dengan rincian sebagai berikut: (1) Juru mudi, juru pantau dan tukang johnson masing-masing 1,5 bagian, (2) Tukang ngolor (yang menarik tali kolor), tukang pelampung, tukang narik batu (pemberat) masing-masing 1,25 bagian; (3) sisa (1,75) bagian dibagi rata kepada semua. Selain itu juru mudi memperoleh bonus 10% (persen) dari hasil bersih penjualan ikan dalam satu bulan. ABK memperoleh uang lawuhan (uang lauk pauk atau uang makan) dari juragan jika berhasil memperoleh ikan.

Realisasi bagi hasil (disebut totalan) dilakukan pada saat terang bulan.

Ini adalah waktu jeda/sedang tidak melaut. Totalan artinya menghitung keseluruhan (total) hasil yang diperoleh dalam satu bulan kemudian membaginya sesuai dengan perjanjian bagi hasil. Pada saat totalan, nelayan mendapatkan hasil kerjanya selama satu bulan. Sedikit berbeda dengan itu, totalan antara juragan dengan juru mudi tidak selalu sebulan sekali (pada terang bulan). Totalan kadang dilakukan setelah satu siklus musim melaut kapal purse-seine berakhir pada tahun itu. Begitu pula bonus 10% untuk juru mudi dari juragan. Pola bagi hasil 2: 1 sudah berlangsung lama yakni sejak adanya kapal purse-seine di Prigi – Trenggalek. Pola bagi hasil tersebut dinilai cukup baik dan adil oleh nelayan dan pemilik kapal.

Bagian juragan yang besar dianggap wajar karena mereka telah membeli

kapal dengan harga mahal, harus menanggung biaya operasional (BBM, oli) dan bekal (uang lawuhan) awak kapal (ABK) selama melaut.

Dalam mengelola sumberdaya perikanan laut selain berhadapan dengan fugitive resources (merupakan sumberdaya yang bergerak terus), juga adanya kompleksitas biologi dan fisik perairan, serta dihadapkan pada rumitnya hak kepemilikan (common property resource). Interaksi faktor tersebut dapat memunculkan eksternalitas yang berujung pada terjadinya penangkapan berlebihan (exessive) sehingga pada akhirnya akan menyebabkan menurunnya stok sumberdaya (Achmad.,2005:5).

Jika mencermati pengelolaan terhadap sumberdaya alam selama ini didasarkan pada Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 33, ayat 3, menegaskan bahwa secara ekstensif berada pada kewenangan pemerintah pusat. Bahwasanya tanah, air, dan sumberdaya alam yang terkandung di dalamnya dikelola oleh negara dan ditujukan untuk kemakmuran rakyat.

Perwujudan ayat yang memuat tentang pengelolaan sumberdaya alam tersebut memang masih kabur sehingga pengelolaan terhadap hampir seluruh sumberdaya alam cenderung bersifat sentralitis. Kebijakan yang bias sentralistis tersebut pada gilirannya akan mengabaikan kepentingan lokal, sehingga pada akhirnya menimbulkan degradasi terhadap berbagai sumberdaya alam.

Sejak kebijakan otonomi daerah diberlakukan paling tidak telah membawa Indonesia ke dalam babak baru dalam mengelola pemerintahan dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah yang lebih dikenal sebagai Undang Undang Otonomi Daerah. Desentralisasi tersebut tidak saja menyangkut penyelenggaraan pemerintahan, akan tetapi juga menjangkau tentang pengelolaan sumberdaya alam dalam yuridiksi wilayah pemerintahan lokal/daerah otonom. Setidaknya perubahan paradigma dalam pengelolaan sumberdaya alam tersebut memberi warna yang berbeda dalam pembangunan daerah otonom dibandingkan era sebelumnya yang realitasnya lebih bersifat sentralistis.

Dikeluarkannya Undang-Undang otonomi daerah membuat penjabaran Pasal 33 yang menyangkut pengelolaan, kini dijabarkan

sebagai pemerintah pada tingkat regional. Dengan demikian, pengelolaan sumberdaya alam ‘didesentralisasikan’ kepada daerah. Dalam mana desentralisasi dimaknai sebagai seperangkat program dan kebijakan yang dirancang untuk menciptakan keseimbangan atas kewenangan (otoritas) dan tanggung jawab terhadap pengelolaan sumberdaya alam (Khan,2001).

Persoalan di atas tidak akan muncul manakala menyangkut sumberdaya alam yang sifatnya tidak lintas batas karena juridiksinya reltif jelas. Namun terhadap sumberdaya perikanan laut yang sifatnya jelas-jelas lintas wilayah, tentunya memerlukan pendekatan tersendiri karena potensi timbulnya konflik sangat besar. Kiranya ada beberapa aspek positif dalam kaitannya dengan pengelolaan sumberdaya perikanan laut yang terkait dengan efektivitas pengaturan, efisiensi ekonomi, serta pemerataan distribusi.

Selanjutnya sumberdaya perikanan laut yang berkembang dengan tanpa adanya regulasi perikanan secara memadai setidaknya akan menyebabkan beberapa hal: (1) laju hasil tangkapan yang rendah, (2) pendapatan rendah, dan (3) akumulasi modal secara berlebihan dalam industri perikanan. Penyebabnya bahwa sumberdaya perikanan laut pada umumnya bersifat common properties (milik bersama atau kepemilikannya bersifat milik bersama) dan open access (access = boleh mempergunakan, penggunaan secara terbuka atau bebas) (Suadi, dkk., 2006:64).

Menurut Suadi,dkk. (2006:64) karakteristik sumber daya open access ditandai oleh tiadanya hak pemilikan. Keuntungan ekonomi bersifat sementara yang diperoleh para nelayan akan memikat pendatang baru (nelayan pendatang/Andon) ke dalam perikanan. Biasanya proses ini dalam perikanan terbuka berlanjut dan hingga melampaui titik yaitu profit total maksimum sehingga terjadi overcapacity, yakni melampaui kapasitas kemampuan menanggung dan mengakomodasikan tekanan eksploitasi yang pada gilirannya memunculkan penangkapan yang berlebihan (overfishing) terhadap sumberdaya perikanan laut tersebut.

Fenomena pertama disebabkan oleh adanya persaingan di antara nelayan untuk mengeksploitasi produk yang menipis dan jarang. Kedua, banyak individu ikan yang tertangkap pada saat yang seharusnya dapat

tumbuh dan menghasilkan hasil tangkapan yang lebih tinggi di masa mendatang. Akibatnya, bahwa upaya penangkapan yang tinggi akan mengurangi keuntungan bagi seluruh nelayan, karena hasil tangkapan seorang nelayan sesungguhnya merupakan suatu hasil dari pengorbanan dari nelayan-nelayan lainnya.

Pemanfaatan atas sumberdaya perikanan laut terdapat empat bentuk yakni (1) tanpa adanya pengaturan sama sekali atau seringkali disebut juga dengan akses terbuka (open access), (2) properti yang dimiliki secara komunal, (3) properti yang dimiliki negara, dan (3) properti yang dimiliki swasta (dalam hal ini, swasta dapat berbentuk perusahaan) (Nikijuluw, 2002:52-54). Sejalan dengan itu, Mc.Cay (1993) membedakan properti dengan tipe rezim pengelolaan sumberdaya. Dalam hal tipe properti terdiri dari: (1) properti swasta, (2) properti bersama, dan (3) akses terbuka.

Sedangkan tipe rezim pengelolaan sumberdaya adalah: (1) laissez-faire, (2) regulasi pasar, (3) pengaturan oleh komunal, (4) pengaturan oleh pemerintah, dan pengaturan oleh internasional (Nikijuluw,2002:50).

Berikut dijelaskan secara mendalam tipe rezim pengelolaan sumberdaya perikanan laut sebagai berikut:

Dalam dokumen konflik nelayan (Halaman 174-182)